Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Ujian Pernikahan (Bagian II)


__ADS_3

Semenjak mami memberitahukan kalau ada somasi dari pihak lain, aku merasa makin stres tapi harus bisa disembunyikan dari zul karena tidak ingin menambah beban hidupnya. Zul dan mami menjual lagi aset yang tersisa peninggalan papi maupun milik mereka sendiri, aku sudah tidak bisa membantu lagi karena aset atas namaku sudah semuanya dijual, aset mama masih ada, tapi tidak kami usik karena pertimbangan lainnya.


Kepalaku rasanya sakit, ingin rasanya ku benturkan ke tembok, rasanya ingin marah dan membanting sesuatu. Aku peluk diriku sejenak supaya tenang, ku pejamkan mata sembari menarik dan menghembuskan nafas. Keadaan sudah tenang maka aku bersih-bersih rumah kontrakan karena merasa berantakan.


“Sayang, barusan bukannya sudah dibereskan?” Tanya zul penasaran.


“Iya, tapi aku kurang bersih, lihat itu tidak beraturan kan?” Jawabku sembari menunjuk kearah jejeran gelas kaca kemudian meloyor pergi.


“Rapih gini kok” Terdengar suara zul yang sedang mengamati gelas dari jarak dekat, aku hanya


tersenyum melihat tingkahnya.


***


Satu tahun berlalu, aku dan zul berdiri didepan rumah kontrakan, memandang lekat dua benda yang


berarti, upaya pelunasan sisa 2% lagi, dan aset yang tersisa hanya satu motor dan satu sepeda, hanya tersisa satu motor. Kedua benda itu tidak dijual karena berfungsi sebagai kendaraan untuk mencari nafkah, kami habis-habisan, kami biasa makan sepiring berdua yang disisakan untuk makan berikutnya. Terkesan menderita sekali, tapi rasa ikhlas serta bersyukur membuat kami menikmatinya, demi hidup tanpa utang, bahkan aset mama pada akhirnya banyak dijual juga untuk pelunasan, tidak ada lagi rumah besar mama karena sudah dijual, saat ini mama tinggal di pinggiran kota bersama mami.


“Sayang, maaf ya membuatmu susah”


“Gak apa-apa zul, kita mulai lagi ya”


“Aku mau kerja di perusahaan pertambangan di Kalimantan, menurutmu bagaimana?”


“Aku akan pergi kemanapun kamu pergi, zul.”


“Kalau gak tinggal disana juga gak apa-apa kok sayang, nanti aku rutinin pulang”


“Lets go together, aku akan coba bekerja disana juga”


***


Saat ini menghirup udara di Kalimantan, seperti sebuah mimpi karena tidak terbayangkan sebelumnya bisa kembali kesini. Aku sengaja tidak mengabari teman-teman disini sebelumnya

__ADS_1


karena ingin fokus beradaptasi dulu, zul mendapat panggilan kerja bedasarkan info lowongan pekerjaan dari temannya di perusahaan lamanya. Memoriku bertahun-tahun di Kalimantan menari-nari di kepala, termasuk memori tentang pak


arka.


“Sayang, simpan ya uang ini” Suara zul mengejutkanku.


“Ohhh.. oke!”


Aku masuk ke kamar untuk menyimpan uang hasil take over biaya rumah kontrakan, memori terus menari di kepala, tiba-tiba rasa pusing menyerang kembali, aku baringkan tubuhku di kasur kemudian terlelap. Sebelum benar-benar terlelap, aku melihat zul yang menatap dari dekat jendela, menatap lekat seolah-olah begitu khawatir dengan


keadaanku.


***


Zul terlihat sedang merapihkan ruangan yang terlihat berantakan, banyak barang pecah dan


berserakan, seperti usai ada yang bertengkar atau ada yang sengaja menghancurkan. Aku menanyakan pada zul, zul mengatakan kalau itu perbuatannya yang sedang marah, tentu saja jawaban itu membuat dahiku berkerut, zul bukanlah orang yang melakukan hal tersebut, tapi mungkin saja ada hal yang membuatnya sangat marah sehingga melampiaskan pada barang-barang.


bersama, meski dalam hati bertanya-tanya mungkinkah zul melakukan hal tersebut,


rasanya masih belum percaya, apakah hal berat yang kami lalui sejauh ini mengubah tabiatnya menjadi pemarah yang menghancurkan benda-benda? Jujur saja aku merasa takut dengan perubahan yang ada pada diri zul, terlebih saat ini merantau, tidak ada mama ataupun mami, dan tidak mungkin aku bercerita pada mereka karena belum melihat langsung perbuatan zul.


