
Malam itu, Renesmee mengikuti permintaan orang tuanya. Ia mau diajak menginap di sebuah hotel bintang 5. Dan di sana ia pun bertemu dengan Leo, adik bungsunya. Yang ternyata tinggi badan Leo sudah menyaingi tinggi badan Renesmee. Beruntung adiknya itu memiliki sikap hangat dan sopan, sehingga Renesmee merasa disambut dengan sangat baik.
Sedangkan Henry, pria itu sudah pulang lebih dulu sejak Renesmee berbincang empat mata dengan Vivi saat mereka masih berada di rumah kontrakan.
Renesmee pun hanya sekedar membawa beberapa setelan bajunya, tas-tas, dan satu sepatu sport. Itu saja yang ia bawa, yang lainnya ia biarkan tertinggal di rumah kontrakan itu. Lagi pula besok ia masih ada waktu seharian untuk menikmati kota Surabaya.
*
Keesokan harinya.
Pukul setengah sembilan pagi, Renesmee baru saja mengantar keluarganya ke bandara. Lalu ia diantar oleh sopir dan mobil khusus untuk menuju ke kafe tempatnya bekerja.
Dan ternyata, di kafe itu semua orang yang ingin ia temui sudah berkumpul di sana. Ada yang berwajah khawatir, gelisah, bahkan Alice sampai menangis. Namun Alice berhasil tenang berkat meminum limun jahe buatan Bu Nurmala sang pemilik kafe.
Begitu kedua kaki Renesmee resmi masuk ke dalam kafe, ia langsung mendapatkan pelukan erat dari Alice. Joshua yang ingin memeluk lebih dulu tentu saja kalah dari pergerakan Alice yang lebih cepat. Pria itu pun hanya terdiam dan menghembuskan napas jelas sembari terus menatap Renesmee yang masih dipeluk erat oleh Alice.
“Gila yaa!!! Aku benar-benar khawatir denganmu!! Hiks, aku bahkan tidak bisa tidur dan terus meneror Evan dan Jojo. Kau ke mana sajaaa???!! Hiks, astaga!!” Perkataan Alice kurang jelas namun bisa dipahami oleh siapa pun, perempuan itu bicara sambil terus terisak.
Renesmee menepuk-nepuk punggung sahabatnya. Lalu mengusaikan pelukan mereka dan melihat Alice yang mengucek kedua matanya. “Hei, aku baik-baik saja kok.”
“Jelaskan langsung!!!” Pinta Alice dengan tegas.
“Duduk dulu, Nessie.” Ujar Nurmala. Evan dan Joshua langsung mengangguk. Hari ini kafe sepi dan hanya ada mereka, para karyawan lain diliburkan khusus hari ini saja.
Renesmee pun langsung duduk, begitu juga dengan Alice. Gadis itu tersenyum pada Nurmala. “Saya sudah mengetahui semuanya, Bu. Terima kasih ya selama ini sudah menerima saya dengan baik.” Ujarnya tetap sopan. Tidak ada rasa kecewa dalam dirinya, meski sebenarnya ia merasa ditipu.
__ADS_1
Nurmala menghela napas pelan. “Maafkan saya ya, selama ini saya layaknya seorang pemeran film di hadapan kamu. Saya menghormati permintaan Pak Radityo, dan saya memang mengagumi kamu Nessie. Kinerja kamu benar-benar bagus, kamu aktif, dan kamu selalu menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Rasa bangga saya terhadap kamu bukan sebuah hal yang saya perankan hanya di depan kamu. Saya benar-benar bangga ke kamu.”
“T-tunggu… i-ini sebenernya kenapa sih?” Tanya Alice yang berani menyela. Ia menatap bingung pada Joshua, Evan, terutama Nurmala.
Evan tersenyum kecil. “Alice dari kemarin seperti ini, Nessie. Jadi kami biarkan saja dia tidak tahu apa-apa. Apalagi sejak tadi dia terus berbicara tanpa henti dan tidak menyadari bahwa kafe sedang diliburkan satu hari. Kami juga sudah tahu semuanya tentang apa yang terjadi ke kamu, Bu Nurmala yang menjelaskan.”
“Ah, begitu ya hehehe.” Ujar Renesmee. Lalu ia menoleh pada Alice. “Alice, yang membawaku adalah orang tuaku sendiri. Mereka ke sini dan menyuruhku untuk pulang. Dan aku bisa bekerja di sini ternyata berkat permintaan ayahku pada Bu Nurmala. Intinya begitu.” Jelasnya singkat dengan pembawaan yang tenang.
