
Nindya terus berusaha menguatkan tubuh nya yang tiba-tiba menggigil karena perasaan takutnya telah di asingkan oleh para pemuda dan pemudi, apalagi sore tadi ia jelas mendengar sindiran-sindiran kejam yang tidak berdasar serta fitnah-fitnah keji yang di lemparkan padanya oleh para ibu-ibu.
"Ricki kamu yang undang Nindya?"
Tanya Edo lagi sebagai ketua muda-mudi.
Dengan menyesal dan tidak enak pada Nindya Ricki menggelengkan kepalanya.
"Tapi ada undangan di rumah ku."
Jawab Nindya lagi membela dirinya.
"Ada yang mengundang Nindya?"
Tanya Edo lagi.
Sedangkan Dino sebagai tuan rumah, sedari awal rapat sampai detik dimana Nindya membela dirinya pria itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, justru Nindya merasa risih dengan tatapan Dino yang seolah menerawangi dirinya hingga rasanya Nindya sedang di perolok, di permalukan atau di lecehkan.
Beberapa orang hanya terdiam, lalu sebagian orang lagi acuh dan bercanda dengan teman yang lain seakan ingin menunjukkan pada Nindya bahwa mereka bahagia, dan sebagian orang lagi merasa tidak ingin terlibat hingga mereka hanya menundukkan kepala dan pura-pura mengerjakan sesuatu.
"Laras itu kamu kan."
Kata Nindya tanpa basa basi.
Laras yang sedang bercanda, dan sesekali tertawa lalu menahan tawanya agar tidak terlalu keras terkejut dengan kalimat Nindya.
"Apa maksud kamu Nin, kamu nuduh aku?"
"Tulisan itu mirip dengan tulisanmu."
Tuduh Nindya.
"Aku tanya, jadi kamu nuduh aku yang ngelakuin itu? Aku seharian ini nggak keluar rumah sibuk sama tugas-tugasku, dan mana aku tahu kalau hari ini ada undangan di bawah pintu rumah kamu."
Tegas Laras lagi.
"Aku nggak pernah bilang kalau undangan itu ada dibawah pintu rumah ku hari ini, kenapa kamu bisa tahu Laras? Kalau nggak ada yang diperlukan dariku, aku permisi, maaf sudah menganggu kalian, maaf juga membuat rapat ini tidak kondusif tapi aku datang karena ada undangan."
Jawab Nindya dan kemudian berdiri untuk kembali ke rumahnya.
Namun ketika Nindya sudah sampai di ujung pintu dan memakai sandalnya tiba-tiba Dino menghentikan Nindya.
"Coba bawa kesini undangannya Nin."
Perintah Dino.
__ADS_1
"Ngak usah Mas Dino, aku nggak mau memperpanjang masalah ini, aku anggap cuma anak kecil yang cari perhatian dan kekanakan, lagipula pelakunya juga nggak akan ngaku."
Kalimat-kalimat Nindya benar-bebar menohok mereka semua, kalimat yang Nindya lontarkan lebih dewasa sehingga membuat Laras malu tak bisa mengatakan apapun sedangkan anggota yang lain pun hanya diam.
Namun ketika Nindya keluar dari rumah Dino, ia mendengar mereka membicarakannya, tentang hape baru Nindya yang mahal dan bahkan tentang Nindya yang tidak pulang ber hari-hari, tentang motor yang di service dan di antarkan oleh beberapa pria.
Nindya menarik nafasnya dan kemudian ia melampiaskan kemarahannya pada Saddam.
"Dia adalah pria yang membuat keluargaku menjadi seperti ini, di kucilkan dan dijauhi oleh masyarakat, dia lah penyebab semua masalah di hidupku."
Kata Nindya geram dan pulang dengan perasaan marah.
Di dalam kamar Nindya duduk di atas ranjangya yang terbuat dari kayu, kasur nya pun tidak begitu empuk, ia membuka hape nya dan melihat sebuah pesan whatsuup masuk dari Johan dan satu lagi dari Saddam.
"Kenapa cowok menyebalkan itu mengirim pesan, dia kira aku akan meladeni nya seperti dulu, dasar cowok aneh, psikopat, tukang ngatur hidup orang lain, aku sangat membencibya, karena dialah hidupku jadi kacau begini."
