Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
6. Perdebatan Keluarga


__ADS_3

“Oh, atau jangan-jangan aku adalah anak angkat dari panti asuhan dan harus bersedia menuruti kemauan kalian?” Imbuh Renesmee, karena kedua orang tuanya belum menjawab pertanyaannya yang tadi.


Vivi masih diam karena ia tidak tahu harus berkata apa. Wanita itu hanya memandang lesu ke arah lantai rumah yang berupa keramik biasa berwarna krem muda dengan corak abstrak. Sebagai ibu, tentu ia merasa kecewa dengan pertanyaan putrinya yang seperti itu. Namun Vivi juga sadar diri bahwa ia dan suaminya telah berperilaku salah, tetapi ia tidak bisa menghentikan hal itu. Radityo adalah pria keras kepala sejak dulu.


Dan Radityo sendiri, sekarang terlihat begitu masam memandang Renesmee. “Tiga tahun melarikan diri, jadi ini yang kamu dapatkan? Menjadi tidak punya adab dan tidak punya etika!! Berani membantah! Lalu bertanya tidak waras!! Jawab sendiri pertanyaanmu itu! Kamu merasa mirip siapa? Kok seperti kacang lupa kulitnya. Tidak ingat kamu dibesarkan seperti apa?? Justru karena kamu anak pertama. Dan dalam keluarga kita, anak pertama maupun laki-laki atau perempuan, wajib meneruskan bisnis keluarga. Mau tak mau!! Jadi jangan berikan pertanyaan konyol seperti itu pada orang tuamu!! Setidaknya kalau kamu memang menuntut ilmu di bidang kedokteran, kamu juga punya etika bagus dalam bicara!!!” Tegas Radityo yang semakin menggebu-gebu.


Di sampingnya, Vivi langsung menggamit lengannya. Menyuruh suaminya itu untuk sabar, mengambil napas dalam, dan segera menurunkan puncak emosinya.


“Mama merasa sakit hati begitu kamu memberikan pertanyaan seperti itu, Nessie.” Ujar Vivi. Meski Vivi juga keras dan tegas, namun ketika marah ia tidak pernah meninggikan emosinya. Ia tetap berbicara dengan tenang dan serius.


Renesmee langsung menelan ludahnya. Kini ia merasa bersalah telah berlagak angkuh seperti tadi. Bagaimana pun juga, Vivi dan Radityo memang orang tuanya dan telah membesarkannya dengan baik sampai ia lulus SMA.


“Bulan November tanggal 17, tahun 2001. Setelah perjuangan pembukaan yang begitu lama belasan jam. Pukul tujuh pagi, akhirnya kamu bisa lahir dengan selamat tanpa melalui cara operasi caesar. Sakitnya bukan main. Pendarahan juga hingga Mama pingsan selama beberapa jam dan dilarikan ke ICU. Dan dengan mudahnya kamu tadi bertanya seperti itu? Di mana adabmu? Kami tahu kamu berusaha melawan kemauan kami dan kamu di sini berjuang sendiri selama tiga tahun. Tapi tidak semestinya kamu bertanya seperti tadi.” Ujar Vivi tegas.


Renesmee langsung menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa bersalah. Namun rasa kecewanya terhadap kedua orang tuanya pun juga belum lenyap.


“Maafkan aku, Maa. Tapi, setidaknya sejak aku meninggalkan rumah, kalian langsung mencariku dan berusaha menyuruhku kembali. Namun kalian tidak melakukan itu. Kalian sengaja membiarkan aku seolah-olah seperti sedang terapung-apung di tengah lautan dan hanya berpegang pada sebuah jerigen plastik. Meski aku melawan, aku juga masih ingin dicari, bukan dibiarkan.” Ujar Renesmee yang sekarang langsung mencurahkan isi hatinya.


“Siapa yang membiarkanmu? Kami tidak membiarkanmu, tapi kami hanya diam.” Sahut Radityo langsung.

__ADS_1


Vivi mengangguk. “Kami selalu mengawasimu, Nessie. Ke mana pun kamu pergi dan dengan siapa kamu berhubungan, kami tahu. Pemilik kafe tempatmu kerja, Ibu Nurmala. Papamu yang menyuruh dia menerimamu bekerja di kafe itu.”


DEG!!


Bersamaan dengan rasa terkejutnya, air mata Renesmee langsung turun membasahi pipi kirinya. “Lalu, meski begitu kalian tetap membiarkanku, bukan?”


“Dengar ya Nessie, kamu sendiri yang membantah kemauan kami. Kamu meninggalkan rumah seberani itu tanpa berbekal apa pun. Kami tidak membiarkanmu terombang-ambing di tengah lautan, namun kamu sendiri yang terjun ke laut itu. Papa dan Mama, merasa lelah memaksamu. Akhirnya kami diam dan hanya mengawasimu setiap hari. Hingga akhirnya kami sekarang sadar bahwa kamu seantusias itu menuntut ilmu di bidang kedokteran. Papa ke sini, karena sudah tidak sanggup menahan diri. Papa rindu juga sama kamu, kepingin ketemu kamu. Dan caranya seperti tadi, menyeretmu paksa. Jika tidak begitu, kamu pasti akan lari dan kabur lagi kan?”


