Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
10. Sampai di Jakarta


__ADS_3

Selama berada di dalam pesawat, Renesmee benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan yang memang bisa saja sudah terjadi. Terutama apa yang sudah ia dan Alice bicarakan tadi. Jika Alice tidak bertanya seperti tadi, Renesmee tidak akan memenuhi kepalanya dengan pikiran seperti itu.


Kecurigaan Alice ada benarnya. Bagaimana jika semua yang terjadi pada Renesmee dalam waktu singkat kemarin adalah sebuah alur yang sudah disiapkan oleh pihak keluarganya? Termasuk kedatangan Henry yang sangat tiba-tiba.


Jika memang benar, apakah ia harus hidup sebagai boneka bernyawa di dalam keluarganya sendiri? Perlahan, air mata itu menetes lagi. Dan Renesmee langsung mengusap pipinya pelan. Menatap cairan bening air mata yang kini berpindah pada jemarinya.


Lalu gadis itu menoleh ke kanan. Menikmati pemandangan luar biasa berupa langit berwarna senja, awan-awan, dan sinar mentari yang masih menyemburat secantik itu. Ciptaan Tuhan memang sangat Maha Dahsyat dan indah sekali. Sehingga membuat Renesmee segera tersenyum dan melupakan apa yang sekarang tertanam di dalam kepalanya.


*


Sampai di bandara soekarno-hatta, Renesmee langsung bergegas keluar dengan menyeret koper kecilnya. Ia tadi sudah sempat memperbaiki riasan bedak pada area sekitar mata, agar siapa pun nanti yang menjemputnya tidak mengkhawatirkan tentang penampilan di bagian matanya yang sembab.


Dan ternyata hanyalah seorang sopir khusus yang menjemputnya. Sopir yang terlihat masih muda seusia dirinya, terlihat sedang membawa kertas HVS yang bertuliskan namanya, Renesmee Edlyne Radityo.


Karena sejak dulu dalam keluarganya, Renesmee dikenal bertindak berani dan kasar, maka sekarang ia pun langsung kembali menggunakan sikap yang seperti dulu.


Renesmee berjalan begitu tegap dan ketika sampai di hadapan sopir itu, ia langsung meraih kasar kertas bertuliskan namanya. Diremasnya secara cepat dan ia lempar ke sembarang arah. “Buang!” Perintahnya ketus.


Kembali ke Jakarta, Renesmee seakan menunjukkan kembali sisi sangarnya yang seperti dulu. Tegas, kasar, seperti bad girl, dan selalu menginginkan apa maunya. Meski sebenarnya kini hatinya sudah mencelos, terasa bersalah ketika melirik pada sopir pria yang ternyata memungut kertas yang diremasnya untuk dilemparkan ke tempat sampah yang tersedia.


'Astaga, kembali ke sini adalah bukan aku yang sebenar-benarnya. Bukan!’ Tegasya dalam benaknya.


“Silakan masuk, nona Nessie.” Ujar sopir tadi, yang sudah berjalan lebih dulu sampai membukakan pintu mobil untuk Renesmee.


Renesmee hanya mengangguk, lalu ia segera masuk tanpa mempedulikan kopernya. Karena tanpa disuruh, sopir yang masih muda itu langsung bergegas memasukkan koper itu ke dalam bagasi.


Mobil sedan kali ini berwarna putih. Memang selalu mobil sedan itulah yang dikhususkan untuk kendaraan Renesmee ketika kembali ke Jakarta.

__ADS_1


“Maaf.” Ujar Renesmee secara tiba-tiba setelah sepuluh menit perjalanan.


Sang sopir yang fokus menyetir itu langsung melirik pada spion tengah. Ia pun dengan sopan langsung melepaskan alat bernama Earpiece dari telinga kirinya. Earpiece berkabel bening sebagai alat komunikasi dengan seluruh karyawan yang bekerja di rumah keluarga Radityo. Alat itu hanya dikhususkan untuk para bodyguard dan para sopir.


Dan para sopir yang bekerja untuk keluarga Radityo, juga merangkap sebagai bodyguard. Jadi wajar saja jika mereka semua masih berusia muda dan berjiwa semangat penuh.


“Ah, maaf untuk apa nona?” Tanya sopir itu dengan rasa keheranan.


Lalu Renesmee melepaskan kacamata hitamnya. Kemudian ia bisa melihat dengan jelas wajah sopir itu yang ternyata… lumayan tampan. “Ehm, tentang tadi. Aku meremas kertas dan membuangnya begitu saja. Tadi itu… hanya bentuk amarahku karena sebenarnya aku tidak mau kembali ke sini.” Ujarnya jujur.


