CINTA GILA PRIA MILIARDER

CINTA GILA PRIA MILIARDER
EPISODE 7 = NINDYA PINGSAN


__ADS_3

Nindya di buat terkejut setiap menitnya dengan kelakuan Saddam yang selalu mendominasi keadaan.


Gadis itu tak habis pikir kenapa pria yang awalnya ia kenal begitu baik kini menjadi pria yang merepotkan bagi kehidupannya sehari-hari.


"Aku semakin tidak menyukainya."


Kata Nindya lirih.


"Hm?"


Kata Saddam seolah memastikan sesuatu.


"Kita akan kemana."


Nindya sudah tidak sabar.


"Jangan macam-macam atau aku telfon polisi."


"Setelah sampai kau boleh menelfon polisi."


Kata Saddam tersenyum.


"Apa?!"


Nindya tak percaya, namun belum sempat gadis itu mengutarakan kemarahannya Saddam mulai memarkirkan mobilnya dan terlihat pemandangan yang sangat indah dengan restoran mewah di atas puncak.


"Aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini."


Kata Nindya sembari keluar dari mobil, ketika itu Saddam telah membuka pintu mobil dari luar untuk Nindya.


Malam kian larut dan bintang bertaburan di atas langit terlihat jelas, sedangkan pemandangan di bawah pijakan kaki mereka pun tak kalah indah, seolah semua ini adalah obat bagi perasaan dan pikiran Nindya yang setelah seharian atau tepatnya beberapa hari hidup Nindya terasa berat dan kacau.


Terpaan angin yang dingin membelai rambut dan wajah Nindya. Malam itu Saddam mengajak Nindya untuk melihat pemandangan malam di puncak. Restoran ternama yang mewah membuat Nindya merinding, mereka berada di balkon dan menghadap pada pemandangan malam.


Balkon yang seluruhnya terbuat dari kaca hingga pemandangan yang indah penuh lampu dan gedung-gedung pencakar langit tepat berada di bawah kaki mereka.


Hidangan seafood mewah sudah tersaji di atas meja mereka, dengan minuman hangat coffelatte milik Saddam dan Nindya lebih memilih meminum susu hangat.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di pabrik tenun."


Tanya Saddam sembari melahab makanannya, pria itu kelaparan karena hampir sehari penuh tidak makan menunggu Nindya pulang, ia tidak beranjak sedikitpun.


"Hampir 2 tahun."


Jawab Nindya singkat.


"Aku... Nggak tahu bagaimana berterimakasih tentang hape itu, dan sekarang kamu mengajakku ke sini, dengan banyak makanan mahal dan pemandangan ini."


Kata Nindya terlihat menyesal.


"Makan aja, aku juga nggak berharap kamu mengatakan terimakasih atau basa basi lainnya, kamu yang aneh jaman sekarang masih pakai hape seperti itu."


"Jujur aku juga ingin beli hape baru tapi aku nggak bisa, karena setiap uang gaji yang ku terima selalu ku berikan pada kedua orang tuaku dan aku harus punya tabungan darurat jika sewaktu-waktu mereka membutuhkannya."


Kata Nindya datar sembari meminum susu hangatnya.


"Gajimu untuk kedua orang tuamu?"

__ADS_1


Tanya Saddam.


"Ya, kenapa memangnya, apa aneh?"


"Jaman sekarang masih ada yang seperti kamu?"


"Aku nggak tau sekarang jaman apa, tapi saat masih sekolah aku selalu ingin cepat bekerja agar bisa membantu kedua orang tuaku."


Jawab Nindya sembari mengangkat bahunya.


"Lalu kamu sendiri kerja dimana, kamu nggak pernah cerita."


Tanya Nindya kemudian.


"Kamu tidak pernah bertanya."


Jawab Saddam.


"Aku hanya nggak enak, tidak semua orang suka ditanya."


Kata Nindya.


"Apa kamu juga salah satu orang yang tidak suka ditanya?"


Sahut Saddam.


"Jawab dulu pertanyaanku, kamu kerja dimana."


Tanya Nindya sedikit kesal.


Jawab Saddam sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan menyedekapkan tangannya.


"Ceo? Ahmad Hartono?"


Tanya Nindya mengulangi kalimat Saddam.


"Hm."


Jawab Saddam mengangguk, masih dengan posisi yang sama.


Gadis itu tercengang, Saddam yang melihat ekspresi Nindya membuatnya bertaruh bahwa gadis itu pasti akan terpana dan terkagum. Dalam hitungan detik ia akan menempel terus padanya seperti wanita lainnya.


