
“Nia!! Kamu ke mana saja??” Tanya Renesmee heboh seraya memegangi ponsel milik Leo. Layar ponsel itu penuh dengan wajah Rania yang terlihat baik-baik saja dan gadis itu sedang memakai sebuah roll rambut di bagian poni.
Rania langsung memasang cengiran bahagia. ‘Kak Nessie!! Pake hapenya Leo?’
Renesmee mengangguk. Lalu ia memposisikan tubuhnya menjadi tengkurap dengan bertumpu pada sebuah guling empuk. Leo pun mengikuti, lelaki itu tengkurap di sebelah kanan kakaknya.
“Ih, kamu agak gemukan! Enak kan bebas dari rumah… hehehe.” Seru Renesmee.
‘BANGET!! I’m very very very happy! Gak ada kekangan, jam makan bebas, gak diawasin sama siapa pun. So, kak Nessie balik ke rumah nih?’
“Iya. Nyebelin banget. Eh Nia, kamu jangan seneng dulu deh. Barangkali nasibmu sama seperti aku.”
Rania terlihat mengerutkan keningnya. ‘Why?’
“Selama ini, ternyata Papa selalu ngawasin aku. Bahkan dia tahu dengan siapa aku berteman dan bekerja. Parahnya, pemilik kafe tempatku kerja di Surabaya, ternyata sudah bersekongkol dengan Papa. Disengajain gitu biar pemilik itu nerima aku kerja di sana. Dan dua hari kemarin itu dalam satu hari terjadi hal yang di luar nalarku. Papa dan Mama jemput aku ke Surabaya dan aku disuruh pilih salah satu dari dua pilihan yang udah diatur sama Oma. Tentang apa, nanti lah ya kita chattingan sendiri. Pokoknya aku sampai gak bisa ngatasin lagi di sana. Gila kan?!!”
‘Astaga, serius Kak?’
“Serius lah!! Kayak tertata alurnya selama ini.”
‘Jangan-jangan… aku juga diawasin.’ Gumam Rania yang menjadi cemas.
Renesmee mengedikkan kedua bahunya. “Sudah jangan dipikirkan. Hey, aku sampe lupa loh kamu itu adikku. Kamu itu serius udah lulus kuliah?” Tanyanya heboh.
‘Hehe, iya. Aku ambil Dimploma tiga aja Kak. Gak sampai sarjana strata satu. Jadi aku lebih dulu lulus dari kakak. Lagian kak Nessie agak lama lulusnya karena kan memang jurusan kedokteran. Gimana kuliah kakak?’
“Skip dulu nanyain aku!! Huh, agak kesel karena kamu tuh juga gak pernah hubungin aku. Aku mau banyak tanya ke kamu! Kamu itu beneran terjun di dunia jurnalis? Reporter?”
__ADS_1
Rania terlihat mengangguk antusias. ‘Hehe, iya! Beneran! Seru soalnya, punya banyak temen, bisa eksplore ke banyak tempat, ketemu banyak orang baru, dan mikirin banyak bahan buat ditulis biar dibaca banyak orang.’
“Terus, kamu itu lagi di mana sekarang?”
‘Cuman di Kemang aja kok. Gak jauh dari rumah. Tapi aku sengaja bilangnya ke Solo. Biar gak dicari. Dan setahuku gak ada yang ngebuntutin aku sih. Yang punya nomorku juga cuman Leo.’ Jelas Rania.
“Ketemu yuk. Aku bisa atur waktu dan bisa sendirian kalau kamu mau.” Ajak Renesmee. Tentu ia sangat merindukan adik perempuannya itu.
‘Mau aja sih Kak. Tapi yakin nih kakak boleh pergi sendirian?’
“Sopirku kayaknya bisa diajak sekongkol.” Ujar Renesmee dengan menyengir penuh maksud.
Malam itu obrolan kakak dan adik perempuan itu berlanjut sampai pukul sembilan malam. Hingga akhirnya Renesmee dan Leo makan malam bersama di dalam kamar tersebut, karena seorang asisten rumah tangga yang membawakan dua nampan berisi makanan dan minuman untuk mereka berdua.
***
Pagi ini Renesmee sudah siap dengan penampilannya. Ia memakai riasan yang soft, namun sengaja dibuat paling merona pada bagian bibirnya. Gadis itu memakai liptint yang tidak mudah transfer, namun langsung menyatu dengan bibir ketika dipakai. Cepat meresap, tetapi juga terlihat glossy.
Ketika kembali ke rumah itu, mau tak mau Renesmee juga kembali memperhatikan penampilannya. Karena di lemarinya sangat sedikit persediaan baju yang bergaya casual yang biasa-biasa saja. Kebanyakan selalu terlihat elegan. Namun tidak apa-apa, setidaknya Renesmee menyukai baju warna putih untuk dipakai sehari-hari.
