
Saddam melihat Nindya pergi, gadis itu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang.
"Tekad nya sangat kuat."
Gumam Saddam, dengan senyum klise.
Kemudian Saddam memutar mobil nya dan pergi.
Sedangkan di desa, kabar tentang Nindya yang beberapa hari tidak pulang telah sampai dimana-mana.
Dan hari ini para tetangga Nindya menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka bahwa Nindya pulang dengan seorang pria bermobil.
Mereka menyaksikan bagaimana gadis itu turun dari dalam mobil mewah.
Ketika Nindya masuk ke dalam rumah, dan Saddam sudah pergi, para tetangga khususnya ibu-ibu mulai saling berbisik, ekspresi mereka saling beradu, wajah mereka saling memberikan kode, apalagi jika mereka bukan bergosip.
"Walah, beneran jadi simpanan orang yu...."
Kata seorang tetangga Nindya yang sedang menggendong cucunya sembari menepuk bahu ibu-ibu yang lainnya.
"Amit-amit."
Sahut ibu-ibu lainnya.
"Untung Laras anaknya bener, nggak kayak si itu."
Kata Ibu Laras menimpali.
"Bosen hidup miskin kali yu..."
Ibu yang lain nya lagi berbicara dengan nada mengejek.
Kemudian mereka semua tertawa terbahak-bahak. Menggunjing, Mencemoh, dan menghina tanpa ampun.
Para ibu-ibu itu selalu berkumpul di rumah Dino, mereka selalu menggosipkan siapa saja, dan sekarang adalah giliran Nindya yang berita nya sedang panas-panasnya.
Dino pun yang melihat bagaimana Nindya sang pujaan hati beberapa hari tidak pulang dan kini di antar oleh seorang pria bermobil mulai merasa benci pada tingkah laku Nindya yang di nilainnya sangat murahan.
Nindya berfikir gosip itu akan segera mereda dan kemudian hilang, namun semakin hari justru semakin panas, seseorang dengan sengaja memberi bumbu agar terlihat Nindya menjadi perempuan yang tidak benar.
Parah nya kini keluarga Nindya menjadi keluarga yang di kucil kan di desanya.
"Nduk, kemarin waktu kamu ndak di rumah ada orang yang nganter motor mu, katanya habis service."
"Tetangga banyak yang lihat, dan tanya kok motornya aja, orang nya nggak ada."
Kata amak Nindya, dan tiba-tiba ia berhenti bercerita.
"Terus?"
Desak Nindya.
"Ternyata yang antar itu temannya Dino."
__ADS_1
Imbuh amaknya.
"Terus pak Saddam juga datang, bantu amak sama apak di belakang bikin bata, minta ijin kalau mau ajak kamu buat acara di rumahnya, Mbak Sri dengar mungkin dia cerita-cerita sama tetangga."
"Biarin aja mak, Nindya gak peduli sama omongan mereka, yang penting amak sama apak percaya sama Nindya. Itu sudah cukup."
Kata Nindya menyelesaikan makan dan kemudian ia kembali ke dalam kamar.
Sudah beberapa hari berlangsung dan Saddam sudah tidak lagi menghubungi Nindya, gadis itu pun juga sibuk bekerja di pabrik nya, karena beberapa hari ia bolos maka Nindya di berikan sanksi pemotongan gaji serta hukuman bekerja selama seminggu tanpa upah sama sekali.
Namun kali ini Nindya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, gadis itu sudah pada titik menyerah, divisi yang baru bukan bidang Nindya, sekeras apapun Nindya berusaha tetap saja ia tidak mampu.
Apalagi sekarang ditambah beberapa sanksi yang cukup berat bagi Nindya.
Manusia di ciptakan dengan keterbatasan dan keahlian serta kecerdasan masing-masing, dan Nindya berada pada tahap sudah cukup untuk terus bekerja di tempat yang tidak bisa ia tangani.
Hari dimana Nindya memberikan surat pengunduran diri pun tiba, gadis itu memberikan surat pengunduran dirinya kepada supervisor divisi finishing dan saat itu juga ia akan pergi meninggalkan pabrik yang telah memberikannya banyak sekali pelajaran.
Dari sanalah Nindya bisa membeli motor dan memberikan uang pada kedua orang tuanya.
Setelah Nindya berpamitan, Nindya pergi mengendarai motornya ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
Sampailah ia di gubug cafe, tempat pertama kali ia bertemu dengan Saddam.
