Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
8. Pilihan Berat


__ADS_3

Pada akhirnya, Renesmee memilih mengajak berbicara berdua saja dengan Ibunya, yakni Vivi. Sementara Radityo tetap di ruang tamu bersama Henry. Dua pria itu mengobrolkan perihal dunia bisnis dan usaha, saham, lalu sedikit cerita tentang keunggulan keluarga dan perusahaan masing-masing.


Di sela-sela berbincang, Radityo juga memerintahkan semua anak buahnya untuk membereskan kekacauan yang dibuat Henry. Begitu juga dengan Henry yang juga menyuruh pada bodyguardnya untuk membantu berbenah.


Pintu rumah kontrakan itu benar-benar copot dan hancur. Dobrakan Henry tadi benar-benar kencang karena juga dibantu dua bodyguardnya. Namun tentu saja Henry akan tetap bertanggung jawab nanti.


Henry pun dengan sadar juga langsung memesankan banyak minuman dan makanan paket family yang mahal. Untuk disuguhkan kepada Radityo, sekaligus pencitraan juga agar dirinya dikenal baik oleh orang tua Renesmee.


“Jadi, keluarga kita memang sudah saling kenal dengan keluarga Sebastian, Ma?” Tanya Renesmee.


Vivi mengangguk. Mereka berdua duduk berdampingan di tepi ranjang sederhana milik Renesmee.


“Iya, sayang. Oma mu, ibu dari Papamu itu yang memulai hubungan pertemanan baik dengan keluarga Sebastian. Dulu Oma mu itu yang menjalin pertemanan dengan Oma nya Henry. Tapi karena lokasi bisnis yang dibangun berbeda. Bisnis keluarga kita tetap di Jakarta, sedangkan keluarga Sebastian beralih ke Surabaya. Mereka memang sengaja mencari tempat atau kota yang belum memiliki bisnis itu, jadi mereka ingin menjadi yang pertama memiliki bisnis dan perusahaan itu. Maka dari itu, jadilah mereka benar-benar terkenal atau tersohor di kota ini.” Jelas Vivi tentang keluarga Sebastian.


Mengetahui hal itu, Renesmee sedikit paham mengapa keluarganya bisa mengenal keluarga Henry. “Lalu, mengapa Oma ingin menjodohkan aku dengan Henry? Bahkan Henry tadi juga tidak tahu bahwa yang akan dijodohkan dengannya adalah aku. Dan mengapa semua ini serba kebetulan?!!” Tegasnya kesal.


“Wajar saja, karena perjodohan itu memang baru kami rundingkan secara online, Nessie. Dan kami semua memang belum saling mengirim foto kalian. Jadi keluarga kita juga belum tahu wajah Henry, serta keluarga Henry juga belum tahu wajah kamu. Dan tadi itu, memangnya benar ya kalau kalian menjalin hubu---”


“Maaa, ayolah. Masa gak percaya sama aku? Aku ini fokus kuliah. Mana mungkin tiba-tiba aku serius dengan seorang pria sampai memikirkan pernikahan? Tidak, itu bukan aku!!”


“Lalu?”


“Mama percaya kan sama aku?”


Vivi menghela napas pelan. Lalu ia mengangguk. “Iya, jelaskanlah.”

__ADS_1


“Aku baru bertemu Henry itu hari ini. Tadi, benar-benar tadi. Dia datang sebagai pelanggan kafe. Dia nyuruh aku buat berdiri di sampingnya. Terus tiba-tiba orang tuanya datang menyusulnya. Dan semudah itu dia mengakuiku sebagai kekasihnya dan calon istrinya. Dia nekat karena dia ingin menolak perjodohan dari keluarganya. Bahkan dia ingin menjadikanku kekasih bayaran yang mau meneruskan kontrak itu sampai enam bulan pernikahan. Aku pun diiming-imingi digaji besar. Dan itu alasan dia sampai nekat datang ke sini karena melihatku seperti orang yang diculik, sampai dia salah paham. Tapi, ouuhh kenapa harus serba kebetulan seperti ini sih Maa??!!!” Gerutu Renesmee yang benar-benar sekesal itu.


Mendengar keluhan putrinya yang terlihat tidak berbohong sama sekali, Vivi pun meraih pelan tangan kanan Renesmee. Membuat Renesmee menoleh dan menatap wajah ibunya yang selama tiga tahun tidak ia temui sama sekali.


Dalam tatapan itu, Renesmee merasa luluh. Rasa rindu mulai menyeruak dalam dirinya. Ingin rasanya ia memeluk Vivi sangat erat sekarang juga, namun pikirannya masih sibuk memikirkan tentang perjodohan itu.


“Nessie, pilihan ada di tangan kamu nak. Kamu selesaikan kuliahmu dan pulang ke rumah lalu memenuhi permintaan Papamu. Atau kamu menikah dengan Henry dalam waktu dekat tapi kamu diperbolehkan melakukan semua keinginanmu, termasuk lanjut di bidang kedokteran sampai tuntas.”