Mungkin karena ia terjun di bidang kedokteran, jadi ia sudah jatuh cinta dengan warna putih. Rambutnya hari ini diikat satu ke belakang. Tidak terlalu ketat, namun terlihat simple yang elegan.
Setelah dirasa siap, Renesmee pun memutuskan keluar kamar dan menuruni anak tangga. Kedua kakinya masih dibalut sandal rumah yang berbulu dengan karakter beruang coklat.
“Nessie! Sarapan sayang!” Panggil Vivi dari arah ruang makan yang memang konsepnya terbuka.
__ADS_1
Renesmee mencoba untuk mengakrabkan dirinya dengan keluarganya lagi. Ia pun tersenyum dan berjalan mendekati meja makan. Tak peduli dengan Oma Widya yang sudah duduk di bagian ujung meja, wanita tua itu duduk diam di kursi roda atas yang canggih itu.
Leo sudah duduk sejak lima menit yang lalu. Lelaki itu tampak tampan dengan potongan rambut cepak dan memakai seragam sekolah SMA Garuda. Dan ia senang ketika mengetahui kakak perempuannya itu memilih duduk di samping kirinya.
“Begitu pulang, kamu semakin tidak punya adab ya. Tidak melihat ada orang yang lebih tua di sini. Tidak mau memberi salam, menyapa, atau pun sekedar berbasa-basi. Sudah mengikuti adab seorang gelandangan di Surabaya?” Cetus Oma Widya dengan angkuh. Dengan suara serak khas orang yang sudah tua. Dagunya pun ketika sedang bicara sudah bergetar dan gelambirnya pun ikut bergetar.
Renesmee hanya menaikkan sudut bibir kanannya. Gerakan tangannya yang sedang mengoles selai blueberry pada permukaan roti tawar itu menjadi terhenti. Ia menoleh pelan pada Oma nya. “Aku rasa semua orang tidak akan mau menyapa orang yang berusaha mengatur hidupnya. Bukankah Oma juga begitu, dulu?” Tandasnya bertanya tanpa rasa takut.
Sedangkan Leo mengulum senyum. Ia justru merasa bahwa kakak perempuannya itu sangat keren sekali.
“Ekhem!!” Deheman Radityo mampu membuat suasana tegang di meja makan menjadi lenyap. Vivi pun langsung mengucap syukur ketika suaminya datang.
“Sebaiknya kita langsung sarapan saja dan jangan ada yang memulai perselisihan. Ibu, aku ingin hari ini Ibu bersikap baik pada cucu pertamamu. Dan Renesmee, jika kamu butuh bernapas lega sejenak, kamu bisa berkeliling ke luar untuk menghilangkan rasa jenuhmu. Sebagai kepala keluarga, kali ini aku tidak mau ada keributan antara Ibu dan Renesmee. Setidaknya satu hari saja kita bisa bersikap seperti keluarga yang normal.” Tegas Radityo yang kali ini perkataannya itu bisa membuat Renesmee mendukungnya.
Mendengar itu, Oma Widya diam dan bersiap untuk menyantap sarapannya. Sedangkan Renesmee memasang wajah datar dan tampak cuek sekali. “Hari ini aku mau mengantar Leo ke sekolahnya. Aku tidak mau ada penolakan atau tidak diberi ijin. Yang jelas Papa sendiri sudah mengijinkanku keluar ke mana pun aku mau.” Gerutunya tanpa menatap siapa pun. Renesmee bicara dengan tatapan yang fokus pada roti tawarnya.
Leo pun menyengir senang. Setidaknya ia bisa dimanjakan oleh kakak pertamanya itu.
Radityo pun hanya menghela napasnya pelan. “Kamu boleh ke mana saja asalkan Farel, sopirmu itu selalu mengantarmu. Jika dia melaporkan sesuatu tentang tindakan kamu yang diluar nalar, maka kamu tahu sendiri apa konsekuensinya. Bersikap normal lah Nessie, meski hanya sejenak.” Tegasnya.
“Mungkin jika berada di sini hanya aku yang tidak normal. Tapi jika berada di luar, hanya aku yang normal di antara kalian.” Tandas Renesmee dengan acuh.
Vivi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun ia merasa salut pada putri sulungnya itu. Karena Renesmee bisa memiliki dua sikap yang berbeda. Dapat Vivi nilai bahwa Renesmee sangat berbeda ketika di Surabaya. Namun menjadi berubah Renesmee yang suka membangkang seperti dulu saat kembali ke Jakarta.
Renesmee tahu bagaimana cara menempatkan dirinya. Ketika ia berada di lingkungan yang menerimanya dengan baik, maka ia akan bersikap lebih baik. Tapi jika ia berada di lingkungan yang hanya membutuhkannya, maka ia akan bersikap acuh dan berani berkata apa pun.
Ingat, Renesmee hanya berusaha membela dirinya sendiri di tengah keluarga yang sedang mencoba mengatur kehidupannya.
__ADS_1
*****