
Sore ini adalah jadwal aku menjadi juri event di Mall. Aku memasuki mall dan menemui kak Andika kami berdiskusi sejenak karena event kali ini adalah fashion show remaja.
"Ndin nanti mereka temanya gaun malam rata-rata peserta yang ikut sudah pengalaman di bidangnya tapi kita tetap objektif tidak tahu apa yang nantinya terjadi di stage" ucap Kak Andika menjelaskan padaku.
"Baik kak, saya akan berusaha melakukan yang terbaik, menilai dengan objektif " ucapku dengan semangat.
Aku menuju meja penjurian tak lama Jeni muncul dengan gaya fashion yang sesuai dengan tema lomba kali ini. Aku tak heran karena dia memang seorang model . Kami berbincang seperti biasa agar tidak terlihat kaku. Hingga di akhir kalimat Jeni mengucapkan sesuatu.
"Setelah event kita ngobrol bentar ya ndin " ucap Jeni nada raut wajah sinis.
"Oke Jen kita ngobrol di cafe di Mall ini aja" ucapku santai.
Kami menyaksikan penampilan para model yang berlomba berjalan di catwalk memamerkan gaun malam dari designer dengan berbagai macam pose. Tibalah waktu pengumuman pemenang ini lah hal yang paling menegangkan. Pembawa acara mengumumkan peringkat juara dari event kali ini.
"Baik Juara pertama pada event kali ini dengan nomor peserta dua puluh limakami persilahkan untuk naik ke stage" ucap Pembawa Acara.
Semua penonton bertepuk tangan dan berteriak dengan senang hati karena pemenangnya sesuai dengan pilihan mereka. Tiba-tiba datang tiga orang wanita menghampiri kami berdua.
"Kok juri nya nggak adil, seharusnya nomor lima yang juara pertama" ucap salah satu wanita berparas hitam manis ini dengan kesal.
"Memang peserta nomor bagus kak tapi masih ada sedikit kekurangan dari cara dia berpose kurang ada jiwanya dan cara jalannya dilatih lagi ya kak" Jawab Jeni dengan bijaksana.
Dalam hati ku berucap syukurlah Jeni bisa menjawab komentar dari penonton ini dengan tepat.
"Baiklah kalau begitu" jawab dari salah satu wanita bertiga ini berparas kuning langsat.
Mereka pun berlalu dan pergi meninggalkan kami. Dari hal ini aku melihat selain cantik Jeni juga wanita yang pintar. Akupun jadi minder berada di dekatnya. Kami berjalan menuju sebuah cafe yang tak jauh dari tempat acara.
"Aku yang traktir ya ndin, tenang semua udah aku order kita tunggu aja ya" ucap Jeni dengan tersenyum.
"Baik Jen, tumben kamu mau traktir aku ada apa?" tanyaku dengan nada serius.
__ADS_1
"Pesanannya sudah datang kita makan dulu sayang dilihatin aja" ucap Jeni mengalihkan pembicaraan.
Kami memakan makanan yang telah di pesan makannya enak dan jujur perasaan ku berkata ini adalah makanan mewah yang mahal bagiku.
"Oke, aku lansung ke topiknya setelah aku amati kamu sudah mulai mendekati Ibnu" ucap Jeni dengan tatapan tajam melihat ku.
"Nggak kok, kami masih berteman seperti biasanya" jawabku santai sambil menyedot lemon tea.
"Ini apa masih mau mengelak lagi" ucap Jeni dengan nada marah sambil memperlihatkan foto-foto saat aku kemarin makan malam bersama Ibnu.
"Oh ini aku bisa jelasin Jen, tenang dulu" ucapku dengan nada cemas.
"Perempuan nggak bermoral, berhijab tapi ngerebut pacar orang, denger ya kamu nggak akan bisa dapetin dia selagi ada aku" ucap Jeni nada setengah berteriak sambil menyiramkan ari lemon tea yang ada di depan ke wajahku.
