Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
13. Tentang Tuntutan


__ADS_3

Brak!!!


“APAA??! PILIHAN YANG KEDUA HARUS MAU NIKAH SAMA COWOK PILIHAN OMA??? KOK GILA SIH KAK?!” Tanya Rania yang langsung berteriak nyalang sampai menggebrak meja lipat di hadapannya.


Renesmee langsung berdecak. “Hush! Ini kos-kosan kan? Kenapa kamu jadi berisik banget sih. Gak sungkan sama tetangga kamarmu?” Peringatnya.


Perkataan itu membuat Rania menyengir dan merasa sedikit malu. “Hehe, kedap suara kok. Ini kan kos-kosan elite.”


“Seberapa elite pun, seberapa kedap suara pun, jangan bar-bar! Jaga tingkah!”


“Ih, iya iya. Terus gimana sama pertanyaanku?” Tegur Rania mengingatkan.


Renesmee menghela napas begitu dalam. Baginya masih terlalu sesak kembali menjelaskan dua piliha berat yang pernah diberitahukan Mamanya pada dirinya. “Nyatanya memang begitu, Nia. Oma sampai turun tangan. Masalahnya, aku anak pertama dari anak pertamanya Oma. Alias, aku cucu pertamanya Oma dari semua cucu yang ada. Dan sayangnya aku perempuan, tapi tetap saja garis ahli waris tidak mempedulikan gender. Kalau mempedulikan gender, permintaanku tentang garis ahli waris sebaiknya dijatuhkan pada anaknya paman, sudah dituruti sejak tiga tahun lalu. Masalahnya, sampai sekarang aku kan yang dituntut!” Keluhnya panjang.


Rania kini bisa merasakan bagaimana perasaan Renesmee. Hatinya ikut sesak meskipun bukan dia yang dituntut seperti itu. “Bagiku dua pilihan itu juga sangat berat, Kak.” Ujarnya lirih.


“Makanya! Kepalaku pusing sekali memikirkan itu. Pilihan pertama, sudah jelas aku tidak bisa. Aku ini benar-benar tidak terampil terjun di dunia bisnis. Perusahaan bisa hancur jika aku yang pegang ke depannya. Di otakku hanya ada ilmu kedokteran, bukan perihal bisnis dan keuangan. Meski aku nanti akan diajari sampai bisa, dimasukkan kursur dan bla bla bla… aku yakin diriku ini tidak akan bisa terjun di dunia bisnis!! Lagi pula meski nanti aku didampingi manager dan sekretaris terpercaya sekali pun, apa iya aku hanya akan makan gaji buta tanpa ikut bekerja? Kan tidak bisa begitu juga! Apalagi aku ini tidak bisa menjadi orang yang tidak punya kesibukan yang bermanfaat.” Celoteh Renesmee.


“Terus, masa iya kakak mau nikah sama cowok pilihan Oma?”


Raut wajah Renesmee langsung terlihat jijik. “Dih!! Ogah! Itulah yang aku bingungin, Niaaa…” rengeknya.


“Hmm, terus gimana ya jalan keluarnya?”


Dan kali ini Renesmee benar-benar tak memiliki jawaban apa pun. Ia langsung mengedikkan kedua bahunya, setelah itu kedua bahunya tampak turun karena lesu memikirkan hal tersebut.


“Aku saja masih memikirkan adanya kemungkinan kalau pertemuanku dengan Henry di Surabaya itu juga settingan alur dari Papa. Pasalnya, semua hal itu terjadi dalam satu hari.” Ujar Renesmee dengan sendu.


Rania kembali menatap kakak perempuannya dengan seksama. “Tunggu dulu Kak, kakak gak ngerasa janggal sama perkataan Henry yang tadi kakak jelasin ke aku? Perkataan itu membuktikan kalau Henry murni gak sengaja ketemu kakak, bukan alur yang dibuat Papa.”

__ADS_1


“Yang mana?”


“Coba kakak ingat-ingat dulu.” Jawab Rania cepat seraya menyengir kecil.


Renesmee tampak serius. Ia diam dan mencoba mengingat rentetan percakapan saat ia pertama kali bertemu dengan Henry. Kira-kira perkataan Henry yang mana yang terasa begitu spontan dan jujur?


Beberapa detik kemudian, kedua pupil mata Renesmee langsung melebar. Dia ingat perkataan Henry pada bagian, ‘Aku akan menceraikanmu setelah enam bulan’ itu.


