Cinta Palsu Menjadi Nyata

Cinta Palsu Menjadi Nyata
5. Tindakan Henry


__ADS_3

Evan sang kasir dan Joshua sang pramusaji, mereka berdua masih terduduk di lantai kafe sambil memegangi perut mereka yang sakit. Dikarenakan melawan para bodyguard tadi, mereka berdua tentu saja kalah dengan cara menerima tonjokan pada bagian perut beberapa kali.


Sedangkan Henry seperti orang yang kebingungan. Bulir-bulir keringat membanjiri dahi dan lehernya. Kemudian ia menatap Evan dan Joshua.


“Siapa yang menculik Esme tadi?? Apa kalian mengenalnya??” Tanya Henry dengan tatapan yang nyalang.


Evan dan Joshua sama-sama menggelengkan kepala. “Kami tidak mengenalnya. Kurasa Nessie memiliki urusan serius dengan mereka.” Jawab Evan.


“Apa Esme terlilit hutang?”


Joshua langsung menggeleng. “Renesmee meskipun hidup sederhana di sini, tapi dia tidak pernah memiliki hutang. Bahkan ia rajin menabung dan sudah membayar lunas uang semester kuliahnya serta uang sewa rumah yang ia kontrak per tahun.” Jelasnya dengan jujur, seraya menahan rasa nyeri di area perutnya. Mungkin bekas pukulan itu akan sedikit memar dan membiru besok setelah ia bangun tidur.


Henry langsung mendengus kesal. Namun ia masih memiliki hati nurani dengan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Evan dan Joshua segera berdiri.


“Jika dia tidak memiliki hutang, mengapa ada yang membawanya paksa seperti tadi? Mana mungkin kalian tidak tahu tentang teman kalian sendiri hah?” Tanya Henry lagi. Ia masih sedikit ragu jika Evan dan Joshua tidak mengetahui apa-apa tentang Renesmee.


Lalu Joshua yangn sejak tadi memang sudah kesal pada Henry, ia memberi tatapan tajam. “Kau sendiri siapa? Bahkan kau orang asing di hidup Nessie!! Sembarang mengajak orang menikah dan membuat Nessie dikenal sebagai kekasihmu tadi!! Maumu sendiri apa??!!!” Tegasnya emosi.


Evan langsung menepuk bahu kiri Joshua. Memberi kode pada temannya itu agar tidak memicu perkelahian lain. “Begini, kami memang teman kerja Nessie. Namun selama tiga tahun kami bekerja bersama dan berteman, kami tidak mengetahui banyak info tentang dia. Renesmee sendiri sangat tertutup tentang keluarganya dan dari mana ia berasal. Jadi kau jangan menyalahkan kami. Dan perihal perilakumu tadi, jika kami bisa bertindak lebih, maka kami bisa mengusirmu dengan kasar. Kami tahu kau seorang pengusaha yang terkenal, Henry. Tapi caramu tadi salah. Sangat amat salah. Dan peristiwa yang menimpa Nessie barusan, biar kami urus langsung dengan lapor ke polisi.” Ujar Evan panjang. Ia memang pria yang dikenal bijak di tempat kerja.


Beberapa pramusaji lainnya, bahkan koki dan karyawan yang bertugas menjaga kebersihan tempat, mereka semua masih berdiri dan menyaksikan dari balik area meja kasir. Bahkan masih ada yang sambil memegang piring keramik dan sebuah kain lap.


Henry berdecak kesal dan mengabaikan apa yang dikatakan Evan. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke area luar. Dan tampak ada dua mobil sedan hitam yang baru berhenti mulus di parkiran kafe.

__ADS_1


Dua mobil sedan itu berisi para bodyguard dari keluarga Sebastian, namun mereka berada di bawah naungan Henry. Evan dan Joshua dikejutkan lagi dengan kedatangan para bodyguard itu, kemudian mereka melangkah mundur untuk berjaga-jaga jika akan terjadi perkelahian.


“Tenang, mereka anak buahku!” Ujar Henry tegas.


Total ada delapan bodyguard yang keluar dari kedua mobil sedan tersebut. Mereka berpakaian rapi dengan setelan jas dan celana hitam, berdasi hitam, kemeja putih, lalu memakai sepasang sepatu pantofel pria, kemudian memakai alat pendengaran modern yang berada di telinga sebagai alat komunikasi terhubung.


“Ada masalah apa, tuan muda?” Tanya salah satu bodyguard itu, dan sepertinya dia adalah ketua mereka.


