CINTA GILA PRIA MILIARDER

CINTA GILA PRIA MILIARDER
EPISODE 9 = KEJUTAN SADDAM LAGI


__ADS_3

Saddam menaruh baki nya di atas ranjang, dan menenangkan Nindya, pria itu tiba-tiba memeluk Nindya yang sedang panik membereskan semua barang-barangnya.


"Aku hanya bercanda, aku lajang, belum memiliki istri dan aku tidak memiliki adik perempuan, maaf aku hanya ingin menggodamu."


Nindya dengan cepat melepaskan pelukan Saddam.


"Apa kamu menganggapku lelucon?!!!"


"Aku hanya ingin menggodamu, aku anak tunggal di keluargaku dan aku lajang."


"Kamu jahat, aku nggak mau dituduh sebagai orang ketiga apalagi di bully oleh semua orang di seluruh negeri dan aku nggak mau di cap sebagai perebut lelaki orang."


Saddam tertawa melihat kepolosan Nindya, kepolosan dan keluguan yang selama ini belum pernah Saddam temui, kemurnian Nindya tidak di buat-buat.


Nindya berbeda dengan wanita-wanita yang sering merayunya dan berusaha untuk selalu berada di dekatnya, mereka tak lebih hanya seperti badut yang memakai topeng dengan riasan yang tebal, lipstik yang merah dan pakaian yang katanya ingin mengikuti jaman, namun bagi Saddam wanita yang memakai pakai seksi serta barang mewah justru membuatnya muak.


"Mandilah, nanti ku antar kamu pulang."


Kata Saddam sembari mengacak acak rambut Nindya.


"Memangnya aku anak kecil kenapa mengacak-acak rambutku."


Kata Nindya mengerutkan alis dan merapikan rambutnya, dalam hati ia berfikir padahal dirinya belum keramas, gadis itu kemudian malu dan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Saddam sudah pergi turun ke bawah untuk menyiapkan sesuatu.


.


.


.


Nindya turun dengan menggunakan pakaian casual yang berada di almari, gadis itu memilih celana jins dan kaus bertuliskan "I want you".


"Ehmm di almari kebanyakan rok mini dan pakaian seksi, hanya ada 1 celana jins dan kaus ini, jadi aku pakai."


Nindya tersipu malu hingga ia harus membuang wajahnya berkali kali agar tidak membuat wajahnya semakin merah karena tulisan di baju itu seakan tertuju untuk Saddam, apalagi ia melihat Saddam memakai baju kaus yang bertuliskan "Yes, I do."


"Oke pakai lah."


Kata Saddam santai, pria itu tahu betul karakter Nindya, gadis itu tidak akan memilih baju-baju seksi, dan Saddam memang sengaja menaruh 1 stel baju yang menurutnya akan Nindya pakai, mau tidak mau gadis itu pasti akan memilih setelan itu daripada pakaian seksi lainnya, sedangkan Saddam kini memakai kaus yang bertuliskan "Yes, I do."


Saddam masih dengan santai mengepaki barang-brang ke dalam mobil.


"Kamu mau pindahan?"

__ADS_1


Tanya Nindya.


"Ada tempat yang bagus jadi aku akan mengajakmu."


"Hah!!! Apa!!!"


Nindya jelas sangat terkejut, gadis itu sudah berbohong pada orang tuanya bahwa dirinya bermalam di kos milik temannya karena usulan Saddam, dan sekarang pria itu akan mengajaknya lagi entah kemana.


Nindya tidak bisa membayangkan bagaimana orang tuanya akan memenggal kepalanya karena sudah berbohong pada mereka.


"Sebentar, beri aku waktu untuk memikirkannya, kenapa kamu dengan seenaknya memutuskan ini dan itu padaku tanpa bertanya lebih dulu."


"Ini hukumanmu karena berani mengabaikan semua panggilan telfon dan pesanku."


Kata Saddam enteng dan santai, pria itu bersandar pada mobilnya yang mewah berwarna putih dan memasukkan kedua tanganya di dalam saku celana menatap Nindya.


"Tapi aku juga akan di hukum gantung oleh kedua orang tuaku karena berbohong pada mereka."


"aku sudah meminta ijin pada orang tua mu dan mereka mengijinkan."


"Apa!!!"


