Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
11. Menolak Bertemu Oma


__ADS_3

Sedan putih yang membawa Renesmee sudah berhenti mulus tepat di depan tangga menuju masuk ke teras rumah. Halaman rumah mewah itu begitu luas. Dilewati sepuluh mobil pun cukup, bahkan bus pariwisata pun bisa masuk.


Di depan tangga yang menuju masuk ke teras, terdapat air mancur lingkaran dengan diameter kurang lebih sekitar 5 meter. Lalu di samping tangga masuk itu berdiri beberapa bodyguard yang mengenakan setelan jas hitam putih dan mereka semua memakai alat Earpiece pada telinga kiri mereka.


Farel langsung keluar dari mobil sedan putih itu. Lalu ia bergerak cepat memutar untuk membukakan pintu mobil sebelah kiri bagian jok penumpang. Kemudian keluarlah Renesmee dari dalam mobil itu. Wajahnya memang baru bangun tidur namun tetap terlihat cantik, karena kulit wajahnya yang mulus.



“Thank you, Farel.”


“Sama-sama, nona.”


Lalu Renesmee hendak berjalan menuju bagasi mobil. Farel yang peka itu langsung tahu apa yang hendak dilakukan oleh anak bosnya. “Ah, tidak perlu diambil sendiri. Nanti saya yang akan mengantar koper nona Nessie ke dalam rumah.” Ujarnya sopan.


Renesmee lupa sejenak ia sedang berada di mana. Ah, ia sudah kembali ke rumah keluarganya. Jadi ia akan diperlakukan seperti tuan puteri seperti di istana kerajaan. “Ah, aku lupa. Baiklah.” Ujarnya yang kemudian langsung melanjutkan langkah kakinya untuk menaiki anak tangga yang tidak banyak.


Rumah itu tidak banyak berubah. Yang berubah hanya cat tembok dan pilar-pilar bagian depan. Lalu dekorasi yang dibuat lebih sederhana namun tetap terlihat elegan.


Dulu saat Renesmee masih belum kabur, di dalam rumah itu terdapat banyak vas-vas guci keramik. Setiap guci diisi oleh bunga asli bahkan bunga palsu juga. Sekarang semua itu tidak ada, mungkin karena sudah tidak jaman dan terlihat kuno. Apalagi Ibunya memang selalu up to date tentang barang-barang yang sedang hits.


Dekorasi bagian dalam rumah pun tidak begitu ramai. Kini hanya ada beberapa vas bunga kecil dari keramik maupun kaca ditaruh di beberapa titik. Dan itu lebih terlihat menyegarkan.


Renesmee langsung menghirup napas dalam-dalam ketika ia resmi masuk ke tengah-tengah rumah. Aroma rumah yang sama sekali tidak ia rindukan sejak ia kabur. Di sebelah kanannya ada ruangan bercabang yang menampilkan ruang tamu dan ruang keluarga. Sedangkan di sisi kirinya terlihat lapang ada meja makan keluarga dan dapur modern yang memang konsepnya terbuka namun sangat elegan.


“Welcome home, my dear.” Ujar Vivi yang menyambut putri sulungnya dengan sangat hangat. Ia langsung memeluk Renesmee dengan pelan dan hangat. Setelah itu ia hujani wajah putrinya itu dengan beberapa kecupan sayang di bagian pipi dan dahi.


Radityo pun tersenyum dan memeluk Renesmee juga. Ia hanya suka meniru tindakan istrinya, dan tidak terlalu banyak bicara.

__ADS_1


“Sister! Welcome home! Kukira kamu tidak akan pulang lagi Kak.” Sahut Leo yang datang sambil membawa es krim cone di tangannya.


Renesmee terkekeh dan menepuk pelan kedua pipi adiknya. “Kakak pulang, tapi hanya untuk berpikir dan memberi jawaban.” Ujarnya sengaja.


Dan perkataan itu sukses membuat orang tuanya saling bertatapan dan menghela napas sesak. Tentu, sebenarnya mereka berdua tidak ingin terlalu mengatur hidup Renesmee. Namun memang sudah takdirnya mereka adalah keluarga pengusaha yang memang membutuhkan penerus bisnis atau ahli waris utama.


“Ayo ayo masuk sayang. Kita makan dulu ya, kamu pasti kan lapar.” Ajak Vivi dengan senang.


