
Setelah Mbok Darmih dan Pak Pram memberikan minyak serta alkohol, Nindya berangsur-angsur sadar, kemudian Mbok Darmih memberikan teh hangat, perlahan Saddam membangunkan Nindya dan menyangga tubuh mungil itu dengan tangan dan dengan dada lebar nya, menjaganya agar tetap terduduk saat meminum teh hangat.
"Minum pelan-pelan, aku sudah memanggil dokter."
Kata saddam.
"Aku gak papa Saddam, aku baik-baik saja,0 kenapa kamu panggil dokter."
"Kamu pingsan."
"Aku kan hanya terkejut atau mungkin lelah, bukan penyakit yang parah kenapa harus memanggil dokter."
"Kamu bersamaku, dan sekarang ada di rumahku, kamu adalah tanggung jawabku,."
"Apa?"
Kata Nindya tak percaya dengan ucaoan Saddam yang menyinggung kalimat tanggung jawab, akhir-akhir ini Nindya pun terlalu banyak berkata "Apa" dan "Kenapa" saat di dekat Saddam.
Pria itu seolah membuay kehidupan Nindya rumit dan penuh misteri, kejadian-kejadian yang tidak biasa baginya.
"Kamu pingsan saat berada di rumahku, bagaimana nanti jika terjadi sesuatu padamu, polisi akan datang kesini menyelidiki ku, dan semua yang ada di sini."
"Apa pingsan dirumah orang bisa segawat itu."
Kata Nindya dalam hati.
Tak berapa lama dokter pribadi Saddam telah tiba, pria paruh baya yang sedikit memiliki tubuh gemuk namun ramah, dokter mulai memeriksa Nindya dan kemudian Saddam bertanya dengan tak sabar.
"Apa ada peyakit bawaan Om, apa harus di operasi atau harus menginao di rumah sakit?"
Tanya Saddam tidak sabar.
"Tidak ada, hanya serangan panic yang tiba-tiba dan mungkin lapar, pacarmu nggak kamu kasih makan? "
Dokter itu tersenyum dan membereskan perlengkapannya memasukkan ke dalam tas dan masih saja tersenyum ramah.
"Saya Harris, om nya Saddam, kakak dari ayahnya Saddam."
Kata Harris memperkenalkan diri pada Nindya.
"Terimakasih pak dokter, saya Nindya."
"Kamu pacarnya? Baru kali ini Saddam sedekat ini dengan wanita."
Tanya Om Harris tiba-tiba.
"Ehh.. Bukk-bukkaann.."
Nindya menjawab dengan gagap dan salah tingkah, apalagi tentang diagnosa dokter bahwa dirinya kelaparan.
"Om hari ini gak ada jadwal operasi, kasihan pasienya pada nungguin."
Kata Saddam, memberikan kode.
__ADS_1
"Kamu main panggil sekarang main usir, ya sudah salam buat papa mu, bentar-bentar tengoklah mereka."
"Hm."
Jawab Saddam singkat dan malas.
Tak berapa lama Mbok Darmih menyajikan beberapa hidangan makanan, ayam goreng dengan lalapan dan segala macam makanan yang mungkin Nindya suka, dan benar saja kini mata dan hidung serta perutnya tidak bisa berbohong.
"Ayo, biar ku bantu ke meja makan."
Kata Saddam sambil tersenyum dan memapah Nindya.
"Kalau lapar kamu kan tinggal bilang kenapa malah menahannya, kalau kamu mau aku bakal bawain Kfc dan seluruh restorannya kesini."
"Bukan itu, aku kaget kamu kerumahku... Sejujurnya aku... Malu."
Jawab Nindya sembari menundukkan wajah dan kepalanya, Saddam yang duduk di dekatnya memperhatikan tingkah gadis itu yang dia pikir sangat menggemaskan.
"Malu? Kenapa?"
"Aku malu dengan mu sampai aku nggak berani mengangkat wajahku."
"Baiklah, makan dulu setelah itu kamu harus memberikan penjelasan padaku apa maksud dari kata malu yang barusan kamu bilang."
Saddam memberikan ayam dan mengambilkan beberapa lalapan kemudian memberi wadah berisi air untuk tempat mencuci tangan Nindya.
"Kamu nggak makan?"
"Aku jarang makan makanan begini, biasanya cukup dengan nasi goreng selebihnya makan sandwich dan buah."
Gerutu Nindya.
"Hm?"
"Ahh.. Nggak nggak ada, ini enak."
Kata Nindya tersenyum dan melahap ayam goreng.
Nindya melahap makanannya dengan cepat, gadis itu benar-benar menikmati hidangan yang Mbok Darmih masak. Mbok Darmih sebenarnya adalah pelayan yag sudah bekerja lebih dari 30tahun dan terlah sangat mengerti kebiasaan sang majikannya, terlebih Saddam.
Namun kini Saddam menugaskan Mbok Darmih untuk berkerja di rumahnya secara harian saja karena tubuhnya yang semakin menua, meskipun ada pelayan yang lain namun tetap saja Saddam menyayangi Mbok Darmih sebagai keluarga dan agar Mbok Darmih lebih banyak memiliki waktu dengan cucu serta anak-anaknya di rumah.
