Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
perjodohan (Bagian 2)


__ADS_3

Mama masih semangat mencari calon menantu, aku tidak merasa terganggu, yang penting mama tidak berlarut-larut sedih karena kepergian papa, meskipun setiap seminggu sekali rutin mengunjungi makam papa yang tidak jauh dari rumah. Mama rutin mempromosikan pria-pria melaui chat, entah sudah berapa foto yang dikirim padaku. Aku membayangkan mama sedang sibuk menyeleksi dan gemas karena responku yang tidak kunjung mengiyakan.


Pekerjaanku makin sibuk sehingga belum fokus untuk menyeleksi calon suami dengan seksama, nampaknya perjodohan menjadi bagian dari keseharian yang tidak terpisahkan. Di perusahaan pun teman-teman hobi menjodohkan dari yang teman, tetangga, saudara, hingga atasan senior yang sudah menduda selama 10 tahun, si duda yang menjadi idola kaum hawa di kantor. Pak Arka, senior yang terkenal ramah dan baik hati, sosok pemimpin yang jadi panutan banyak orang, terlebih makin tua makin keren karena selalu menjaga tubuhnya dengan olah raga dan makanan sehat. Usia denganku terpaut 17 tahun, rasanya minder kalau bersanding dengannya yang populer. Perjodohan mendapat respon baik dari pak arka, kami berkomunikasi meskipun jarang. Ternyata sekedar chat saja bisa meluluh lantakkan hati, pantas saja banyak wanita yang mengejarnya.


Aku dan pak arka sengaja mengambil cuti bersama, untuk bertemu dengan keluarganya. Rasanya ingin jungkir balik, baru juga komunikasi via chat sebulan sudah diajak bertemu keluarga. Sebelum melanjutkan perjalanan kami makan terlebih dahulu, amunisi supaya tidak pingsan mengingat masih jauh perjalanan yang harus ditempuh. Pak arka asli orang kalimantan, orangtuanya berada di daerah yang lumayan jauh dari kota, sekitar 5 jam dan harus menyebrang dengan kapal.


“Lelah ya?” Tanya pak arka ketika melihatku menghela nafas.


“Lumayan, tapi seru ya pak.” Kataku sembari menikmati suasana yang asri.


“Iya, namanya juga masih hutan. Jangan kaget kalau nanti sampai rumah ya.” Pak arka seolah memberi pesan.


“Iya, pak.” Responku singkat tanpa ingin tahu.


Setelah melalui perjalan yang lumayan lama dan berliku, tiba di suatu daerah lebih tepatnya rumah orangtua pak arka, terasa asri dan nyaman. Rumah panggung berbahan kayu dibuat sangat elegan, rumah tersebut dikelilingin taman dengan aneka bunga, di samping rumah terdapat kolam ikan yang dibuat sangat cantik dengan air terjun buatan.


Seorang wanita kisaran usia 60 tahunan berdiri di teras sembari menyunggingkan senyum yang menawan, beliau ibunya pak arka. Setelah turun dari mobil, kami menghampiri beliau, sangat ramah. Semakin masuk kedalam rumah, semakin dibuat takjub dengan segala interiornya, rupanya ibu dulunya menempuh pendidikan desain interior, menjelang pensiun memilih untuk tinggal di tempat yang sangat tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Kegiatan di rumah, mengurus taman-taman, kolam ikan, dan melakukan pemberdayaan bagi warga sekitarnya. Pengalaman pertama bertemu ibunya mendapat respon yang baik, ibunya banyak bercerita tentang masa mudanya sembari menunjukkan berbagai foto yang dimiliki.


Suasana malam sangat dingin, aku dan pak arka duduk di teras rumah panggung sembari menikmati teh hangat buatan ibu. Pak arka terlihat nyaman berada di tempat ini, bapak tidak terlihat karena sedang pergi ke desa sebelah.


“Setelah Tias, mantan isteriku pergi dengan laki-laki lain, aku merasa semua perempuan sama, sehingga malas kalau sudah berkaitan dengan perempuan.” Pak arka membuka topik obrolan dengan kisah masa lalunya.

__ADS_1


“Dian, kenapa bersedia kesini?” Tanya pak arka yang mulai kepo.


