
Di ruangan yang cukup jauh dari para undangan serta tempat acara, Saddam menahan emosinya yang ingin meledak karena perlakuan mereka pada Nindya.
Pria itu benar-benar tidak akan memaafkan mereka dan akan membalasnya dengan caranya sendiri.
Kini pandangannya tertuju pada Nindya yang sudah berada di depannya, penghinaan mereka pada Nibdya adalah hal keji yang akan Saddam balas.
"Ganti pakaianmu."
Kata Saddam membuka almari satu persatu mencari pakaian yang cocok.
"Kenapa aku harus ganti pakaian?"
Sahut Nindya.
Namun Saddam mengacuhkan dan tidak menggubris Nindya yang memprotes, pria itu masih sibuk dan dengan gerakan tidak sabar ia mencari-cari pakaian hingga membuka almari-almari besar itu dengan kasar serta membuat nya berantakan.
Kemudian Saddam mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang untuk datang membawa perlengkapan yang ia mau, sedangkan Nindya masih berdiri memperhatikan sikap Saddam yang terlalu impulsif.
Tak berapa lama orang yang Saddam hubungi datang dengan terburu-buru dan tergopoh takut mereka akan terkena marah jika tidak bergerak cepat.
Ternyata dia adalah Merryana penata rias terkenal dan juga para assisten-assistennya yang membawa beberapa gaun di tangan mereka, gaun-gaun itu sangat indah dan sudah dipastikan harga gaun itu tidak dapat Nindya bayangkan.
"Dandani dia dan ganti pakaiannya, aku akan menunggu di luar, jangan buang-buang waktu."
Kata saddam pada penata rias itu dan tanpa melihat Nindya.
"AKU NGGAK MAU SADDAM!!!"
Kata Nindya frontal dan dengan bahasa non formal, kemudia gadis itu menyalip Saddam ingin lebih dulu keluar dari ruangan, namun dengan cepat tangan Saddam mencegahnya.
"Apa katamu?"
Kata Saddam seolah tak mendengar pernyataan Nindya.
"Kamu tuli?!!"
Bentak Nindya pada Saddam karena kini di matanya, Saddam hanyalah sosok pria sempurna tapi itu hanya raga nya, jiwa pria itu sepenuhnya tidak pernah menghargai Nindya.
Saddam sendiri pun kini tak percaya dengan pendengarannya, Nindya gadis polos yang manis berubah sikap seperti gadis yang tak bertata krama dan kasar.
Mata Nindya menatap seperti pisau yang siap mengiris tubuh Saddam, sedangkan kepala gadis itu seakan sudah di penuhi oleh bara api yang siap membakar perasaan Saddam.
"Kamu tidak akan memakai pakaian pelayan ini, aku sudah menyiapkan semua pakaianmu, turuti apa kataku."
Kata Saddam masih dengan nada memerintah.
Jelas pria itu masih tidak mengerti apa yang Nindya maksud dan inginkan, sekarang gadis itu justru semakin marah dan enggan mendengar kan Saddam.
__ADS_1
Sikap yang selalu memerintah, dan selalu mengambil keputusan seenaknya itulah yang Nindya benci darinya.
Nindya kemudian berbalik dan merebut salah satu gaun yang di bawa oleh assisten penata rias dan kemudian melemparkannya ke lantai.
"Aaww!!!"
Jerit sang assisten yang notabene pria namun berlogat wanita.
"AKU TIDAK MAU SADDAM!!!"
Kini Nindya semakin berteriak bahkan melotot pada Saddam dengan amarah yang siap meledak.
Sedangkan orang-orang yang berada di dalam ruangan sangat terkejut hingga memegangi dada mereka, seumur hidup inilah kejadian yang pertama mereka lihat, seorang Saddam di bentak dan dipermalukan di depan orang banyak oleh perempuan yang lusuh dan bukan dari keluarga yang terpandang.
"Kamu selalu menjadi orang yang merubah hari-hari biasaku menjadi seperti ini."
Kata Nindya.
"Apa maksudmu?"
"Kamu terlalu mendominasi, kamu terlalu mengatur hidupku, aku harus menuruti semua katamu, tanpa kamu bertanya dulu apa aku suka atau tidak."
Kata Nindya masih dengan suara yang latang.
"Aku ingin memiliki hidupku senidiri, bukan yang selalu kamu atur, bukan hidup di bawah bayang-bayang mu. Aku tahu aku miskin dan kamu tahu hidupku seperti ini dan mereka semua yang ada diluar sana pun juga tahu aku miskin, kenapa kamu tetap memaksaku dan menyuruhku berganti pakaian mewah ini, padahal beberapa menit yang lalu aku menjadi pelayan."