“Saat dia mencoba menawariku, dia berkata bahwa dia akan menceraikanku setelah enam bulan pernikahan.” Ucap Renesmee yang sudah ingat.


Rania mengangguk dan tersenyum serta menjentikkan jarinya. “Betul sekali! Nah, bagaimana kalau Kak Nessie ambil tawaran itu?”


“Kamu gila, Nia?!”


“Kok aku yang gila?” Tanya Rania dengan polosnya.


“Oma sampai terjun memilihkan jodoh untukku, karena perusahaan keluarga bisa tetap turun temurun. Lewat perjodohan itulah agar aku bisa mendapatkan suami yang handal bisa memegang perusahaan keluarga kita nanti. Apa gunanya aku hanya menikah dengan Henry selama enam bulan? Kalau dalam enam bulan perusahaan tersebut sudah jatuh ke tangan Henry, apa tidak bahaya jika Henry kabur membawa semuanya? Yang ada, aku yang memakan jebakanku sendiri!” Tegas Renesmee menggebu-gebu.


“Oh, iya sih. Tadi aku juga berpikiran seperti itu.” Balas Renesmee singkat. “Entah settingan atau tidak, akan kutanyakan sendiri pada Henry.” Imbuhnya.


“Kamu akan bertemu dengannya Kak?”


Renesmee mengangguk. “Iya. Mungkin besok atau lusa, keluarga dari Henry akan ke rumah. Itu yang kudengar dari Mama.”


“Membahas perjodohan?”


“Hm, iya sudah jelas.” Jawab Renesmee dengan lemas.


Kemudian Rania langsung mengelus pelan lengan kiri kakaknya. “Sebenarnya, saat sebelum aku memutuskan pergi dari rumah, Oma sempat punya pikiran kalau aku yang diharuskan menggantikan posisimu Kak.” Ujarnya.

__ADS_1


“Menjadi ahli waris perusahaan?”


Rania mengangguk. “Aku bersikeras tidak mau. Sampai dengan tegas di tengah-tengah makan malam, aku menunjukkan apa yang kutekuni dan kusenangi selama ini. Aku suka tulisan. Aku ingin sibuk di dunia jurnalistik, wawancara, dan pembawa acara. Atau bahkan aku bisa menulis novel. Dan ya, aku sama seperti kakak. Aku benar-benar nol terhadap pengetahuan tentang bisnis perusahaan. Maka dari itu, tengah malam aku langsung kabur diam-diam lewat pintu belakang. Malam itu aku lolos begitu saja, sampai aku bisa berakhir di kos-kosan ini.”


Mendengar cerita pengalaman kabur dari Rania, Renesmee merasa apa yang Rania lakukan mengingatkannya pada tiga tahun yang lalu. Karena ia juga kabur dari rumah saat tengah malam, persis sekali dengan yang dilakukan Rania.


“Kakak pengen kamu gak sampai dituntut seperti kakak, Nia.” Ujar Renesmee pelan.


“Aku juga sama. Aku gak mau kakak dituntut sampai sebegininya. Kalau begitu, kita pakai cara lain saja.”


Renesmee menatap adiknya dengan lemas. “Cara apa lagi?” Tanyanya putus asa.


“Pertama, kakak cari jodoh aja sendiri. Minta sampai batas waktu yang ditentukan.” Saran Rania yang tiba-tiba berpikiran seperti itu.


Helaan napas panjang terdengar jelas dari Renesmee. “Kamu pikir aku tidak pernah berpikir seperti itu?” Tanyanya.


“Lalu?” Tanya Rania heran.


“Aku tidak memiliki opsi pria mana pun, Nia! Tiga tahun berjuan di Surabaya, aku gak pernah mikirin cinta. Kerja ya kerja, kuliah ya kuliah, berteman ya berteman. Tidak ada cinta selama tiga tahun. Aku benar-benar fokus di sana.” Gerutu Renesmee.


Rania pun memandang lantai kamar kosnya. Ia hanya menghela napas dalam.


“Lalu, cara yang kedua apa?” Tanya Renesmee.


“Aku tidak yakin memberitahukan cara ini.” Ujar Rania yang ragu.


“Ck, sudah katakan saja lah!!” Desak Renesmee.


“Umm… cara kedua dari pendapatku, kakak menikah saja dengan Henry.”

__ADS_1


Kedua mata Renesmee terbelalak. “Heh!! Kamu serius menyuruhku menikah dengannya?! Tidak ada cara lain?” Kesalnya.


*****


__ADS_2