Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
3. Pelanggan Bernama Henry


__ADS_3

Malam yang cukup tenang di kafe. Kali ini Renesmee menjadi seorang kasir. Para pria yang bekerja di kafe itu hanya ingin menolong Renesmee yang tampak kelelahan sekali.


Kasir di kafe itu adalah Evan. Pria itu sangat baik dan ia juga bisa menjadi seorang pramusaji. Maka ia membiarkan Renesmee mengambil tempatnya malam ini.


Lagi pula Renesmee bukanlah gadis yang bodoh. Ia adalah mahasiswa kedokteran dan tentu saja paham dengan sistem di komputer. Tentu saja ia bisa menjadi kasir malam ini, itu adalah pekerjaan yang cukup mudah.


Namun Renesmee sedikit kesal. Ketika gilirannya menjadi kasir, kondisi kafe malam ini kebetulan sangat sepi. Hanya ada sepasang kekasih yang menikmati makan malam di meja nomor 11 yang terletak di dekat jendela. Sementara meja lainnya pun kosong.


“Seharusnya kau libur saja hari ini. Bibi Nurmala juga pasti akan mengijinkanmu.” Kata Evan.


Renesmee langsung menghembuskan napas panjang. “Aku sudah mengambil cuti tiga hari di awal bulan. Bagaimana bisa aku meminta libur lagi? Aku tidak mau gajiku dipotong.”


Evan berdecak kesal. “Kau seperti orang miskin saja. Hei, kau juga berperan sebagai pembuat laporan keuangan untuk Bibi Nurmala. Hanya kau yang digaji dua kali lipat di kafe ini.”


“Untuk saat ini, biarkan aku bekerja sangat keras, Evan. Kurasa bulan ini adalah bulan terakhir aku berada di kafe ini.”


Mendengar perkataan itu, Evan terkejut. “Kenapa? Kau akan mengajukan surat pengunduran diri?”


Renesmee mengangguk. “Iya, aku harus fokus menyelesaikan kuliahku. Biarkan aku menikmati hasil tabunganku dan hidup tenang sampai aku lulus kuliah.”


“Kau serius??”


“Tentu saja aku sangat serius! Kau pikir aku sedang bercanda?”


“Tapi, kenapa kau harus berhenti kerja?”


“Aku sangat lelah, Evan. Aku ingin hidup tenang untuk sejenak dan hanya fokus pada tujuanku saat ini. Terlalu keras mencari uang, ternyata sangat melelahkan. Meskipun aku masih muda, tapi kurasa punggungku butuh istirahat. Aku ingin bangun tidur di pagi hari tanpa tergesa-gesa, lalu memasak makanan untuk diriku sendiri, lalu mengerjakan banyak hal yang belum pernah kukerjakan. Misalnya seperti lari pagi, berburu makanan dengan berjalan di trotoar kota, dan merasakan hidup bebas tanpa hambatan waktu.”


Mendengar hal itu, Evan mendorong pelan lengan kanan Renesmee. “Kau sangat konyol! Semua hal itu juga bisa dilakukan saat hari libur!”


“Tapi aku tidak ingin melakukannya hanya di hari libur. Aku ingin melakukan semua itu dalam jangka waktu yang sering.”


“Huft, jika itu memang keputusanmu maka aku tidak bisa menghentikanmu. Tapi kau tidak akan pindah ke kota lain, kan?” Tanya Evan.


Renesmee menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Tidak, urusanku di kota ini belum selesai. Tapi kurasa hal itu akan terjadi jika urusanku di kota ini sudah selesai.”


“Wow, kau benar-benar berhasil menjadi pribadi yang sangat mandiri, Nessie. Aku sangat kagum padamu.”


“Jangan memujiku seperti itu, Evan. Semua orang telah berhasil berjuang untuk diri sendiri, termasuk kau.”

__ADS_1


Evan tersenyum dan mengangguk pelan. Pria itu hendak berkata lagi, namun lonceng yang tergantung pada pintu masuk kafe itu berbunyi. Tanda bahwa ada pelanggan yang masuk ke dalam kafe.


Tentu saja Evan dan Renesmee langsung menoleh ke arah pintu. Mereka berdua yang semula sedang duduk, langsung berdiri untuk menyambut pelanggan itu.


Tampak seorang pria bertubuh jangkung memasuki kafe. Raut wajah pria itu sangat panik dan ia baru saja melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan. Kemudian kacamata hitam itu ia masukkan ke dalam saku kemeja hitamnya.


Renesmee langsung mengernyitkan dahinya. Ia merasa pernah melihat pria itu, namun ia lupa. “Selamat malam, anda ingin memesan apa?” Tanya Renesmee dengan sangat ramah.


Namun pria itu tidak segera menjawab pertanyaan Renesmee. Pria itu justru sibuk mengamati penampilan Renesmee.


Renesmee merasa sangat bingung. Lalu ia mencoba memperhatikan penampilannya sendiri. Dan Evan juga ikutan mengamati penampilan Renesmee.


“Maaf, apakah ada yang salah dari pakaian saya?” Tanya Renesmee dengan sopan pada pria itu.


Pria itu tersenyum kecil. “Tidak ada. Namamu Renesmee?” tanya pria itu karena melihat bros papan nama yang tertempel di baju kerja Renesmee.


“Ah, iya benar. Namaku Renesmee.”


“Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu Esme?”


“E-Esme??”


Renesmee masih tampak kebingungan, begitu juga dengan Evan. “Umm, iya, tentu saja kau boleh memanggilku seperti itu. Lalu kau ingin memesan apa, tuan?”


