Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Ujian Pernikahan (Bagian I)


__ADS_3

Menikah itu indah, tapi tidak semuanya indah. Butuh adaptasi untuk segala hal, dari hal kecil hingga hal besar, tidak jarang awalnya berdebat ringan berakhirdiam-diaman. Mami sering menasehati agar sabar dan wajar seperti itu diawal pernikahan karena selain adaptasi karakter, adaptasi dengan status sebagai suami istri, trail and error, lambat laun akan dapat formulanya untuk saling memahami. Ada yang cepat menemukan formula ada juga yang butuh waktu lebih lama, syukur sekali para calon nenek tidak ingin cepat punya cucu, jadi kalau bilang ingin cepat punya itu hanya bercanda. Mereka lebih menekanku untuk adapatasi dulu, setelah semuanya dirasa sudah bisa baru silahkan ngoyo inginpunya momongan.


Bosan sekali di rumah karena setelah menikah, zul ingin aku di rumah, dia bilang kalau aku terlalu banyak bekerja, setelah diingat-ingat benar juga, sejak SMP sekolah sambil bekerja karena ingin punya tabungan sendiri. Aku yang tadinya terbiasa sibuk diluar rumah butuh adaptasi juga untuk diam di rumah, zul hanya melarangku untuk bekerja bukan hal lainnya, dengan kata lain masih bebas untuk berkegiatan diluar rumah yang penting bukan hal negatif.


Mama dan mami menyuruh untuk mengontrak atau membeli rumah sendiri, berumah tangga lebih baik memisah dari orangtua atau mertua, kecuali alasan yang sangat mendesak. Awalnya merasa terkejut, tega sekali, tapi zul memberi pengertian kalau mamanya bukan membenci tapi lebih menginginkan kita mandiri.


“Jadi orangtua harusnya mengajarkan kemandirian bukan kemanjaan, bukannya tega, tapi mama dan mami belajar dari kehidupan rumah tangga kami” Ucap mama, aku tahu mama belum tega tapi ini harus dilakukannya.


“Supaya kalian saling nyaman dalam keseharian, gak jaim-jaiman, kalau lagi malas-malasan gak sungkan” Sambung Mami.


“Mertua dan orangtua mama baik, saat mama tinggal dengan mertua banyak tidak nyaman karena tidak enakan. Adakalanya lagi mau malas-malasan, tapi mertua sibuk, harus sadardiri bantu, hal tersebut beda kalau di rumah orangtua mama sendiri, pasti masa bodo’ pun kalau dimarahi sudah biasa.” Mama bercerita untuk hal yang tidak diceritakannya selama ini.


“Mami, dulu tinggal terpisah. Betul saling nyaman, karena bisa semaunya mau rajin atau malas-malasan ketika kumat, kalau capek ya istirahat tanpa ada rasa gak enak hati, intinya suami pulang semua beres, atau negosiasi dan minta maaf kalau rumah berantakan. Tapi, segalanya harus mandiri, termasuk kalau kehabisan makanan.” Mami ikut bercerita.


“Gaji papimu dulu itu kecil loh zul, kalau dilihat dari nominal rasanya gak cukup untuk bayar kontrakan, listrik, biaya hidup, tapi ternyata Allah kasih rezeki darimana saja. Papimu bilang yang penting mami nyaman dan bahagia, kalau


keadaan mami begitu segala hal yang mami lakukan ikhlas, termasuk mendoakan kesuksesan papi.” Sambung mami.


Aku mendengarkan cerita mereka, menyimpulkan bahwa pernikahan tidak sederhana, pernikahan itu kemandirian. Mendengar mami bercerita tentang papi yang pergi dari rumah orangtuanya karena memilih mengontrak meskipun gaji saat itu kecil, hal ini dilakukan untuk kenyamanan mami, sempat ditentang orangtua papi karena lebih baik tinggal dulu di rumah dan gajinya ditabung. Mami bersedia dengan keputusan papi, bahkan bersedia kalau kehidupan mereka sulit, termasuk untuk makan sehari-hari.


***

__ADS_1


Rumah kontrakan dengan ruangan beberapa petak, sengaja memilih terletak di pinggiran kota agar tidak mahal biaya sewa. Satu bulan berada disini bisa membuktikan apa yang diceritakan mama dan mami, kami lebih leluasa dan nyaman, tidak perlu saling jaim. Aku tidak masalah meninggalkan rumah mama yang besar untuk tinggal di rumah beberapa petak, bahkan aku senang, toh kalau rindu rumah mama bisa datang dan menginap, pun dengan zul kalau rindu rumah mami. Aku hanya bekerja freelance, penghasilan tetap hanya dari zul, gaji zul tidak sebesar sebelum pindah ke kota ini, awal kepindahan zul diminta untuk membantu bisnis mami tapi setelah dirasa stabil dia bekerja di tempat lain, untuk menambah pengetahuan managemen secara langsung. Kota ini UMR nya tidak besar, jadi kami harus menyesuaikan biaya hidup.


