Cinta Sebatas Angan

Cinta Sebatas Angan
Tahu Diri


__ADS_3

Pagi ini aku mempersiapkan bahan yang akan ku ajarkan kepada murid ku yaitu mengenal lagu daerah yang ada di Indonesia. Aku berjalan di lorong menggandeng tas yang berisikan laptop dan buku ajar ku. Sebelum sampai ke kelas aku dicegat oleh pria tinggi yang tampan berkulit putih.


"Hai Bu Andin " Sapa Ibnu dengan ramah.


"Iya Pak Ibnu" jawab ku dengan sungkan.


"Mau ngajar ya buk " Tanya Ibnu.


"Iya " Jawabku judes.


"Ok nanti pulang sekolah aku tunggu di gerbang ya Bu Andin " Ucap Ibnu.


"Baik Pak" Jawabku.


Entah kenapa sekarang perasaan ku merasa canggung didekat Ibnu. Padahal dia tak punya salah padaku, apakah hati kecilku cemburu saat kemarin Jeni menggandeng Ibnu. Ah sudahlah aku harus fokus mengajar dulu.


Aku sampai didepan kelas dan memperbaiki emosi jiwaku.


"Selamat pagi murid Ibu" Sapaku


"Selamat pagi Bu " Jawab seluruh muridku.


"Mari kita awali belajar hari ini dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing".


Ucapku sambil memandang seluruh muridku.


Walaupun aku sendiri muslim tapi muridku memiliki kepercayaan yang berbeda ada yang beragama Islam, Kristen dan budha tetapi kami tetap menghargai satu sama lain.


"Baiklah semua murid Ibu sebentar lagi kita akan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, maka dari itu kita harus mempersiapkan diri untuk memeriahkannya" ucapku .


"Apa yang harus kita persiapkan Bu" tanya salah satu murid ku.


"Mental dan kemampuan karena sekolah akan mengadakan lomba menyanyikan lagu daerah Indonesia yang nantinya akan mewakili sekolah kita di tingkat daerah" ucapku menerangkan dengan semangat.


"Wah aku jadi grogi Bu" Ucap salah satu murid ku.


"Yang penting percaya diri dan berani mencoba" ucap ku memberikan semangat.


"Baiklah ibu akan panggil menurut absen ya, biar adil, jangan ribut saat temannya bernyanyi mari kita saling mendengarkan penampilan teman-teman kalian. Ucapku.


" Baik Bu" Ucapku seluruh murid ku.


Aku memanggil satu persatu nama murid ku dari huruf alphabet awal sampai akhir. Mereka menyanyikan lagu daerah dari Sabang dan Merauke. Aku duduk sambil mendengarkan dan menilai mana yang nantinya akan diutus untuk lomba perwakilan Kelas ini.


Jam mengajar ku hari ini berakhir tapi aku belum boleh pulang karena peraturan sekolah ini walaupun jam mengajar sudah berakhir semua guru harus pulang bersama pada pukul 15.00 WIB. Terkadang lembur yang tak bisa dihindari aku harus pulang sore sungguh hari-hari yang melelahkan saat itu terjadi.


Aku berjalan keluar kelas dan kembali ke ruang guru sambil menikmati semilir angin yang dihiasi bunyi burung yang sedang bersenda gurau dengan pasangannya, andaikan itu aku.


"Sibuk nggak nanti pulang sekolah ndin? Tanya Mila.

__ADS_1


"Nggak Mila kamu mau ngajak kemana" jawabku.


"Mau ngajak kamu nemenin aku beli kado" ucap Mila.


"Wah seru tuh kayaknya tapi jangan hari ini besok aja gimana soalnya aku sudah ada janji dengan orang lain " ucapku segan.


"Ehm ok kalau gitu sampai ketemu besok ya" ucap Mila dengan tersenyum.


