Cinta Sebatas Angan

Cinta Sebatas Angan
Masalah Baru


__ADS_3

Hari Minggu laksana surga bagiku karena aku bisa bermalas-malasan hingga nanti siang sebelum berangkat kerja paruh waktu di Mall.


Aku menikmatinya dengan menonton film di kamar sambil menyantap sarapan. Ponselku berdering dengan nada ponsel dari Ibnu.


Aku: Halo.


Ibnu : Hai, lagi apa ndin?


Aku : Sarapan


Ibnu: Jutek banget, keluar yuk?


Aku: Males


Ibnu : Aku ke rumah kamu ya, jangan ke mana- mana.


Ibnu menutup telfon seketika aku mau mengatakan kejadian beberapa hari yang lalu aku berusaha menahan amarah ini selama disekolah agar kegiatan mengajarku berjalan lancar. Kebetulan Ibnu datang kerumah inilah waktu yang tepat mengungkap kebenaran semuanya. Tak lama terdengar suara Tante Diana membukakan pintu.


"Silahkan masuk Ibnu" ucap Tante Diana.


"Iya makasih , Andin nya ada tan?" tanya Ibnu.


"Bentar ya tante panggil dulu" ucap tante Diana.


"Andin ada Ibnu nih" seraya tante mengetuk pintu kamar.


"Iya tan, tunggu bentar" ucapku setengah berteriak.


Aku keluar kamar dengan pakaian rumah tanpa dandan sedikit pun. Siapa suruh dia pagi- pagi begini datang kerumah orang. Kamu bertiga duduk diruang tamu, terlihat tante sudah tidak tahan menahan amarahnya.


"Ibnu sebelumnya tante minta maaf ada yang tante mau tanyakan sama kamu" ucap tante Diana.


"Santai aja tante mau nanya apa? " Jawab Ibnu.


"Sebenarnya ada apa antara kamu dengan Jeni" tanya tante dengan pelan.


"Kami hanya sebatas mantan pacar tan. Dulu dia meninggalkan saya dan menikah dengan sahabat saya, emangnya kenapa ya tan seperti nya serius sekali" Ibnu balik bertanya.


"Baik, kalau begitu beberapa hari yang lalu Andin dipermalukan didepan semua orang oleh Jeni, dia menuduh Andin keponakan tante ini merebut kamu dari dia tidak hanya itu dia juga menyiramkan air kewajahnya di tengah keramaian resto. Jujur tante tidak bisa menerima hal itu ingin rasanya tante melabrak wanita kurang ajar itu" ucap tante Diana.


"Maaf kan saya tante sungguh saya tidak menyangka Jeni akan sejahat itu kepada Andin. Nanti saya akan minta pertanggungjawaban dari dia, kenapa selama ini kamu tidak pernah bilang ndin" tanya Ibnu.


"Aku nggak mau masalah ini menganggu kegiatan kita disekolah lagian ini cukup menjadi pelajaran bagiku untuk bisa menjaga jarak dengan kamu" uacapku dengan kecewa.


"Ndin, jujur aku nggak ingin jauh dari kamu. Aku mohon kamu jangan berubah.


Oke, aku akan selesaikan semua masalah aku dengan Jeni atau lebih baiknya sekalian kami ikut aku sekarang buat bertemu dengannya" ucap Ibnu.


"Nggak ah, ntar dikiranya aku mengadu sama kamu" ucapku.


" Baik, kalau kamu nggak mau biar aku selesaikan sendiri dulu but please jangan berubah sama aku" ucap Ibnu sambil memohon.


"Tante masih ada loh disini" ucap tante Diana mencairkan suasana.


"Apaan sih tan, ya udah kamu temui Jeni dulu" ucapku.


"Padahal aku mau mengajak kamu sarapan bareng" ucap Ibnu kesal.


"Pulang sana next time masih bisa kok" ucapku.


" Saya pamit dulu tante " ucap Ibnu sambil bersalaman dengan tante Diana.


"Oke,hati-hati ya ingat segera selesaikan masalah ini" ucap tante dengan nada mengancam.


"Iya... Iya tante" jawab Ibnu sambil berlalu menuruni tangga.


Kami masuk rumah dan kembali berbincang diruang tamu.


"Kenapa kamu masih belum ceritakan ndin" tanya Tante Diana.


"Tadi kan udah aku jelasin tan" jawab ku.


"Jujur sama tante, sebenarnya kamu tidak ingin kehilangan Ibnu kan" tanya tante Diana.