Nindya semakin ingin pingsan saja, karena terkejut, untuk apaknya mungkin tidak akan berbicara apapun karena apaknya tidak memiliki keberanian itu, tapi amaknya tidak akan mentolerirnya, meski keluarga mereka miskin tapi mereka juga masih memiliki adab.


"Apa yang kamu bilang pada mereka? Dan kapan kamu meminta ijin?"


"Tadi pagi aku kerumahmu dan meminta ijin langsung."


Kata Saddam masih dengan santainya.


Tiba-tiba Nindya menjadi pusing, kapan pria ini pergi kerumahnya, apakah subuh, atau sebelum sarapan atau saat dirinya mandi, dan yang paling membuat Nindya tidak berani mengangkat wajahnya adalah Saddam datang pada pagi hari tanpa pemberitahuan lebih dulu.


Permasalahannya adalah amak dan apaknya setiap pagi telah berada di tempat kerja, lebih tepatnya di belakang rumah mereka adalah tempat pembuatan batu bata merah, dan orang tuanya selalu berkutat dengan lumpur untuk mencetak bata.


"Aku ingin pingsan, apakah ini mimpi."


Kata Nindya lirih.


"Kenapa harus pingsan, aku menikmati pertemuan itu."


Saddam tersenyum.


"Menikmati?"

__ADS_1


"Ya, aku membantu ayahmu mencangkul, dan belajar bagaimana mencetak bata merah dari yang harus membawa lumpur dan mencetaknya ke tanah."


"Ya Tuhanku."


Tiba-tiba Nindya merasa kepalanya berkunang-kunang, tubuhnya lemah dan menggigil sedang seluruh kulit di tubuhnya berubah menjadi dingin, dan saat itulah Saddam dengan sigap memeluk Nindya agar tidak terjatuh.


"Nindya, bangun!!!"


Saddam menggendong gadis itu masuk, dan menidurkannya di sofa besar.


"Pak Pram, Mbok Darmih, semuanya siapa saja, cepat kemari!!!"


Teriak Saddam.


Tak berapa lama Pak Pram sang satpam serta mbok Darmih assisten rumah tangga harian juga datang dengan tergopoh gopoh, diikuti oleh para pelayan lainnya, mendengar tuannya berteriak panik mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Tolong, dia pingsan mbok."


Saddam panik sembari berkacak pinggang mondar mandir.


"Sebentar saya ambilkan minyak putih."


Kata Mbok Darmih.


"Sekalian ambilkn alkohol."


Pak Pram menyahut.


Entah kenapa kali ini Saddam benar-benar panik dan tidak tahu harus melakukan apa, padahal ia adalah pria yang memiliki pendidikan tinggi serta memiliki kemampuan diatas orang-orang biasa, sejak kecil hidupnya sudah di tempa oleh banyak keahlian.


Saddam adalah pria yang memiliki ketenangan yang jauh melebihi siapapun, pria itu tidak mudah panik bahkan saat dirinya di hadapkan pada pertemuan-pertemuan penting dengan pejabat-pejabat pemerintahan ataupun dari Luar negeri serta mitra-mitra bisnisnya, Saddam juga pernah bergabung dengan militer bruneidarussalam.


Kepanikan bukanlah sifat Saddam, ketika itu pernah salah satu karyawannya pingsan, dia juga lah yang paling sigap, ia tahu bagaimana harus bertindak, namun kenapa kali ini saat Nindya pingsan justru Saddam bertingkah atau bersikap sebaliknya dari sifat yang melekat pada dirinya selama ini.


Sejak kecil Saddam telah memdapatkan pendidikan yang jauh melebihi masyarakat umum lainnya, Saddam kecil sangat pintar hingga di usia 7 tahun ia telah menguasai pelajaran kelas 6 SD membuatnya menjadi siswa akselerasi.


Apalagi keahliannya tak hanya di bidang akademik saja, melainkan mencakup seperti bela diri, dan segala macam olahraga, serta mengemudikan pesawat, bahkan menembak.


Pendidikan dan pelatihan keras itu dilakukan karena banyak orang-orang atau kelompok mafia yang selalu mengincar keluarga-keluarga elite, kedua orang tua Saddam pun memberikan pendidikan dan pelatihan yang keras hingga membuat Saddam menjadi pria yang kejam dan dingin.


.


.

__ADS_1


.


~bersambung~


__ADS_2