CINTA GILA PRIA MILIARDER

CINTA GILA PRIA MILIARDER
EPISODE 11 = PENYESALAN NINDYA


__ADS_3

Setelah Nindya masuk ke dalam mobil, Saddam melajukan mobilnya keluar dari garasi,0 dan Pak Pram dengan cepat memencet tombol otomatis agar gerbang rumah terbuka, pria paruh baya itu lalu membungkukkan punggungnya sedikit, pertanda ia memberi salam dan hormat.


Saddam menyetir dengan kecepatan normal, membelah padatnya jalan raya, pria itu terlihat sangat tampan, dengan jam tangan mahal terpampang ketika ia menyetir.


Nindya mencuri curi pandang, sedangkan Saddam benar-benar membisu tidak mengeluarkan sepatah katapun, gadis itu kebingungan membaca karakter Saddam, apakah Saddam marah kepadanya karena telah berfikir seenaknya, atau marah karena kejujurannya, atau marah karena mengetahui yang sebenarnya dan merasa kecewa.


Setelah perjalanan beberapa jam lamanya mereka telah sampai dan Saddam membangunkan Nindya yang tidak sadar tidur dengan lelap selama perjalanan.


"Bangunlah, kita sudah sampai."


Kata Saddam perlahan membangunkan Nindya agar gadis itu tidak terkejut.


Sedikit demi sedikit Nindya memuka matanya, terlihat wajah Saddam yang tampan sangat dekat dengan wajahnya.


"Malaikat."


Gumam Nindya dengan lirih dan tentu saja Saddam tidak mendengarnya karena ketika Nindya membuka matanya Saddam sudah keluar mengambil dan mengeluarkan barang-barang dari bagasi.


Kemudian Nindya turun dan menyusul Saddam.


"Tempat apa ini.?"


"Villa pribadi, nanti kamu akan tahu untuk apa kita di sini."


Tak berapa lama beberapa pelayan datang untuk membantu membawa barang-barang Saddam. Sedangkan Saddam tiba-tiba saja menggandeng tangan Nindya menujukkan pemandangan dari atas Villa nya.


Semua bukit-bukit itu terlihat jelas, bahkan pemandangan pantai selatan pun terlihat dari atas Villa.


"Ini menakjubkan, indahnya, banyak rumah terlihat kecil, dan bisa melihat bukit-bukit. Apa kita berada di dataran paling tinggi?"


Kata Nindya.


Saddam menjawab dengan anggukan.


"Kita akan menginap disini, memanggang daging dan sedikit pesta, hanya ada kita berdua."


"Apa!!!"


Nindya berbalik melihat Saddam yang berada tak jauh di belakang nya.


"Jangan khawatir orang tuamu sudah mengijinkan, pagi-pagi buta aku meminta ijin pada mereka, aku membantu mereka mencetak bata, dan membantu mencangkul, saat di rumah sudah ku ceritakan semuanya bukan."


Kata Saddam seperti orang yang tak berdosa.


"Ini nggak masuk akal, kenapa harus aku, dan kenapa kamu melakukan ini semua padaku."


"Hanya semalam, untuk hari ini saja, temani aku melewati malam satu kali lagi. Besok adalah hari ulang tahunku."


"Apa yang bakal orang desa katakan jika mereka tahu aku menginap 3malam dengan seorang pria."


"Aku akan menyumpal mulut mereka yang berani menghinamu."

__ADS_1


"Kenapa harus denganku, kamu orang kaya pasti punya banyak teman dan mereka juga pasti ingin merayakan ulang tahun mu bersama-sama, ah ada lagi, pasti orang tua mu juga mengharapkan hal sama juga."


Nindya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan berjongkok.


"Atau para karyawanmu di kantor, kamu orang kaya, pasti banyak yang ingin merayakan ulang tahunmu."


Sambung Nindya sembari mendongakkan kepalanya menatap Saddam.


"Justru karena itu, aku malas, akan terlalu ramai dan terlalu banyak acara membosankan dan membuang-buang waktu."


"Jadi maksudmu, kamu ingin menghindai mereka?"


"Lebih tepatnya aku malas bertemu orang orang ribet."


"*Orang kaya aneh, kenapa aku harus bertemu dengan pria aneh ini, aku benar-benar menyesal dan mengambil keputusan yang salah saat dulu aku mengiyakan permintaannya ingin bertemu. Aku benar-be*nar salah mengambil keputusan, aku menyesal, benar-benar menyesal, dia sangat merepotkan."


Kata Nindya dalam hati, sembari giginya bergerak gemeretak.