"Biasa aja tan" jawabku seraya menghindar.


"Kamu nggak bisa menghindar lagi ndin, kalau kamu memang sudah jatuh cinta sama dia perjuangkan, tante lihat Ibnu juga sangat mencintai kamu buktinya ia mau menyelesaikan masalah ini"


"Udah lah tante lagi nggak mau ngebahas hal kayak gini, aku mau siap-siap buat acara nanti siang tan" ucapku.


Aku memasuki kamar dan mempersiapkan baju untuk menjadi juri hari ini.


***


Ibnu mengunjungi rumah Jeni berpangar tiga meter yang didalamnya terdapat rumah mewah bak istana di dalam film korea. Ibnu lansung meamkirkan mobilnya dan disambut oleh pembantu dirumah Jeni.


"Tuan Ibnu, ingin ketemu nona Jeni ya" tanya pembantunya.


" Iya dia dimana bu" jawab Ibnu dengan sopan.


"Lansung keatas saja tuan dia sudah menunggu" ucap pembantunya.


Ibnu menaiki tangga menuju lantai dua dan menghampiri Jeni yang lagi duduk bersantai memakai dress pendek hijaun sambil menghadap ke taman.


"Jen, apa yang lakukan pada Andin" ucap Ibnu dengan nada emosi.


Jeni membalikan badan dan bertingkah layaknya tidak terjadi apa-apa.


"Sayang, kamu kenapa baru datang lansung marah duduk dulu dong" ucap Jeni merayu.


"Jawab, apa maksud kamu? " tanya Ibnu dengan emosi.


"Bu, tolong ambilkan minum untuk tuan ganteng ini" ucap Jeni kepada pembantu nya.


Jeni mencoba menenangkan amarah Ibnu dengan berdiri dibelakang sambil memeluknya. Ibnu mebghindar dan berjalan menghadap taman.


"Yaudah duduk dulu jangan berdiri terus minuman nya sudah datang, silahkan diminum tuan Ibnu " ucap Jeni seraya menggoda Ibnu.


Ibnu duduk di sofa dan meminum minuman yang ada diatas meja. Jeni kembali melancarkan aksinya untuk agar Ibnu tidak membahas tentang masalah antara dia dengan Andini. Ternyata minuman yang sudah diminum Ibnu berisikan obat kuat untuk pria . Jeni ternyata sudah mempersiapkan segalanya sebelum hari ini datang.


"Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing ya" ucap Ibnu.


"Kamu salah makan mungkin tadi, ya sudah istirahat dulu di kamarku". ucap Jeni seraya mendesah di telinga Ibnu.


Jeni menutup rapat pintu kamar dan meluapkan gairah yang ada menikmati segala sentuhan dan pergolakan yang membuat ******* Jeni terdengar hingga keseluruhan ruangan dilantai dua di pagi menjelang siang itu. Ibnu yang tak sadarkan diri mengeksekusi ruang asmara Jeni dengan begitu tangguhnya karena pengaruh obat tadi.


Para pelayan rumah Jeni seolah menutup mata dan telinga bertingkah seolah tidak mengetahui apapun yang terjadi.

__ADS_1


Selang satu jam berlalu Ibnu tersadar dan melihat Jeni sedang mengenakan handuk dengan rambut yang basah.


"Oh My God, pusing banget kepalaku" ucap Ibnu.


Ibnu terbangun dan melihat kebawah tubuhnya yang sudah tak dilapisi apapun.


"Kurang ajar ya kamu, mejebak aku dengan seperti ini" ucap Ibnu dengan marah.


Ibnu mengenakan seluruh pakaian nya dan menghampiri Jeni.


"Apapun yang coba kamu lakukan tak akan merubah keputusan ku untuk mendapatkan Andini" ucap Ibnu marah sambil menunjuk Jeni.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu kembali, Andini juga tidak boleh memiliki kamu" ucap Jeni dengan nada sombong.


"Terserah" ucap Ibnu sambil meninggalkan Jeni.


Ibnu melangkah dengan cepat sambil menuruni tangga keluar rumah dan menaiki mobilnya. Didalam mobil Ibnu merasa kacau berniat menyelesaikan masalah malah membuat masalah baru. Karena pikirannya kacau mobilnya tak sadar melewati lampu lalu lintas yang sedang bewarna merah. Ibnu pun ditabrak oleh mobil yang melintas dari arah berlawanan. Ibnu dilarikan ke rumah sakit oleh orang yang ada di tempat kejadian. Ia lansung masuk ke dalam ruang gawat darurat tanpa sadarkan diri. Petugas rumah sakit menghubungi keluarga Ibnu dan nomor terakhir yang ada dipanggilan ponselnya.