Mila membelikan kado untuk siapa ya tumben jarang banget dia mau berkorban untuk orang lain. Aku cek dulu kalender di ponselku biasanya ada pengingat hari ulang tahun orang terdekat dengan ku. Ya Tuhan ternyata dua hari lagi ulang tahunnya Oki kenapa aku nggak sadar ya. Aku membereskan semua barang kedalam lemari dan bersiap untuk pulang.


Dari kejauhan terlihat mobil bewarna hitam terpakir menanti penumpang nya. Perasaan ku tak karuan saat berjalan menuju gerbang sekolah entah kenapa jiwa ku meronta saat melihat kejadian waktu itu.


"Silahkan masuk Ndin" Ucap Ibnu sambil membukakan pintu mobil untuk ku.


"Nggak harus manggil ibu lagi kan kalau diluar sekolah canggung aja rasanya " ucapku Ibnu sambil memutar setir mobilnya.


Aku berusaha menata perasaan agar terlihat seolah tak mengetahui apa- apa tentang kejadian kemarin didepan Ibnu.


"Ah santai aja " Jawabku sambil nyeleneh.


"Kita ngadem bentar dulu yuk udah lama kita nggak makan bareng, tenang nanti kita sambil bicarakan masalah kerjaan kok"


"Oke tapi jangan lama - lama ya, nanti takutnya pulang telat " Ucapku.


"Tenang nanti aku antar kan sampai pintu rumah aku siap jadi sopir pribadimu " ucap Ibnu.


Kami memasuki sebuah restoran di sebuah Mall yang tak jauh dari tempat ku menunggu angkot saat hari biasanya.


"Cumi pedas manis sama teh obeng " ucapku santai.


"Dua ya kak " ucap Ibnu kepada pelayan resto.


"Kok kamu ikutan mesen menu yang sama juga" Ucapku kesal.


"Belajar dari menyamakan makanan kesukaan dulu sebelum menyamakan hal lain" ucapku Ibnu menggodaku.


"Lebay kamu, oh ya gimana kata bu kepsek jadi nggak lomba menyanyi daerah antar kelasnya" ucapku memulai pembicaraan agar tidak kaku.


"Kayaknya jadi soalnya tadi Bu kepsek sudah menelfon Dinas Pendidikan soal teknis pelaksanaan lomba menyanyi daerah antar sekolah" Jawab Ibnu dengan semangat.


Kami berbincang dan bercengkrama tentang pekerjaan sambil menunggu menu yang dipesan datang.


"Wah udah nyampe nih makan dulu yuk" ajak ku.


"Oke " Jawab Ibnu sambil membalas chat di ponselnya.


Sepertinya dia sedang chat dengan seseorang sangat kenal dengannya karena dari cara mengetik pesan sangat cepat tanpa mikir. Aduh kenapa aku malah penasaran dengan kehidupan Ibnu. Ingat Andin kamu hanya sebatas rekan kerja nggak lebih dari itu.


Tiba- tiba muncul seorang wanita yang memakai mini dress bewarna merah jambu dengan menyandang tas hitam di bahunya menghampiri mejaku.

__ADS_1


"Boleh ikut makan nggak duduk disini sama kalian" ucap Jeni.


Hampir makanan didalam mulutku keluar tumpah ke piring saat melihat wanita berambut panjang ini duduk di samping Ibnu. Terjawab sudah ternyata wanita ini tadi yang menghubungi Ibnu melalui chat. Aku menelan makanan yang hampir ku muntahkan sambil meminum teh obeng yang ku pesan tadi. Suasana yang bahagia tadi menjadi kaku karena kehadiran Jeni, terlihat sekali Ibnu tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Boleh silahkan Jen" Jawabku dengan berpura-pura tersenyum.


"Kalian berdua saling kenal " ucap Ibnu kaget.


"Kami kemarin bertemu saat acara di Mall" Ucap Jeni menyela pembicaraan.


"Iya kita baru ketemu kemarin " Jawabku canggung.