Nindya duduk di kursi no.8 dan memesan jus alpukat.
Setelah pesanan datang Nindya masih melihat persawahan yang terlihat banyak burung sedang terbang mengitari di atasnya.
"Harus ku kembalikan, dan mengakhiri semuanya, aku nggak mau dia membawa lebih banyak masalah di hidupku, tapi sebelum itu aku harus mencari pekerjaan dan menghasilkan uang dulu."
Kata Nindya.
"Kalau nggak punya uang bagaimana bisa ganti uang
cowok menyebalkan itu."
Nindya tertawa membayangkan betapa aneh nya Saddam yang baru saja kenal sudah membelikan dia hape mahal.
Hari semakin sore dan Nindya sudah kembali ke rumahnya, gadis itu kemudian merebahkan diri di ranjang kerasnya. Tak berapa lama amaknya datang.
"Nduk, kok sudah pulang."
Tanya amaknya.
"Iya mak, nggak ada kerjaan di pabrik."
Kata Nindya berbohong.
Namun bukan amaknya jika tidak tahu karakter anak perempuan satu-satunya itu.
Namun amaknya memilih untuk diam, ia tahu kini anaknya sudah dewasa dan pasti mengerti bagainmana harus bersikap dan bertindak.
"Makan dulu nduk, amak goreng tempe sama bikin sambel, amak kesawah dulu."
__ADS_1
Kata amaknya sedikit berteriak takut Nindya tidak mendengar, dan sembari pergi meninggalkan Nindya yang masih tidur memiringkan tubuhnya membelakangi pintu kamar yang terbuka dan di situlah tadi amaknya berdiri.
"Iya mak nanti..."
Jawab Nindya lesu.
.
.
.
Pagi yang malas untuk Nindya, beberapa tahunberlangsung gadis itu selalu bangun pagi san berangkat menuju tempat kerjanya yang berat.
Namun kali ini setelah sholat subuh gadis itu kembali tidur dan menikmati hari santai, meski sesaat tadi ia reflek ingin mandi dan bersiap pergi bekerja namun tersadar ketika melihat beberapa amplop yang berisi CV tentang dirinya yang ia buat tadi malam.
Dan hari ini Nindya akan mengelilingi kota untuk mencari pekerjaan, berapa pun gaji nya bagi Nindya tidak masalah. Setelah mandi dan bersiap, serta dandan sekedarnya karena pada dasar nya tanpa polesan apapun Nindya sudah terlihat cantik. Kemudian gadis itu memasukkan 5 amplop coklat yang berisi CV nya ke dalam tas.
"Oke, saat nya memutari kota dan melamar pekerjaan, aku harus mengembalikan semangatku lagi, membuka lembaran baru yang dan fokus pada tujuan ku dari awal bekerja, melunasi hutang-hutang amak dan apak."
Kata Nindya lirih meyakinkan dirinya sendiri.
Saat Nindya keluar dari rumah, sudah terlihat pagi-pagi para ibu-ibu rumah tangga sudah berkumpul dan anehnya ketika Nindya ingin menyapa, mereka semua justru memalingkan wajah dan seolah tidak peduli.
"Pagi-pagi sudah ngumpulin dosa."
Kata Nindya lirih dan pelan.
Dengan semangat menaiki motor dan memakai helm nya, Nindya mengendarai hingga siang dan hingga sore hari, berhenti di pabrik satu ke pabrik lainnya untuk bertanya apakah membutuhkan karyawan.
Dari pagi hingga siang, Nindya sudah berhenti di beberapa tempat yang menurutnya cocok, namun semuanya berkata bahwa tidak ada lowongan pekerjaan.
5 map amplop yang berisi cv nya masih utuh , saat itu Nindya pun memutus kan untuk beristirahat sejenak untuk minum, gadis itu duduk di pinggir lapangan dengan sebotol air mineral yang ia bawa dari rumah.
Nindya memarkirkan motor miliknya tepat di sebelahnya dan ia turun duduk di mistar pinggir lapangan di bawah pohon yang rindang, terlihat beberapa laki-laki sedang berlari.
"Berlari di siang hari, panas-panas begini, apa mereka juga pengangguran seperti aku."
Kata Nindya lirih dan meneguk air minumnya lagi.
Ketika para laki-laki itu berlari memutari lapangan, ada seorang pria yang selalu memperhatian Nindya, setelah berapa menit berlangsung laki-laki itu mendekati Nindya.
"Nindya ya."
Tanya pria itu.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1