
Seolah sesuatu menyentuh pundak ku. Aku menoleh ke arah belakang dan ternyata.
"Hai, Bu Andin "
"Pak Ibnu".Ucapku tersenyum dan heran.
" Kenapa bapak bisa kesini? ". Tanyaku.
" Anda tidak sadar kita satu kapal, fokus banget lihat lautnya" Ucap Ibnu.
"Ah, jadi malu saya pak " Jawabku.
Kami pun berjalan diantara kerumunan penumpang lainnya. Akhirnya aku dapat menginjakan kaki ku di negeri ini serasa mimpi tapi nyata. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati minuman dingin di sebuah resto dekat dermaga.
"Segernya... Hmmm" Ucapku.
"Disekolah kita jarang ketemu, giliran ketemu diluar saat seperti ini ya buk Andin"
Ibnu memulai pembicaraan agar tidak terlihat kaku. Aku pun seolah-olah tidak mendengar perkatannya.
"Bu Andin, masih mabuk laut "
Sekali lagi dia memukul pundak ku.
"Nggak kok" Ucapku.
"Saya tadi ngomong Ibu nggak denger, oke sekarang saya umur ibu berapa "
"Coba tebak " Ucapku sambil tertawa.
"Dua puluh tiga tahun" Jawab Ibnu.
"Makasih ya aku masih terlihat muda".jawabku senang.
" Nah trus berapa " tanya Ibnu lagi.
"Tahun ini dua puluh lima tahun" Jawabku.
"Umurku nggak jauh beda, biar lebih santai kita panggil nama aja"
Ibnu mengulurkan tangganya kepadaku seraya mengajak berkenalan.
"Namaku Ibnu, sebelumnya kita nggak pernah kenalan secara resmi"
"Namaku Andin" Ucapku sambil tersenyum.
Entah apa yang kurasa saat itu gunung salju sudah mulai meleleh, ternyata Ibnu tidak secuek yang ku kira. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri kota dengan MRT (Mass Rapid Transit) dan mengunjungi sebuah destinasi taman yang miliki berbagai bunga dan wisata lainnya.
"Tolong fotoin saya pak " Sambil memberikan handphone kepada Ibnu.
"Panggil Ibnu dong"ucap Ibnu.
"Iya, Ibnu " Jawabku.
"Nah, enak denger kayak udah tua aja akunya".
Kami sibuk berfoto - foto mengabadikan momen yang ada. Kami pun menyusuri sebuah Mall sambil mengisi perut. Aku melihat seperti nya menu disini tidak jauh beda dengan kota ku. Kami memesan dua porsi laksa dan dua buble tea.
" Capek nggak kamu ngikutin aku" Tanyaku.
"Nggak malahan happy, sudah sekian lama aku nggak jalan keluar daerah apalagi sama wanita"ucap Ibnu.
Hampir minuman keluar dari sedotannya.
" Kenapa ndin"
"Nggak ada, keselek aja karna buble nya".ucapku mengalihkan pembicaraan.
" Pelan-pelan minumnya".ucap Ibnu.
Dalam hati bertanya kenapa tiba-tiba Ibnu perhatian padaku, anggap saja ini menghangat kan suasana. Aku nikmati saja momen ini nggak mau mikir yang nggak penting.
"Lumayan enak makananya, bagusnya difoto dulu dari pada keburu habis " Ucap Ibnu.
"Bisa alay juga ya kamu" Sindirku.
__ADS_1
"Sayang kan nggak diabadikan apalagi makan nya sama kamu" Ucap Ibnu sambil memoto makanan nya.
"Beh... " Jawabku.
"Kayaknya kita nanti nggak bisa pulang hari ini, kamu udah mesen hotel? " Ucap Ibnu.
"Udah, kebetulan aku di pesenin dua kamar sama tante" Jawabku.
"Oh jadi kamu udah dibayarin sama tante kamu, dasar hidup gratisan"
"Bukan nya bilang terimakasih malah ngejek" Ucapku dengan kesal.
"Udah, jangan marah bisa nggak kamu jadi orang yang mudah emosian nanti darah tinggi" Ibnu meledek ku.
"Kamu aneh ya, kadang baik kadang ngeselin mana ada perempuan yang bisa tahan dengan pria kayak kamu " ucapku.
"Kalau ternyata ada gimana?.
" Ya bagus berarti dia berhati malaikat sabar tiada batas" Jawabku.
"Semoga secepatnya aku bisa menemukannya"
"Ehmm" Ucapku.
Jiwaku meronta menghadapi pria aneh seperti Ibnu. Tak terasa kaki mulai lelah menyusuri jalan kota dan kuputuskan untuk masuk kedalam sebuah hotel yang sudah dipesan tanteku.
"Puas jalan- jalannya "
"Lumayan sih capek" Jawabku.
"Ditanya apa jawaban nya lain pula" Ucap Ibnu.
"Kamu cerewet ya kayak tanteku"
"Beda ya "
"Udah deh kita check-in kamar masing-masing, jangan ganggu aku lagi " Nadaku mengancam.
