
Jam di dinding menunjukan pukul 12.00 perutku menunjukan alarmnya seolah memberi tanda cacing didalamnya sudah minta makan.
Aku berjalan mengambil bekal yang ada di dalam loker kelas tempat aku mengajar.
"Bu, ada paket makanan untuk ibu". Ucap muridku Vina.
" Dari siapa Vina? " Tanyaku heran.
"Dari penggemar ibu, dimakan ya bu"
"Baik, Terima kasih ya Vina. Jawabku.
Bersyukur hari ini dapat bekal tambahan walaupun tidak tahu siapa pengirimnya. Kebetulan tadi aku hanya membeli satu roti sandwich di dekat halte menunggu angkot, maklum penghematan di kala tanggal tua.
Setelah makan siang dan istirahat aku pun mulai mengajar hingga pukul 14.30.
"Hari ini kita sudahi dulu ya anak-anak"
"Baik, buk " jawab para muridku.
Huh aku menggeliat diatas kursi karna kelelahan dengan padatnya jadwal mengajar hari ini. Sayup terdengar dari kejauhan serasa ada yang memanggil namaku.
"Bu Andin, bu... "
"Iya Bu Mila, ada apa ya? tanyaku.
" Ibu dipanggil kepala sekolah, buruan kesana bu. "Jawab Mila.
Perasaan ku mulai tak karuan tumben-tumbennya Kepala Sekolah memangilku di jam pulang sekolah. Aku mulai memasuki ruangan Kepala sekolah dengan mengambil nafas panjang.
" Permisi bu, ibu memanggil saya"
"Benar bu, silahkan duduk". Ucap Ibu Kepala Sekolah.
" Baik bu".jawabku
" Sehubungan dengan sudah mulainya masuk kurikulum baru, kami melihat ibu memiliki jadwal yang padat dan harus mengajar di beberapa kelas"
Aku mengangguk dengan manisnya.
"Kami memutuskan untuk membagi jam mengajar ibu agar tidak ketereran"Ucap Kepala Sekolah
Hatiku mulai menggerutu pertanda gaji ku akan dikurangi lagi. Namun aku masih memasang wajah palsu ku yang manis.
"Iya bu" .Jawabku.
"Silahkan kesini bapak Ibnu ".
" Iya bu". Jawab Ibnu.
Suara yang ku dengar serasa tidak asing ditelinga semoga bukan dia orangnya. Aku masih duduk manis dengan wajah yang datar.
"Perkenalkan, beliau ini bapak Ibnu Ardianto, Dia merupakan lulusan sekolah seni juga seperti ibu Andin namun dikampus berbeda. Dia sudah memiliki banyak prestasi baik di daerah maupun nasional. Semoga kedepannya kalian berdua dapat bekerja sama memajukan sekolah kita" Ucap Ibu Kepala Sekolah.
Serasa bumi berguncang dan tanganku ingin memukul bantal kursi diruangan itu. Kenapa harus pria ini yang datang membantuku dalam mengajar apa tidak ada guru lain, dengan berat hati aku menjawab.
"Baik, Ibu terimakasih saya ucapkan atas pengertiannya semoga kami bisa bekerjasama ya bu.
" Saya berharap kita dapat mengharumkan nama sekolah ini dan tentunya perlu bimbingan serta bantuan dari Ibu Andin" ucap Ibnu.
"Syukurlah, hati saya senang mendengarkan nya. " Ucap Ibu Kepala Sekolah.
Akupun keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah masam dan kening berkerut.
Oh Tuhan bertemu dia lagi adalah seolah malapetaka yang tak berkesudahan. Tidak cukupkah selama ini mencoba melupakannya.
Mila menghampiri ku dengan rasa penasaran.
"Bagaimana bu Andin? "
"Bagaimana apanya" Jawabku kesal.
"Lah kok malah sewot "
"Kamu sudah tau kan alasan kepala sekolah mrmanggilku " Tanyaku.
"Apaan sich, beneran aku nggak tau " jawab Mila.
Mila adalah salah satu guru yang seumuran di sekolah diluar jam mengajar kami seperti teman namun jika bertemu dikelas kami saling menjaga wibawa didepan murid agar tetap dihargai.
