Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Mengulang Kencan


__ADS_3

"Gimana ketemu sama dia? Suka? Jadi kapan nikah?”


Pertanyaan yang beruntun dari mama saat pulang dari kencan, aku hanya tersenyum sembari mengacungkan jempol, terlihat ekspresi bahagia pada wajahnya. Tidak terasa sudah sebulan berada di rumah, sejak pertemuan dengan zul, memulai kembali sebuah hubungan ternyata susah-susah gampang, karena pasti ada perubahan setelah perpisahan. Kami sekedar komunikasi bertanya kabar, beda sekali dengan dulu yang seolah-olah saling cerewet, bahkan ketika nelpon bisa langsung sampai berjam-jam. Sejenak bernostalgia masa muda bersamanya, antara bahagia dan bodoh, tanpa sadar seulas senyum menyungging dibibirku, tidak lupa wajah merah merona bak udang rebus.


[Dian, kita makan bareng yuk!] Sebuah chat dari zul.


[Kapan? Dimana?” Balasku.


[Tempat waktu ketemuan, Jam 16.00 WIB]


[Ok, sampai ketemu disana]


***


Tatapan teduh kembali aku lihat setelah beberapa tahun berpisah, pertemuan sebelumnya tidak sempat melihat tatapan teduh ini. Terlihat gerak-gerik kecanggungan, meskipun berusaha menampilkan seutas senyum menawan. Usianya yang sudah masuk kepala tiga, menyuguhkan sedikit kerutan dan tampak satu uban.


“Itu” Ucapku sambil menunjuk letak uban.


“Apa?” Tanyanya terkejut.


“Ada uban” Jawabku sambil tertawa.


Suasana mencair dengan tertawa bersama, nostalgia masa lalu yang ternyata lebih banyak aibnya ketimbang bagusnya. Kami menyadari kesalahan masa lalu dengan embel-embel atas nama cinta hingga tidak peduli dosa. Zul juga berkisah kalau hubungan dengan keluarganya sudah membaik tidak seperti dulu, semua membaik semenjak ayah tirinya meninggal, dia sangat bahagia karena keluarganya kembali seperti sedia kala. Dia juga mengisahkan semenjak putus denganku, dia memilih resign dari perusahaan tempat bekerja dan membantu bisnis maminya, itulah kenapa dia bisa ada di kampung halamanku.


Setiap kalimat cerita yang keluar dari mulutnya ku simak baik-baik, rasanya kembali ke beberapa tahun yang lalu, dia sebenarnya senang bercerita dan bawel, kalau sudah bersama hilang wibawanya sebagai orang keren, tapi berganti menjadi menggila yang banyak melakukan hal konyol.


Muncul pertanyaan dibenakku, apakah dia jodoh yang Tuhan persiapkan? Sengaja dipisahkan dulu supaya kami menjadi orang yang lebih baik, mungkin kalau hubungan terus berlanjut hingga saat ini, maka belum tentu kami sadar atas dosa yang telah dilakukan dan kami masihlah seonggok manusia yang tidak tahu malu. Perkenalan, merajut hubungan istimewa, berpisah, kemudian dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, kami berpisah bukan karena orang ketiga tapi karena saling menjadikan keegoisan beradu.


“Dian, maafin aku ya”


“Maafin dalam hal?”

__ADS_1


“Maaf, aku dulu egois”


“Aku juga minta maaf ya”


“Kita mulai dari awal lagi ya dian, dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya”


“Iya, Zul”


Sebenarnya selama ini rasa yang aku miliki tidak hilang, tanpa sadar saling rindu, tapi karena keegoisan yang lebih bertahta, aku tidak mampu berkutik. Masing-masing sudah berusaha move on, tapi berakhir gagal, tentunya semua hal itu tanpa sadar karena tidak pernah mengaitkan kegagalan karena perasaan. Bingung harus memulai lagi bagaimana, jadi anggap saja aku baru mengenalnya, sejak pertemuan sebelumnya maka ku anggap semuanya serba pertama kali, termasuk pergi bersama hari ini.


***


“Mammm, aku pulang..!”


“Haloooo sayanggggggg...!” Seorang wanita heboh dan memelukku.


“Mamm?” Tanyaku pada mama sembari memberi isyarat sedang bertanya, karena aku dipeluk erat olehnya.


“Eitssss... langsung panggil mami aja!” Protes tante linda.