Mendengar hal itu, kedua mata Renesmee berbinar. Namun binar pada matanya itu tak lama, kemudian menjadi tatapan yang kembali sendu. Mengapa pilihan itu begitu sulit?


“Kenapa sih Ma dikasih pilihan begitu? Apa aku gak punya hak atas hidupku sendiri?”


“Kamu kan tahu sendiri. Keluarga kita itu keluarga pengusaha. Dan Papamu itu anak pertama Oma kamu. Dia juga selalu dituntut ini dan itu sejak kecil. Dan kebetulan kamu ditakdirkan menjadi anak pertama dari Papamu dan Mama. Sejak dulu, penerus bisnis itu selalu anak pertama, Nessie. Jadi hanya dua itu pilihanmu.”


“Karena Henry seorang CEO muda. Dengan kamu menikah dengannya, Henry juga bisa menjadi penerus Papamu. Tidak hanya itu saja, tapi nanti dua perusahaan akan menjadi satu. Saham utama akan diserahkan pada kalian berdua jika para orang tua sudah waktunya pensiun. Maka dari itu jika kamu menikah dengan Henry, kamu tidak perlu menjadi penerus utama. Yang terpenting kata Oma mu, keturunan keluarga kita atau dari menantu adalah seorang penguasaha.” Jelas Vivi.


Glek! Renesmee langsung menelan ludahnya. Kepalanya mulai berdenyut pusing. Banyak hal bertubi-tubi yang terjadi pada hari ini. Dan sekarang sudah menginjak pukul delapan malam.


“Mama minta maaf, nak. Maafkan mama dan papamu, maafkan kami semua ya. Karena kami, kamu jadi berada di posisi sulit ketika kamu dewasa. Kamu gak bisa memilih pilihan hidup berdasarkan keputusanmu sendiri. Kita berada di keluarga yang penuh tuntutan sayang…” ujar Vivi lagi. Kali ini ia mulai mengelus kepala dan rambut Renesmee.


Renesmee hanya bisa menundukkan kepalanya. Menatap lantai kamar yang lumayan bersih karena kemarin ia sapu dan pel.


“Maka dari itu, harapan kami semua ada di kamu. Penerus perusahaan gak bisa dialihkan begitu saja ke saudara papamu atau ke sepupumu. Dari awal, papamu yang berhasil memiliki nama perusahaan itu. Jadi ya harus diteruskan ke kamu.” Ujar Vivi lagi.


Renesmee menatap ibunya. “Tapi aku benar-benar tidak minat di bidang bisnis, Ma. Mau aku paksakan bagaimana pun, aku tidak akan bisa menjalaninya. Tentang perjodohan, apa tidak bisa kalau aku cari pasangan sendiri?”

__ADS_1


“Bisa jika kamu menemukan seorang pria pengusaha yang setara.”


“Kenapa harus setara?”


“Ya karena seperti yang sudah mama jelaskan tadi. Jika penerus tidak bisa jatuh ke kamu, maka jatuhnya ke menantu. Harus punya menantu yang pandai mengelola perusahaan juga. Apalagi perusahaan keluarga kita kan perusahaan besar dan sudah lama berdiri.”


Kedua bahu Renesmee luruh. Tatapannya begitu sedih dan merasa bahwa kini hidupnya berada di ujung tanduk. Impian menjadi seorang dokter apakah harus pupus?


“Boleh aku berpikir dulu, Ma?”


Vivi langsung mengangguk dan menepuk punggung tangan putrinya yang masih ia genggam sejak tadi. “Tentu. Tapi ikut kami pulang ya.”


Dan Renesmee kembali terdiam beberapa detik. “Aku kan masih fokus kuliah, Ma. Mana bisa pulang sekarang atau besok.”


“Urusan kuliahmu itu, bisa diatasi sama Papamu. Pulang ke Jakarta dulu kan tidak apa-apa, kamu juga perlu istirahat. Sambil memikirkan jawabanmu di sana.” Kata Vivi.


Lagi dan lagi Renesmee hanya bisa menghela napas dalam. “Ya sudah. Lagi pula aku tetap harus pulang kan ujung-ujungnya? Kalau gitu, ijinkan aku masih di sini sampai besok sore. Aku harus membereskan satu tugas kuliah dan berpamitan dengan teman-teman.”


“Ya, boleh. Tapi malam ini langsung ikut kami ke hotel ya. Kemasi beberapa barang pentingmu saja, tidak usah dibawa semuanya. Jadi kamu pulang sendiri ke Jakarta?”


Renesmee mengangguk.


“Oke, mama ijinin. Nanti biar sekretarisnya Papa yang pesanin tiket pesawat.” Ujar Vivi dengan senang hati. Kemudian ia yang menarik tubuh putrinya untuk ia peluk dengan erat. Rasa rindu yang tertahan selama tiga tahun, kini tertuang begitu saja.


*****

__ADS_1


__ADS_2