Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
7. Kebetulan Yang Memusingkan


__ADS_3

Renesmee masih sangat kebingungan dengan kedatangan Henry. Bahkan pria itu datang bersama 8 bodyguard yang menghabisi para bodyguard Radityo. Renesmee kaget dan heran, mengapa Henry sampai seperti ini? Memangnya siapa Henry sehingga nekat berusaha menyelamatkannya dan mengiranya sedang diculik?


Radityo menatap tajam ke arah Henry, dan Vivi langsung menahan lengan suaminya karena merasa takut. “Siapa kamu??!!” Ketus Radityo dengan suara tegas.


“Anda itu yang siapa!! Berani-beraninya menculik Esme!! Jika ada urusan dengannya, mari berhadapan denganku saja! Kenapa? Apa Esme terlilit hutang piutang yang tidak bisa dia bayar denganmu?? Sampai kau tega menyeret paksa dia dari kafe seperti tadi? Wah, arogan dan kasar sekali ya!! Setidaknya bersikaplah lembut pada seorang gadis yang tidak bersalah apa-apa!!” Balas Henry panjang. Ia justru menantang Radityo dengan rasa percaya diri tingkat luar angkasa.


Kedua tangan Radityo terkepal keras. Tentu sekarang ia berpikir bahwa Henry adalah pria muda yang gila dan main tuduh begitu saja serta datang tak diundang dan membuat masalah.


Renesmee yang akhirnya tersadar dari rasa terkejutnya, ia segera menepis kasar lengan Henry yang merengkuh tubuhnya. “KAU YANG SIAPA!! KAU GILA??? MEREKA ORANG TUAKU!!” Tegasnya dengan lantang. Membuat Henry langsung membelalakkan kedua matanya dan tidak tahu harus berbuat apa.


“A-apa??”


“Memang dasar kau itu tuli!! Mereka itu orang tuaku. Dan apa urusanmu ke sini??!” Balas Renesmee dengan nyalang.


Henry langsung mengusap tengkuknya dan menyeka keringatnya di dahi dengan tangan kanannya. “Ah, a-aku… aku dan semua rekanmu mengira bahwa kau diculik. Dan aku merasa harus menyelamatkanmu. Lagi pula kau sudah terlanjur masuk ke dalam du---”


Renesmee langsung mendelik. “APA KATAMU?? DASAR GILA!! SOK TAU DAN---”


“CUKUP!!” Teriak Vivi dengan lantang. Dan suara itu mampu membuat Renesmee dan Henry terdiam dan menatap ke arah Vivi dan Radityo.


“Kamu itu siapa dan mengapa tiba-tiba datang dengan cara seperti ini serta mengira Nessie diculik?” Tanya Vivi dengan raut wajahnya yang serius.


Henry menelan ludahnya dan menepuk kedua tangannya pada bagian paha. Seolah-olah membersihkan kedua tangannya dari debu. “Ah, maafkan aku Tante, Om… aku tadi bertemu dengan Esme di kafe. Dan Esme dibawa begitu saja seperti adegan penculikan. Jadi, aku langsung mencari keberadaan Esme dan berniat menyelamatkannya.” Jelasnya dengan nada sopan dan jujur.


Sedangkan Renesmee langsung menggerakkan bibirnya, merasa kesal dengan nada suara Henry yang terdengar dilembut-lembutkan. Ia pun langsung mengambil dua langkah agar tidak berdiri berdekatan dengan pria menyebalkan itu.

__ADS_1


“Memangnya kamu siapa? Mengapa punya banyak bodyguard? Kamu pacar anak saya?” Tanya Radityo menggebu-gebu. Sebagai seorang ayah, tentu ia bisa mengeluarkan ekspresi seperti itu. Merasa tidak rela jika putrinya menjalin hubungan dengan pria di hadapannya, jika itu benar.


Henry mulai terlihat cengengesan dan mengusapkan kedua telapak tangannya. Lalu ia melangkah maju dengan mengulurkan tangan kanannya pada Radityo.


Karena Henry datang dengan cara yang sangat tidak baik dan mengejutkan, Radityo memasang wajah masam dan enggan menerima jabatan tangan dari Henry. Ia hanya berdehem saja dengan tatapan tajam yang tak lepas dari wajah Henry.


Henry pun segera menarik tangannya, ia melipat bibir karena malu. “Nama saya Henry Sebastian. Saya---”


“Henry Sebastian? Kamu putra sulungnya Adi Sebastian dan Nirina Dewi bukan?” Tanya Radityo yang kini menatap kagum pada Henry dalam sekejap.


Giliran Henry yang terheran-heran, mengapa Radityo bisa mengenalinya? “Ah, i-iya benar. Saya Henry, anak sulung Pak Adi Sebastian.” Jawabnya dengan rasa heran.