Tante Maria tak kuasa menahan tangis melihat anaknya dari kaca yang tak sadarkan diri. Aku yang baru datang mencoba menenangkannya.


"Yang sabar ya tan, mari kita bersama mendoakan semoga Ibnu segera sadar tan" ucapku sambil merangkul tante Maria yang tertunduk berurai air mata.


"Tante nggak kuat ndin" ucap tante Maria sambil menghapus air matanya.


"Ibnu adalah satu-satunya harapan tante untuk meneruskan bisnis papanya" ucap tante Maria tanpa sadar.


"Iya tante duduk dulu ya tante, coba minum air putih dulu" aku mencoba membuat situasi agak tenang.


Terpaksa hari ini aku digantikan oleh orang lain untuk menjadi juri di Mall karena ada telfon dari petugas rumah sakit. Jujur hatiku ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi hingga bisa membuat Ibnu kecelakaan seperti ini.


Perasaan ku tidak nyaman pasti ada sesuatu hal yang terjadi saat Ibnu menemui Jeni tadi pagi. Aku harus menemani tante Maria malam ini dan meminta izin tidak mengajar esok hari. Kasihan sekali melihat Tante Maria yang harus menanggung semua ini sendirian.


"Saya temani tante disini ya" ucapku pelan.


"Kamu pulang aja ndin, nanti tante minta orang lain buat nemenin besok kan harus ngajar" ucap tante Maria yang masih sempat memikirkan diriku.


"Nggak tan, saya udah izin lagian mana tega saya ngeliat tante seperti ini" ucapku.


"Makasih ya ndin, kamu memang calon istri yang baik" ucap tante Maria.


Dalam hati ku berucap calon istri? Aku calon istrinya Ibnu, mengenal keluarganya saja belum sudah dibilang calon istri sama Ibunya.


Walau hati sedikit senang mendengar nya namun dalam kondisi saat ini adalah keselamatan Ibnu yang paling penting.


***


Siang ini aku kembali kerumah sakit sambil membawa persediaan makanan untuk tante Maria. Kalau soal pakaian orang suruhannya telah mengantarkan segala keperluan Ibnu dan tante Maria dari tadi malam. Kelihatannya keluarga Ibnu bukan orang yang sembarangan terlebih adanya seorang wanita yang berseragam serba hitam yang selalu ada di sekitar tante Maria walau tidak dekat tapi terlihat seperti penjaga. Dari kejauhan terlihat tante Maria dengan raut marah mengobrol dengan seorang wanita berambut hitam panjang memakai dress pendek bewarna ungu yang tak lain adalah Jeni. Entah apa yang mereka bicarakan namun ketika aku akan sampai di depan kamar terdengar kalimat


"Kau tak pantas jadi menantuku, wanita tak bermoral sudah diterima kembali malah bikin ulah, pergi dari sini" ucap tante Maria mengusir Jeni.


"Tante dengerin saya dulu" ucap Jeni sambil merengek kepada tante Maria.


Penjaga wanita menahan Jeni dengan kuat dan menariknya keluar rumah sakit. Jeni memandangku dengan sangat marah aku pun berlalu dengan santainya. Akhirnya kau merasakan hal yang menyakitkan lebih dari aku, Tuhan tidak sia-sia.


"Ada apa tadi tante? tanyaku.


" Jeni mencari masalah dengan tante mengaku telah tidur dengan Ibnu sebelum terjadinya kecelakaan kemarin, wanita tidak tahu malu, tidak punya harga diri" ucap Tante Maria.


Ya Tuhan apa lagi ini perempuan itu telah tidur dengan Ibnu. Masalah yang satu belum selesai malah datang lagi yang lebih besar. Jeni sudah benar-benar kehilangan akal sehat sampai mau mengorbankan harga dirinya demi mendapatkan Ibnu.


"Tante yang tenang ya kita fokus dulu pada kesehatan Ibnu, nanti kita pikirkan masalah Jeni" ucapku dengan bijak.


"Kita tunggu informasi dari dokter tan, semoga Ibnu segera sadar" ucapku.


"Tante masih tak habis pikir Jeni masih berusaha merebut hati Ibnu terlebih dia telah mengetahui bahwa Ibnu pewaris tunggal perusahan papanya, wanita matre dulu dia dengan mencampakkan sekarang datang tanpa rasa malu" ucap tante Maria dengan nada kesal.


