Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
2. Keputusan Kecil


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Renesmee sudah bangun pada pukul lima pagi. Gadis itu langsung mandi, berganti pakaian, kemudian berdandan dengan cepat.


Karena Renesmee sudah membayar uang kuliahnya, maka sekarang ia merasa cukup senang sekali. Beban pikirannya berkurang, sehingga ia tidak perlu terlalu stres memikirkan keuangan. Sisa uang dari gajinya bulan ini, sepertinya masih cukup sampai akhir bulan nanti.


Tentu saja Renesmee memiliki tabungan di bank, namun ia harus tetap berhemat. Tabungan dan uang untuk membayar kuliah memang sengaja ia sendirikan. Jadi saat ia sudah selesai membayar uang kuliah, ia masih bisa bernapas lega karena masih memiliki tabungan yang aman.


“Alice?” Tanya Renesmee. Ia terkejut mengetahui Alice sudah berdiri di depan pintu masuk rumah kontrakannya.


Alice langsung menunjukkan senyum riangnya yang lebar. “Aku sengaja menghampirimu. Ayah dan ibuku bertengkar lagi pagi ini. Dan aku sangat bosan sekali mendengar pertengkaran mereka. Jadi aku memilih pergi lebih pagi dan tidak ingin menyentuh sarapan yang sudah disiapkan ibuku.”


“Kau benar-benar tidak sopan. Seharusnya kau tetap memakan sarapanmu.” Kata Renesmee.


“Nessie, aku tidak akan bisa melahap makanan sambil mendengarkan kericuhan yang mereka buat di dalam rumah. Memang benar mereka selalu bertengkar di dalam kamar, tapi suara pertengkaran mereka selalu kudengar dengan jelas. Jadi lebih baik aku sarapan bersamamu saja.”


Mendengar keluhan dari sahabatnya, Renesmee merasa simpati. Ia langsung merangkul bahu Alice dan menepuk pelan lengan kanan Alice. “Kau adalah seorang anak perempuan yang sangat kuat, Alice.”


“Hmm, kau juga seperti itu Nessie. Kita adalah anak perempuan yang memiliki ujian hidup berbeda. Sudahlah, lebih baik jangan membicarakan hal-hal seperti itu. Kali ini, kau akan membeli sarapan apa?”


Renesmee tersenyum lebar. “Bagaimana jika kita memakan bubur ayam? Aku akan mentraktirmu kali ini.”


“Wow, benarkah?”


“Tentu saja! Ayo kita ke sana!” Seru Renesmee yang langsung bersemangat.


Semua orang memang selalu memiliki masalah dan ujian hidup. Dan semua itu sudah sesuai dengan porsi masing-masing. Kita semua hanya harus menjalani saja dan mencoba bertahan hidup.


***


Hari ini Renesmee cukup sibuk. Ia mendapatkan jadwa kelas pagi hingga sore. Hingga ia tidak bisa bertemu Alice saat makan siang. Bahkan kali ini Renesmee melewatkan jam makan siangnya. Begitu banyak tugas berupa praktek laboratorium yang harus ia kerjakan sampai tuntas.

__ADS_1


Menjadi mahasiswa kedokteran memang harus siap dan berani mengambil resiko, terutama perihal waktu.


Dan sebenarnya di semester enam ini, Renesmee sudah mulai merasa bosan. Ia ingin mempercepat waktu. Agar ia bisa segera lulus kuliah dan menjalani masa koas lalu menjadi dokter muda. Namun… sepertinya hal itu masih membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Renesmee sendiri yang memulai hal ini. Ia sendiri yang sudah nekat memperjuangkan cita-citanya meskipun tanpa dukungan dari keluarganya. Dan ia harus bisa melakukan semua ini sampai selesai. Sampai ia bisa membuktikan pada kedua orang tuanya, bahwa ia layak menjadi seorang dokter. Bahwa kelak ia bisa menjadi seorang dokter yang hebat dan membantu banyak orang yang sakit.


Tap!


Renesmee baru saja merasakan tepukan ringan di pundaknya.


“Apa kau lelah?” Tanya Alice.


Dan Renesmee langsung menganggukkan kepala. Ia menunduk sejenak mengamati jas dokter yang ia pakai. “Aku baru saja menyelesaikan tugas di laboratorium.”


“Tentang apa?”


“Anatomi tubuh manusia, khusus di bagian pembuluh darah. Kepalaku sangat pusing sekali. Dan aku merasa tidak sanggup jika harus bekerja di kafe setelah ini.”


“Kau tahu sendiri bahwa di kafe itu pelayan wanita hanya ada dua orang saja. Hanya aku dan Sherly. Sherly masih sakit, dia belum bisa bekerja hari ini. Bahkan besok pun ia juga tidak akan bekerja, Sherly mengambil cuti sakit selama tiga hari.” Kata Renesmee. Raut wajahnya benar-benar terlihat begitu lelah.


