
Perusahan HARTONO WIJAYA adalah perusahaan Induk terbesar se-Asia dan peringkat ke-5 di seluruh dunia.
Siang ini Mereka membahas akan membangun setidaknya 10 mall yang tersebar di seluruh wilayah indonesia.
Siapa yang tidak mengenal Ahmad Hartono Wijaya, ia adalah orang terkaya di Asean, dan paling kaya nomor 7 di dunia. Pria paruh baya itu termasuk dalam daftar 5 orang berpengaruh di dunia.
Setidaknya ada lebih dari 10 Induk perusahaan besar tersebar di seluruh dunia, di bidang kontruksi, pusat pembelanjaan dan produk-produk banyak lainnya.
Sedangkan anak perusahaan yang berada di bawah Induk perusahaannya sudah tak terbendung lagi.
Setelah rapat yang begitu lama akhirnya selesai juga, dan ayah anak itu menuju ruangan yang lain untuk mengobrol.
"Temani papah main catur."
"Sebenarnya aku ada acara."
Kata Saddam.
"Kamu tidak ingin sebentar saja mengobrol atau makan siang dulu denganku?"
"Mungkin lain kali pah."
"Baiklah, kalau begitu sempatkanlah untuk pulang kerumah, mamahmu memasak malam ini."
Kata Ahmad Hartono.
"Aku tidak janji karena harus mengurus sesuatu."
Jawab Saddam.
"Yasudah, aku pulang, bersenang-senanglah.
Kata Ahmad Hartono sembari tersenyum menepuk bahu anaknya.
Saddam hanya diam dan membiarkan ayahnya pergi, kemudian pria itu bergegas mengambil jas dan berlari menuju lift khusus untuk turun ke parkiran khusus dan kemudian mengendarai mobil mewahnya.
Dalam perjalan Saddam masih memikirkan kenapa Nindya berubah sikap menjadi dingin, tidak membalas pesannya dan menutup telfonnya dengan cepat.
"Mungkinkah dia punya pacar?"
Kata Saddam geram dan mencengkram setir mobilnya kemudian menekan gas lebih dalam mempercepat mobilnya melaju di jalan raya agar segera sampai di pabrik tempat Nindya bekerja.
Sesampai nya di depan pabrik tempat Nindya bekerja, yang kebanyakan pabrik itu memiliki karyawan wanita dari segala usia.
Jam telah menunjukkan pukul 4 sore, dan itu adalah waktu dimana para karyawan selesai bekerja dan pulang.
Saddam menjadi pusat perhatian, penampilan dan kendaraannya yang sangat mencolok membuat semua wanita kagum dan banyak dari mereka yang tebar pesona serta cari perhatian.
Sebagian ada yang histeris karena ketampanan dan karena mobil sport mewah yang Saddam pakai, ada juga yang sok jual mahal, pura-pura tidak tertarik agar di lirik oleh Saddam.
Namun pikiran Saddam dan mata Saddam saat itu hanya tertuju pada Nindya, matanya menyapu seluruh kerumunan makhluk bernama wanita, namun tidak menemukan nya.
Kemudian Saddam mengeluarkan ponsel Iphone 12 nya dan menghubungi Nindya namun tidak ada jawaban.
Akhirnya Saddam memilih untuk menunggu Nindya sampai ia pulang, mungkin gadis itu mengikuti lembur.
Saddam menunggu di dalam mobilnya hingga pukul 11 malam, tidak banyak dan tidak sedikit juga yang mengikuti jam lembur hingga malam.
Saddam tidak kesulitan melihat satu persatu karyawan yang keluar melalui pintu gerbang yang besar.
__ADS_1
Tak berapa lama terlihat Nindya menuntun motor nya keluar dari pabrik dan saat itu juga Saddam pun dengan cepat keluar dari mobilnya mendatangi Nindya.
"Nindya."
Kata Saddam dan menahan lengan Nindya.
"Kamu? Kenapa ada di sini."
Kata Nindya terkejut, dan kemudian melihat mobil sport mewah berwarna biru metalik.
Dengan cepat Nindya menstandarkan motornya dan melepaskan tangan Saddam.
"Jangan bilang itu mobil mu."
Tanya Nindya, pandangan matanya tidak beralih sedikitpun dari mobil mewah itu.
"Memang mobilku."
Kata Saddam, pria itu tak memgerti setelah sekian lama jam ia menunggu, tanpa makan dan hanya minum air mineral yang ada di dalam mobilnya, namun Nindya justru tertarik pada mobil mewahnya.
Kini pria itu sadar mungkin Nindya memang seperti wanita wanita lainnya yang memandangnya karena harta.
