
Sore menjelang malam Saddam serta Nindya sudah kembali ke villa dan masing-masing juga sudah selesai membersihkan badan mereka di kamar masing-masing.
Nindya menuruni tangga lebar yang terbuat dari marmer mahal dan terlihat para pelayan sibuk mempersiapkan sesuatu, seorang pelayan lewat dan Nindya kemudian bertanya padanya.
"Maaf, permisi mbak lagi pada nyiapain buat apa ya?"
Kata Nindya dengan polosnya.
"Tadi kata Pak Saddam hanya barbeque kecil-kecilan saja cuma perlu pemanggang dan hanya untuk 2 porsi, tapi tiba-tiba nyonya besar datang dan menyuruh kami untuk menyiapkan semua perlengkapan serba besar dan serba banyak, sepertinya ini menjadi pesta besar dan juga katanya akan ada banyak tamu undangan yang datang."
Kata salah satu pelayan itu dan kermudian ia pergi untuk membantu pelayan yang lainnya.
Nindya terkejut mendengarnya, gadis itu mulai panik karena orang tua Saddam ternyata berada di villa yang sama dengan dirinya. Gadis itu gelisah, sangat amat gelisah, membayangkan seperti layaknya di sinetron-sinteron tentang orang-orang kaya yang kejam, dengan mengumpulkan keberaniannya, ia kemudian bertanya pada seorang pelayan lagi dengan mencegatnya.
"Permisi, ada dimana Saddam sekarang."
Sang pelayan terkejut dan heran melihat pertanyaan Nindya.
"Maksudnya Pak Saddam kan, kenapa kamu memanggil namanya saja."
"Ah iya maksud ku itu, maafkan saya."
"Oh ada di ruang tengah dengan Nonya besar dan tunangannya, kamu kenapa masih ada di sini, cepat ke ruang ganti jangan cuma bengong saja, bantu yang lainnya."
Kata Pelayan itu dengan sinis dan memberikan baki besar yang berisi buah pada Nindya.
"Dasar, dia datang pasti hanya untuk menggoda Pak Saddam, aku saja yang sudah lama di sini cuma ingin sekedar melayani nya secara langsung dan secara pribadi saja susah sekali."
Gerutu pelayan itu pada Nindya.
"A.. Aku bukan..."
Kata Nindya terbata ingin menjelaskan bahwa dirinya bukan pelayan.
"Hei, kamu lelet sekali, cepat bawa buah itu kesini, kamu mau di pecat!!!"
Kata seorang pria yang berpakaian rapi memakai jas.
"I-iya..."
Jawab Nindya menurut.
Di sebuah ruangan besar yang mewah dengan lampu gantung kristal, Saddam sedang bertengkar dengan Ibunya.
"Mah, kenapa mengacak-acak di sini."
Kata Saddam mengeluh dan tidak sabar.
"Mama sudah membuat kan acara yang besar dan mewah di hotel bintang 5, tapi kamu justru memilih sendirian di sini? Mama sudah atur, semua acara itu akan dipindahkan kesini, hanya butuh beberapa uang penutup mulut, semua undangan pun sudah terkonfirmasi, kamu bersiap-siaplah."
Kata Andini Suherman yang juga ia adalah mama dari Saddam.
"Aku sudah katakan, untuk tahun ini biarkan aku menikmati malam ku sendiri."
"Saddam, banyak tamu penting yang akan hadir, ini adalah waktu yang tepat untuk kamu menunjukkan bahwa kamu sudah siap untuk menjadi ahli waris. Entah kenapa akhir-akhir ini kamu sering membatah apa kata mama? Kemarin juga kamu tidak menjawab telfon mama."
__ADS_1
"Aku sibuk ada banyak kerjaan di kantor."
"Mama sudah cek di kantor katanya kamu libur, mama
cek ke rumah pribadi kamu juga kamu tidak ada, apa kamu punya rumah lain lagi tanpa sepengetahuan mama dan papa.
"Terserah."
Kata Saddam malas berdebat.
"Saddam, kamu jangan begitu sama tante."
Kata Farah menimpali.
Namun tatapan dingin Saddam pada Farah seolah jawaban untuk kalimat Farah, seketika perempuan cantik itu terdiam.
"Lakukan apapun yang mama mau."
Kata Saddam menyerah.
"Nah, begitu kan bagus, terimakasih Farah kamu sudah meyakinkan Saddam, mama tahu cuma kamu yang bisa meyakinkan Saddam."
Kata Andini sembari menatap hangat pada Farah.
"Aku akan ke kamarku."
Kata Saddam dan kemudian ia berdiri meninggalkan ruangan itu, pergi ke ruangan lain yang ternyata adalah kamar Nindya, namun Saddam tidak menemukan Nindya berada di kamarnya.