"Bagus dong kalian salin kenal jadi nggak usah ngenalin lagi " ucap Ibnu sambil tertawa cengengesan.


" Aku ke toilet bentar ya" Ucapku.


Aku berjalan ke toilet sambil memikirkan cara agar bisa menghilang dari situasi yang tidak kuingin kan ini. Aku memasuki toilet wanita dan memperbaiki riasan ku sambil berpikir. Otak ku memberi petunjuk agar menghubungi Oki. Aku mencoba chat Oki siapa tahu jam seperti ini shif nya. Aku menunggu jawaban diiringi perasaan gelisah, apa aku telfon ya. Ponselku berdering dan aku mengangkat telfon tanpa melihat layar ponsel.


"Halo, Assalamu'alaikum"


" Walaikumsalam, ada apa chat aku tumben kangen ya" jawab Oki.


"Nggak cuman lagi butuh bantuan aja, kamu lagi dimana" Ucapku.


"Oke baik kalau nggak mau ngaku, minta tolong apa tuan putri" ucap Oki merayuku.


"Bisa tolong jemput aku ke Mall di dekat sekolah nggak, udah sore soalnya takutnya nanti nggak ada angkot kali ini aja " ucapku memelas.


"Iya kebetulan juga aku lagi ada urusan didekat sini, aku tunggu diseberang jalan ya susah nyebrang macet ntar lama" ucap Oki sambil setengah berteriak karena ributnya lalu lintas sore hari jam para pencari nafkah pulang ke rumah nya.


Aku keluar toilet buru-buru tak ingin Oki menunggu lama diluar dan izin pulang kemeja tempat kami tadi makan.


"Aku pulang duluan ya Ibnu, kebetulan tadi ketemu temen dekat rumah" ucapku tergesa-gesa.


"Kok cepat banget makanan aku baru sampai loh" ucap Jeni.


"Takut kemalaman sampai rumahnya Jen " ucapku datar.


"Ndin.... Andin.... " Ibnu berteriak memanggil ku seolah tak mengizinkan ku pulang.


Aku berjalan dengan langkah cepat dan berlalu tanpa mendengarkan panggilannya. Air mata jatuh di pipi mengingat kejadian yang baru ku alami. Aku sampai di depan Mall terlihat Oki melambaikan tangan mengisyaratkan keberadaan nya pada ku. Aku melihat kiri dan kanan agar bisa menyebrang dengan aman.


Tanpa basa-basi aku menaiki motor besar Oki.


Aku terdiam di atas motor ditemani hiruk- pikuk lalu lintas kota dengar air mata yang membasahi pipi bercucuran tanpa henti. Oki yang melihat di spion motor terdiam tak berucap satu kata pun sepertinya dia mengetahui apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku sampai di depan rumah dan turun dari motor.


" Makasih ya Oki kamu udah nolongin aku hari ini" ucapku lesu.


"Iya nggak apa apa tetap semangat ya ndin kalau udah tenang nanti cerita ya" ucap Oki menyemangati ku.

__ADS_1


Aku berjalan menaiki tangga dengan lesu seolah panas setahun hilang karena hujan sehari. Aku memasuki rumah dan mengucapkan salam berjalan mengarah ke kulkas mengambil air minum sambil melihat ponsel. Terlihat pesan masuk dari tante bahwa malam ini tidak pulang ke rumah karena ada pertemuan diluar kota. Aku masih duduk di kursi ruang makan sambil memegang botol minuman air mineral, pikiran ku kacau diisi hati yang gelisah kenapa aku ini harus terjadi padaku. Aku hanya wanita sederhana yang mengharapkan kebahagiaan bersandar di bahu seorang pria yang bisa menerima ku dengan tulus. Mungkin karena aku yang polos menilai kebaikan Ibnu selama berlebihan setelah sekian lama tak merasakan di temani dan dimengerti.


***


__ADS_2