
Virginia turun dari taxi dengan melakukan penyamaran, ia tau benar kalau dirinya harus menyembunyikan identitas, anak buah Zayden pasti sedang mencarinya dan ia tak akan pernah membiarkan mereka menemukannya tidak... tidak akan pernah...
Virginia melangkah memasuki gedung, ia memakai topi dan rambutnya di gerai menutupi sebagian wajahnya...dan benar saja, Virginia harus menghindari beberapa anak buah Zayden yang lalu lalang...
itu artinya Zayden sudah tau kalau dia melarikan diri dari Hotel..karna itu Virginia berusaha kuat untuk melangkah hati-hati... begitu sampai di lift hati Virginia merasa lega karna hanya ada seorang pria yang berada disana...Virginia melangkah masuk dan berdiri sedikit jauh namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok Simon yang menahan pintu lift yang hendak tertutup..Virginia gemetar hingga tak sadar ia membalikan tubuhnya membelakangi lift..wajahnya pucat pasi..yah..memang simon pernah melepaskannya di Hotel namun, kali ini ada banyak anak buah yang ikut tak mungkin Zayden bisa membungkam mereka...
Namun tanpa di duga Virginia...pria yang tadi sudah berada lebih dahulu di lift menarik tubuhnya dan mendekapnya dengan posesif....
''Aaarrrggghhh......'' desah Virginia ketakutan di peluk seorang pria asing yang sama sekali tidak di kenalnya..
Deg!!!!
Pria itu mendekatkan wajahnya...dan berbisik di teliga Virginia dan menenangkannya,..
''Aku Wiliam,...peluk aku atau kau akan tertangkap..''
Nafas Virginia terasa sesak namun ia lega karna Wiliam yang memeluknya..ia tak punya pilihan dan harus menerima usulan Wiliam ketika sadar Simon dan beberapa anak buah lainnya tampak menaiki lift...
Virginia memejamkan matanya dan semakin mempererat pelukannya pada Wiliam...
Sementara Simon menatap kedua anak buahnya dan berdehem..
''Kita akan menghentikan pencarian di rumah sakit karna tuan Drake sudah meninggal...tuan Zayden tidak menerima kegagalan jadi...pastikan kalian tidak membuang waktu..''
Mendengar ucapan Simon membuat Virginia begitu terkejut dan mengangkat wajahnya menatap mata Wiliam dengan rasa terkejut bukan main..Virginia ingin meronta namun Wiliam menggeleng..ini bukan saatnya...
Airmata Virginia berderai dalam diam, wajahnya di benamkan di dada Wiliam, dan hatinya teramat sakit...bagaimana mungkin kakaknya....??
Ting!!!!
Simon dan lainnya keluar dari lift meninggalkan Virginia yang tak mampu membendung semua perasaannya hatinya hancur berkeping-keping dengan tangisan yang pecah..
''Katakan itu tidak benar Wiliam..katakan....''
Wiliam membeku di tempatnya..lalu kembali menekan di lift dan pintu tertutup..
++++++++++++
Mobil milik Wiliam menepi di sebuah lokasi pemakaman yang mahal, pria itu mematikan mesin mobil dan menatap Virginia yang masih syok dan lemah...dia sempat pingsan beberapa jam dirumah sakit dan Wiliam menemaninya dan membawanya keluar ketika dia siuman...dia tak ingin mengambil resiko kalau anak buah Zay akan menemukan mereka...
Hening...
Wajah Virginia pucat pasi, airmatanya terus turun dan membuatnya tampak kacau..sorot matanya kosong...
__ADS_1
''Dua hari lalu..tepatnya resepsi pernikahanmu, Drake mengalami penurunan kesadaran..aku sebenarnya akan menghadiri pesta itu namun dokter menghubungiku...''
Virginia menoleh dengan sisa airmata yang menggenang...
''Bagaimana bisa Dokter menghubungimu...''
Wilam menghela nafas....
''Sebenarnya ketika kau pulang aku menemui Drake dan dokter..kami bicara dan saat itu aku mengambil alih keperawatan Drake..dan meminta dokter untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu...tapi bukan berarti dokter tidak menghubungimu hanya saja...ponselmu tidak aktif, termasuk ketika mengatakan kepadamu berita kematian Drake...''
''Oh,...Tuhan...'' airmata Virginia menetes lagi dan lagi..
Bukankah dia juga jahat...bagaimana bisa karna ketakutannya kepada Zayden, malah membuat kakaknya sekarat dan meninggal tanpa ia tau...