***


Masa awal pernikahan diuji dengan ujian yang lumayan membuat done, aset keluarga zul harus dijual untuk membayar utang atas nama maminya, sebelum ayah tirinya meninggal dia menggunakan identitas mami untuk berhutang dalam jumlah yang besar, aset keluarga jadi jaminannya. Aset yang masih ada digunakan untuk membayar tagihan, termasuk bisnis mami harus gulung tikar, aku melihat untuk pertama kalinya zul menangis dihadapan karyawan karena harus memecat mereka.


“Maaf, hanya ini pesangon yang bisa kami berikan” Zul mengakhiri dengan kalimat tersebut.


Para karyawan pun ikut menangis, bahkan beberapa ada yang rela bertahan untuk memulai kembali dari nol, beberapa juga ada yang mengatakan kalau siap dipanggil kerja kembali kapan pun itu meskipun gajinya tidak sebesar sebelumnya. Mereka sudah seperti keluarga, lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalankan bisnis ini, mami pun tidak segan memberi beasiswa kepada anak-anak mereka yang berprestasi atau berkeinginan kuat kuliah tapi tidak memiliki biaya kuliah.


“Kalian jangan khawatir, anak-anak yang masih kuliah tetap bisa melanjutkan, saya sudah mempersiapkan dananya.” Ucap mami lantang.


“Bu, dalam keadaan seperti ini masih bisa melakukan hal itu?” Sanggah seorang karyawan.


“Yang bangkrut saya, masa depan mereka harus baik, saya tidak mau mengingkari janji.” Sanggah


mami dengan mantap.


***


Aku membantu biaya pelunasan dengan uang tabungan yang ada, uang tabungan yang belum sempat untuk membuat rumah harus ku relakan. Bagiku tidak masalah uang tabungan habis, yang penting utang segera lunas, setiap waktu aku berusaha menguatkan zul dan mami, rumah mami pun dijual demi membayar utang, mami tinggal bersama mama. Ujian yang lumayan berat, satu sisi harus bertanggung jawab atas hal yang tidak pernah dilakukan, disisi lain harus menjalani bahtera rumah tangga dengan segala kewajiban. Keadaan yang terpruk, ekonomi porak poranda, aku sengaja menyisihkan uang untuk membayar kontrakan tiga tahun kedepan, tujuannya agar kalau benar-benar habis, setidaknya masih ada atap untuk berteduh.

__ADS_1


Kami dengan tekun melunasi utang beserta bunganya, menjual semua aset yang dipunya agar segera lunas, sudah 80% terlunasi, deptcollector yang mendatangi mami tidak kasar karena mereka mengenal mami, begitu juga pemilik piutang, bahkan meminta maaf karena tidak mengonfirmasi dulu kepada mami karena sangking percayanya pada sang ayah tiri yang selama ini dikenal baik.


“Sayang, aku mohon maaf ya” Ucap zul lirih.


“Untuk apa?” Tanyaku terkejut.


“Bukannya aku membahagiakanmu, malah menyusahkanmu, maaf aku belum bisa memberi materi cukup,


bahkan uang tabunganmu habis” Terlihat rasa bersalah pada wajah teduhnya.


“Sayang, aku bisa menerima semua, kita harus saling menguatkan. Aku yakin semua pasti berlalu, semua pasti berangsur pulih. Justeru aku berterimakasih karena sayang menuruti permintaan mama untuk mengontrak, meskipun saat ini sulit, aku nyaman disini, aku bebas untuk menangis, kesal, dan lainnya” Mataku menatap hangat


wajahnya.


“Betul apa yang dibilang mami dan mama ya” Sambungku lagi.


Zul memeluk erat tubuhku, tubuhku yang semakin kurus dari sebelumnya, maklum sudah turuh 10 kg, bukannya zul tidak mmeberi makan, tapi akunya saja yang tidak nikmat setiap makan, dipikiranku bagaimana utang cepat lunas, melakukan pekerjaan tambahan untuk biaya sehari-hari, biar unag yang dihasilkan zul untuk membayar utang


yang ada.


[Zull... ada somasi dari pihak lain untuk membayar utang yang sudah jatuh tempo] Ucap mami diujung telephone.

__ADS_1


“Ya Tuhan, apa lagi ini?” Ucapnya lirih setelah mengakhiri panggilan.


__ADS_2