"Sudah tan, jangan dibahas lagi nanti malah yang sakit karena terlalu mikirin hal ini" ucapku sambil mengelus pundak tante Maria.


"Tante sungguh senang saat melihat kamu ada disini bersama tante beruntung nya kalau Ibnu berjodoh sama kamu" ucap tante Maria.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan tante Diana. Dokter datang menghampiri kami.


"Dengan keluarga bapak Ibnu" tanya Dokter.


"Iya saya Ibunya" jawab tante Maria.


"Syukurlah, anak ibu sudah sadar" ucap Dokter.


"Syukurlah Tuhan mengabulkan doa kami, bolehkah saya melihatnya dokter? tanya tante Maria.


" Boleh bu, tapi hanya satu orang saja jangan terlalu lama ya bu" ucap Sang Dokter.


Dokter berlalu meninggalkan kami. Aku menunggu diluar dan tante Maria masuk kedalam untuk melihat Ibnu.


"Ma" sebuah kata keluar dari mulut Ibnu yang masih ditutupi tabung oksigen.


"Ya nak" jawab tante Maria.


"Maafkan saya" ucap Ibnu.


Ibnu tak kuasa menahan air mata yang menetes di pipinya dalam terbaring lemah ia hanya dapat pasrah menanggung sakit fisik dan jiwanya. Tante Maria mencoba menguatkan Ibnu dengan mengenggam tangan anaknya.


"Yang penting kamu bisa sembuh dan kuat kembali nggak usah pikirkan hal lain" ucap tante Maria dengan tegar.


"Iya ma, kalau mama ketemu Andini sampaikan maaf ku untuknya" ucap Ibnu dengan lemas.


"Iya nak, ya sudah istirahat dulu mama akan temani dari luar karna dokter nggak ngebolehin masuk dan membesuk terlalu lama" ucap tante Maria.


"Iya ma" jawab Ibnu.


Tante Maria ruangan dengan mata berkaca-kaca. Mencoba tegar menghadapi masalah hidup yang dialami anak semata wayangnya.


"Ndin, Ibnu meminta maaf sama kamu" ucap tante Maria.


"Maaf buat apa tan" tanyaku.


"Dia merasa bersalah mungkin karena telah menghianati kamu" ucap tante Maria.


"Kami hanya berteman tante, Ibnu bebas melakukan apapun dengan siapapun" ucapku dengan nada pelan.


"Iya tante paham maksud kamu, kamu yang hanya menganggap teman namun Ibnu sebaliknya" ucap tante Maria.


"Saya jadi bingung tante" ucapku.


"Berhubung Ibnu sudah sadar lebih kamu pulang dulu nggak baik kalau anak murid kamu besok nggak ada gurunya" ucap tante Maria.


"Tapi tante" ucapku.

__ADS_1


"Disini ada penjaga tante dan tenang saja rumah sakit ini juga ramai" jawab tante Maria.


"Baiklah tante, saya permisi dulu" ucapku sambil menyalami tante Maria.


Aku berjalan menyusuri lorong dan menuju gerbang keluar rumah sakit. Aku mencoba menghubungi Oki untuk menemani jiwaku yang kacau ini.


Oki: Ada apa hari senin nelfon.


Aku: Baca salam dulu dong.


Oki: Kamu nggak ngajar?


Aku : Lagi izin


Oki : Tumben biasanya paling nggak tega ninggalin muridnya.


Aku: Kamu sibuk nggak?


Oki: Nggak, bentar lagi ganti sif cie..


Kangen ya udah lama nggak ketemu.


Aku: Aku tunggu tempat biasa ya.


Oki: Iya.


Aku menutup telfon dan menaiki angkot yang ada di depan rumah sakit. aku sampai di depan Mall memasuki lift menuju restoran tempat aku biasa bertemu dengan Oki.


Pelayan : Mau pesan apa kak?


Aku : Pesan es teler gila dua dan dua stek sapi


Pelayan : Baik, silahkan dibayar dulu kak.


Aku : Oke.


Aku membayar makanan yang barusan dipesan tumben Oki masih belum kelihatan. Saat aku memandang kearah luar resto terlihat Oki sedang berjalan berdua dengan Mila. Mila berjalan meninggalkan Oki di depan resto kualihkan pandanganku menuju tempat duduk yang ada.


