CINTA GILA PRIA MILIARDER

CINTA GILA PRIA MILIARDER
EPISODE 17 = DI KUCILKAN OLEH WARGA KAMPUNG DAN PEMUDA PEMUDI


__ADS_3

Nindya yang merasa di panggil namanya, mendongak kan kepala, ia yang sedari tadi asik memainkan hape karena sedang mencari pekerjaan di laman internet pun terkejut, kenapa ada yang memanggilnya setelah melihat sosok yang berada tepat di depannya, ia justru semakin bingung, darimana pria ini tahu namanya.


"Ya, maksudmu, kamu panggil aku?"


Tanya Nindya, kemudian ia celingak celinguk melihat kanan kirinya, tidak ada orang lain di tempat itu selain dirinya.


"Kamu lupa sama aku?"


Tanya pria itu dan masih berdiri di depan Nindya.


Tubuh nya tinggi dengan berat badan ideal serta sedikit berotot, dilihat nya kaki pria itu terlihat kokoh kuat mungkin karena sering berlari. Meski kulitnya terlihat lebih cokelat tapi pria itu cukup tampan dan manis.


"Johan?"


Kata Nindya sedikit ragu, takut salah sebut nama.


Pria itu tersenyum dan kemudian duduk di samping Nindya sembari mengelap keringat dengan handuk kecil.


"Yak betul, lama tidak berjumpa Nindya, bagaimana kabar kamu?"


Kata Johan sembari meminum botol mineralnya, dan belum sempat Nindya jawab pria itu dah bertanya kembali.


"Kamu ngapain disini sendirian?"


"Aku baik. Aku seharian ini lagi cari kerjaan, tapi belum dapat juga, jaman sekarang mencari kerjaan susah. Jadi aku istirahat sebentar sambil minum, lagian tempatnya juga teduh aku malah jadi kerasan."


Nindya tersenyum dan sedikit malu.


Johan adalah teman sekolah Nindya ketika masih di bangku SMA, dia adalah siswa terbaik dan prenah menjadi pengibar bendera di istana negara. Perawakannya yang tinggi, tampan, dan juga baik hati membuatnya menjadi bintang di sekolah apalagi dirinya sangat pintar dan tidak pernah pelit ilmu.


"Coba aku lihat cv kamu."


Kata Johan sembari mengulurkan tangannya.


Nindya ragu memberikannya, karena ia fikir CV nya adalah barang privasi yang tidak boleh sembarang orang melihatnya tapi dia juga tidak punya alasan untuk menolak Johan dan akhirnya Johan memeriksa Cv milik Nindya, membaca nya dengan teliti dan tersenyum.


"Kamu mau kerjaan yang bagaimana, dan gaji berapa?"


Tanya Johan.


"Apa saja sih, aku orangnya nggak pilih-pilih pekerjaan, dan untuk masalah gaji aku juga tidak menuntut yang penting aku dapat pekerjaan secepatnya."


Jawab Nindya lugas.


"Kamu bisa pakai komputer kan?"


Tanya Saddam lagi.


"Bisa, tapi nggak banyak, cm sebatas excel sama word aja, untuk power point juga nggak terlalu lancar."


Besok kamu datang ke kantor ku, kamu kerja di sana sebagai administrasi mau?"

__ADS_1


Kata Johan.


"Apa?"


Nindya kebingungan, apakah Johan sedang mengerjainnya atau ini hanya semacam lelucon.


"Minta nomor telfon kamu, nanti aku kasih alamat kantornya."


"Sebentar Johan tapi aku masih nggak faham."


Nindya mengangkat telapak tangannya menahan kalimat Johan.


"Aku punya pabrik yang bergerak di bidang makanan, dan tekstil, kamu bisa pilih mau jadi administrasi di pabrik ku yang tekstil atau di pabrik yang mem produksi makanan, selebihnya jika ada pertanyaaan kamu bisa cari namaku di laman Internet."


Johan menjelaskan dengan penuh pengertian.


"Kamu nggak bercanda kan Johan?"


"Kasih nomor kamu, nanti aku hubungi lewat pesan whatsuup."


Kata Johan mengeluarkan ponsel mahalnya.


Setelah Johan berpamitan untuk pulang bersama teman-temannya Nindya kemudian membuka situs internet dan mengetik nama Johan, terlihat nama panjang Johan dan foto-foto pria itu.


"Selama ini aku benar-benar hidup di jaman purba, apa hanya aku yang tidak mengetahui Johan anak konglomerat."


Kata Nindya sembari menutup mulutnya dengan tangannya.


Dikatakan bahwa JOHAN PRANATA DHARMAWANGSA adalah pewaris satu-satu nya kekayaan milik JOO HENG PYOO.


Aset itu terdiri dari pabrik makanan, tekstil, batubara dan bidang properti di antara lain hotel, apartemen, mall dan tanah serba beberapa rumah sakit swasta.