"Kamu masih ingat pria sombong waktu kita pergi perkumpulan guru tahun lalu? " tanyaku.
__ADS_1
"Pria sombong, hmmmm, yang tinggi kurus itu"jawab Mila.
" Bukan... "Ucapaku
"Nah trus yang mana, kan banyak guru pria yang hadir dan kita temui"
"Yang ngemehin kita waktu tugas kelompok, berbadan tegap dan rambut klimis".
" Ya Tuhan.... aku ingat...aku ingat ndin,
Ibnu Ardianto " teriak Mila.
"Hush jangan ngegass bisa nggak, kedengaran malu tau, dia belum pulang" Ucapku.
"Gawat ndin, asli aku nggak ikut campur soal ini ngeliat dia sih memang tampan tapi kalau udah ngomong sombong luar biasa"
"Nah bener banget ditambah lagi dia akan ngajar juga disini dengan mata pelajaran yang sama denganku"
"Aku ingetin ya ndin, hati -hati ntar benci jadi cinta loh".Mila menggodaku.
" Hahaha tidak semudah itu " jawabku.
Aku menyelesaikan semua perlengkapan mengajar dan bergegas untuk pulang kerumah.
Sesampai di halte menunggu angkot tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku.
"Bu Andin, mau pulang ya"
Yah dia lagi Ibnu Ardianto mulai cari muka.
"Iya Pak. Jawab ku.
" Sekalian aja bu saya anterin kita searah loh buk".
Hah dia tau dari mana rumahku sok-sok searah pula (gumamku dalam hati)
"Nggak usah pak lanjut aja"
"Beneran buk, ntar keburu senja nggak baik gadis secantik ibu naik angkot sendirian" Ucap Ibnu.
"Sudah biasa pak, lanjut aja pak".Jawabku.
Ibnu pun berlalu karna tidak bisa mengajaku pulang bersamanya.
***
Ponselku menerima notifikasi chat masuk.
Ibnu: Apa kabar bu Andin?
Ibnu : Udah tidur ya.
Disaat yang menegangkan ini pria sombong ini malah menghubungi ku, aku harus jawab apa ya. Hmmm mendingan tidak usah ku jawab nanti malah hilangin semangat ku untuk membuat soal.
Nada ponselku berbunyi lagi tapi dengan tulisan dilayar kontak Oki. Aku dengan semangat menjawab telfonnya.
"Halo, Oki"
"Lagi pusing ya kamu". Tanya Oki.
" Kok kamu tahu" Jawabku senang.
"Peramal dong"
"Bisa aja " Ucapku tersipu malu.
"Udah makan belum? Tanya Oki.
" Udah, tadi pas pulang aku beli nasi padang"ucapku
"Syukurlah, jangan kecapean dan ganbatte sensei ".ucap Oki.
" Makasih ya, ya udah aku lanjutin dulu".
"Okay".
Awal nggak pakai salam menutup telfon juga sama untuk isinya ngasih semangat. Tanpa sadar aku tertidur didepan laptop yang masih menyala.
***
Malam selanjutnya tanteku pulang dari perjalanan dinasnya membawa oleh-oleh coklat kesukaan ku.
__ADS_1
" Ndin, di kulkas ada cemilan buat kamu"ucap Tante Diana.
"Baik tante"
Aku membuka kulkas terlihat di bungkusan bewarna biru dan merah. Coklat kesukaan ku yang hanya ada dijual di negara tetangga.
Jujur harganya lumayan mahal tapi sesuai dengan rasanya yang enak. Hatiku senang tante membawa kan ku coklat ini.
"Makasih tante". Sambil memeluk tante Diana.
" Iya, sama -sama. Proses mengajar masih lancar "tanya tante Diana.
" Lancar tan, "
"Denger-denger dari Kepala Sekolah ada guru baru "
Dasar Kepala sekolah mulut besar semua diberi tahu kepada tante ku. Tante Diana berteman dengan Kepala sekolahku ibu Tati karna kebaikan tante ku inilah aku bisa mengajar disekolah yang sekarang. Sayangnya Ibu Tati tidak bisa menyimpan rahasia selalu melaporkan tentang diriku pada tante saatku disekolah. Aku menjawab dengan tersenyum sambil memakan coklat.