Tante linda melepas pelukan, kemudian mengarahkanku untuk duduk, diatas meja sudah terpampang foto-foto gaun pernikahan banyak sekali, dengan hebohnya mereka menyodorkan satu persatu untuk memilih sesuai seleraku, rasanya aku ingin sekali jujur pada mereka kalau dari sekian banyak foto, tidak ada satupun sesuai seleraku. Dua emak-emak heboh melebihi anaknya, tapi aku merasa senang karena tawa mama kembali pulih lumayan maksimal setelah berduka atas kepergian papa, dan sekarang mama memiliki teman yang satu frekuensi heboh dan konyolnya.


Aku pamitan untuk beristirahat, sepertinya mereka tidak tahu kalau aku usai bertemu zul, tidak terbayang kalau tahu, bisa-bisa aku dicecar berbagai kekepoan mereka. Aku jatuhkan tubuhku keatas kasur, netraku menatap seluruh ruangan, pikiranku bergejolak entah tidak jelas. Tiba-tiba teringat kalau selama satu bulan ini sejak kembali dari kalimantan, aku belum apply lowongan kerja disini, Ya Tuhan aku terlalu asik bersantai, lebih tepatnya beristirahat karena selama ini sudah sibuk bekerja sehingga waktu yang ku miliki untuk mama sangat sedikit. Semenjak aku pulang, mama pun jarang sekali pergi, kami lebih sering menghabiskan waktu bersama di rumah, memasak bersama, nonton bersama, olahraga bersama, dan kegiatan lainnya. Aku bahagia dan sangat menikmati momen ini bersama mama, tapi rasa bosan mulai menghinggapi karena sebelumnya aku adalah manusia yang sibuk untuk segala aktivitas, berangkat pagi dan pulang malam.


[Dian, sudah sampai rumah?]


[Sudah, zul. Gimana?]


[Gak apa-apa, mau mastiin aja karena kita kan tadi gak bareng]


[Kalau tadi bareng, yang ada kita bisa disidang sama emak-emak kita]

__ADS_1


[Mami ada disitu?]


[Ada]


[Pantesan gak ada di rumah]


Chat terus belanjut membahas hal yang lainnya hingga tidak sengaja aku tertidur karena lelah, eh sepertinya karena ngantukkan, semenjak tidak bekerja berubah jadi mudah ngantuk, atau jangan-jangan mungkin mendengkur dan ileran juga, hehe.


Jendela yang sengaja ku buka menyuguhkan hawa dingin malam, sepertinya akan hujan karena langit terlihat mendung, aku terbangun karena cahaya bulan yang mengenai wajahku, meski tidak terang tapi cukup membuat silau. Dengan langkah kaki yang berat dan mata lima watt, aku berjalan kearah jendela, sejenak berdiri menikmati suasana malam, tanpa sengaja aku melihat seorang pria berdiri di depan pintu gerbang sembari menatap kearahku.


“Pak arka?”


Aku kucek-kucek mata kemudian melihat lagi kearah sana, tidak ada siapa-siapa, mungkin aku sedang berhalusinasi atau aku sedang merindukannya? Ah sudahlah, meskipun sebenarnya penasaran, ingin rasanya ku chat pak arka untuk bertanya, tapi terlalu percaya diri sekali menanyakan hal tersebut, tentunya malu sekali kalau ternyata bukan dirinya. Segera menepis itu tidak mungkin karena jarak rumahnya dengan kalimantan jauh, lagi pula pak arka lebih mengikuti keputusan ibunya yang tidak menginginkanku menjadi menantunya.


[May.. Pak arka lagi ke daerah rumahku kah?”


Ya Tuhan, kenapa aku mengirim chat ini pada maya, mau ku batalkan ternyata sudah dibaca, aku lupa kalau dia selalu begadang.


[Gak kok, kenapa?]


[Barusan aku liat pak arka berdiri didepan gerbang rumahku]


[Hehe, dia ada disini kok, kamu mungkin kangen ya, makanya berhalusinasi]


[Gak kangen, kan aku sama dia gak mungkin sama-sama]


[Iya Dian, udah gak usah dipikirin lagi ya]


[Siap mayyy]


Meskipun awalnya sempat malu bertanya, tapi akhirnya lega juga, fix aku hanya berhalusinasi. Tapi, kenapa harus berhalusinasi tentangnya?

__ADS_1


__ADS_2