
"Saddam apa yang kamu lakukan pada Gaby!!!"
Teriak Martin.
Pria itu berlari dan menolong Gaby untuk naik ke atas.
"Gaby raih tanganku."
Kata Martin mengulurkan tangannya.
Namun kaki Gaby tiba-tiba terasa kram, tubuhnya menggigil, mulutnya mulai membiru. Wanita itu tidak dapat bergerak, tubuhnya benar-benar sudah mati rasa.
"Tolong aku...."
Gaby menangis dan merintih lirih. Mulut dan tubuhnya bergetar hebat karena kedinginan.
"Raih tanganku Gaby!!!"
Teriak Martin yang masih mengulurkan tangannya pada Gaby.
Ronald pun mencoba membujuk Saddam agar mau memaafkan Gaby.
"Saddam, jangan gegabah, lagi pula acara ulang tahun kamu berjalan dengan lancar, para tamu penting juga puas kan dengan acara malam ini?"
Saddam menoleh pada Ronald, tatapan dingin nya sangat terlihat sekali bahwa ia ingin meremukkan seluruh tubuh Ronald.
"Wanita itu telah membuat kesalahan besar."
Kata Saddam.
"A-aku minta maaf Sad-Saddam... Ku mohon bebaskan lah aku..."
Kata Gaby terbata-bata.
"Aku memberi mu waktu 1 hari untuk meminta maaf pada gadis itu."
Kata Saddam.
"Apa!!! Ternyata ini karena pelayan lusuh itu!!!"
Kata Ronald terkejut dan hampir tak percaya.
Dengan cepat Saddam pun mendorong Ronald ke dalam kolam renang.
"Selamat bergabung."
Kata Saddam pada Ronald yang sedang berjuang dari dinginnya air kolam renang.
"Gaby cepat minta maaf dan turuti semua yang Saddam inginkan."
Kata teman-teman Gaby, namun mereka kemudian terdiam secara bersamaan karena tatapan menusuk Saddam.
"A-aku akan minta maaf pada pelayan itu."
Kata Gaby.
"Ku beri waktu sampai besok malam."
Kata Saddam sembari mematikan pemantik api nya dan menyimpannya ke dalam jas nya.
Farah yang berada di ruang keluarga bersama tamu-tamu yang lainnya, melihat kegaduhan ditaman melalui jendela dan kemudian wanita itu menutup tirai jendela agar para undangan serta orang tua Saddam tidak melihat kejadian tersebut.
__ADS_1
Farah pun datang dengan membawa handuk karena ia telah melihat bagaimana tindakan dingin Saddam.
"Saddam apa yang telah kamu lakukan pada mereka."
Tanya Farah dengan ekspresi tak percaya dan juga takut.
"Aku sedang memberikan pelajaran pada orang rendahan."
Kata Saddam tanpa melihat pada Farah.
"Lain kali gunakan tanganmu dengan baik, kalau tidak aku akan memotongnya."
Kata Saddam pada Gaby.
Kemudian Saddam pergi meninggalkan mereka. Kini semua orang membantu Gaby dan Ronald untuk naik ke atas, tubuh mereka sudah sangat dingin, dan dengan cepat Farah memberikan handuk yang sudah ia bawa untuk mereka berdua.
"Farah yang melihat kejadian itu merasa bahwa Saddam memiliki sisi lain yang kejam, masalah apa yang mengganggunya sehingga bertindak seperti itu, tapi ia juga tidak punya pilihan lain.
Keluarga Farah mengharapkannya menikah dengan Saddam karena yang sebenarnya mereka sedang mengalami krisis yang sangat serius namun tidak pernah diuangkap pada publik karena pasti mereka akan tersingkir dari kalangan elit.
Dari kejauhan Martin masih memperhatikan kepergian Saddam.
"Bagaimana bisa pria itu bisa sampai sejauh ini membela seorang pelayan lusuh, bukan kah sikap nya itu terlalu berlebihan."
"Apa sebenarnya hubungan dia dengan pelayan wanita itu."
Dalam hati Martin menerka-nerka.
Karena rasa penasarannya, ia akan mulai menyelidiki siapa sebenarnya gadis itu dan ada hubungan apa mereka, sehingga membuat Saddam lepas kendali.
.
.
.
"Lucas dimana gadis itu."
Tanya Saddam.
"Nona meminta untuk tidur di tempat temannya boss, saya masih berjaga di luar."
Kata Lucas.
"Beritahu lokasinya, aku segera kesana."
Kata Saddam dan kemudian menutup panggilan telfonnya.
