Cinta Sebatas Angan

Cinta Sebatas Angan
Patah Hati


__ADS_3

Aku masih memikirkan tentang apa yang sekarang ku rasa bingung menghadapi lawan jantungku selalu berdegup kencang.Ketika ada wanita lain yang dekat dengannya aku selalu merasa marah apakah ini jatuh cinta atau hanya rasa kagum.


Aku memandang langit saat di taman sekolah sekian lama merasakan ini haruskah ku ungkapkan atau ku pendam sendiri.Tuhan berikan aku petunjuk.


"Nah lagi mikir apa" Suara Mila mengagetkan lamunanku.


"Ih kamungagetin aja Mila, nggak ada cuma mikirin hidup aja kapan berubah" ucapku membicarakan pembicaraan.


"Sepi ya sekolah ini kalau nggak ada Ibnu sudah seminggu dia tidak ngajar para murid sudah banyak yang nanyain, kita besuk lagi gimana ndin " ajak Mila .


"Nanti aja Mil, pada hari libur soalnya kalau hari sekolah takutnya aku pulang kemalaman" ucapku.


"Iya juga ya ndin, tunggu bentar ponselku bunyi" ucap Mila menghindari ku.


Tanpa sengaja aku melihat dilayar ponsel Mila Foto Oki berdua dengannya.Apakah diam mereka sudah menjalin hubungan di belakang ku.kebetulan akhir-akhir ini Oki jarang menghubungi ku biasanya tiap minggu kami selalu jalan.Aku harus tahu sendiri kebenarannya agar Mila tidak salah paham.


"Jauh banget jawab telfonnya dari siapa" penasaran.


"Temen kok" jawab Mila datar.


"Yuk masuk ruangan guru sebentar lagi mau jam mengajar siang" ajak ku.


Kami berjalan melewati lorong sekolah menuju ruang guru datang seorang murid menghampiriku.


"Bu Andin panggil Bu Kepsek ke ruangannya" ucap murid.


"Baik, terima kasih ya, aku ke sana dulu ya Mila"


ucapku.


"Oke ndin" ucap Mila.


Aku memasuki ruangan Ibu kepala sekolah.


"Permisi bu, ibu memanggil saya"


"Iya Bu Andin silahkan duduk, ada yang mau kalah".


"Sudah seminggu Bapak Ibnu tidak mengajar karena alasannya belum membaik, bolehkah Ibu meminta bantuan Ibu Andin untuk membantu jam mengajar Ibnu sementara waktu "ucap Ibu Kepala Sekolah.


" Baik buk saya akan usahakan Bu semoga Bapak Ibnu segera sembuh "ucapku.


" Terima kasih Bu Andin sudah membantu sekolah ini" ucap Bu Kepala Sekolah.


"Iya Bu" ucapku tenang.


Aku izin kepada Bu kepala sekolah dan keluar ruangan.Bagaimana keadaan sekarang sampai lebih dari seminggu dia tidak bisa hadir.Aku harus di sana walau hanya tanpa sepengetahuan Mila.Aku meminta izin kepada Ibu Kepala Sekolah untuk pulang lebih awal.


Aku menaiki taksi online menuju rumah sakit tempat Ibnu dirawat.


Dari luar ruangan aku melihat Jeni sedang bercumbu dengan Ibnu.Sungguh tak ku sangka mereka melakukan hal seperti itu di rumah sakit.Tanpa sadar aku menjatuhkan vas bunga di depan ruangan Ibnu melihat ku berlari dan memanggil namaku.


Aku berlari keluar dari rumah sakit dengan suasana hati yang buruk.Tubuhku tersandar di dinding pagar rumah sakit, aku menikmati pengalaman jiwaku.Aku pipiku sendiri ternyata sakit berarti ini nyata bukan mimpi.Aku memutuskan untuk melanjutkan untuk pulang ke rumah.Dalam perjalanan pulang masih tergiang di ingatanku saat mereka berdua bercumbu mesra dihadapanku.


Ternyata ini adalah pertanda yang memaksaku untuk datang ke sana membuktikan bahwa mereka ternyata masih saling mencintai.


Ponsel ku berbunyi dengan tampilan nama Oki.

__ADS_1


Aku : Halo, Assalamu'alaikum.


Oki : Walaikumsalam, kamu kemana aja nggak ada kabar?


Aku : Nggak kemana-mana ( suara terbata-terbata)


Oki : kamu lagi ada masalah ya, aku jemput ya.


Aku: Nggak usah.


Oki : ndin... , aku tunggu kamu ditempat biasa ya.


Aku : Hmm.


Aku menyuruh sopir berhenti di sebuah mal tempat aku biasa bertemu dengan Oki.Oki sudah berdiri di depan Mall menungguku berlari menghampiri menggoyangkan kedua pundakku.


"Kamu kenapa ndin, siapa orang yang bikin kamu jadi kayak gini" teriak Oki padaku.


Aku hanya terdiam seribu bahasa, Oki menarik kami memasuki Mall menuju resto tempat biasa kami bertemu.