"Aku berurusan dengan pria kaya lagi, semoga Johan bukan teman Saddam, kalau mereka berteman bisa jadi otak dan kepalanya sama, semoga mereka tidak berteman...."


Geram Nindya, setengah mengeluh.


.


.


.


Sore hari Nindya tiba di rumahnya, kini ia sedikit lebih tenang karena sudah memiliki pekerjaan, meski tidak tahu pekerjaanya akan seperti apa, bagaimana rupa pabrik milik Johan tapi setidaknya ada batu loncatan yag tidak boleh Nindya sia-siakan.


Saat pulang kerumah ia mendapati undangan di bawah pintunya, dan ternyata itu adalah undangan untuk rapat pemuda dan pemudi, Nindya hampir lupa kalau dirinya menjadi seksi konsumsi untuk acara wisata pemuda dan pemudi di kampungnya.


Seperti biasa sebelum mandi ketika Nindya masih bersekolah, gadis itu selalu rajin membesihkan rumahnya terlebih dahulu, dan menyiapkan teh untuk kedua orang tuanya yang sebentar lagi akan pulang dari sawah.


Namun ketika Nindya sedang menyapu di halaman rumahnya, terdengar segerombolan ibu-ibu yang sedang bergosip di rumah Dino, rumah itu tepat berada di depan rumah Nindya.


"Mbakyu, jaman sekarang itu didik anak harus hati-hati, Laras kan masih kuliah suruh belajar yang bener, denger-denger sekarang banyak yang jadi cewek gak benerrr..."

__ADS_1


Kata ibu itu sampai mulutnya terlihat monyong dan panjang, matanya melirik ke arah Nindya hingga bola mata nya seakan ingin keluar.


"Walah, yu... Laras itu sekolah saja dari kecil sudah pinter, nggak pernah main keluyuran apalagi sampai ndak pulang, dan sekarang di terima di Universitas favorit itu karena ketekunan dan kerja kerasnya secara halal, dia tahu bagaimana menjaga nama baik keluarganya, apalagi mamaknya yang setiap hari mendidiknya."


Kata ibu-ibu satunya lagi.


"Iya mbakyu, anakku juga, walaupun ndak pinter-pinter amat tapi sampai sekarang dia kerja halal, selalu kasih uang untuk kedua orang tuanya, ndak ada tuh yang namanya jadi simpenan-simpenan, apalagi kalau sampai simpenan om-om tua. Amit-amit."


"Nanti ya kalau sampai terjadi sesuatu hal di luar pernikahan, aku ndak mau dia ada di kampung kita, suamiku apak nya Sarah mau usul ke pengurus desa, pokoknya orang itu harus diusir dari kampung kita, bikin malu-maluin."


kata ibu-ibu yang lain pula.


Nindya yang mendengar itu semua membuatnya berfikir, untuk siapa mereka berbicara seperti itu, apa untuk dirinya, apa yang salah dengan dirinya, bahkan dia tidak melakukan hal senonoh semacam berzina.


Gadis itu masuk dan menutup pintu, sekilas ia melihat dari balik kaca jendela ruang tamu, terlihat para ibu-ibu yang berkumpul menunjuk-nunjuk rumah Nindya dan wajah mereka terlihat belepotan karena mulut dan mata mereka saling memberikan kode.


Pukul 5 sore Nindya membersihkan diri, mandi dan berdandan sekedarnya, seperti biasanya yang ia lakukan dandanan yang tidak berlebihan.


Untuk acara rapat pemuda-pemudi hari ini berada di rumah Dino, karena rapat ini hanya bersifat intern dan hanya pengurus saja maka rapat di majukan ba'da maghrib, setelah Nindya sholat maghrib gadis itu pun memakai jilbab instan sederhananya.


"Nduk.. mau kemana."


Tanya amaknya.


"Mau rapat mak, kerumah Dino."


Jawab Nindya singkat.


"Nduk ada duit ndak, 100ribu buat bayar litrik."


"Nggih mak, nanti Nindya kasih."


Nindya yang perasaannya sedang tidak menentu memilih untuk berangkat rapat lebih awal dan keluar dari rumah secepatnya.


Rapat pun di mulai sedangkan Nindya merasa telah menjadi orang asing dan tanpa sepengetahuannya pun seksi konsumsi telah di ganti dengan Laras. 


"Kenapa aku diundang, kalau seksi konsumsi di ganti Laras."


Nindya memberanikan diri membuka suaranya, yang sedari tadi ia merasa hanya seperti patung dan tidak di anggap.


"Maaf Nindya, kita fikir kamu sibuk jadi seksi konsumsi diganti Laras."


Jawab Edo sebagai ketua pemuda pemudi di Kendang Mulya.


"Jadi kenapa kalian mengundangku rapat, dan tidak ada info sama sekali tentang pergantian pengurus ini."


Tanya Nindya kembali, tubuhnya terasa bergetar dan sedingin es, antara menahan rasa takut, malu, dan sedih.


.


.

__ADS_1


.


~bersambung~


__ADS_2