Renesmee menghela napas panjang begitu mendengar omelan dan kejujuran ayahnya. Apa sekarang ia harus mengaku kalah?


“Sekarang, Mama sama Papa udah ngijinin kamu kuliah kedokteran. Kami fasilitasi kehidupan kamu di sini dan gunakan kartu ATM lagi seperti dulu. Tapi satu yang kami minta. Setelah lulus, pulanglah ke Jakarta lagi. Coba mengenali dulu dunia bisnis. Kalau tidak dicoba, kamu mana tahu rasanya? Hanya kamu harapan kami, Nessie.” Ujar Vivi.


Radityo menghela napas dalam. “Rania itu ingin fokus di bidang jurnalistik. Keras kepalanya melebihi kamu. Dan asal kamu tahu saja, Rania juga pergi dari rumah.”


Mendengar jawaban itu, Renesmee langsung tersenyum setengah bibir dan mendengus pelan. “Lihat kan? Rania saja juga berusaha kabur, apalagi aku. Sebentar lagi Leo juga pasti kabur.”


“Jadi kamu tetap tidak mau kembali?” Tanya Vivi.


“Aku terlanjur nyaman di kota ini, Ma. Aku sudah tidak peduli lagi jika kalian tidak akan memperhatikanku. Aku sudah memiliki tabungan yang cukup, melunasi rumah kontrakan ini, dan juga melunasi biaya semesterku. Aku berhasil hidup mandiri dan menjadi wanita independen. Kurasa kalian tahu apa jawaban singkatnya.” Tandas Renesmee.

__ADS_1


Vivi langsung bertatapan dengan Radityo. Raut wajah mereka seperti cemas akan sesuatu hal lain yang belum disampaikan. “Sebenarnya, Oma ingin kamu meneruskan bisnis keluarga. Jika tidak, kamu akan dijodohkan secara paksa oleh CEO muda yang dikenal baik dengan keluarga kita.” Jelas Vivi.


Radityo mengangguk membenarkan perkataan istrinya. Sedangkan Renesmee tampak terdiam dan melayangkan tatapan masam. “Apa?! Kenapa Oma jadi ikut-ikutan mengancam? Kalian pikir, hidupku ini pantas untuk disetir sesuai kemauan kalian ya? Ma, Pa… aku juga berhak bahagia dengan caraku dan keputusan yang aku mau. Kalian sebagai orang tua, apa gak mau ngelihat anak kalian ini bahagia?”


“Nessie sayang, semua pihak keluarga menuntutmu. Kamu anak pertama dari seorang anak pertama juga di keluarga Radityo. Jadi Oma mu juga cemas tentang hal itu. Menunggu Leo juga sangat lama, karena dia belum lulus SMA. Maka dari itu, Oma mu itu memilih bertindak tegas. Jadi lebih baik pulang dan menurutlah, ya?” Ujar Vivi dengan suara yang melembut.


Namun sebelum Renesmee sempat membalas perkataan ibunya, terdengar suara gaduh dari luar rumah. Radityo yang melihat ke arah jendela, ia terkejut melihat beberapa anak buahnya tumbang karena serangan bodyguard orang lain.


Dan…BRAAAKKK!!!


Pintu rumah kontrakan itu didobrak dari depan secara paksa. Membuat Renesmee dan kedua orang tuanya langsung berdiri dari duduk mereka. Mereka merasa cemas dengan apa yang baru saja terjadi dan menebak-nebak siapa yang datang.


Muncullah seorang pria dengan napas sedikit terengah. Bulir-bulir keringat membanjiri bagian dahinya. Dan Renesmee langsung membelalakkan kedua matanya. Bibirnya ikut menganga lebar, ia terkejut dengan kedatangan pria itu.


Ya, pria itu adalah Henry Sebastian. Pria yang Renesmee anggap adalah orang gila yang menyuruhnya menjadi kekasih atau istri bayaran.


“Esme!! Apa kau baik-baik saja?? Siapa mereka? Mereka yang menculikmu dan menahanmu di sini? Aku bisa menuntut mereka, Esme. Dan aku rela menyelematkanmu ke sini, karena aku sangat membutuhkanmu. Kau tidak bisa hilang begitu saja dariku!!” Ujar Henry menggebu-gebu. Bahkan ia mulai merengkuh kedua bahu Renesmee dan memberikan tatapan masam pada Vivi dan Radityo yang masih tampak terkejut bukan main.


Dasar, Henry! Sepertinya ia masuk ke situasi yang salah.

__ADS_1


*****


__ADS_2