"Lain kali biasakan kamu jangan terlalu mencolok? Gak bisa kah kamu menghargai orang-orang disini yang bekerja sampai tengah malam dan sekarang kamu ke sini memakai mobil mewah setara dengan harga rumah mewah di kota."
"Kamu mau pamer?"
Nindya melihat Saddam dengan tatapan yang mengiris.
"Aku benci laki laki sombong, jangan-jangan kamu kemarin membelikanku hape juga karena kamu ingin pamer. Tenang, kedepannya aku akan berusaha lebih keras lagi mengembalikan uangmu."
Kemudian Nindya menaiki motornya dan pergi meninggalkan Saddam. Sedangkan pria itu masih tertegun tidak percaya mendengar kalimat Nindya. Entah pria itu ingin tertawa senang karena Nindya tidak tertarik dengan mobilnya atau marah karena telah dihina di depan banyak orang.
Gadis itu menatap nanar Saddam, dengan emosi.
"Apalagi sekarang!!!"
Nindya bersuara keras. Gadis itu mengalami hari yang sulit dan emosinya sangat tidak stabil.
"Ikut dengan ku sebentar."
Kata Saddam saat sudah keluar dari mobilnya.
"Aku lelah, dan ini sudah lewat jam 11 malam, aku harus pulang."
Nindya menyalakan motornya namun dengan gerakan yang sangat cepat tangan Saddam mengambil kunci motor Nindya, membuat motor itu seketika mati, kemudian pria itu menghubungi seseorang untuk menyuruhnya datang ke lokasinya.
"Apa kamu tipe pria diktator."
Nindya memicingkan matanya, Saddam hanya diam tak menjawab.
Setelah beberapa saat ada seorang laki-laki cukup tampan dengan temannya mamakai motor, dan yang Nindya tahu dia adalah pemilik bengkel besar yang berada di dekat pabriknya.
"Besok service semuanya."
Kata Saddam memberi perintah.
"Oke boss."
Jawab pria itu.
__ADS_1
Saddam kemudian menarik tangan Nindya untuk masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya menurut tak bisa berbuat apapun karena ia tidak ingin membuat Saddam malu apalagi di depan orang yang Saddam kenal.
"Telfon orang tua mu hari ini kamu tidak bisa pulang dan katakan kalau kamu menginap di rumah temanmu."
Perintah Saddam lagi.
"Apa?!"
Nindya tak percaya dengan pendengarannya.
"Mana ponselmu, apa perlu aku yang telfon."
Saddam menggunakan satu tangannya sesekali melihat ke arah tas milik Nindya sedangkan tangan yang satu masih menyetir.
Nindya kehabisan kata-kata, entah kenapa ia tidak dapat mengutarakan apa yang menjadi kebingungan di dalam dirinya.
Akhirnya Nindya menelfon apaknya, memberitahu bahwa ia akan menginap di kos teman kerjanya karena lembur akan sampai pagi, sekarang apaknya sudah bisa memakai ponsel, dan ponsel itu adalah ponsel poliponik milik Nindya yang sudah tidak ia pakai.
Nindya mematikan telfonnya dengan kasar dan kesal.
"Puas?!!!"
Geram Nindya.
Saddam hanya sedikit tersenyum klise di sudut bibirnya, pandangannya terus lurus ke depan, seolah sedang fokus menyetir.
Mobil terus melaju hingga naik ke kawasan puncak, waktu sudah hampir tengah malam bukannya sepi namun di puncak justru semakin ramai, jalanan naik makin padat dan sedikit macet.
Nindya melirik Saddam yang terlihat semakin menyilaukan mata nya, betapa ketampanannya seperti seorang pangeran, dan pria itu menyetir mobil sport mewahnya sendiri, dengan tangan dan lengan yang sedikit memperlihatkan tonjolan otot otot nya.
Nindya memperhatikan gerakan tangan Saddam, yang sesekali terlihat mencengkram stir kemudi, tangan kanannya memakai jam mahal dan tangan kiri yang sedang memegang persneling mobil.
Nindya mengehela nafasnya, ia mengibaskan pikiran bodoh yang menaungi isi kepalanya. Mengingat bagaimana Saddam selalu mendominasi keadaan dan tidak memberikannya kesempatan sedikitpun untuk memilih apa yang ia inginkan.
"Aku semakin tidak menyukainya."
Kata Nindya lirih.
"Hm?"
Kata Saddam seolah memastikan sesuatu.
"Kemana kau membawaku."
Kata Nindya sudah tidak sabar.
"Jangan macam-macam atau aku telfon polisi."
"Setelah sampai kau boleh menelfon polisi."
Kata Saddam tersenyum.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1