''Dia baik-baik saja waktu aku tinggalkan...''isak Virginia dengan isakan sedih yang menyayat hati..
''Sebenarnya dia tidak baik-baik saja Virginia...kakakmu sudah mengalami pendarahan di kepala dan tak mungkin tertolong...kesadarannya adalah mujizat seperti sebuah ucapan selamat tinggal karna dia terlalu mencintaimu...''
Virginia kehilangan kata..hidupnya sudah hancur sekarang...matanya memandang sebuah makam yang masih baru tampak tak jauh dari matanya..gadis itu lalu melangkah turun dari mobil di ikuti Wiliam yang terus mendampinginya melangkah mendekati area makam dengan langkah yang berat..Wiliam menuntun tubuh Virginia yang kehilangan tenaganya..
Semakin dekat dengan makam airmata Virginia semakin deras saja...
''Kakak akan menungguku...mengapa begini..'' suara Virginia menjadi serak..sementara Wilam hanya diam dan memeluk Virginia mendekat makam milik Drake yang masih basah..
Virginia memeluk nisan sang kakak dengan jeritan sakit hati...tak pernah di bayangkannya kalau kakaknya juga pergi meninggalkannya setelah sang ibu..bagaimana bisa ini terjadi..bagaimana bisa ia di tinggalkan seperti ini, bagaimana bisa...??
''Virginia....''
''Ini kesalahanku...tak seharusnya aku meninggalkan kakak...tidak seharusnya aku meninggalkannya...'' jerit Virginia dengan tangisan pedih..
Wiliam pun ikut menjatuhkan dirinya di samping Virginia dan merengkuh tubuh lemah itu dan menenangkannya..
''Kau harus tegar Virginia...Drake akan sedih jika kau seperti ini...''
''Tidak....aku tak bisa kehilangannya Wiliam..bagaimana hidupku tanpanya..aku bahkan sendirian...aku sendirian...''
Virginia menatap nisan yang bertuliskan nama sang kakak dengan tatapan hancur...
''Kakak...bagaimana aku bisa hidup tanpamu..bagaimana bisa....'' tangis Virginia dengan rasa sakit yang menyiksanya...
''Virginia...''
''Lepaskan aku....aku ingin disini menemani kakak...''
__ADS_1
''Kau masih lemah..dan kau tau bahwa anak buah Zayden sedang mencarimu...''
Virginia menoleh...dendamnya begitu besar pada Zayden...
''Ini semua karna dirinya..ini karna dia...aku kehilangan segalanya..aku kehilangan segalanya..'' jerit Virginia sedih..
''Kita akan kembali kesini Virginia,...kita akan kembali.,..tapi untuk sekarang kau harus bersembunyi..ayo kita pulang Virginia...'' ucap Wiliam menarik lengan Virginia dan berdiri sejajar dengannya...
''Tapi aku tak bisa meninggalkan kakak...''
''Kita akan kembali Virginia...kita akan kembali, kau tau apa alasan aku menguburkan Drake jauh dari kota untuk menghindari Zayden...karna itu kau harus ikut aku sekarang...''
Virginia akhirnya menganggukan kepalanya ian tak punya pilihan selain mengikuti Wiliam saat ini...keduanya lalu bergegas meninggalkan pemakaman itu dengan cepat...
+++++++++++++
Sudah 3 hari total waktu Virginia menghilang tanpa jejak dan hal itu membuat hari-hari Zayden berubah, meski tak mau tapi ia tak bisa begitu saja melupakan Virginia...
Pria itu tenggelam dalam frustasi yang dalam ketika bahkan dengan kekuasaannya ia tak bisa menemukan jejak Virginia...
Pintu di ketuk dan seseorang masuk mendekatinya...
Simon menundukan kepalanya...di hadapan Zayden...
''Tuan Zayden....''
Pria itu menatap dengan malas pada panggilan Simon...
''Katakan pada sekertarisku kalau aku tak akan masuk kantir seminggu ke depan...''
''Tidak...aku mendapatkan sebuah surat titipan dari nyony Virginia...''
Kali ini Zayden mengangkat wajahnya, ia bangkit dengan senyuman yang tak bisa di tahannya..
''Dimana Virginia...dimana...''
''Tuan Zayden..nyonya Virginia tak ada,..hanya seorang utusan yang memberikan surat ini lalu pergi....''
Deg!!!
Zayden ingin marah namun...pada siapa, terpaksa ia menerima surat pemberian Virginia dan menggenggamnya dengann erat,..
Hatinya berdebar ketika membuka surat itu...
__ADS_1