
“Sial..!” Teriak mama.
Mama marah besar mengetahui kenyataan ikan-ikan kesayangannya mati karena di racun, bedasarkan rekaman CCTV si rose yang melakukannya. Rose sengaja menunjukkan dirinya dengan tersenyum ke arah kamera sembari melambaikan tangan. Mama melaporkan kejadian ini kepada polisi, polisi pun melakukan olah TKP untuk menindak lanjuti laporan mama, ekspresi mama masih terlihat kesal, matanya terus memandang kearah ikan, mama sangat marah karena ikan-ikan tersebut hadiah dari papa.
“Mamm..” Panggilku lirih.
“Sttt... mama akan sabar setelah menjambak rambutnya rose.” Responnya sambil berlalu, sepertinya mama sudah tahu apa yang akan ku bilang.
Mami merasa bersalah karena tinggal di rumahku sehingga membuat keluarga ikut diterror, tentu saja bukan salah mami, memang rose saja yang gila. Zul yang baru datang pun terlihat diam, seperti bingung, baru saja bingung saat mengetahui rahasia mami yang selama ini disembunyikan, sekarang muncul teror. Polisi menemukan kertas didekat gerbang, yang berisi ancaman pembunuhan terhadap kami, ditulis dengan darah, itu bisa jadi tambahan bukti. Wajah mama makin terlihat merah padam, mama terlihat sedang menelfon seseorang.
***
Teror tidak berhenti sampai disitu, setiap tengah malam rose datang ke rumahku, berdiri mematung didepan gerbang sambil bernyanyi. Orang yang melihatnya lebih memilih menghindar, bagaimana tidak menghindar karena dia seperti hantu, mengenakan gaun putih menjuntai, rambut terurai tidak beraturan, dan tanpa alas kaki. Aneh tapi nyata, malam begitulah prilakunya tapi kalau siang hari rose terlihat normal dan melakukan aktivitas yang wajar. Bedasarkan intaian anak buah mama, rose berasal dari keluarga terpandang, semenjak keluar dari RS Jiwa dia tinggal terpisah dari keluarga dan dinyatakan meninggal, hal tersebut dilakukan untuk menjaga nama baik keluarganya. Dia tinggal di sebuah rumah mewah dan agak pelosok dengan penjagaan anak buah orangtuanya, sepertinya dibiarkan saja kalau gilanya kumat selama tidak menyebut tentang keluarganya.
Rose gila karena dia korban pemerkosaan oleh teman-teman kakaknya saat mabuk di rumah mewahnya, tidak hanya sekali tapi berulang kali hingga hamil, bahkan sang kakak yang mengetahui hal tersebut cuek saja. Kakak laki-lakinya tidak menginginkan rose hadir di dunia, itulah kenapa dia membencinya, sedangkan sang ayah tidak suka memiliki anak perempuan, baginya itu menurunkan derajat keluarga, sang ibu tahunya hanya bersenang-senang tidak peduli urusan anak.
Saat masuk RS Jiwa yang menanganinya adalah ayahnya zul, ayahnya zul yang terkenal ramah dan telaten mengurus pasien-pasiennya, membuat rose berhalusinasi kalau ayahnya zul dan dia saling mencintai. Berulang kali rose menjebak ayahnya zul, bahkan rela melepas pakaian dihadapannya, lagi-lagi selalu gagal. Saat rose dalam keadaan normal, dia mengutarakan ingin menikah dengan ayahnya zul, tapi ayahnya zul memberi pemahaman kalau tidak bisa karena sudah menikah dan memiliki anak, rose rela menjadi simpanan tanpa dinikahi, lagi-lagi ayahnya zul menolak, hal tersebut yang membuatnya marah, sehingga usai keluar dari penjara rose berusaha menghancurkan ayahnya zul. Kalau rose tidak bisa memilikinya, lebih baik ayahnya zul mati supaya siapapun tidak bisa memilikinya.
“Mama tahu darimana?” Tanyaku penasaran karena informasi yang lumayan detail.
“Orang kepercayaan mama dong, dia gak omong kosong karena bukti pun dilampirkan.”
Kepalaku terasa nyut-nyut an karena permasalahan ini, terlebih disisi lain harus menyiapkan pernikahan, mungkin ini ujian pra nikah yang harus dihadapinya. Teror rose pun makin menjadi, dia menulis pengumuman di pos ronda kalau mama menjadi simpanan kakek kaya raya dan menggunakan susuk, dia juga menulis kalau aku menjadi perawan tua karena sudah dinikahkan dengan makluk halus yang dimana siapapun pria yang mendekatiku akan mati. Lama-lama aku yang menggantikannya gila, lagi-lagi kenapa tahu kalau itu ulah rose, apa lagi kalau bukan rekaman CCTV yang ada di pos ronda.
