Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Awal Kehancuran (Bagian I)


__ADS_3

"Tak peduli seberapa terluka dan hancur dirimu, dunia tidak akan berhenti untuk mengasihanimu. Tak peduli bagaimana putus asamu, dunia takkan akan berduka untukmu. Hanya ada dua pilihan, yakni membiarkanmu mati atau tetap melangkah untuk menjalani hidup. Kamu pilih yang mana?”


Suasana siang ini sangat terik, aku pandang hiruk pikuk pinggiran perkotaan dari dalam apartemen yang menjadi tempat singgahku ketika ada keperluan disini. Kota kecil ini, menjadi tempat awal dimulainya penderitaan sebagai seorang manusia, hingga berhasil menyingkir menuju pulau jawa. Semua memori terburuk dan terbaik tersimpan begitu rapi dalam memori ingatan, memori yang membuatku rindu tapi disisi lain membuatku benci, yaa.. rindu dan benci dalam waktu bersamaan yang sering membuat bingung ketika harus memilih membenci atau merindu saja. Kita sering lupa waktunya tapi selalu ingat peristiwanya, itu benar adanya. Saat aku mengingat detail waktunya, aku lupa awal kisah tragis itu, saat tangan kekar menjamah tubuh mungil anak usia enam tahun.


“Sayang, ayo istirahat, nanti sore kita harus pulang ke rumah.” Suara lembut suami membuyarkan lamunanku.


“Iya sayang.” Responku singkat sembari berjalan kearah tempat tidur untuk istirahat.


Tatapan teduh laki-laki yang sudah tiga tahun menjadi suamiku begitu menenangkan, seorang laki-laki yang bersedia menerimaku apa adanya, termasuk kisah tersuram masa lalu karena baginya masa depan itu lebih penting. Aku merasa dia adalah kado istimewa setelah duka menyapa berulang yang membuatku putus asa, membuatku bertanya pada Tuhan apakah masih ada laki-laki yang baik untukku?. Aku mengenalnya saat hidup terasa melelahkan, saat pengakuan dosa dan permohonan ampunan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Aku ingin lebih dekat dengan Tuhan dan ingin menjadi bagian dari hamba-hamba yang dicintai Tuhan. Saat ini aku berbaring disamping suamiku, tapi ingatanku mengenang pristiwa masa lalu.


Aku dilahirkan dengan memiliki dua kakak, satu perempuan dan satu laki-laki. Mereka berdua memiliki sahabat dekat yang sering ke rumah, sahabat sudah seperti keluarga, bahkan orangtua pun saling mengenal. Saat kakak laki-lakiku memiliki sahabat yang sering ke rumah, aku merasa kakak laki-lakiku bertambah dengan hadirnya bang obi dan bang egi. Tapi siapa sangka, bang egi menjadi bumerang bagiku, saat perbuatan bejadnya dia lakukan padaku. Aku terkenal dengan paras yang cantik bahkan ada yang sampai ingin menjadikanku anak angkatnya, hal itulah yang membuat orangtua lumayan posesif, meskipun masih anak-anak, dari segi pakaian harus tertutup.


“Enak kan ya.” Ucap bang egi yang memangkuku dengan keadaan celana terbuka.


Dia begitu menikmatinya, sedangkan aku tak ingat dulu seperti apa, yang ku ingat kejadian itu beberapa kali, bang egi bilang itu mainan yang enak, tapi tidak semua bisa bermain makanya harus dirahasiakan agar tidak ada yang iri padaku. Dia duduk di kursi sembari memandang keluar jendela, sedangkan aku dipangkunya, tepat di kamar kakak laki-lakiku. Aksi ini dilakukan saat rumah dalam keadaan sepi, aku yang tengah bermain diajaknya untuk bermain mainan ini. Tapi, tindakan itu terhenti, entah ketahuan keluarga atau bagaimana, yang pasti mainan enak tidak dia lakukan lagi. Disaat itu pula, aku kehilangan ingatan terkait hal ini, hanya sedikit sekali yang teringat dan keluarga bungkam tidak ada yang membahasnya, entah mereka sengaja merahasiakan atau memang tidak tahu.