"Jadi makan sudah selesai dan kamu pasti lebih kuat untuk memberikan penjelasan apa yang kamu maksud dengan malu."
Kata Saddam.
Saat ini Nindya duduk berhadapan dengan Saddam di taman belakang, meja bundar yang dilapisi kaca marmer mahal sebagai pembatas diantara mereka. Suasana sejuk dan angin yang semilir membuat Nindya nyaman, mengingatkannya suasana di kampungnya.
Rumah Saddam memang di buat agar menyerupai suasana pedesaan.
"Aku dari awal malu, karena aku berasal dari keluarga miskin dan kamu memiliki segalanya, aku selalu merasa gelisah dan tidak tenang saat berada di dekatmu."
Nindya menghela nafas dan memikirkan kalimat nya sejujur mungkin agar perasaannya tidak mengganjal dan dirundung keresahan lagi.
__ADS_1
"Apalagi waktu kamu kerumahku, pikiranku benar-benar gelisah dan sangat malu, kedua orang tua ku juga lusuh, rumahku tidak halnya seperti gubuk yang tidak terawat, walupun aku selalu membersihkannya tetap saja seperti rumah hantu yang ubinnya selalu berdebu, sekeras apapun aku mengepelnya tetap saja terasa kotor di kaki."
"Hal yang paling membuatku nggak tenang adalah saat kamu datang kerumah dan jika tiba-tiba saja turun hujan pasti kamu nggak akan nyaman karena rumah itu pasti banyak yang bocor, lalu motormu akan kehujanan karena rumahku nggak punya teras yang baik."
Kini semua yang ada di pikiran dan hatinya, perasaan tidak enak atau was-was yang selalu merundungnya, dan atas segala nya yang selalu membuatnya takut, gadis itu telah mengungkapkannya, sekarang ia pasrah apapun sikap yang akan Saddam ambil padanya.
Saddam menyandarkan punggungnya, menyedekapkan tangannya, dan menatap tajam Nindya, seolah pria itu ingin memangsa hidup-hidup Nindya.
Tatapan yang membuat Nindya takut dan menundukkan kepalanya.
Kemudian pria itu menarik nafasnya dalam-dalam. Sedangkan Nindya masih dalam posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun, seolah ia tidak ingin di terkam oleh singa yang sedang menahan amukan.
Tubuh jangkung Saddam membuat meja yang dari tadi memberi jarak pada mereka terlihat tidak berarti, Nindya merasa mereka begitu dekat dan ia sangat jelas mendengar nafas berat Saddam.
Kaki Saddam yang panjang pun menyentuh kursi Nindya.
Pria itu mendorong kursi Nindya sesikit dengan kaki panjang nya yang kuat, membuat Nindya terkejut dan reflek menatap Saddam.
"Jadi, karena ini jugakah alasanmu sewaktu kamu gak mau ku antar pulang saat pertemuan kita yang pertama itu."
Nindya hanya menggangguk pelan, dan kembali tertunduk, meremas remas kedua tangannya.
"Jadi begitukah selama ini kamu berfikir tentang ku? pantas kamu selalu menghindar, sepertinya IQ mu memang di bawah rata-rata."
Nindya akhirnya megangkat wajahnya, kemudian melihat ke arah Saddam kini ia benar-benar tak mengerti dengan sikap pria yang ada di depannya. Apakah Saddam marah krena Nindya berfikir seperti itu atau kah Saddam marah karena kejujurannya, atau karena kemiskinannya.
"Tidak menutupi fakta bukan, yang sebenarnya memang seperti itu. Orang-orang pasti akan menertawakan ku, dan mereka juga akan menggosipkanmu, aku hanya gadis desa yang miskin nggak akan cocok bersama dengan kamu."
"Memangnya kita akan bersama-sama? kamu ingin bersamaku"
Tanya Saddam sambil mengangkat alisnya dan menunggu jawaban gadis yang duduk di depannya dan kini ia merasa canggung.
Seolah di tembak tepat di dadanya, Nindya merasa terguncang dengan pertayaan atau pernyataan Saddam, dan ia semakin merasa sangat rendah atau bahkan seolah-olah ia terlihat naif, dan kini Nindya merasa menyesal kenapa harus menjelaskan ini semua, sekarang rasa malu nya melebihi saat pagi tadi.
"Aku... Tidak bermaksud bilang bahwa kita akan bersama-sama sebagai pacar, tapi maksud dari perkataanku adalah berteman."
"Memangnya siapa yang mau berteman dengamu?"
Jawab Saddam dengan cepat.
"Apa?"
Jantung Nindya semakin terguncang.
"Sudah selesai kan mengarangnya, sekarang ikut denganku, sebagai hukuman karena kamu pingsan dan membuang-buang waktu dengan penjelasan yang sangat mengesankan."
Sindir Saddam.
Dengan cepat pria itu menarik tangan Nindya, sontak gadis itu terkejut dan dengan cepat ia harus menyelaraskan serta mengimbangi langkah kaki Saddam yang lebar, karena pria itu benar-benar berkaki panjang.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~