“Cari tahu data lengkap tentang seorang gadis bernama…” Henry menghentikan perkataannya. Ia bingung dan menoleh pada Evan yang berdiri di depan meja kasir. “Siapa nama lengkapnya?” Tanyanya dengan raut wajah yang sedikit malu.


Joshua tetap memberikan tatapan tajam. Namun Evan masih bisa mengontrol emosinya, sehingga ia bersedia memberitahu. “Nama lengkapnya Renesmee Edlyne Radityo.” Jawab Evan.


“Cari informasi lengkap tentang gadis itu.” Pinta Henry pada semua bodyguardnya.


“Setelah kalian mengetahui informasi lengkapnya, cari di mana lokasinya dan selamatkan dia dari orang yang menculiknya. Peristiwa penculikan sekitar lima belas menit yang lalu, kurasa.” Ujar Henry ragu. “Pokoknya begitu!! Aku tidak mau tahu. Cari dia secepatnya!! Sekarang!!” Imbuhnya dengan tegas.


Delapan bodyguard itu langsung memberi hormat serentak dan mereka langsung berbalik. Mereka berlari cepat untuk segera masuk ke dalam mobil. Lalu dua mobil sedan itu melaju dengan cepat meninggalkan area kafe.


Evan, Joshua, dan karyawan lainnya hanya bisa terdiam ketika melihat bagaiman seorang Henry melakukan tindakan.


Dan Henry hanya menghela napas pelan seraya mengedarkan pandangannya pada semua pasang mata yang menatap dirinya. “Tidak perlu lapor polisi, karena aku yakin orang yang menyeret Esme tadi adalah orang berpengaruh yang memiliki banyak koneksi. Lebih baik aku saja yang menemukannya. Karena aku juga membutuhkannya. Esme sudah terlanjur masuk dalam duniaku!”


Setelah mengatakan itu pada Evan dan Joshua, Henry langsung berbalik dan pergi begitu saja. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen, dari pada pulang ke rumah. Dan tentu, perihal para bodyguard yang sedang melakukan perintahnya itu tidak akan ia kabarkan pada orang rumah. Bisa-bisa Henry akan dicurigai oleh kedua orang tuanya sendiri.

__ADS_1


“Jo, kau coba telpon Alice. Minta bantuan dia buat cari Nessie!” Ujar Evan.


Joshua mengangguk dan langsung merogoh ponselnya. Alih-alih menelepon Alice, ia hanya memberikan penjelasan yang baru saja terjadi melalui ketikan kalimat yang akhirnya ia kirimkan pada nomor Alice.


“Aku harus memberitahu Bibi Nurmala!” Tegas Evan yang juga langsung mengambil ponselnya untuk digunakan menelepon sang pemilik kafe.


***


Sedangkan Renesmee, gadis itu baik-baik saja. Memang tadi ia diseret oleh para bodyguard. Namun sekarang ia sudah duduk manis pada sebuah single sofa yang ada di ruang tamu rumah kontrakan yang ia sewa.


Ya, gadis itu ditujukan ke rumah kontrakan yang sudah ia tempati selama tiga tahun ini. Dan kini di hadapannya sudah ada kedua orang tuanya yang duduk menatapnya dengan tegas.


“Rumah jelek begini kok betah kamu tinggal di sini?” Tanya Radityo dengan nada mengejek.


Vivi mengangguk, ia adalah ibu Renesmee. “Pulang, Nessie. Di sini apa nyaman? Oke, Mama sama Papa akan merestui kamu tetap lanjut kuliah sampai selesai.” Ujarnya.


Perkataan itu membuat Renesmee langsung mendongak menatap sang ibu dengan tatapan penuh harap.


“Tapi, setelah kamu lulus, kamu harus terjun di dunia bisnis. Teruskan bisnis Papamu. Suka nggak suka, itu takdir kamu. Kamu sudah terlahir di keluarga kami dan kamu sebagai anak pertama.” Lanjut Vivi.


Dan hal itu membuat Renesmee tersenyum setengah bibir seraya memberikan dengusan kecil. Pandangannya juga berpaling ke sudut lain. “Jadi, kalian berdua ke sini untuk menjemputku dan menagih hal itu? Mudah sekali ya kesannya. Nggak mau basa-basi dulu Ma, Pa? Tanyain dulu lah keadaanku gimana selama tiga tahun, aku menghadapi masalah apa, dan apakah mentalku baik-baik saja. Kalian ini, orang tua kandung atau orang tua angkat sih?” Tanya Renesmee dengan ketus. Ia sudah tak mempedulikan etika dan adab. Selama tiga tahun ini ia merasa dibuang, diusir, dan tidak pernah ditanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2