"Hai Ndin udah lama sampai? " tanya Oki basa-basi.


"Nggak barusan habis order"


"Tumben lama, biasanya kamu duluan sampai" tanyaku.


"Iya tadi ada urusan dulu" jawab Oki sambil membohongiku.


Dia tak sadar tadi sudah aku rekam perpisahan mereka didepan resto sebagai bahan pembuktian nantinya.


"Udah lama ya Ndin kita nggak jalan bareng "


tanya Oki.


"Iya, akhir- akhir kini kita punya banyak kesibukan" jawabku dengan nada kesal.


"Kamu masih deket sama cowok itu, siapa namanya" ucap Oki.


"Ibnu" Jawabku singkat.


"Iya... Itu cowok yang bikin kamu galau terus" ucap Oki seraya menyindir.


"Ini aku mau cerita tentang dia sama kamu" ucapku.


"Kenapa lagi tuh orang" ucap Oki.


" Dia habis kecelakaan dan baru sadar tadi siang karena ditabrak mobil" ucapku sambil menyeruput es teler gila yang sudah datang dengan steak sapinya.


"Trus, apa hubungannya sama kamu" tanya Oki.


"Dia kecelakaan karena mau menyelesaikan masalah aku sama Jeni. Tapi..... sesampai dirumah Jeni dia malah dijebak dan tidur bersama, sakit nggak sih dengernya" ucap ku dengan nada geram.


"Dia dijebak apa memang mau" tanya Oki terkesan tidak percaya.


"Dijebak Oki" jawabku.


"Emang apa masalah sama kamu Jeni" tanya Oki lagi.


"Dia menuduh aku merebut Ibnu dari dia sampai mempermalukan aku dengan menyiramkan minuman ke wajahku saat di resto,sebel nggak sih" ucapku.


"Oke, semua udah jelas kamu pernah cerita mereka berdua mantan kekasih yang gagal menikah. Menurut ku ya jangan marah dulu wajar saja Jeni ini merasa cemburu karena kedekatan kamu dengan mantannya" Ucap Oki menanggapi cerita ku.


"Kan mereka udah mantan Oki nggak ada hubungan lagi" ucapku.


"Iya, dalamnya hati seseorang nggak ada yang tau Ndin, mau kamu menyelami sedalam apapun kalau masih ada orang lain tetap nggak akan tembus" ucap Oki dengan nada serius.


"Iya juga sih" jawabku dengan keraguan.


"Lebih baik kamu sementara jaga jarak dulu dengan dia kamu bisa lihat apa dia memang serius buat deketin kamu atau hanya penasaran saja" ucap Oki.


Aku terdiam sejenak sambil mendengarkan Oki berbicara.


"Kamu nggak bisa jawab, jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama dia " ucap Oki sambil menghadapkan telunjuknya kearah ku.


"Yey, nggak lah ada-ada aja" jawabku.


"Aku laki-laki Ndin, kita sudah berteman cukup lama, tahu sangatlah aku bagaimana gelagat kamu yang lagi dimabuk asmara" ucap Oki menceramahi ku.


"Terserah kamu mau bilang apa" ucap ku.


Kami menghabiskan makanan dan menuju keluar Mall dan menuju oarkir.


"Aku antar pulang ya, kasihan cewek galau jalan sendiri" ucap Oki seraya menyindirku.


"Iya jangan ngebut ya " ucapku.


Aku menaiki motor besar Oki yang selalu membuat pinggang ku sakit setelah turun.


Diatas motor kamu bercanda sambil menikmati kendaraan yang berlalu-lalang di kota teh obeng ini. Aku sampai didepan rumah dan turun dari motor.


"Makasih ya Oki selalu jadi pangeran penyelamat ku" ucapku dengan nada menggoda sambil menepuk pundak Oki.


"Iya.. iya jangan galau lagi ya suatu saat nanti bisa jadi pangeran dihati kamu loh" ucap Oki balik menggodaku


"Huh" jawabku sambil menaiki tangga.


Entah kenapa selalu Oki yang ada di pikiran ku saat diri ku ada masalah dan kebetulan juga selalu datang saat dibutuhkan. Mungkin dia malaikat berwujud manusia yang dikirim Tuhan datang kedunia ini untuk membantuku. Aku membuka pintu rumah dan membersihkan diri.


Aku memandang langit kamar sambil berucap dalam hati semoga hari bahagia ku kan datang pelangi kembali mewarnai langit yang mendung hari ini.

__ADS_1


***


__ADS_2