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini semua padaku mereka akan sangat puas menertawaiku."
Saat itu saddam pun baru menyadari bahwa ia selalu bertindak sesuatu tanpa bertanya dulu, apakah Nindya suka atau tidak, namun yang ada dipikiranya Nindya adalah seorang perempuan yang mungkin jika ia memberikan apa yang wanita lain inginkan selama ini saat mereka semua mengejarnnya pasti pun Nindya juga akan merasa senang.
Sadam tidak pernah memberikan sepeser pun uangnya pada wanita lain, dan kali ini Saddam melakukan itu semua hanya agar membuat Nindya senang, entah kenapa perasaan seperti ingin membuat Nindya tertawa dan bahagia selalu mendorong Saddam untuk melakukan sesuatu namun justru membuat Nindya menangis.
"aku nggak suka tempat ini, mereka semua menghinaku.."
Nindya masih terpukul dengan kalimat-kalimat Gaby, ketika tanpa sengaja Nindya berjalan menumpahkan minuman di kaki Gaby.
"Baiklah, maafkan aku."
Kata Saddam sambil memeluk tubuh Nindya yang menunduk dan terisak. Saddam kemudian memanggil orang kepercayaannya untuk masuk.
"Lucas masuklah."
Kata Saddam memerintah melalui ponselnya.
Tak berapa lama Lucas pun masuk.
"Antar Nindya pulang, atau kemana pun yang Nindya mau, turuti semua perintahnya, jaga dia baik-baik dengan seluruh hidupmu."
__ADS_1
Perintah Saddam pada Lucas.
"Baik Boss."
Sedangkan di sisi yang lain, di ruangan tersebut masih ada beberapa makhluk hidup yang hampir memiliki serangan panic, karena melihat pemandangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, orang-orang di dalam ruangan kembali terkejut ketika Saddam mengarahkan pandangannya pada mereka.
"Jangan ada yang berani membuka mulut, atau selama hidup kalian akan menyesal pernah di lahirkan."
Kata Saddam pada mereka semua.
"Baik pak Saddam."
Meryyana menjawab dan diikuti oara Assistennya.
Setalah Lucas mengantar Nindya pergi dari Villa, Saddam kembali menuju ke tempat acara dimana sudah banyak orang mencari-cari dirinya0, acara ulang tahun Saddam yang ke 26 berjalan dengan baik meski di awal terjadi kegaduhan tapi para tamu kemudian puas dan acara di akhiri dengan begitu meriah.
Beberapa teman Saddam masih berada di villa, mengajak Saddam untuk tetap mengobrol hingga pagi namun pria itu enggan, dari kejauhan terlihat Gaby juga masih berbincang dengan teman-teman masa sekolah dulu.
"Apa ternyata kamu yang menjegal kaki pelayan itu."
Kata salah satu teman Gaby.
"Aku membencinya, dia tetap terlihat cantik meskipun memakai baju pelayan."
Gaby tertawa dan meminum alkoholnya.
"Aku juga puas sudah menampar kedua pipinya, rasanya sangat bahagia."
"Kamu benar-benar mengerikan."
Kata teman-temanya lagi dan mereka semua tertawa bersama-sama.
Mendengar perbincangan yang sangat menyinggung Saddam, pria itu memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah mantap, seketika hawa dingin menyertai pria itu, semua terasa mencekam di sekelilingnya.
Saddam kemudian menarik tangan Gaby dengan kasar dan mendorong tubuh wanita itu jatuh ke dalam kolam renang yang dingin, apalagi suhu di puncak saat malam semakin dingin.
"Astaga Saddam kamu ingin berenang malam-malam begini, kenapa tiba-tiba, baiklah ayo aku temani, tapi ini sangat dingin, tubuhku seperti membeku."
Kata Gaby, dengan cepat tubuhnya berubah biru dan gemetaran.
Gaby masih tidak menyadari tatapan bengis Saddam, pria itu semakin marah karena wanita itu masih tidak menyadari kesalahannya, Saddam lantas masuk mengambil solar yang ada di gudang yang selama ini untuk mengisi bahan bakar Jip khusus berkebun, dan membawanya kemudian menyiramkan pada Gaby.
Semua orang berteriak, ketika melihat Saddam memantikkan korek api nya.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~