"Ganteng nggak, baik nggak ndin? " Tanya tante Diana.
"Mulai nih tante kepo, namanya guru baru, belum ngajar, mana tahu wataknya gimana" jawabku dengan nada malas agar tidak ditanya lagi.
"Bener juga ya, semoga ini pertanda baik ya ndin".ucap Tante Diana.
" Ehmm... Semoga tan"
Aku pun sengaja menjawab dengan singkat karna kalau aku jawab dengan santai tante malah semakin gencar bertanya. Kami melanjutkan nonton televisi bersama sambil memperdebatkan sinetron yang kami saksikan.
***
Pagi ini merupakan hari terakhir ujian semester awal aku merasakan sebentar lagi hari libur menyapa walau hanya satu minggu. Walaupun sebelum libur ada acara class meeting sebagai penghibur murid setelah lelah menguras isi otak. Mila duduk disampingku saat acara mengumpulkan murid di aula.
"Gimana ndin patner sama pak Ibnu" tanya Mila.
"Biasa aja, nggak ada yang istimewa" jawabku ketus
"Nggak boleh gitu ndin, kayaknya dia baik buktinya para murid pada senang sama dia". Ucap Mila.
" Syukurlah kalau gitu".ucapku.
Mata Kepala sekolah melirik kepada kami dengan tajam dari arah atas panggung aula.
Kami pun terdiam seribu bahasa mendengarkan arahan dari Kepala sekolah yang berisikan motivasi dan semangat untuk murid serta tidak lupa selalu semangat saat mengucapkan harus bayar uang sekolah tepat waktu. Maklum sekolah kami bukan sekolah negeri merupakan Sekolah Dasar (SD) Swasta yang tidak dipungkiri mengharapkan yang dari para murid selain adanya dana BOS serta donasi. Acara selesai kami kembali ke aktivitas masing-masing. Suara lirih terdengar disamping telinga sebelah kananku.
"Bu Andin.. "
Aku menoleh ke samping dan membentur pundak seorang pria yang ternyata adalah Ibnu Ardianto.
"Iya.. "
"Maaf Bu andin, telah mengagetkan" Ucap Ibnu.
"Aduh, nggak kok".Jawabku sambil megang keningku.
" Sakit nggak bu? ".Tanya Ibnu.
" Dikit, tapi nggak papa pak".ucapku.
Lebih baik ku tahan sakit ini dari pada dia mengambil kesempatan untuk bisa dekat denganku.
"Selamat bu Andin kita bisa bekerjasama dengan selama lebih kurang enam bulan ini"
"Iya Pak. Semua berkat kerjasama semua pak".ucapku.
" Bener juga" Jawab Ibnu dengan nyeleneh.
"Kapan-kapan kita rayakan yuk Bu agar kita lebih semangat lagi di semester berikutnya".
" Nggak usah pak, ini semua sudah kewajiban kita sebagai guru, pahlawan tanpa tanda jasa, harus iklas".ucpaku agar menyudahi pembicaraan.
"Kenapa Bu Andin tidak balas pesan dari saya? "Tanya Ibnu
"Selain urusan sekolah saya nggak bisa balas pak takutnya nanti ada kesalah pahaman, kan nggak enak. jawabku.
Ibnu mengerutu dalam hati karena Andin selalu menjawab dengan tepat semua pertanyaan darinya tanpa ada celah untuk dirinya merayu Andin.
" Baiklah bu Andin saya ke perpustakaan dulu"
"Ya Pak, silahkan" Ucapku.
Perasaan ku lega karna bisa menjawab semua pertanyaan dari Ibnu dengan baik seolah aku mengikuti kuis televisi yang sudah hampir kehabisan pilihan bantuan untuk menjawab dan akhirnya aku menang. Ibnu kelihatannya penasaran sekali dengan diriku, jujur selama bekerjasama aku menjaga profesionalitas kerja agar semua program berjalan dengan baik.
__ADS_1
***