
Kita mau kemana? "Tanya bara pada dafis."
Pulang lah!! "Jawab dafis." Bara sekejap merasa pusing karena jawaban dafis. Sekarang masih jam 10 kamu mau ngajak pulang??? "Kata bara dengan kesal."
Dafis tertawa melihat ekspresi wajah bara yang terlihat sangat lucu saat bara marah. Dafis kemudian berpikir untuk mengerjai bara, memang kenapa kalau jam 10. "Jawab dafis santai."
"Bara yang mulai marah lalu berkata." Apa kata ibuku jika jam segini aku udah pulang sekolah!!! "Dafis hanya teraenyum dan bertanya kepada bara," jika kita tidak pulang, terus kita mau kemana?? Gimana kalau kita pergi ke warnet aja tanya bara pada dafis.
"Ayo." Jawab dafis pada bara. Perjalan ke warnet bara mulai terus bertanya pada dafis. Kenapa kamu sekarang gak pernah bawa motor fis?? bawa motor repot, kalau ada masalah susah kalau bawa motor jawab dafis. "Ow begitu." Kalau pacarmu anak mana sekarang??? Mendengar pertanyaan bara, "dafis dengan santai menjawab." Males pacaran dulu ra, wanita sungguh merepotkan, "Keluh dafis pada bara." apa pacarmu dulu juga merepotkan tanya bara yang kepo pada dafis. "dafis hanya tersenyum" danvterus berjalan ke arah warnet tanpa berbicara lagi.
"Dafis dalam hati membayangkan dulu waktu berpacaran."
"Ana gadis tinggi semampai berpawakan padat berisi." dulu waktu dafis kelas 1 sma, ana adalah pacar dafis. Dafis masih ingat dengan jelas saat berpacaran dengan ana, "karena ana." Dafis dulu giat pergi ke sekolah, dan tak pernah bolos sekolah. Meski dafis anak nakal, "ana tetap menyukai dafis. Karena dafis type cowok yang takut dengan wanita. Setelah beberapa bulan berpacaran dafis tidak pernah menyentuh ana, karena dafis sangat takut untuk menyentuh ana. Hingga ana menanyakan beberapa pertanyaan yang sulit untuk di jawab dafis.
Flashback!!!
Waktu dafis akan pulang sekolah, tiba tiba dafis di cegat oleh ana, "jangan pulang dulu, aku mau bicara." Tanya ana lembut pada dafis. Dafis yang sudah naik motor, hanya tersenyum lalu turun dari motor. "Sesaat mereka hanya saling pandang tanpa berbicara." Dafis lalu bertanya kepada ana, kenapa kamu diam, apa yang mau kamu bicarakan. Lalu anak berbisik kepada dafis, apa kamu benar benar menyukai ku. Sontak dafis kaget mendengar pertanyaan ana.
"Apa yang sedang kamu tanyakan ana, jawab dafis. Jika aku tidak menyukaimu tidak mungkin kita pacaran."
Ana lalu berbicara kepada dafis, jika kamu menyukaiku, kenapa kamu tidak pernah mengantarkan aku pulang, jawab tegas dari ana. Sebelum dafis menjawab pertanyaan ana, "ana sudah bertanya lagi kepada dafis." Memegang tangankupun kamu tidak pernah fis.
"Wajah dafis pun mulai berkeringat, dafis kini kesulitan untuk menjawab pertanyaan ana."
__ADS_1
"Aku, aku, aku bingung mau menjawabnya ana." Ana kemudian memgang tangan dafis dan berkata, jangan takut fis, jawablah pertanyaanku.
Saat ana memegang tangan dafis, dafis mulai berkeringat, dan melihat ke arah tangan dafis yang di genggam ana. "Ana yang melihat tingkah dafis." Ana hanya tersenyum, dan terus memper erat genggamannya.
Dafis yang terus bingung akhirnya memberanikan diri untuk bicara kepada ana, "aku malu ana." Karena aku belum pernah membonceng cewek. Mendengar jawaban dafis, "ana lalu berkata pada dafis." Sekarang antarkan aku pulang.
Dengan rasa yang bercampur aduk, dafis mengantar ana pulang. Dalam perjalanan dafis hanya diam tanpa berbicara kepada ana, tiba tiba ciiiiiiieeettt dafis mengerem motornya karena di potong oleh motor di depannya. "Dafispun berhenti." Dafis yang akan marah, "tiba tiba motor yang memotong dafis pun juga ikut berhenti." Dan si pemuda tersebut menghampiri dafis dan ana, saat dafis turun dari motor, ana tiba tiba memegang baju dafis, "aku mohon jangan berkelahi dengan dia." Pinta ana pada dafis dengan ketakutan. Tiba tiba pemuda tersebut berteriak "ana ayo pulang." Dafis yang tadinya akan menghajar pemotor tersebut, dafispun mengurungkan niatnya, pemuda tersebut tiba tiba maraih tangan ana dan menyeret ana hingga jatuh. Melihat ana yang terjatuh, "dafispun gelap mata dan tanpa basa basi." Bukkk!!!! Bukkk!!!! Bukkkk!!!! Tendangan dan pukulan dari dafispun melayang ke pemuda tersebut. Saat dafis melancarkan aksinya, "ana yang berbadan tinggi dan berisipun meraih kerah dafis dengan kuat." Dafispun berbalik melihat ana. Saat dafis akan bicara kepada ana, tamparan keras melayang pada pipi dafis "PLAAAKK." "dafis hanya diam pada ana dengan wajah marah." Melihat Ana yang sekarang telah menangis, amarah dafispun dengan sekejap nengilang. Denfan tersedu sedu, ana berbicara kepada dafis. Apa kamu tau siapa yang sedang kamu pukuli sekarang!!!! "Dafis hanya diam dan terus memandang ana."