***


Pagi ini, rumah terlihat berantakan lagi bahkan kaca jendela terlihat pecah, seperti bekas dilempar sesutu. Pecahan kaca berserakan dimana-dimana.


“Zul!!”


“Sayang, aku marah lagi, maaf ya, nanti jendela akan diperbaiki”


Air mata tidak bisa dibendung lagi, tubuhku jatuh lunglai ke lantai, ku peluk erat lututku seolah masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, kepalaku penuh dengan pertanyaan kenapa atas segala hal yang terjadi, benar-benar mengejutkan. Zu menghampiri dan memelukku, dimeyakinkan bahwa tidak akan menyakitiku dan akan selalu bersama apapun yang terjadi hingga akhir hayatnya. Akusedikit tenang karena zul adalah tipe orang yang menepati janji, aku yakin dia tidak akan menyakitiku hingga maut datang padaku. Memilih setia padanya, mungkin orang-orang akan bilang bodoh, tapi tidak apa-apa karena ini sudah menjadi pilihan yang ku ambil.


Aku bangkit melepaskan pelukannya kemudian membantu membereskan ruangan yang berantakan, sebuah ide terlintas di kepala kalau tidak perlu menaruh benda apapun di ruangan ini, agar saat zul marah tidak menghancurkan benda-benda tersebut. Zul pria yang baik, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya, dia harus baik-baik saja

__ADS_1


agar tidak sepertiku. Aku memaklumi kalau saat ini dia berubah seperti itu karena masalah yang terjadi sangat besar, dia harus melunasi utang puluhan miliar akibat ulah ayah tirinya, tidak sepeser pun menikmati uang tersebut tapi harus dikejar-kejar deptcollector. Saat ini, kami sedang berusaha memulai dari nol lagi dari segi finansial yang carut marut, harus menata kembali rencana-rencana


yang dibuat sebelumnya.


Pandanganku terasa.tidak jelas, makin lama makin gelap, kemudian aku seolah berada di suatu tempat


yang sangat familiar, rumah masa kecil. Melihat kebahagiaan keluarga kecil, akudan kakakku berlarian kesana kemari, mama dan papa bahagia mengamati sembari minum teh hijau favorit mereka. Kebahagiaan itu harus hancur, ketika sosok tinggi besar mengambilku pergi kearah rumah kosong, rumah yang sangat besar dan kotor, banyak pintu tapi tidak satupun pintu dapat terbuka. Sosok hitam tinggi besar menatapku tajam, matanya yang berwarna merah, tangan berkuku panjang,


siap menerkamku. Sebisa mungkin berlari terus berlari, sayangnya hanya berputar-putar di ruangan tersebut, aku menyerah ketika tangan besarnya meraih tubuh mungilku.


“aaaaaaaaaaaaaa...!!!” Teriakku sembari membuka mata.


“Aku ada dimana?” Tanyaku penasaran pada zul.


“Kamu di rumah sakit, sayang. Tadi pingsan di rumah” Jawabnya tenang.


“Maafin aku ya yang gak bisa jagain kamu, kamu terkejut ya karena marahku?”


“Gak kok, mungkin aku hanya lelah”


***


Aku membuka mata karena silau dengan cahaya disela-sela gorden jendela, sudah lima hari berada di rumah sakit,zul tidak bisa selalu menemani karena harus bekerja juga, tapi tidak masalah. Aku melihat zul membereskan barang-barangku yang berantakan, seperti dilempar-lempar, sangat terkejut karena harus melihat zul kembali seperti itu, kenapa dia harus marah dengan cara yang menakutkan?. Zul menyadari kalau aku sudah bangun, dia segera menghampiriku sembari tersenyum tenang, dia mengelus rambutku.


“Maafin aku lagi ya, sayang”


“Tidak apa-apa, zul”


Saat kami bicara seorang dokter datang untuk memeriksaku dan mengatakan keadaan fisikku semakinmembaik.


“Tolong jangan beritahu kebenarannya saat ini, dok” Bisik zul pada dokter


“Em” Respon dokter sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2