"Iya, tidur yang nyenyak ya ".
Aku berlalu dan masuk kamar hotel selanjutnya membersihkan diri. Sebelum tidur rugi tidak melihat keindahan kota ini dimalam hari, ponsel ku berbunyi.
"Bisa sopan nggak jawab telfonnya"
"Capek tan, jalan dari tadi" Ucapku.
"Sama Ibnu "
"Kok tante tau".ucapku kaget.
" Lihat status nya dia dong"
"Status... " Jawabku bingung.
"Wait tan.. Aku matiin bentar telfonnya".
Aku membuka status Ibnu di media sosial nya.
Dasar pria tidak sopan ambil foto aku diam-diam.
" Halo tan... Maaf tadi aku matiin bentar, kenapa tante bisa temenan sama Ibnu"
"Kamu belum tahu ya atau tante belum pernah cerita"ucap Tante Diana.
" Cerita tentang siap tan"
"Ibnu adalah adik dari salah satu teman tante dikantor, dia anaknya sekilas terlihat cuek tapi didalam nya sangat perhatian dan penyayang. Ucap Tante.
" Oh" Jawabku.
"Cuman Oh, kamu marah sama tante"
"Nggak, dari awal sudah curiga sih"
"Ternyata feeling ku benar"
__ADS_1
"Yang mana bener" Ucap tante.
"Pesen dua tiket kamar hotel, atau jangan jangan semua ini rencana tante"
"Mungkin"
"Andin, kamu udah tante anggap sebagai anak lagian juga nggak tega liat kamu kemana-mana sendiri dan juga umur kamu udah dua puluh lima tahun" Jawab tante.
"Aku paham tante, mataku mulai ngantuk, aku tidur dulu ya tante"
Aku menutup telfon dengan salam serta ucapan selamat tidur. Malam ini tubuh ku terasa lemas dan kaki merasa kram seharian berjalan. Masih menjadi beban dipikiranku ucapan dari tante ada benarnya. Tapi kenapa harus Ibnu. Malam mengantarku ke dalam tidur yang penuh gelisah.
***
Mentari pagi seolah tak bersahabat denganku dan aku terlambat bangun. Aku mandi dan mengemasi semua barang karna setelah sarapan aku harus belanja dan kembali ke kotaku.
"Nyenyak tidurnya ya" Ibnu sudah duduk disamping ku.
"Lumayan" Aku menjawab singkat sambil memakan roti.
"Mau aku ambilkan buah-buahan "ucap Ibnu.
"Boleh " Jawabku.
"Nih, kamu suka melon kan "
"Kok kamu bisa tau" Tanyaku dengan kening berkerut.
"Nebak aja"
"Oh"
"Bilang makasih dong, udah aku ambilin"
"Thank you"
"You are welcome" Jawab Ibnu.
Setelah sarapan kami singgah ditempat membeli oleh - oleh. Disana aku membeli baju, asesoris, coklat dan makanan lainnya. Aku memilih berbelanja sendiri dan tidak ingin selalu dibuntuti Ibnu. Kesal sekali rasanya semalam tante membahas tentang dia. Masih zaman sekarang pakai acara dijodohin sama orang seperti dia. Ponsel ku berdering.
"Andin, bisa ke toko sebelah nggak" Tanya Ibnu.
"Ngapain aku kesana " Jawabku
"Bentar "
Aku kekasir membayar semua belanjaan ku dan mendatangi tempat Ibnu.
"Ini buat kamu" Ucap Ibnu sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Apaan ini"
"Buka dulu" Ucap Ibnu pelan.
"Gelang, untuk apa" Sambil kuberikan kembali kepada Ibnu.
"Kamu nggak suka, atau mau milih model yang lain ".ucap Ibnu.
" Nggak usah "
"Aku pulang keluar dulu".
Ibnu berlari mengejar ku namun aku bersembunyi di sebuah toko agar tidak ditemukan. Aku tidak ingin sepulang dari sini membawa kesalah pahaman antara aku dan Ibnu. Walaupun sebenarnya sudah tau semua yang terjadi bukan karena kebetulan tapi sudah direncanakan oleh tanteku. Ke tempat ini adalah salah satu keinginan ku selama bertahun-tahun tapi karna tak ada waktu dan kesempatan selalu diundur. Giliran waktunya tepat malah seperti ini. Aku pun sampai dirumah dengan selamat.
"Wah, Andin sudah pulang "
"Seneng nggak liburannya " Ucap tante Diana
"Seneng, makasih ya tan" Jawabku sambil memeluk tante.
"Akhirnya salah satu anganku terwujud bisa ke negara tetangga walaupun hanya dua hari hehehe"
"Tante akan selalu membuat kamu bahagia" Ucap tante.
"Hmmm aku terharu tante. Ucapku.
__ADS_1
Aku pergi ke kamar membersihkan diri dan istirahat sejenak dan membiarkan semua barang bawaan ku berantakan sungguh melelahkan liburan ini ditambah lagi dengan pertemuan dengan Ibnu.
***