Vivi pun langsung mengajak Henry bersalaman. “Astaga, kebetulan sekali. Kalau begitu duduklah, Henry. Maaf jika kami tidak bisa memberi suguhan apa pun dan berada di tempat seperti ini.”


Radityo terkekeh pelan. “Hahaha, tidak apa-apa. Lupakan saja. Itu masalah kecil yang mudah sekali diperbaiki.”


Renesmee melongo dan ia sendirian yang masih berdiri. “Apa-apaan ini? Kenapa kalian jadi akur?” Tanyanya heran dan merasa yang terjadi hari ini benar-benar tidak masuk akal.


Ketiga kepala itu langsung menatap Renesmee. Mereka bertiga sepertinya sudah melupakan keberadaan Renesmee sejenak. Vivi langsung tersenyum dan berdiri, menarik pelan tangan putrinya dan menyuruh Renesmee duduk di antara ia dan suaminya.


Renesmee masih saja kebingungan. Suasana macam apa sekarang ini? Mengapa dirinya harus duduk di tengah-tengah orang tuanya dan menatap serius pada Henry yang duduk sendiri di tengah sofa yang menghadap mereka.


“Kenapa gak bilang kalau kamu udah kenal sama Henry?” Tanya Vivi lembut. Radityo pun sepenuhnya memasang senyuman bangga. Sedangkan Henry sendiri juga bertanya-tanya sebenarnya ada apa dan mengapa.


“Ma, aku sama Henry tidak memiliki hubungan---”

__ADS_1


“Tante, kami tadi bertemu di kafe karena orang tuaku juga ingin melihat Esme. Kami menjalin hubungan dan aku ingin menikah dengannya.” Ujar Henry yang berani menyela.


Sebenarnya Henry hanya khawatir saja dan sudah menebak bahwa orang tua Renesmee pasti mengenal orang tuanya juga. Maka untuk berjaga-jaga, ia ingin sandiwara yang terjadi di kafe tadi menjadi berkelanjutan sampai sekarang.


Reaksi Renesmee sudah seperti orang yang melihat adegan pembunuhan. Kedua mata gadis itu terbelalak lebar dan ia langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya menoleh pada Vivi dan Radityo secara bergiliran.


“Ma, Pa… nggak, itu nggak bener. Henry bohong!! Mana mungkin aku mau menikah dadakan?? Kalian tahu sendiri aku masih ingin fokus kuliah sampai tuntas. Dan aku baru kenal Henry tadi saat---”


“Esme hanya malu mengakuinya, Om… Tante… karena hubungan kami sudah terjalin selama satu tahun secara diam-diam. Aku yang merahasiakan hubungan kami serapat itu. Dari publik, maupun dari orang sekitar.” Henry menyela perkataan Renesmee lagi. Sengaja membuat gadis itu merasa kelu dan kelabakan.


Vivi dan Radityo tampaknya bangga sekali. “Ya ampun, kenapa tidak pernah bilang? Ah, harusnya kamu perkenalkan dirimu sejak tadi. Oh, astaga ini benar-benar kebetulan. Mas, jadi kita tidak perlu pusing lagi.” Ujar Vivi senang.


Radityo mengangguk senang. “Ini benar-benar diluar nalar. Hahaha, mungkin kamu kebingungan, Henry. Oke, perkenalkan kami keluarga Radityo dari Jakarta. Kamu pasti tahu kan mengenai perusahaan Ravi Corporation?”


“Oh tentu saja Om. Yang bergerak di bidang manufacture dan hendak mengembangkan industri ke bidang perusahaan ekspor?” Tebak Henry.


“Ya, benar sekali! Tentu kamu tahu kan, kabar mengenai hubungan kami dengan keluargamu?”


Henry mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian kedua alisnya terangkat karena ia menemukan jawaban. “Astaga, apakah itu benar? Jadi, Esme yang akan dijodohkan denganku? Ah, aku benar-benar tidak tahu. Ini sangat mengejutkan sekali Om.”


Renesmee kembali membulatkan kedua matanya. Ia teringat perkataan yang Henry katakana di kafe tadi saat berhadapan dengan orang tua pria itu. Henry berkata bahwa ia menolak perjodohan yang orang tuanya ajukan padanya. Maka dari itu Henry secara sembarangan menyuruh Renesmee melakukan sandiwara tadi agar orang tua pria itu semudah itu menerima penolakan perjodohan dari Henry.


Astaga, mengapa sepelik ini masalahnya? Dan mengapa harus terjadi yang namanya kebetulan?


*****

__ADS_1


__ADS_2