
Sesampainya di rumah bercorak eropa seperti istana, Saddam memandangi dengan tatapan nanar, entah sudah berapa lama pria itu tidak menginjakkan kaki nya di rumah milik kedua orang tuanya.
Rumah itu hanya mengingatkannya pada kenangannya di masih kecil, kenangan yang hanya ada penyiksaan.
Orang tuanya mendidik Saddam dengan keras, lebih parah dari pendidikan militer bahkan saat usianya genap 17 tahun dengan tega kedua orang tuanya menyerahkan Saddam pada pasukan rahasia milik Brunnei yang terkenal mematikan, untuk belajar menjadi petarung yang handal.
Para pelayan menundukkan kepala mereka memberikan hormat pada Saddam, pria itu berjalan menyusuri lobby yang mewah dengan lantai mozaik yang indah, cahaya dan sinar matahari leluasa memasuki lobby tersebut membuatnya terang namun ingatan Saddam tentang rumah mewah itu tetap hanya kegelapan, karena bagi Saddam rumah itu hanya berisi tentang kenangan buruk.
Sampailah Saddam di ruang keluarga, para penjaga membuka pintu yang besar dengan ukiran naga berwarna emas yang indah.
Terlihat Farah serta keluarga besar nya berada di sana, sedangkan kedua orang tuanya tersenyum.
"Kamu datang."
Kata Andini berdiri dan memeluk anaknya.
Namun Saddam sama sekali tidak membalas pelukan dari ibunya, pria itu hanya memandang lurus ke depan tanpa sepatah kata.
Andini melepaskan pelukannya dan mengajak Saddam untuk duduk.
"Saddam sudah waktunya papa dan mama punya cucu."
Kata Ahmad Hartono
"Iya mama juga ingin sekali menimang cucu, pernikahan kalian akan di langsungkan secepatnya."
Kata Andini.
"Farah adalah gadis yang cantik dan juga baik, mama sangat setuju dengan hubungan ini."
"Bagaimana pendapat mu Saddam."
Kata Alfred ayah Farah.
"Apa pendapatku penting?"
Kata Saddam.
"Aku tidak setuju, batalkan semuanya, aku sudah punya orang yang ku sukai."
Saddam berdiri dan meninggalkan ruangan itu, semua orang merasa canggung.
"Aku terkesan dengan penghinaan anak mu."
Kata Alfred kemudian mengajak anak serta istri nya pergi.
Sedangkan Ahmad Hartono menahan amarah dan menyalahkan Andini.
"Dasar tidak becus mendidik anak, kerjamu hanya menghabis kan uangku."
__ADS_1
Kemudian pria paruh baya itu juga meninggalkan ruangan. Andini mengejar suaminya dan memohon agar memberikannya kesempatan lagi.
"Sayang beri aku kesempatan, aku tidak akan mengecewakanmu, aku sudah berusaha dan bekerja keras dari Saddam masih kecil, dan lihatlah dia sekarang menjadi Saddam yang tangguh di dunia bisnis."
"Dia masih seperti anjing yang susah di atur, kali ini jangan membuatku kecewa."
Kata ahmad Hartono
"Baik sayang."
Melihat suaminya yang pergi, Andini menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Dasar anak brengsek."
"Periksa semua aktifitas Saddam."
Kata Andini pada pengawal nya yang sedari tadi berdiri menunggu di luar ruangan.
"Baik Nyonya."
.
.
.
"PRANG!!!"
"Gobl*k!!!"
Teriak Jumainah memaki suaminya.
"Memang mulut gak bisa di atur!!!"
Jawab Wagiman.
"Muak aku sama kamu."
Kata Jumainah meremas wajah Wagiman dan mencakar cakar tubuh Wagiman.
"PRANG!!!"
Terdengar piring pecah lagi, Nindya berada di dalam kamar, teriakan amaknya membuat tubuhnya merinding, saat itu Nindya sedang menyiapkan baju yang akan dia kenakan besok pagi untuk berangkat bekerja.
Dan perasaan yang tidak asing muncul, tubuhnya seketika menggigil. Meskipun kejadian dimana amak dan apaknya bertengkar bukanlah sesuatu yang baru namun Nindya tetap merasakan ketakutan.
Keributan dan saling melempar cacian sudah membuat Nindya muak, hidup nya semakin terasa berat.
Gadis itu bangun dan keluar melihat apa yang sedang terjadi, amak dan apak nya sedang saling merangkul tapi bukan karena mereka berpelukan dan saling menyayangi namun mereka sedang saling mencekik satu sama lain.
__ADS_1
Nindya masuk ke dalam kamarnya mengambil dompet dan kemudian berjalan keluar lagi mendekati kedua orang tuannya.
Kemudian gadis itu mengeluarkan semua uang yang tersisa dari dalam dompetnya.
Sekitar Rp. 300.000 dan di letakannya di atas meja di dekat amak dan apaknya.
"Mak, apak... Ini sisa uang Nindya yang terakhir, kalian ribut lagi pasti karena nggak bisa bayar angsuran kan."
Kata Nindya kemudian meninggalkan amak dan apaknya.
Nindya kemudian mengemasi barang-barang nya ke dalam tas nya dan ingin pergi dari rumah, gadis itu sudah sangat tidak tahan, ia sudah sangat lelah dengan beban kehidupan, apalagi ditambah dengan sering nya amak dan apaknya bertengkar membuat tekanan mental di dalam hidup nya semakin merasakan kegoncangan.
Jumainah masuk ke dalam kamar Nindya, kemudian mengembalikan uang anak nya.
Dan merebut tas milik Nindya membuang nya ke lantai.
"Mau ngapain kamu!!!"
Bentak amaknya.
"Pergi!!! Nindya nggak kuat dari kecil sampai sekarang kalian cuma ribut dan berantem."
Jawab Nindya sembari menangis dan sesak.
"Gak usah macem-macem, di kira kamu bisa hidup sendirian di luar sana!!!
Amaknya pun mengambil tas Nindya dan membawa nya pergi.
"Jangan aneh-aneh!!!"
Nindya hanya bisa menangis tak bisa mengutarakan apa yang ada dalam hatinya, kenapa orang tuanya begitu egois.
Jika Nindya tidak boleh pergi tapi kenapa mereka selalu menyiksa batin gadis itu, Nindya yang malang pun tak habis pikir, apa sebenarnya yang kedua orang tua itu inginkan.
"Aku lelah sekali..."
Kata Nindya dan berangsur-angsur ia tertidur. Tubuh mungil itu merasakan dingin dan menggigil, dengan setengah sadar ia mencari-cari selimut yang berada di dekatnya, matanya mulai merasakan bengkak dan sakit. Wajahnya pun sudah terasa nyeri karena terlalu banyak menangis.
Di tempat lain Saddam sedang mendengarkan informasi dari Lucas bagaimana keluarga Nindya yang di kucilkan.
Pria itu mengepalkan tangan dan terlihat sangat emosi.
"Orang-orang primitif, bodoh!!!"
Kata Saddam.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~