“Bagaimana jika kau keluar dan berdiri di sampingku?”


Renesmee terkejut dengan pertanyaan itu. Ia langsung menelan ludah dan kedua tangannya merasa dingin. Evan langsung memasang badan dengan berdiri di depan Renesmee.


Melihat reaksi Evan, pria jangkung itu langsung terkekeh pelan. “Aku tidak memiliki niat buruk. Namun kumohon, turuti saja permintaanku saat ini. Aku adalah Henry Sebastian. Kalian pasti sudah pernah mendengar atau membaca namaku di dunia maya.”


Mendengar perkataan pria itu, Evan merasa tersadar dan ia langsung menghembuskan napas lega. Kemudian ia kembali berdiri di samping Renesmee. “Ah, kau ternyata Henry Sebastian.” Kata Evan.


“Iya. Ah, nona muda. Bisakah kau keluar dari area kasirmu dan berdiri di sebelahku?” Tanya pria jangkung itu yang bernama Henry Sebastian.


Renesmee belum menjawab pertanyaan itu, gadis itu menatap Evan sejenak. Dan Evan langsung berkata, “turuti saja permintaannya. Aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Dia cukup terkenal di kota besar ini. Tidak mungkin dia akan melakukan sesuatu yang tercela di depan umum.” Kata Evan dengan nada suaranya yang pelan.


Meskipun merasa sangat ragu, akhirnya Renesmee menuruti permintaan Henry. Gadis itu keluar dari area kasir.


“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Renesmee.

__ADS_1


Henry tersenyum senang. “Bisakah kau menanggalkan apron kafe itu?”


Renesmee menundukkan kepala, mengamati apron kafe yang selalu ia kenakan saat sedang bekerja. “Ah, mengapa aku harus melepaskan apron ini?”


“Aku sedang meminta pertolongan darimu. Jika bisa, maka lakukanlah dengan cepat. Waktuku tinggal sedikit. Kumohon, lepaskan apron kafe itu sekarang juga.” Kata Henry. Ia terlihat panik dan mulai melirik ke arah jendela kafe. Karena ia sudah melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak memasuki area parkir di kafe itu.


Henry sangat mengenal mobil sedan itu.


Renesmee merasa tergesa-gesa, ia pun menuruti permintaan Henry. Gadis itu melepaskan apron tersebut dan menyerahkan apron itu pada Evan. “Lalu setelah ini apa yang harus kulakukan?” tanya Renesmee. Dan ia sendiri merasa sangat bingung, mengapa saat ini ia merasa seperti orang bodoh yang mau menuruti permintaan dari orang asing?


“Kau cukup berdiri di sampingku.” Kata Henry.


“A-apa?”


Henry merasa sedikit kesal karena Renesmee tidak cepat tanggap memahami perkataannya. Dan pria itu langsung menarik tangan kanan Renesmee, agar gadis itu berdiri di sebelah kirinya.


Pintu kafe terbuka dan lonceng berbunyi lagi. Tanda bahwa ada pelanggan yang masuk.


Bersamaan dengan hal itu, Henry memasang senyuman lebar dan tangan kirinya langsung merangkul pinggang Renesmee dari belakang. Ia menatap sepasang suami istri yang berjalan mendekatinya.


Sepasang suami istri yang tampaknya sudah berusia sekitar setengah abad. “Ayah, Ibu… aku tidak menyangka bahwa kalian benar-benar menyusulku ke sini.” Kata Henry.


Wanita yang berdiri di samping suaminya itu tampak tersenyum tenang. Kedua matanya menatap Renesmee dari atas kepala sampai ke ujung kaki. “Apakah dia gadis yang kau ceritakan pada kami?” tanya wanita itu yang merupakan ibu Henry.


Pria di samping wanita itu pun juga tersenyum. “Dia sangat cantik. Apakah kalian berdua benar-benar ingin menikah secepat itu?” Tanya pria itu yang merupakan ayah Henry.


Henry memasang senyuman manis dan menatap Renesmee dengan tatapan yang begitu dalam. “Kami berdua akan menikah dalam waktu dekat ini, Ayah. Dia adalah wanita yang kucintai. Maka dari itu aku menolak perjodohan yang kalian ajukan padaku. Namanya Esme, kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun ini. Meski baru saja satu tahun, namun kami ingin segera menikah dan tidak ingin menyembunyikan hubungan ini lagi.”


Dan saat ini, Renesmee hanya bisa diam terpaku dengan kedua matanya yang tidak berkedip. Tenggorokannya terasa begitu sulit menelan ludah. Ia menoleh pelan pada Henry.


Henry hanya memasang tatapan tajam pada Renesmee ketika mereka berdua bertatapan. Tangan kanan Henry pun meremas lengan Renesmee sedikit keras. Hal itu merupakan sebuah kode bahwa Renesmee harus mengikuti sandiwara yang sedang ia perankan di hadapan orang tuanya.


‘Mimpi apa diriku semalam? Mengapa aku bertemu dengan pelanggan kafe seperti ini?? Evan, mengapa kau hanya diam saja? Siapa pun, tolong panggil polisi ke sini!! Jika perlu, tolong panggilkan pihak dari rumah sakit jiwa!! Henry Sebastian, kau benar-benar gilaaa!!!’ Kata Renesmee dalam hati. Wajahnya sampai terlihat merah karena berusaha memendam kemarahannya.


Dan yang terjadi adalah, Renesmee menuruti permintaan Henry. Gadis itu terpaksa menganggukkan kepala di hadapan orang tua Henry.


Malam yang sangat buruk bagi Renesmee.


*****

__ADS_1


__ADS_2