Semua mata memandang ke arahku seolah-olah aku menjadi ratu yang paling menyedihkan pada hari itu. Hijab ku basah Jeni pergi tanpa kata dengan emosi. Aku mencoba mengendalikan diri agar tidak terlihat memalukan dan menyedihkan.
Aku memberikan isyarat pada semua mata yang melihat bahwa aku baik-baik saja. Aku berdiri berjalan perlahan meninggalkan cafe itu dengan menguatkan jiwaku agar tidak turun hujan air mata ini.
Aku memasuki sebuah toko baju yang di depannya telah terpanjang patung dengan pakaian one set plus hijab tanpa pikir panjang aku bilang ke pelayannya.
"Mbak, aku pilih yang baju di patung ini yang warna hitamnya" ucapku sambil menahan air mata.
"Baik mbak silahkan tunggu dikasir" ucap pelayan dengan ramah.
Aku menuju kasir toko dan mrmbayar pakaian yang tadi dipilih tak lama aku masuk ke dalam toilet wanita untuk mengganti pakaian ku yang absah karena Jeni. Di depan kaca aku merapikan riasan ku. Aku memesan taksi online dan menuju keluar pintu mall sambil menunggu taksi tersebut.
Tak lama taksi tersebut datang dan aku menaiki taksi dengan hati yang masih kacau.
"Kenapa mbak murung saja" ucap sopir taksi dengan nada Bataknya.
"Nggak ada apa pak" ucapku lemas.
__ADS_1
"Terkadang kita berhak untuk memilih mana yang terbaik untuk dijalani dalam hidup ini mbak walaupun pilihan itu berat" ucap sopir ini dengan bijak.
"Wah si bapak sok tahu" ucapku malu.
"Saya sudah menjalani penderitaan hidup dari mbak dari umur kita sudah seperti beda jauh" ucap sopir taksi.
"Iya pak yang fokus saja bawa mobilnya" ucapku kesal.
"Baik mbak ini ada sebuah lagu untuk mbak, kenangan terindah dari samson" ucap sopir taksi.
Lagu yang di putar bukannya menghiburku malah semakin membuat hati makin sedih ditambah lagi sepanjang jalan pulang dipikiran ku hanya ada mimpi buruk kala itu ternyata benar adanya.
Aku sampai didepan rumah dan membayar taksi melalui aplikasi. Aku menaiki tangga rumah yang melelahkan ini.
"Ada apa ndin" tanya tante Diana.
"Galau tan" ucap ku singkat.
"Karena apa coba cerita ke tante" ucap tante diana khawatir.
Aku menceritakan semua kejadian tadi kepada tante.
"Baiklah dia mau cari masalah sama kamu, tante nggak bisa diam saja" ucap tante Diana geram.
"Udahlah tan, biarkan aku selesaikan sendiri besok aku coba tanyakan sama Ibnu apa yang sebenarnya terjadi antara Ibnu dan Jeni. Nanti kalau tante ikut campur malah aku yang diketawain Jeni nanti dia makin ngelunjak" ucapku.
"Oke tante tunggu hasilnya kalau masih belum clear mari kita nanti bicara tatap muka dengan dia nggak zaman lagi sekarang pakai cara busuk seperti itu melawan orang, apalagi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi" ucap tante Diana dengan nada marah.
Aku berjalan dengan lunglai menuju kamar dan membersihkan diri. Aku melihat ponselku siapa tahu ada pesan masuk atau duit masuk. Ternyata ada pesan dari Ibnu yang menanyakan kabarku.Sepertinya dia belum tahu kejadian tadi sore. Tak lama melihat pesan aku melihat sosial media.Ya Tuhan ternyata ada yang merekam kejadian tadi.Apa yang harus aku lakukan huh beratnya beban hidup hari ini tak sadar telah kembuat diriku terbujur kaku diatas sofa.
***
__ADS_1