Pria itu dengan segera mengemudikan mobil mewahnya, ia tahu ada seseorang yang membuntuti di belakang, dan kini Saddam semakin menginjak gas nya lebih dalam, mempercepat mobil balapnya, hingga orang itu tertinggal jauh.
"Kenapa Martin mengikutiku."
Kata Saddam sembari mata nya masih bersiaga.
Perjalanan 45 menit membuat Saddam sangat frustasi, baru kali ini ia merasakan perjalanan yang terasa lama, perasaannya hanya di liputi oleh kecemasan dan ketidaksabaran ingin segera bertemu dengan Nindya, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja tanpa kurang sedikitpun.
Akhirnya Saddam sudah tiba di tempat yang ia tuju, kos tempat Nindya tidur berada di dekat pabriknya.
Sedangkan Lucas kini sedang meminta ijin pada pemilik kos untuk meminta kunci serep, dan tentunya Lucas memberikan sejumlah uang yang cukup banyak.
Kemudian pemilik kos membuka kamar milik Fatiin terlihat Nindya sudah tidur di samping Fatiin.
__ADS_1
Saddam masuk, dan dengan perlahan serta dengan kelembutan pria itu menggendong Nindya, agar gadis itu tidak terbangun namun secara reflek Nindya justru mengalungkan tangannya pada leher Saddam yang ia fikir itu adalah guling.
Saddam tersenyum, lalu ia keluar dan diikuti Lucas yang kemudian berpamitan pada sang pemiliki kos.
"Sebaiknya anda tetap menjaga rahasia ini dengan baik, jika anda ingin tetap menjalankan bisnis ini."
Salam peringatan yang Lucas berikan sudah sangat jelas.
"Baik Pak."
Jawab sang pemilik kos.
"Lucas suruh seseorang mengambil mobilmu, kamu pulang bersamaku ke rumah."
Lucas mengerti apa yang di maksud Saddam "rumah", kemudian orang kepercayaan Saddam itu mulai mengemudikan mobil nya.
Saddam menidurkan Nindya di dalam mobilnya, dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk gadis itu, Saddam dengan suka rela melakukan itu semua, namun ia masih belum sadar bahwa kini pria itu mulai tertarik dengan kehidupan Nindya.
Saddam masih tidak menyadari apa yang ia lakukan sudah melewati batas privasi orang lain, entah kenapa pria itu tidak berfikir lanjang jika menyangkut Nindya.
Mobil mulai memasuki garasi rumah milik Saddam, kemudian Lucas mematikan mesin mobil, ia turun dan membukakan pintu untuk Saddam, tak berapa lama p0ria itu turun dengan menggendong Nindya.
Gadis itu begitu lelah, lelah dengan kehiduoannya yang semakin banyak masalah, hingga ia terlelap tidur dan tidak menyadari apa yang sudah Saddam lakukan. Entah akan seperti apa saat ia bangun dan mendapati dirinya tidak di kamar yang ia tempati sebelumnya.
Dengan pelan Saddam masuk ke dalam kamar, dan menidurkan Nindya di atas ranjangnya.
"Aku membawanya kesini lagi."
Kata Saddam, merapikan rambut Nindya yang menutupi wajah dengan perlahan agar tidak membangunkan Nidnya.
Pria itu kini juga memperhatikan wajah polos dan wajah alami milik Nindya, alis yang natural dan hidung mungil namun sedikit mancung.
"Wajahnya asli."
Kata Saddam.
"Alisnya asli, bibirnya juga asli berwarna merah muda dan terlihat sangat..."
Saddam tidak melanjutkan kalimatnya namun ibu jari nya justru menekan bibir Nindya dengan lembut. Pria itu menelan ludahnya.
Tanpa ia sadari, perlahan Saddam mencium bibir gadis itu. Hanya ciuman sepersekian detik, namun ternyata justru membuat Saddam makin ingin mencobanya lagi.
Saddam merasa bibir Nindya begitu mungil dan kenyal, ini kali pertamanya pria itu mencium seorang gadis yang benar-benar ingin dia cium.
Dan kini Saddam menginginkannya lagi, lagi dan lagi, dan semakin menginginkan lebih.
"Apa yang telah ku lakukan."
Kata Saddam ketika wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Nindya berniat ingin menciumnya lagi.
Hawa tubuh nya semakin panas, dan pria itu mencengkram bantal yang ada di samping Nindya.
Saddam kemudian mengurungkan niatnya, ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuh dan kepalanya dengan air dingin.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1