"Dia abangku." kata ana dengan marah.
"Mulai sekarang aku tak ingin mengenal berandalan sepertimu lagi." Kata ana dengan tersedu sedu.
Dafis masih terdiam menatap ana, "dalam hati dafis." Dafis masih tak percaya dengan perkataan ana.
"Dalam perjalanan," dafis terus membayangkan kejadian barusan. Dafis sangat marah mengingat tamparan dari ana.
Kenapa ana menamparku?? ucap dafis berbicara sendiri sambil mengendarai motornya, dan kenapa ana marah padaku, harusnya yang marah adalah aku!!!
Dafis yang masih terus membayangkan tamparan ana, motor dafis tiba tiba bertabrakan dengan pemotor lain. Brruuugg!!!!! Meskipun tidak ada luka sama sekali karena laju motor yang lambat, mereka hanyalah kaget. Seketika bayangan yang ada dalam pikiran dafia menghilang, saat dafis akan meminta maaf. Tiba tiba pemuda tersebut membentak dafis. "Hey apa kamu punya mata!!!! Mendengar perkataan pemuda tersebut, dafis yang sedari tadi marah, langsung turun dari motornya dan menghajar pemuda tersebut.
"Melihat perkelahian." Anto yang tak sengaja lewat lalu berhenti dan melerai keduanya, "sudah bro cukup" kata anto sambil memegangi tubuh dafis. Dafis lalu menghentikan aksinya, dafis yang melihat seragam anto dan niko sama, dafispun bebicara kepada anto. "Katakan pada temanmu, jika dia tidak terima!!! Cari aku di smk nusantara. Dafis kemudian naik motornya dan pergi begitu saja,
Anto sangat kaget melihat yang di hajar dafis adalah niko, boss smk negeri 7 di hajar hingga babak belur "batin anto.
__ADS_1
Dalam perjalanan dafis hanya fokus, hingga pulang kerumah.
"Bara yang sedari tadi berbicara tdan tak di tanggapi dafis." Bara lalu memukul punggung bara,
Bara sontak sangat kaget dan tersadar dari lamunannya, apa yang sedang kamu pikirkan tanya bara. "Tidak ada." Jawab dafis dengan santai.
"Dari tadi kulihat kamu sedang melamun terus fis." Siapa yang sedang kau bayangkan, tanya bara sambil tersenyum kepada dafis. Dafis hanya tersenyum dan terus berjalan ke arah warnet.
Saat sampai di warnet bara dan dafis bermain di warnet hingga siang. Saat dafis sudah bosan dafis kemudian mengajak bara pulang. Mereka berduapun berjalan pulang. Saat mereka berjalan bara tiba tiba sibuk mebalas pesan dari hpnya, aetelah membalas pesan, bara lalu berbicara kepada dafis "Kita ke halte dulu sebentar." Kenapa??? Tanya dafis. Nunggu temanku sebentar jawab bara. Lalu mereka berdua menuju halte dan menunggu teman bara datang.
"Beberapa menit kemudian."
Teman bara datang mengendarai motornya, saat teman bara memarkirkan motornya, dafis yang sedari tadi melihat teman bara lalu bertanya kepada bara. "Apa benar di temanmu." Bara lalu mengangguk, dan betanya balik kepada dafis, Kenapa??? Tidak apa apa, Kurasa di seperti anak rumahan, Jawab dafis.
"Bara kemudian berbicara kepada dafis."
Dia dulu temanku smp, awalnya aku hanya meminta contekan dari dia, tapi lama kelamaan aku kasihan kepadanya, karena dia terus di bully oleh anak lainnya, saat di bully anak kelas sebelah aku membelanya, setelah itu aku berteman dengan dia sampai sekarang.
Murid dari sma negeri 1 lalu menghampiri bara dan dafis, "dan bertanya kepada bara." Apa yang bisa aku bantu, tanya teman bara. Antarkan kami pulang jawab bara. Tanpa bertanya teman bara meng iyakan permintaan bara.
Saat intan perjalanan pulang dari sekolah. Intan melihat tio yang ada di halte bersama anak smk nusantara, intanpun menghentikan motornya dan mengamati tio bersama anak smk nusantara. "Intan bertanya dalam hati." Apa mungkin dua anak ini yang telah mempermalukan ferdi.
Besok aja aku tanya kepada tio, batin intan.
__ADS_1
"Lalu intan beranjak pergi dengan motornya."