Nindya meremas lembaran kertas yang sedang ia tulis, gadis itu juga aktif menulis buku diary, semua yang ia rasakan selalu ia tulis di sana.
"Nindya aku sudah mengirimkan alamat kantorku, besok kamu ke kantor ku saja, jangan langhsung ke pabrik. Aku tunggu kamu."
Bunyi pesan dari Johan.
"Nindya, bagaimana kabarmu?"
Bunyi pesan dari Saddam.
Namun tak berapa lama ketika Nindya bersiap untuk tidur ia memikirkan sesuatu. Nindya masih memiliki kalung yang sangat berharga baginya, kalung itu ia beli dari seluruh uang lemburnya ya ia sisihkan.
"Kalau di jual mungkin bisa mengganti harga hape ini, dan sebagiannya akan ku bayar setelah mendapatkan gajiku di pekerjaan baruku."
Kata Nindya kemudian.
"Aku akan benar-benar terbebas dari Saddam.
Imbuh gadis itu lagi bersemangat.
Sampai sekarang setiap kali Nindya melihat hapenya, gadis itu masih merasa tidak tenang serta di liputi perasaan marah dan juga benci terhadap semua sikap dan perilaku Saddam yang seenaknya, ia pun juga masih merasakan bahwa dirinya berhutang pada Saddam.
Intinya Nindya ingin membuang segala hal yang akan mengingatkan nya pada pria menyebalkan itu.
.
.
.
__ADS_1
Di sebuah rumah minimalis yang mewah, terletak di perbatasan anatara kota Yogyakarta dan Jawa tengah, Saddam duduk di meja kerjanya, sedangkan Lucas baru saja memberikan sesuatu pada Saddam.
"Dimana mereka bertemu."
Tanya Saddam.
Kini di tangannya ada beberapa foto aktifitas Nindya, ketika gadis itu mencari pekerjaan, dan ketika bertemu dengan Johan.
Ternyata Saddam masih mengintai dan mengawasi Nindya.
"Di lapangan dekat rumah Johan."
Kata Lucas.
"Saya dengar Johan juga menawarinya pekerjaan, dan sepertinya Nona Nindya tertarik, saya tidak dapat bergerak lebih jauh boss, mengingat Johan adalah sepupu anda."
JOHAN PRANATA DHARMAWANGSA ia adalah sepupu dari SADDAM AHMAD WIJAYA, umur mereka tidak terlalu jauh. Ayah Saddam memiliki adik perempuan dan dia menikah dengan JOO HENG PYOO.
Keluarga mereka sama-sama kuat, namun ada sisi lain dari Saddam yang belum pernah tekuak, Saddam jauh lebih menakutkan dari yang terlihat, banyak rahasia yang Saddam sembunyikan.
Bahkan jika Saddam tidak mendapatkan sepeser warisan kekayaan dari ayahnya pun ia tetap akan baik-bak saja, tidak akan jatuh miskin atau terpuruk karena usaha yang ia rintis sendiri kini sudah berkembang dengan pesat melebihi yang keluarganya miliki.
Namun semua perusahaan dan semua kekayaan itu tidak pernah memakai nama aslinya, Saddam memiliki nama samarannya sendiri untuk semua usaha yang ia miliki di luar dari yang keluarganya berikan.
"Besok sepertinya hari dimana mereka akan bertemu Boss."
Terang Lucas kembali.
"Tapi bagaimana Nindya bisa mengenal Johan."
"Mereka saling berteman dan satu sekolah bahkan satu kelas saat di bangku SMA, saya akan menggali lebih dalam lagi tentang mereka di masa SMA boss, anak buah yang saya tugas kan masih kesulitan karena sepertinya anak buah Johan tahu bahwa Johan sedang di mata-matai, jadi untuk sementara kita harus menahan diri dulu, maafkan saya Boss."
Lucas menundukkan kepalanya pada Saddam.
"Kerjamu cukup memuaskan, tapi jangan terlalu lama, aku tidak suka menunggu."
Perintah Saddam.
"Baik Boss."
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~