“J-jadi… kau akan kembali ke Jakarta?”
“Ya, mau tak mau.”
Mendengar jawaban itu membuat pandangan Alice langsung terlihat begitu sayu. “Lalu kau tidak akan ke sini lagi?” Tanyanya gelisah.
“Aku tidak tahu. Yang pasti, ada sesuatu besar yang terjadi. Aku mendapatkan dua pilihan dari orang tuaku. Dan hal itu tidak bisa aku ceritakan pada kalian. Mungkin hanya pada Alice saja, tapi aku tidak bisa bercerita sekarang ya. Aku sendiri juga butuh waktu untuk memikirkan antara dua pilihan itu.” Kata Renesmee.
Semuanya menatap Renesmee dengan tatapan simpati. Terutama Joshua, dia yang paling merasa kehilangan. Karena selama ini, diam-diam ia telah memendam perasaan khusus untuk Renesmee yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan sampai sekarang.
Alice sudah berhenti terisak. Ia mencoba bersikap lebih dewasa dan tidak cengeng. Karena bagaimana pun juga sahabatnya itu juga memiliki urusan dan kehidupannya sendiri.
Melihat Alice diam, Renesmee pun tahu bahwa sahabatnya itu sudah tidak mampu berkata-kata. Ia pun menatap mereka semua secara bergantian.
“Aku ingin pamit. Aku harus terbang ke Jakarta sore ini. Untuk Evan dan Joshua, terima kasih ya selama ini kalian sangat baik padaku. Aku benar-benar berterima kasih banyak. Tanpa ada teman kerja seperti kalian, mungkin aku lebih mudah rapuh dan tidak bersemangat. Sampaikan salam dan terima kasihku pada Sherly, aku rasa besok dia sudah sehat dan kembali bekerja. Katakan padanya bahwa sekarang dia lah satu-satunya karyawan perempuan di kafe, hahaha. Ah, masih ada dua wanita yang bekerja sebagai koki.” Ujar Renesmee dengan kedua mata berkaca-kaca.
Dan tentu setelah Renesmee bicara, Evan dan Joshua juga bicara secara bergiliran. Kata-kata mutiara dan suasana sedih sebagai tanda perpisahan itu pun sangat terasa bukan main.
__ADS_1
Satu hal yang paling membuat Renesmee berhasil menangis adalah ketika menerima gaji terakhirnya dari Nurmala. Sejumlah uang yang diberikan dengan amplop berwarna putih. Dan seperti biasanya tertulis nama Renesmee pada permukaan amplop di pojok kiri atas.
Gaji dari kafe itulah yang akhirnya membuat Renesmee benar-benar bisa menghargai uang dan yang namanya kerja keras. Dari pengalamannya bekerja di kafe itulah mentalnya menjadi kuat dan berhasil menjadi wanita independen dengan membiayai dan membeli apa pun menggunakan hasil kerja kerasnya sendiri.
Meski di balik itu semua ternyata ayahnya berperan memberi perintah pada Nurmala, tapi Renesmee menganggap semua itu sudah berlalu dan ia merasakan pahit manisnya berusaha sendiri.
***
“APAAA??!! HENRY SEBASTIAN? BAGAIMANA BISA???!!” Pekik Alice setelah Renesmee menjelaskan apa yang terjadi kemarin dan baru menyebutkan nama Henry di akhir penjelasannya.
Renesmee langsung menceritakan semuanya pada Alice, karena sekarang mereka sudah meninggalkan kafe dan kini berada di dalam mobil untuk menuju ke kampus. Ia membawa Alice ikut bersamanya.
Renesmee hanya meringis kecil menahan diri dari teriakan Alice yang membuat gendang telinganya bergetar. “Pelan-pelan!” Tegurnya.
“Serius? Henry Sebastian yang fotonya biasa aku pantau di sosial media itu? Henry Sebastian yang itu?”
“Ish, iya. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh ikut denganku ke Jakarta. Kemungkinan besar Henry akan ke sana.”
Alice geregetan bukan main. “Kalau aku jadi kamu, aku terima dengan senang hati syarat Oma mu itu.”
“Astaga, ya sudah, tukar tempat mau? Kalau bisa, tukar jiwa sekalian seperti di film-film!!"
“Andai saja bisa begitu, sudah kulakukan sejak awal, Nessie.” Ujar Alice disertai kekehan geli. “Tapi Nessie, aku kok merasa janggal. Karena serba kebetulan sekali rupanya. Bagaimana jika semua itu sudah direncanakan alurnya oleh Papamu?” Imbuh Alice yang bertanya dengan curiga.
*****
__ADS_1