
Perjalanan memakan waktu selama kurang lebih 40 menit, dan akhirnya mereka sampai di depan gerbang besar bercorak kayu mengkilat, gerbang itu terbuka, satpam berlari menyambut Saddam yang memasuki garasi.
Nindya yang tertidur merasa mobil telah berhenti ia kemudian terbangun dan membuka matanya, melihat beberapa mobil mewah berjejer dan motor sport yang ia kenal terparkir tepat di depannya.
Saddam membuka pintu mobil dan mengajak Nindya untuk masuk.
"Bukannya gak sopan kalau aku bertamu, ini hampir pagi, ayah dan ibu mu pasti berfikir aku tidak beradab."
Nindya masih enggan untuk turun.
"Ini rumahku, sekarang hanya ada satpam, dan para pembantu datang besok pagi, mereka tidak menginap."
Saddam tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Tapi..."
Nindya masih ragu dan takut, apakah Saddam pria baik atau kah ada maksud lain.
"Aku tidak akan mengulangi kalimatku Nindya, aku menunggu mu seharian penuh, belum mandi juga."
"Siapa suruh kamu nungguin aku?"
Nindya memprotes.
Namun pada akhirnya Nindya tidak dapat menolak, dengan berat dan tak punya pilihan lain karena ia juga merasa lelah gadis itu memutuskan keluar dari mobil dan mengikuti Saddam untuk masuk ke dalam rumah.
Nindya terpesona dengan pintu mewah yang besar, rumah Saddam memiliki gaya modern, namun hanya abu-abu dan warna putih mendominasi rumahnya, bersih, rapi, dan tidak terlalu banyak hiasan pernak pernik.
Nindya masih mengekor di belakang Saddam, naik keatas dan menuju kamar.
"Kenapa ke kamar?"
Tanya Nindya.
"Kamu gak mandi? Badanmu bau."
Kata Saddam sembari masuk ke dalam kamar mandi menghidupkan kran dan mengisi bathup dengan air hangat.
"Aku menggendongmu tadi, kamu ingat?"
Imbuh Saddam lagi.
"Aku akan ke kamarku sendiri untuk mandi, kamu bisa tidur disini, dan ada baju ganti di almari."
Kalimat Saddam seketika membuat Nindya seperti tertimbun batu besar di kepalanya, dan gadis itu hanya diam melihat Saddam pergi meninggalkannya.
Nindya kemudian menutup pintu kamarnya, dan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuh letihnya, tak butuh waktu lama baginya untuk mandi, karena jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Nindya kemudian memakai piyama yang ada di almari seperti kata Saddam tadi, gadis itu hanya sedikit berfikir apakah saddam memiliki adik perempuan kenapa ada banyak baju wanita di kamar yang ia tempati, atau jangan-jangan ini kamar adik perempuannya.
"Apa akan seperti di sinetron-sinetron, tiba-tiba adik perempuannya datang dan masuk ke dalam kamar lalu marah karena kamarnya di pakai oleh gadis miskin seperti diriku, lalu ia menjambakku dan melemparkanku keluar? Astaga hanya membayangkan saja aku sudah takut."
Nindya memeluk lengannya sendiri dan kemudian naik ke atas tempat tidur menyelimuti tubuhnya, tanpa waktu lama gadis itu pun tidur dengan pulas, saat itulah Saddam masuk ke dalam kamar Nindya, melihat gadis itu sudah terlelap pria itu kembali ke kamarnya.
.
.
.
"Eh siapa kamu tidur di kamarku!!!"
Teriak seorang perempuan memekakkan telinga hingga membuat Nindya kaget, namun gadis itu belum juga bangun dari tidurnya, ia merasa sedang bermimpi.
"Bangun!!! Keluar dari kamarku!!!"
__ADS_1
Bentak perempuan itu lagi kemudian meraih tangan Nindya dengan kasar dan menyeretnya bangun.
Sontak saja Nindya terkejut dan seletika membelalakkan matanya, karena perempuan itu melemparkannya ke lantai dengan kasar sembari memaki-maki Nindya dengan sebutan yang kasar dan semakin tidak jelas.
"Beraninya tubuh kotormu tidur di kamarku, siapa kamu!!!"
Mata perempuan itu melotot dan seakan ingin keluar.
"A-aku.... Aku..."
"Dasar gagap tak tahu diri!!!"
Perempuan itu dengan cepat dan keras menampar Nindya hingga gadis itu terjungkal.
"Tidakk!!!"
Nindya berteriak dan saat itu juga ia terbangun dari mimpi buruknya.
"... Untung mimpi."
Kata Nindya menepuk-nepuk dadanya, nafasnya beradu kecepatan dengan detak jam weker yang berada di samping ranjangnya.