Daerah puncak begitu dingin, hari makin sore, kabut tebal makin menyelimuti daerah itu, Saddam yang memiliki villa pribadi sudah merencakannya saat ia bertemu dengan Nindya pertama kali, dan sebelum mereka sampai di tempat itu Saddam sudah menyiapkan semuanya, memboyong beberapa pelayan pribadi nya.


"Kamu mau jalan-jalan ke beberapa kebun teh?"


Tanya Saddam ketika melihat Nindya mulai jenuh.


"Kebun teh? ada kebun teh di sini? milik mu?"


"Lahannya milik perusahaanku, tapi lahan itu di sewa untuk perkebunan teh."


"Tidak juga."


"Tapi..."


"Tenang saja, aku nggak akan memakanmu, lagian badanmu kurus gak punya daging, pasti keras."


Saddam tertawa pergi meninggalkan Nindya, masuk ke dalam lift.


"Aku kurus? badanku ideal, bukan kurus, semua orang memuji tubuh langsingku. Dasar!"


Gerutu Nindya, sembari menyusul Saddam yang sudah berada di dalam lift untuk kembali ke bawah.


Nindya sekarang sedang berdiri dan melihatihat tamab yang berada di belakang villa, taman yang penuh bunga dan rumput yang tertata rapi. Bahkan sejenak tadi Nindya ingin menggelindingkan tubuhnya di atas rumput yang tebal dan bersih itu.


Tiba-tiba sebuah Jip terbuka dengan hanya dua dudukan keluar dari kandangnya, mobil Jip model klasik yang mewah mendekat pada Nindya. Gadis itu hanya melongo karena tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Apa dia punya sihir, kenapa selalu datang dengan tampilan yang keren, apa dia mau pamer."


Ucap Nindya dalam hati, gadis itu memegangi dadanya karena berdesir dan sangat panas.


"Tapi sifatnya selalu mendominasi, jangan-jangan dia psikopat, aku sungguh tidak menyukainya."


Saddam turun dan kemudian mendorong tubuh Nindya dengan lembut untuk menaiki mobil jip itu, kemudian pria itu kembali ke kursinya dan mengemudikannya dengan pelan agar Nindya dapat menikmati setiap inci pemandangan yang tersuguhkan di atas puncak.

__ADS_1


Perjalanan itu tidak memakan waktu lama, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah yang bisa dikatakan pondok kecil cukup mewah berdiri dengan gagah di antara kebun teh yang mejulang tinggi. Rumah pondok itu berada di tengah-tengah kebun teh.


Seorang pria paruh baya keluar dari pondok itu di susul istrinya, menyambut dengan hangat. Nindya memberi salam pada mereka.


"Bagaimana kabar kalian."


Kata Saddam.


"Selamat datang pak, sudah sangat lama tidak berkunjung kemari,dan kami semua di sini dalam kondisi sehat, terimakasih pak."


"Aku mengajak seseorang untuk melihat-lihat, apa jam segini ada yang panen?"


"Sebetulnya sudah lama kebun teh ini hanya kami yang memanennya sendiri, anak-anak kami yang membantu, tapi ada juga yang menawarkan diri untuk bekerja dengan upah per jam."


"Apa ada masalah?"


Tanya Saddam.


"Akhir-akhir ini banyak pekerja teh yang lebih memilih bekerja di pabrik baru, katanya ada pabrik tenun membuka lowongan pekerjaan besar-besaran, mereka membangun pabrik itu di lahan milik perusahaan Sasongko, dan ternyata lahan itu sudah di jual pada pihak asing yang tak lain adalah pemilik pabrik tenun tersebut."


"Apakah Pabrik Tenun Lo kheng Chun."


Tanya Nindya penasaran.


"Nggih, benar."


Jawab Nyonya Badriah .


Saddam melihat ke arah Nindya.


"Setahu saya pabrik itu hanya untuk gudang bahan mentah dan pengolahannya saja, sedangkan pengerjaan finishing nya ada di tempat saya bekerja saat ini, beberapa bulan lalu pabrik itu sempat di demo oleh warga sekitar yang mengeluh karena limbah nya di buang begitu saja di perairan sungai, padahal sungai itu untuk irigasi persawahan milik para warga."


"Iya, kemarin sewaktu saya pergi kesungai untuk memandikan sapi, saya juga merasa ada yang aneh dengan sungai itu, tapi warga di sekitar pabrik hanya diam dan pura-pura tidak mengeri,tidak tahu apa yang di berikan pada mereka sehingga mereka memilih bungkam."


Kata Pak Burhan menimpali kalimat Nindya.


"Aku akan selidiki ini."


"Tapi saddam, pemilik perusahanan tenun itu punya perlindungan khusus dari para pejabat setahuku seperti itu."


"Tenanglah, jangan khawatir."


Kata Saddam sembari membelai keoala Nindya.


.


.


.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2