Bang egi masih seperti biasa, masih berkunjung ke rumah, masih berteman dengan kakakku. Aku yang tidak bisa mengingat dengan sempurna tidak begitu mempermasalahkan kehadirannya karena belum paham kalau yang dia rampas adalah mahkota sebagai perempuan. Apakah setelah pristiwa itu aku normal? Tidak, aku merasa takut dan kadang ada keinginan permainan tersebut, tapi saat itu aku berhasil mengendalikan diri, bukan karena paham hal itu tidak baik, tapi karena tidak mau melakukan permainan itu lagi.


Aku tumbuh dengan baik, tentunya karena orangtuaku merawat dengan baik, masa remaja ku habiskan waktu di sekolah dengan segala kegiatan akademik serta eksulnya dan menjadi bagian dari siswi berprestasi di sekolah, saat SMP aku tidak pacaran, hanya menyukai seseorang dalam diam, si kakak kelas yang populer. Bang egi sudah menikah dan memiliki anak, sikap bang egi biasa, masa inilah saat bertemu dengannya potongan ingatan pahit muncul karena hal itu adalah pelecehan seksual, hal yang tidak pernah ku ceritakan pada keluargaku. Aku membencinya, terlebih saat melihat anak perempuannya, rasanya ingin menyumpahi supaya mengalami apa yang ku alami, segera tertepis karena tak adil jika anak itu menanggung dosa kebiadapan ayahnya. Tapi, bukankah karma tidak selalu menimpa si pelaku? Bisa saja orang yang disayangi pelaku? Tiba-tiba aku tertawa lirih, membayangkan bang egi menangisi anaknya, membayangkan bang egi tersadar dan meminta maaf sembari berlutut padaku.

__ADS_1


Pelecehan seksual yang terjadi saat usia enam tahun berdampak makin parah, semakin bertambah usia maka semakin menutup diri, pendiam, murung, parno, dan pendendam. Saat remaja aku merasa laki-laki melihatku dari nafsu saja, bukan karena mengasihiku, itulah kenapa memilih tidak memiliki pacar. Entah ini hanya perasaan atau kenyataan, karena memenuhi syarat keduanya, ketika hal tragis terulang lagi, begitu menakutkan hingga sempat ingin membunuh orang itu.


Berawal ketika usiaku 17 tahun, saat itu ada kewajiban PKL dari sekolah bidang sosial, yang dimana kami dibagi perkelompok kemudian ditempatkan ke desa-desa pelosok selama 30 hari. Aku memperoleh desa yang berjarak dua jam dari kota yang dimana sepanjang menuju lokasi dipenuhi hutan serta perkebunan, semakin mendekati desa semakin tidak ada sinyal. Tinggal bersama keluarga yang baik, selayaknya keluarga maka saling membantu, lebih tepatnya sadar diri karena menumpang di rumah keluarga itu selama PKL. Sang bapak memiliki anak laki-laki yang belum menikah, aku dikenalkannya, ini untuk pertama kalinya mau menerima yang kemudian menjadi hubungan spesial, berhubung sang anak masih di pertambangan maka tidak bisa sering bertemu.


Tidak terasa sudah satu tahun hubungan kami, usia kami jaraknya 12 belas tahun dan dia seorang duda tanpa anak. Waktu itu alasan mau menerima karena terbawa haru kisah hidupnya yang dramatis, kagum dengan upayanya untuk sukses. Ketika aku dan saudaranya berkunjung ke rumahnya, sempat menginap karena ketika akan pulang hujan badai. Orangtuanya di rumah tinggal bertiga dengan adik perempuannya yang masih remaja.


Suara pintu seperti ada yang membuka perlahan, mataku yang sangat ngantuk spontan terbuka. Aku segera beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba tubuh kekar pria mendorongku ke kasur, menerkam dengan kasar sembari mencium bibir dengan brutal, aku langsung melawan menggunakan kekuatan lemah pasca bangun tidur, akhirnya mampu melawan meskipun awalnya nyaris kalah, kemenanganku menyisakan memar akibat terkamannya. Aku berlari keluar kamar sembari bertanya-tanya dimana saudara dan adiknya? Ternyata mereka tengah membuat mie di dapur, mereka terkejut mendapatiku berlari dengan ketakutan dan shock, dikiranya mimpi buruk.