Sopir itu tersenyum dan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, saya mengerti.”


“Omong-omong, siapa namamu?”


“Panggil saja Farel, itu nama saya.”


Farel langsung menggeleng. “Sekarang sudah tidak seperti itu, nona Nessie. Semuanya memakai nama asli mereka, karena kita semua yang bekerja pun harus memiliki identitas yang asli dimasukkan ke dalam entry data. Kata sekretaris ayah anda, jika tidak begitu kami tidak bisa gajian.”


“Hahahahaha, astaga. Kamu sudah lama kerja di keluargaku?”


“Belum lama, baru satu tahun.”


“Pasti sebagai bodyguard ya?”


Farel mengangguk. “Benar, nona.”


“Bodyguard di mana?”

__ADS_1


“Saya bertugas menjaga keamanan rumah saja. Lalu sekarang merangkap sebagai sopir anda. Dan sedikit informasi, kata Pak Radityo anda tidak boleh menyetir sendiri jika ingin ke mana-mana. Saya diwajibkan untuk mengantar dan mengawasi anda.”


Sungguh dramatis dan bagi Renesmee hal itu adalah lelucon kuno. Ia bak seorang puteri kerajaan yang ke mana-mana harus diawasi, dikendalikan, dan diperintah sesuka hati.


Menanggapi informasi itu, Renesmee hanya mengulas senyuman pahit. “Makasih infonya. Aku sendiri heran, jika dikekang seperti itu, mengapa tidak sekalian saja aku ini dikurung dalam Menara ya? Biar sesuai alurnya, menanti pangeran datang tiba-tiba entah kapan.”


Mendengar perkataan itu Farel melirik pada Renesmee. Sebagai orang asing yang hanya bekerja mencari nafkah halal, Farel pun merasa simpati dengan keadaan Renesmee. Ia sendiri juga sudah banyak mendengar tentang Renesmee yang sudah tiga tahun nekat kabur ke Surabaya hanya untuk bisa mewujudkan mimpi berkuliah kedokteran.


“Menurut saya, keluarga anda hanya ingin menjaga anda. Mereka tidak melukai anda, dan tanpa anda ketahui… setiap hari mereka selalu mencari tahu kabar dan keadaan anda di luar sana.” Ujar Farel bermaksud menenangkan.


Lagi dan lagi Renesmee hanya tersenyum. Tapi setidaknya perkataan sopir tampan itu ada benarnya. Tapi… “Tapi aku terluka secara mental, Farel. Bukan terluka secara fisik. Kamu tidak bisa merasakan rasanya menjadi boneka dalam keluarga sendiri. Lahir di keluarga kaya itu tidak semenyenangkan yang dibayangkan banyak orang. Isinya hanya sakit dan perih. Karena tidak bebas seperti mereka-mereka yang bisa mengusahakan dan meraih mimpi mereka sampai tuntas.”


“Maafkan saya, nona. Sepertinya saya kalah bicara. Sekarang saya tidak bisa membalas perkataan anda.” Ujar Farel dengan disertai senyuman kecil.


Renesmee terkekeh pelan. “Kamu bisa saja bercanda. Aku ingin tidur sejenak. Bangunkan saat sudah sampai di rumah ya.”


“Siap, nona.”


Dan Renesmee pun langsung memejamkan matanya. Bahkan ia memposisikan tubuhnya benar-benar tidur, limbung ke kanan. Dengan kaki yang menekuk dan kedua tangannya bersedekap dada.


Melihat bagaimana posisi Renesmee, Farel secara perhatian langsung mengurangi kecepatannya. Agar majikan mudanya itu merasa nyaman dan tidak merasakan guncangan kecil akibat kecepatan mobil.


Selama perjalanan, diam-diam Farel mencuri pandangan beberapa kali. Mengawasi Renesmee dari spion tengah, gadis itu tidur pulas dengan cepat. Bibir Farel tertarik membentuk senyuman yang manis. “Jika puteri yang dikekang dalam Menara itu adalah anda, mungkin saya bersedia menjemput anda turun jika sudah waktunya.” Gumamnya pelan, tanpa didengar oleh Renesmee.


Siapa yang tidak akan tertarik pada Renesmee? Sepertinya tidak ada. Ia memiliki paras cantik dengan bentuk badan ideal yang ramping, lalu juga tinggi. Farel saja yang baru bertemu beberapa menit, langsung terpesona seperti itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2