“Aku capek Ma. Boleh langsung ke kamar?” Tanya Renesmee yang langsung memilih ijin.


Hal itu membuat wajah Radityo sedikit masam. “Oma mu sudah menunggu. Makan bersama dulu.” Pintanya tegas.


“Aku baru sampai Pa. Tidak bisakah memberi jeda dulu? Dan aku beri tahu sekarang. Alasan utamaku dulu kabur dari rumah, karena aku tertekan dengan sikap Oma. Suka gak suka, aku gak mau diatur meski itu hanya jam makan. Kalian mau langsung membahas tawaran dua pilihan itu kan? Aku mau membahas, tapi tidak bersama Oma!” Tegas Renesmee.


Vivi menghela napas dalam. “Sudah sudah, kalau begitu---”


Renesmee tidak peduli dengan penegasan ayahnya. Ia langsung menatap Leo. “Antar kakak ke kamar!” Tegasnya pada Leo.


Leo yang merasa tegang itu pun langsung mengangguk. Ia meraih tangan Renesmee untuk digandeng dan mereka berjalan cepat menaiki anak tangga, menuju ke lantai dua.


Tentu jika dusuruh seperti itu Leo langsung ngacir saja. Ia pun sebenarnya selalu tidak betah jika suasana keluarga terasa tegang seperti tadi. Apalagi ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah terjadi pada kakak sulungnya.


Begitu masuk ke dalam kamar pribadinya, Renesmee menghembuskan napas lega. Semua barang-barangnya tampak masih sama dan tetap terawat. Hanya ranjang dan lemari yang memang harus diganti karena yang dulu sudah sedikit lapuk.


Leo langsung duduk di tepi ranjang setelah Renesmee menutup pintu kamarnya. Gadis itu juga menghela napas lega setelah duduk di samping adiknya.


“Kak, kenapa pulang sih?” Tanya Leo yang kini berlawanan seperti reaksinya tadi saat menyambut kedatangan Renesmee.

__ADS_1


“Kakak sendiri gak mau sebenernya!”


“Hm, udah bagus ada di luar. Hehehe.” Ujar Leo cengengesan. Entah dia adik yang normal atau tidak, yang pasti ia memang mendukung kakak-kakaknya pergi dari rumah. Ia sendiri juga ingin begitu jika sudah lulus kuliah, namun sayangnya ia masih SMA.


Renesmee terkekeh pelan. “Nyatanya hidup di luar pun juga jadi boneka.”


“Maksud kakak?”


“Papa itu diem-diem tahu kakak ada di mana, kerja di mana, dan berteman dengan siapa aja. Dan kamu tahu? Bos tempat kerja kakak ternyata dari awal emang disuruh Papa buat nerima aku jadi karyawan di sana. Gila kan?”


Leo bergidik ngeri. “Papa emang gila. Kenapa gak musnah ya?”


“Hush!!” Seru Renesmee seraya memukul pelan mulut adiknya. “Kesel boleh, tapi jangan nyumpahin yang aneh-aneh ke orang tua. Gak ada Papa, kita juga gak ada di dunia!” Imbuhnya.


Leo menyengir lagi. “Kak, kalau gitu mau telponan sama Kak Nia nggak?”


“Ah iya. Rania? Kamu punya nomornya?”


“Punya dong! Bentar.” Ujar Leo bersemangat. Ia langsung membuang sisa es krim cone ke dalam wadah sampah yang tersedia. Lalu ia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel canggihnya dari sana.


“Dek, memangnya Rania pergi dari rumah sejak kapan?”


“Masih baru sebentar kok Kak. Kisaran hampir tiga bulan. Sebelum kabur, Kak Nia bertengkar hebat sama Papa. Dia bahkan juga ngelawan Oma.” Jelas Leo.


Renesmee langsung meringis. Sebenarnya ada apa dengan keluarganya sendiri? Mengapa tidak pernah mendukung cita-cita anak cucu dengan baik? Menyebalkan bukan? Seperti Renesmee dan Rania yang punya cita-cita sendiri, harus menjadi pemberontak di dalam keluarga sendiri karena tidak pernah didukung serta hidup harus diatur.


Benar-benar tidak mengasyikkan. Padahal hidup hanya sekali.

__ADS_1


*****


__ADS_2