Tiba-tiba mama tersenyum sembari berlalu kearah belakang, diambil air dan ember, aku yang penasaran mengamati dari kejauhan.
__ADS_1
[Giann... Giannn, ada job untuk kamu]
[Oke, nanti sore ke rumah ya]
***
“Aaaaaaa....!” Teriakku sambil berlari ke arah dapur.
“Mamaaaaa, mamiiiiiiii... ada setan, tolong..tolong..!”
“Kamu kenapa sih?” Tanya mama santai.
“Itu Gian dan Han, mama sengaja menyuruh mereka menyamar jadi hantu” Sambung mami yang tiba-tiba muncul.
“Aku loh Han, Handoko” Sambung Handoko
Seperti yang mama bilang tempo hari, adakalanya kita harus terlihat gila untuk menghadapi orang gila, ini semua ide mama, mama tidak mau berbagi rahasia padahal sudah berbagi ide ini dengan penjaga di pos ronda malam ini. Aku membiarkan, terserah mama mau melakukan apa.
***
Malam kian larut, mata enggan terpejam, aku menghubungi zul yang sedang keluar kota mengurus bisnisnya lagi. Kami mengobrol membahas perencanaan pernikahan, terror rose, hingga ide mama, sejenak aku merasa tenang dan mata mulai ngantuk, segera berpamitan untuk tidur.
“aaaaaaaaaaaaa, panassssss, panasssss....” Teriak seorang wanita diluar pagar.
Aku mengintip dari jendela, terlihat si rose basah kuyup dengan cairan berwarna merah, dibalik tembok mama, mami menahan tawa, pun gianto dan handoko yang masih menggunakan kostum hantu. Diluar terdapat empat orang yang menghampiri rose, sepertinya petugas ronda, terlihat diantara mereka ada yang menahan tawa, tidak lama kemudian dua pria kekar menghampiri rose dan membawanya pergi. Rasa penasaran tidak terbendung lagi, segera aku keluar menghampiri mama.
__ADS_1
“Ma, itu diapain?”
“Oh, mama kasih ramuan”
“Ramuan apa?”
“Air cabe, air comberan, dan darah ayam”
“Tadi saya nangkring diatas pohon jadi gunduruwo, saya bilang jangan ganggu isteri saya, diana” celoteh Gianto.
“Apaaaaaa!!” Aku terkejut.
“Tadi saya jadi buto ijo, saya yang nyemprotin cairan itu, berasa sakti deh” Sambung Handoko sambil mengangkat lengannya.
“Mama yang nyediain busa supaya kalau mereka jatuh dari pohon gak sakit-sakit amat” Sambung mama dengan santai.
“Mami yang nyalain dupa dan tertawa-tawa” Sambung mami yang masih memegang dupa.
“Kami yang membersihkan cairan di depan pagar dan mengarang cerita kalau rumah ini berhantu sejak ada pengumuman misterius di pos ronda.” Sambung salah seorang warga yang ikut serta.
Aku terpana, bukan kagum tapi lebih ke heran dengan ide gila mereka, tapi dalam hatiku tertawa puas sih, mama menyerahkan amplop kepada petugas ronda, gianto, dan handoko. Mereka terlihat senang, bagaimana tidak senang mengerjai orang yang membuat mereka tertawa kemudian diberi uang. Wajah mama terlihat puas, setidaknya kekesalan karena ikan-ikan kesayangannya mati, dan pengumuman di pos ronda sedikit terlampiaskan. Gianto dan handoko pun segera pamit, tapi mami mencegah supaya mereka berganti kostum selayaknya manusia, mereka yang sedang senang pun menepuk jidat karena lupa kalau penampilannya masih sebagai gundurowo dan buto ijo.
Malam ini aku merasa sangat terhibur, dengan ulah mereka, entah bagaimana nasib rose, tapi mama bilang kalau akan baik-baik saja karena hanya menggunakan cabe satu kilo, darah setengah liter, air comberan satu ember, telur busuk satu kilo, dan garam setengah kilo. Aku membelakkan mataku mendengar penjelasan mama mengenai bahan-bahan versi lengkapnya, semoga rose tidak buta karena ini, tapi bedasarkan keterangan handokon yang mengguyur rose, air itu diarahkan ke badan bukan ke wajah, aku sedikit bernafas lega meskipun harus memastikan lagi dari rekaman CCTV.
Apakah teror rose berakhir, atau malah dia makin menjadi karena merasa makin tertantang? Padahal rencana pernikahan semakin dekat
__ADS_1