"Kamu mimpi buruk?"
Tanya seorang pria yang sudah Nindya hafal suaranya.
"Sejak kapan kamu di sini."
Kata Nindya terkejut dan kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya, gadis itu masih duduk di atas ranjang.
"Baru saja, aku membawakanmu sarapan."
Sadam membawa baki bewarna coklat mengkilap dengan roti dan buah serta susu.
"Makanlah."
"Eh... Anu.. Apa orang kaya sarapannya selalu seperti ini?"
Nindya melirik kebawah, nampan di pangkuannya itu berisi roti panggang dengan selai, irisan beberapa buah dan susu putih hangat.
"Ehmm dan aku juga belum gosok gigi, cuci muka ataupun mandi."
Imbuh Nindya sembari menutup mulutnya lekat-lekat dan tersenyum.
"Aku gak tahu apa kesukaanmu, jadi aku asal menyiapkannya."
Kata Saddam.
"Akan ku makan dengan cepat, sekarang sudah pukul 6 pagi aku harus bekerja."
Kata Nindya sembari memakan sarapannya.
"Ini tanggal merah kan?"
Tanya Saddam dan alisnya mengkerut.
"Hah?"
Nindya berhenti mengunyah dan kemudian ia berfikir, mengambil ponselnya dan melihat kalender, lalu melihat grup Whatsup.
"Ahh benar, sekarang libur kerja, aku lupa."
"Kamu terlalu keras bekerja, sampai lupa hari dan tanggal."
Saddam menyedekapkan tangannya.
__ADS_1
"Apa kamu begitu suka uang, di banding dengan kesehatanmu sepertinya kamu benar-benar tidak peduli. Lembur sampai tengah malam itu melanggar hak asasi karyawan meskipun kalian di bayar."
Kata Saddam dengan tatapan serius.
"Kamu bukan orang miskin bagaimana kamu tahu apa yang kami rasakan."
Nindya berkata masih dengan memakan makanannya tanpa melihat Saddam.
"Para manager di perusahaanku selalu mengajukan penambahan jam kerja atau lembur, tapi aku jarang memberikan ijin pada mereka, karena itu setiap mereka mengajukan form lembur harus di sertai dengan data yang valid dan alasan yang tepat."
"Itu kan perusahaanmu, pabrik di tempat ku bekerja pemiliknya adalah orang luar negeri."
"Justru orang luar negeri biasanya hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi, atau mungkin mereka luput dari sidak inspeksi ketenagakerjaan pemerintah daerah."
"Entahlah, yang kami tahu, yang terpenting kami mendapat pekerjaan dan mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup kami."
"Tapi, akhir-akhir ini pekerjaanku sangat kacau, tiba-tiba saja aku di buang dan di lemparkan di divisi lain, aku harus belajar lagi dan mengejar target, sampai jam istirahatku juga ku pakai bekerja."
"Apakah itu alasannya kamu jarang balas pesanku? Sesibuk itu?"
Tanya Saddam sembari menundukkan kepalanya mencoba untuk melihat raut wajah Nindya yang tertunduk.
"Em..."
Kata Nindya sembari menganggukkan kepalanya, ia merasa malu karena kini merasa menjadi perempun yang rapuh.
"Kamu mau bekerja di tempatku?"
Tanya Saddam.
"Tidak Saddam, aku nggak akan menyerah begitu saja, aku yakin bisa melaluinya, meskipun sulit, semua hanya butuh waktu dan usaha yang lebih keras."
Kata Nindya mantap, namun ia sendiri merasa ragu. Lagi pula ia tidak ingin bekerja di perusahaan Saddam, dengan pria itu sudah memberikannya ponsel serta melihat keadaannya sebagai anak orang miskin saja sudah membuatnya sangat malu.
"Aku sudah selesai, aku harus pulang."
Kata Nindya.
"Mandilah dulu, setelah itu ku antar pulang, ganti pakaianmu dengan yang bersih, di almari ada pakaian untuk kamu tapi ngomong-ngomong tadi kamu mimpi apa?"
"Oh... tadi itu..."
Nindya tersenyum malu.
"Apa kamar ini milik adik perempuanmu? Aku bermimpi adikmu marah dan menyeretku lalu menamparku."
Kata Nindya dengaan ekspresi serius.
"Kamar ini milik istriku."
Kata Saddam.
"Apa!!!"
Nindya terkejut hingga ingin pingsan.
"Aku harus pergi sekarang juga, ini akan jauh lebih gawat dari pada apa yang ada dalam mimpi ku tadi malam."
Nindya bergegas turun ke lantai dan memberikan baki itu pada Saddam, pria itu terlihat bingung melihat tingkah Nindya yang panik.
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~