“Tadi pas bapak mau kedepan kaget diana tiba-tiba lari dari kamar.” Ucap laki-laki biadap dengan santainya.


“Ya ampun mb dian, udah yang tenang ya, ini kita lagi masak mie, nanti kita makan bareng ya.” Ajak adiknya yang tengah mangaduk mie.


Waktu pertemuan dengan Andri tiba, kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, sudah 10 tahun dia bekerja di pertambangan, jika orang mengatakan aku mau karena materi maka salah besar karena selama bekerja itu tidak ada satupun aset atas namanya. Perlahan-lahan aku mengarahkan agar membeli aset atas namanya, usiaku memang terbilang belia tapi terkait investasi sudah diajarkan sejak memasuki awal SMP.


“Kamu tidak selama bekerja disana dan entah resiko apa didepan sana, investasilah mumpung masih punya uang.” Aku memberi saran.


“Iya juga ya, baru terpikir, selama ini semua ku berikan ke keluarga sampai lupa untuk diri sendiri.” Responnya sembari menundukkan pandangan.


“Iya, dicoba dulu, aku cuma ingin kalau kita tak jodoh, setidaknya ada hal baik di diriku yang bisa kamu ingat, haha!” Ucapku lirih.

__ADS_1


“Hahaha, kita akan terus bersamaaa!!” serunya sembari meminum jus.


Aku membuka mata dengan tubuh terbaring dan kepala terasa pusing, ruangan ini begitu asing, berusaha mengumpulkan kesadaran, netraku menatap tajam seseorang yang tengah tidur nyenyak disampingku, dia adalah andri. Air mata menetes deras saat mendapati tubuh hanya tertutup selimut, pakaian berserakan di lantai, ingatan terakhir yang ku miliki adalah makan bersama ketika sore, dan... jus yang ku minum?!.


“Halo sayang, sudah bangun?” Sapanya yang terbangun karena tangisku.


“Kita habis ngapain?!!!” Tanyaku histeris.


“Bercinta, sayang.” Jawabnya tanpa ada rasa dosa sedikitpun.


“Kamu enak sekali, aku pasti selalu merindukannya!” Sambungnya sembari membelai rambutku.


Sisa energi yang ada, ku arahkan untuk ke kamar mandi, dibawah shower menangis tersedu karena merasa sangat kotor. Orang yang hampir dua tahun ku anggap baik, nyatanya menghancurkanku sehancur-hancurnya, marah pada diriku yang gagal menjaga, melemparkan pertanyaan pada Tuhan atas kekejaman ini, kenapa harus terulang? Kenapa harus menjadi korban pelecehan seksual? Selama ini tidak memakai pakaian seksi, jarang sekali memiliki teman pria, kedua tanganku reflek mengucap air mata, ku kenakan baju mendi dan keluar dari kamar mandi.


“Ayo kita lakukan lagi!! Aku sudah kotor dan sepertinya jalan hidupku begini, menjadi pemuas nafsu pria, ayo lakukan dalam keadaanku sadar!!!” Seruku sembari menangis putus asa.


“Ah sayang, kamu semakin seksi!” Serunya sembari menarik tubuhku kearah kasur hotel, tak peduli air mataku semakin deras bukan karena hanya sakit tapi karena jijik dan marah pada diriku.


Disitulah awal mula kehancuran yang ku lakukan dalam keadaan sadar, setelah sebelumnya menjadi korban yang tidak sadar, sembari menahan sakit sebuah tawaku melengking memenuhi ruangan, inilah dunia kotor yang baru saja ku masuki, aku telah berubah menjadi seorang wanita yang kotor dan liar, seorang wanita yang mulai menjadikan bercinta sebagai hobi baru. Dia tanpa izin telah menggagahiku, maka dia tidak akan pernah bisa lari tanpa izinku, dia akan selalu terikat padaku hingga aku bosan. Entahlah kehancuran seperti apa kedepannya, inilah pilihan terbodoh yang akan ku senangi.

__ADS_1


Ingatan ini memudar kemudian menghilang seiring mataku yang mulai terpejam karena rasa kantuk, suamiku sudah sedari tadi tidur lelap.


__ADS_2