"Aku yang pesan ya, es teler gila dua ya mas dan dua porsi dimsum seafood" ucap Oki.


"Kamu tenangkan diri ya ndin, ambil nafas pelan-pel dan buang" Oki mencobaan ku.


Pesanan kami datang aku yang dalam suasana hati yang menikmati es teler gila tanpa keberadaan Oki.


"Ini haus apa doyan" ucap Oki objekku.


"Dua-duanya" jawabku.


"Silahkan lanjutkan atau mau nambah lagi" ucap Oki meledek ku.


Aku semua menghabiskan menu yang dimeja tanpa sisa.


"Baik, sekarang sepertinya kamu sudah agak tenang silahkan mulai cerita apa yang sebenarnya terjadi"ucap Oki.


"Kamu jangan ketawa ya" ucap ku.


"Masa orang sedih aku ketawa nggak mungkin dong" ucap Oki.


"Aku kenal seorang pria satu tempat mengajar denganku, dia baik dan perhatiannya kepada tapi ternyata dia punya masa lalu nikah. Beberapa lama berlalu kami mulai dekat dengan suasana hati yang bahagia datang lagi pria yang ku kenal ini" ucapku dengan serius .


"Terus yang membuat kamu sedih apa, kamu tidak akan ada hubungan sama dia hanya sebatas teman" ucap Ibnu.


"Ini nih pria yang nggak peka" ucapku tanpa objek.


"Bukannya tidak peka ndin, yang aku tanyain yang membuat kamu sesedih ini apa"tanya Ibnu.


"Dia sakit sudah satu minggu jadi aku memutuskan untuk membesuknya sebelum bertemu dengannya aku melihat dari luar jendela sedang bercumbu dengan mantanya itu" ucapku kesal.


"Jadi ceritanya kamu cemburu, oh ternyata penasaran lagi jatuh cinta" ucap Ibnu menggodaku.


"Enggak ah" ucap ku malu.


Ibnu memegang tangan diatas meja sambil membocorkan ku dengan lembut.


"Kamu seharusnya merasakan hal untuk ku ndin" ucapku Oki dengan lembut.

__ADS_1


Aku menarik.


"Apaan sih kamu bercanda" ucapku sambil tertawa.


Apakah selama ini Oki memendam rasa.Tak biasanya bicara serius seperti tadi.Mungkin Oki hanya menghibur ku dikala sedih ini.Kami memutuskan untuk lansung pulang aku menaiki sepeda motor besar Oki.


Dalam perjalanan Oki selalu menceritakan hal-hal lucu yang membuat saya kembali tertawa.


Kami sampai didepan rumah.


"Makasih ya Oki untuk hari ini" ucapku.


"Lain kali kalau ada masalah cerita sama aku" ucap Oki.


"Oke Bos, hati-hati ya" ucapku sambil tersenyum.


Aku menaiki tangga yang melelahkan ini yang sama dengan jiwaku saat ini.Aku memasuki rumah dan membersihkan diri serta beribadah.


"Ndin, makan malam dulu yuk" panggil Tante Diana.


"Iya tan, tunggu bentar" teriaku dari kamar.


Aku berjalan keluar kamar menuju ruang makan.


"Makan dulu biar nggak tambah kurus" ucap tante Diana.


"Iya tan" ucapku.


"Ibnu masih belum sembuh ya" tanya tante Diana.


"belum tan" jawab ku datar.


“Hubungan kamu sama Ibnu gimana?” tanya tante Diana lagi.


"Biasa aja tan" jawabku.


"Tante tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Tadi Ibnu telefon tante pakai ponsel Maria dia menceritakan semuanya".


"Kalau kamu memang tidak ada rasa mengapa harus melewati jalan-jalan saja ndin ".


"Kalau kalian berdua memang berjodoh Tuhan menginginkan kalian akan bertemu apapun rintangannya" ucap tante Diana menasehati ku.


"Kami beda keyakinan tan" ucapku tanpa sadar.


"Nah akhirnya jujur" ucap tante Diana.


"yang tante bilang jodoh nggak ada yang tahu kalau Tuhan berkehendak salah satu dari kalian cocok seperti keyakinan kenapa tidak" ucap tante Diana.


Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan tante Diana tak ingin memperpanjang masalah yang ada.Kami menyudahi makan malam kali ini dengan sebuah pertanyaan yang harus dijawab pada waktu yang tepat.


Aku beranjak menuju tempat paling nyaman sedunia yaitu kasur dan bantal huh.Aku membuka ponsel ternyata sudah banyak pesan masuk dari Ibnu yang permintaan maaf karena kejadian tadi sore.


Aku ingin tidur tenang dan damai dari hari-hari ini semua pelajaran berharga bahwa dalam hidup tak semuanya sesuai dengan kehendak kita ada Sang Maha Pengatur.


Aku berdoa dan memejamkan mata berharap hari esok ada keinginan.

__ADS_1


***


__ADS_2