"Perusahaan apa itu?"


Tanya Nindya datar.


Mendengar pertanya Nindya seketika membuat Saddam yang memiliki sifat dingin itu tiba-tiba saja tertawa, bahkan tawa pria itu mengagetkan Nindya.


"Kamu beneran gak tahu? Atau pura-pura polos."


Jawab Saddam.


"Terserahlah, aku juga nggak selera menelisik kehidupanmu."


Jawab Nindya sambil meminum susu hangatnya lagi.


"Kamu tahu Plaza Hartono Wijaya Mall dan hotel Plaza Hartono Wijaya Mall, itu milikku, restoran ini juga milikku."

__ADS_1


Kata Saddam santai.


"Uhukk!!!"


Nindya tersedak ketika meminum susu hangatnya, dan memandang Saddam tak percaya dengan pendengarannya.


"Dan masih banyak mall dan hotel, apartemen serta tanah, perusahaan makanan, ada lagi..."


Belum sempat Saddam melanjutkan kalimatnya, Nindya mengangkat tangannya, mengisyaratkan Saddam untuk berhenti berbicara.


Gadis itu memegang kepalanya karena tiba-tiba ia merasa pusing.


"Aku mau pulang."


Kata Nindya yang kemudian ia berdiri namun kaki dan tubuhnya pun tiba-tiba terasa kaku karena kedinginan, Nindya benar-benar merasa bahwa ada seorang pangeran tersesat atau mungkin pangeran gila atau apa saja lah sebutannya.


Apakah nanti nya dia akan di tuntut dengan tuduhan palsu, karena saat ini ia sedang bersama seorang pangeran di tengah malam, mungkin nantinya ia akan di dakwa karena telah menculik Saddam yang seorang pangeran atau sebagainya, kenapa pangeran ini tidak berteman dengan para gadis sosialita.


Nindya merasa kebingungan, dan gadis itu tiba-tiba pingsan, dengan cepat Saddam berdiri, meraih tubuh mungil itu kemudian merangkulnya, pria itu panik segera menggedong dan membawa Nindya.


Saddam kemudian membaringkanya di dalam mobil, menepuk pipi dan mengoleskan minyak yang di bantu oleh para karyawan.


Beberapa menit berlangsung akhirnya Nindya sadar. Saddam segera memeluk gadis itu dan memberikan selimut yang ada di kamar para karyawan.


"Syukurlah, apa yang kamu rasakan, kenapa kamu gak bilang kalau kedinginan, kita harus ke Rumah sakit, kamu harus diperiksa."


"Jangan, tidak usah. Aku hanya butuh istirahat, tolonglah aku hanya lelah."


Kata Nindya memelas pada Saddam, ia tidak ingin pergi ke rumah sakit.


"Baiklah, kita kembali ke rumah."


Kata Saddam kemudian berdiri menutup pintu mobil dan bergegas masuk ke dalam mobil mengendarai dengan sedikit lebih cepat.


"Kenapa arahnya berlainan, bukannya kamu tadi bilang mau mengantarku pulang."


Tanya Nindya lemah.


"Jam kunjung di desa mu kan sampai pukul 9 malam, makannya tadi aku suruh kamu telfon ayahmu, dan saat itu sudah pukul 11 malam, tempat kerja macam apa sampai membuat karyawannya lembur tengah malam."


Saddam kesal dan mencengkram kemudinya.


Nindya hanya diam, menyandarkan tubuh dan kepalanya di tempat duduknya, ia lelah dan masih tak percaya, ternyata pria yang sekarang sedang menyetir, atau pria yang membelikannya handphone, adalah seorang pangeran kaya raya.


Nindya mengingat bait demi bait kenangan saat mereka bersama, ketika Nindya membonceng motor sport dan dengan tak tahu dirinya ia menaruh tangannya sedikit memeluk pinggang pria itu, dan apalagi baru saja Nindya berada di pelukannya.


Bagaimana bisa ia juga di gendong oleh Saddam yang tak lain dan tak bukan adalah seorang pria kaya bahkan seorang sultan atau pangeran.


Perjalanan memakan waktu selama kurang lebih 50 menit, dan akhirnya mereka sampai di depan gerbang besar bercorak kayu yang mengkilat, gerbang itu terbuka, satpam berlari menyambut Saddam yang memasuki garasi.


.


.


.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2