Malam semakin dingin di atas puncak, cuaca sedikit mendung pertanda akan turun hujan dan para tamu sudah berkumpul di villa besar milik keluarga Saddam, sedangkan Saddam tidak dapat dengan leluasa mencari kemana Nindya pergi, apalagi acara akan segera di mulai.
Terlebih Farah selalu mengekor di belakangnya atau kadang menempel padanya, orang tuanya pun sama, selalu mengajak Saddam untuk menyapa para tamu. Pria itu tidak bisa berkutik sedikit pun.
Pertanda acara akan di mulai. Seorang pembawa acara pun sudah berbicara.
Awalnya acara berjalan dengan lancar, namun tiba-tiba seorang wanita berpakaian sexy berteriak-teriak kepada pelayan yang menyuguhinya minuman.
"Dasar bodoh, kamu nggak punya mata ya!!! Panggil boss mu sekarang juga. Aku akan memberitahunya bagaimana cara mengajari mu sopan santun."
Bentaknya sembari mendorong gadis pelayan itu.
"Sudah lah Gaby, lagi pula bajumu hanya kotor sedikit dan kaki mu juga nggak terluka, jangan kekanakan, kamu membuat semua orang melihat kita."
Kata seorang pria yang berada di samping Gaby dan kemudian pria itu menolong gadis pelayan itu yang kini bajunya terlihat lusuh karena siraman minuman dan bercak makanan.
"Maaf nona, ini kesalahan saya, saya tidak menyeleksi para pelayan ini dengan baik."
Kata supervisor berjas rapi itu pada Gaby, pria itu datang dengan tergopoh-gopoh, dan melirik gadis pelayan itu dengan tatapan membunuh.
"Martin kenapa kamu menyentuh gadis lusuh itu, kembali kesini!!"
Gaby semakin berteriak tak terkendali.
Saddam yang penasaran kemudian berjalan mendekati kerumunan dan melihat bagaimana kejadian itu berlangusung, dengan segera pria itu menerobos kerumunan dan menarik lengan gadis pelayan itu mendekat padanya.
Farah hanya melihat dan memperhatikan, sedangkan kedua orang tua Saddam tidak perduli, mereka mengajak para tamu penting untuk masuk ke dalam Villa.
__ADS_1
"Apa-apa an ini."
Kata Saddam dengan nada yang tenang namun penuh tekanan.
"Dam... kamu nggak perlu repot-repot biar aku yang urus, lebih baik kamu fokus dengan tamu penting lainnya."
Kata Martin sembari ingin menarik tangan gadis itu namun Saddam menolak justru menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya.
Martin seketika terkejut dan hanya berfikir tentang perilaku aneh Saddam.
"Ada apa dengan Saddam kenapa tiba-tiba pria itu tertarik dengan masalah orang lain."
Saddam memandang semua orang yang ada di kerumunan itu dengan tatapan ingin menguliti mereka satu persatu.
"Siapa namamu."
Tanya Saddam
"Gaby, aku teman SD kamu Saddam, aku duduk di belakang mejamu."
Kata Gaby dengan sikap penuh menggoda.
"Aku tidak ingat, dan aku tidak merasa mengundang mu ke acara ini."
"Martin yang mengajakku."
Kata Gaby lagi sembari mendekat pada Martin.
"Kamu yang memaksa ikut, bukan aku yang mengajakmu."
Gerutu Martin dan melepaskan tangan Gaby dari lengannya.
"Jangan menjadi wanita yang merepotkan dan menyebabkan masalah, aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyebabkan keributan apalagi menyangkut sesuatu yang berharga."
Peringatan Saddam pada Gaby sangat kuat dan tatapan dingin Saddam seolah penuh kebencian.
Para undangan memperhatikan bagaimana sikap Saddam yang penuh kharisma apalagi para wanita di undangan itu yang terpesona dengan ketampanan Saddam, mereka datang karena ingin mendekati Saddam, bagaimanapun mereka berusaha untuk bisa masuk dalam acara-acara penting milik Saddam.
"Ronald, sikap Saddam sedikit aneh."
Kata Martin.
"Aneh bagaimana, dia selalu memperhatikan semua karyawannya dengan baik, sudahlah ayo duduk, aku sudah cukup malu dengan sikap Gaby, kenapa kamu mengajaknya."
Kata Ronald sembari meminum coktail nya.
"Dia yang memaksa iku, dia terobsesi dengan Saddam."
Bisik Martin lagi kepada Ronald.
Di tempat lain saddam menyeret Nindya dengan sedikit kasar. Pria itu terlihat sangat marah pada Nindya, setelah berjalan terhuyung-huyung di belakang Saddam, dengan cepat Nindya berusaha mengimbangi langkah Saddam yang lebar agar ia tidak terjatuh. Akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~