“Anu.. ini pak, mama sibuk menjodohkanku dengan anak teman-temannya, setiap selalu mempromosikanku, begitulah hobi baru mama. Teman-teman kantor juga ketularan mama, jadi aku ikuti alur ajalah pak, pusing aku tuh!” Jawabku apa adanya, terserah mau ilfeel juga.


“*Haha...jujur sekali kamu ya!”


“Iya pak, ngapain juga bohong.”


“Tapi, semua bergantung pada ibuku. Kalau ibu


setuju, aku ingin kita serius, tapi kalau tidak, aku mohon maaf ya*.”


Aku mengangguk sembari tersenyum simpul, sirna sudah harapanku membawa pulang calon menantu untuk mama, aku merasa tidak memenuhi kriteria terlebih masa laluku yang suram, apakah keluarganya bisa menerima? Kesalahan yang ku buat berimbas untuk masa depanku, dengan segera berusaha mengatur irama hati yang tidak tentu, aku tidak boleh memiliki perasaan padanya, tidak boleh, jika tidak ingin terluka. Ibunya ramah belum tentu menerima, bisa jadi bentuk menghargai tamu yang datang ke rumah.


***


Kunjunganku ke rumah pak arka menjadi rahasia berdua, teman-teman kantor tidak ada yang tahu, selama bekerja kami profesional, mereka menyangka kalau kami tidak saling tertarik, padahal diluar kantor kami menyempatkan untuk sekedar makan bersama. Pak arka mengatakan kalau hari ini ibunya memberi jawaban, apakah menerimaku atau tidak?


[Untuk, Diana. Diana perempuan yang baik, terimakasih bersedia datang ke rumah, ibu senang sekali. Tapi, ibu lebih setuju kamu menjadi anak angkat ibu ketimbang menantu ibu, bukan ibu tidak suka, tapi rasanya itu lebih tepat. Kalau diana dan arka punya pilihan lain, silakan, ibu akan menerima dengan baik.]


“Tidak apa-apa, pak arka.” Responku sembari menyerahkan kembali handphone nya.

__ADS_1


Aku merasa lega, setidaknya sudah jelas statusku, aku bisa menata kembali, tidak ada rasa marah pada diriku karena sedari awal aku sudah sadar diri kalau tidak memenuhi kriteria ibunya, orangtua mana pun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya kan?. Terlihat rasa kecewa di wajah pak arka, namun berusaha ditutupi dengan senyum manisnya.


“Ibu takut aku terluka lagi, dian.”


“Aku lama sekali pulihnya, bahkan nyaris bunuh diri. Setelah tias pergi, aku selalu mengikuti apa yang ibu bilang, tidak mau mengulang kesalahan yang sama, awalnya ibu tidak setuju dengan tias, tapi aku memaksa.” Sambung pak Arka.


“Iya, pak. Aku juga merasa gak pantes untuk bapak, bapak terlalu baik untukku, semoga bapak dipertemukan dengan jodoh yang tepat ya, kita saling doa aja ya pak” Aku berusaha mencairkan suasana, meskipun rasanya buliran air mata ingin keluar.


Diusia saat ini, baru ku sadari betapa sulit ya mencari pasangan hidup yang sejati, bukan hanya modal cinta saja untuk sampai di tahap pernikahan. Aku yang masa mudanya terlalu menganggap gampang, begitu mudah mempermainkan hubungan percintaan, cinta yang harusnya memuliakan justru ku anggap sebaliknya hanya karena dendam yang membabi buta. Aku teringat mama kenapa mama begitu semangat mencarikanku jodoh, karena susah mendapatkannya, sedih sekali ketika ingatan melintas di kepalaku bagaimana tidak serius merespon dengan baik chat mama tentang perjodohan.


Aku ambil handphone, tiga panggilan tidak terjawab dari mama, aku sudah bisa menebak kalau tentang perjodohan.


[*Mama, libur dulu ya cari calon menantunya, nanti kalau dian pulang baru kita cari lagi]


[Serius? Kamu habis makan apa nak? Jadi luluh gitu]


[Hehe, makan sate tiga porsi, ma]


[Makasih ya nak]


[Mama, diana sayang mama, diana mau nurut sama mama*]

__ADS_1


__ADS_2