“Aku tidak tahu harus memberikan saran apa padamu. Tapi aku yakin bahwa kau selalu bisa menghadapi hal apa pun. Jika Sherly sudah masuk kerja, maka giliran kau yang mengambil hari cuti. Bilang saja pada pemilik kafe itu, bahwa kau juga butuh istirahat. Hei, kita berdua memang sedang berada di semester enam. Kita sudah menjadi mahasiswa yang sangat sibuk sekali. Dan setelah ini kita juga harus mengerjakan skripsi.”


“Argh, perkataanmu sangat benar, Alice.”


Alice menganggukkan kepalanya. Lalu gadis itu menyalakan layar ponselnya. Jika sedang merasa lelah, Alice selalu membuka akun sosial media seorang pria yang tampan.


Dan ketika melihat kebiasaan sahabatnya itu, Renesmee langsung berdecak pelan.


“Alice…”

__ADS_1


“Ya?”


“Kau tahu bahwa aku sudah memiliki tabungan. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun kurasa sangat cukup untuk bertahan hidup selama satu tahun ke depan. Biaya kuliahku juga sudah lunas sampai semester akhir. Bagaimana menurutmu jika aku mengundurkan diri dari kafe itu?”


Padahal Alice begitu fokus memandangi foto seorang pria yang menurutnya sangat tampan. Pria yang terkenal di kota itu. Namun karena mendengar perkataan Renesmee, Alice langsung menoleh. “Apa katamu? Kau akan melepaskan pekerjaanmu?”


Renesmee mengangguk yakin. “Iya, aku sangat lelah sekali. Lagi pula aku sudah cukup berhemat selama ini. Tiga tahun yang tidak mudah bagiku. Sudah cukup aku selalu makan sedikit dan hampir tidak pernah membeli sesuatu yang kuinginkan. Namun semua usahaku itu membuahkan hasil yang nyata. Kini aku memiliki jumlah tabungan yang cukup. Uangku sudah terkumpul sekitar tujuh puluh juta. Bukankah dengan uang itu aku bisa bertahan hidup selama satu tahun dan bisa fokus kuliah dengan santai?”


“Oh, wow. Aku benar-benar terkejut, Nessie. Kau bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Bahkan uang itu bisa kau gunakan untuk membeli sebidang tanah. Hmmm, tapi apakah kau sudah melunasi biaya sewa rumah kontrakan itu?”


Renesmee mengangguk lagi. “Iya, aku sudah membayar lunas di bulan kemarin.”


“Wow, itu sangat luar biasa! Kau sangat keren!! Aku merasa kalah. Tabunganku saja hanya sekitar sepuluh juta. Kalau begitu, ajukan surat pengunduran diri saja. Lagi pula kau juga harus menikmati hidupmu selama kau masih berkuliah. Kita harus fokus belajar di kampus, mencari kafe hangat saat sore, makan malam bersama, dan mengunjungi perpustakaan bersama. Aku mendukung keputusanmu.” Kata Alice.


“Hahahahaha, aku lega sekali. Baiklah kalau begitu akan kupertimbangkan lagi keputusan itu.”


“Iya, kau juga harus menikmati hasil jerih payahmu selama ini.” Kata Alice.


Renesmee mengangguk, lalu ia melirik ke arah layar ponsel Alice yang menampilkan foto seorang pria tampan tampak memakai setelan kemeja dan celana hitam. “Kau sedang melihat foto siapa?”


Alice mendekatkan layar ponselnya pada Renesmee. “Henry Sebastian. Dia adalah seorang anak sulung dari keluarga Sebastian. Meskipun dia bukan seorang publik figure, namun ia memiliki pengikut yang banyak sekali. Dia sangat tampan, kan?”


Namun Renesmee langsung menggelengkan kepala. “Menurutku, wajahnya terlihat angkuh sekali. Pasti dia sangat sombong.”


Alice sedikit kesal mendengar perkataan sahabatnya yang mencibir foto pria itu. “Jangan asal bicara mengenai dia. Bagaimana jika orang yang kau cela itu akan menjadi suamimu?”


“Ouh, pasti aku akan menyesal seumur hidup!!” kata Renesmee, kemudian ia tertawa renyah dan berjalan meninggalkan Alice.


Tentu saja Alice langsung mengikuti Renesmee. Mereka berdua harus menuju ke lemari loker untuk mengambil tas dan beberapa barang milik mereka, kemudian pulang. Masih ada hari esok untuk berkeliaran lagi di area kampus.

__ADS_1


*****


__ADS_2