
Tentang Zul
Rasanya seperti sesak hingga tidak mampu bernafas dengan lega, kali ini tentang sebuah hubungan yang berakhir karena kita kalah, lebih tepatnya aku. Aku tidak bisa menjalani LDR, rasa curiga menjadi makanan sehari-hari, meski sangat paham bahwa dia wanita yang setia. Kenapa dia sibuk bekerja padahal aku sudah mapan? Aku sanggup membiayai kebutuhan dan gaya hidupnya, berulang kali membujuknya untuk ikut denganku tapi selalu gagal, dia mementingkan karirnya.
Awal putus dengan diana, aku merasa mampu memperoleh yang lebih dari dia, seorang wanita yang penurut dan mengutamakanku sebagai pasangannya. Tapi, lambat laun aku sering merindukannya, seolah tidak ada yang istimewa sepertinya, sudah beberapa wanita ku pacari, namun pada akhirnya memutuskan mereka. Rasanya ingin kembali menyapa, tapi diri ini cukup pengecut untuk sekedar bertanya kabar, setiap hari menyempatkan untuk melihat sosial medianya sebagai pengobat rindu. Diana adalah wanita yang tangguh, dia bukannya mementingkan karirinya tapi dia adalah orang yang bertanggung jawab hingga akhir atas segala keputusan yang dipilihnya, aku yang gagal memahaminya dan egois ingin diutamakan, padahal selama ini dia berusaha memberikan yang terbaik untukku.
Beberapa tahun tinggal dengannya tanpa ikatan pernikahan adalah dosa besar atas nama cinta, menjalani hari seatap dengannya semakin mengetahui karakternya bahwa dia adalah wanita yang baik, meskipun masa lalunya buruk. Dia merahasiakannya karena mungkin sangat melukainya, terlihat saat sedikit saja membahas masa lalunya dia akan marah sembari meneteskan air mata. Diam-diam menyelediki masa lalunya, dari hasil penyelidikan yang dilakukan kesimpulannya aku adalah pria kedua yang tinggal dengannya tanpa ikatan pernikahan, aku juga tahu bahwa dia menjebakku sehingga kami tidur di hotel yang dimana melakukan hal yang seharusnya belum boleh dilakukan, bisa jadi dia berpikir aku masih perjaka, padahal hidupku jauh lebih kelam darinya karena aku selalu merampas mahkota wanita yang ku pacari.
Pertemuan dengan diana mengubah pola pikir yang dimana mencintai adalah merawat bukan merusak. Siapa sangka diana sendiri yang menjebak, aku tahu itu jebakan tapi pura-pura tidak tahu dan menikmatinya, hingga itu menjadi rutinitas yang dilakukan saat tinggal bersama. Apakah aku termasuk bagian dari budak cinta?, beberapa tahun merahasiakan tentang tinggal bersama menjadi sebuah prestasi tersendiri, bertahun-tahun tidak bosan dengannya menjadi hal yang istimewa.
“Ahhhh....” Nyeri terasa pada dada.
“Kamu kenapa, zul?” Tanya wanita dihadapanku yang baru ku pacari tiga jam yang lalu.
“Aku pulang dulu ya.” Segera meninggalkannya meskipun dia belum mengiyakan.
“Kamu sakit karena cinta, zul” Suaranya yang ku dengar lirih.
Tidak peduli dengan keadaan sekitar, intinya aku harus pulang karena nyeri yang makin menjadi. Setiap tidak sengaja ingat atau melihat seseorang yang mirip dengan diana, rasanya dada nyeri, merasakan sakit yang tidak tau pasti letaknya dimana, saat cek ke dokter keadaan fisik sehat. Upaya yang bisa dilakukan adalah menguatkan diri hingga memiliki keberanian untuk menemui diana, aku menerima rasa sakit ini karena keegoisan pada masa lalu yang membuatnya pergi dari kehidupanku, aku adalah orang yang patut dipersalahkan. Bedasarkan informasi yang ku peroleh, diana tidak memiliki pacar setelah perpisahan itu, mungkin trauma karena aku.
***
__ADS_1
“Dosa apa yang pernah kamu lakukan, zul?” Tanya Ikhsan, sahabat karibku.
“Banyak.” Jawabku singkat.
“Bertaubatlah, zul. Kamu memohon ampun dan belajarlah untuk hidup lebih baik.” Nasehatnya padaku.
“Iya, ikhsan.”
Aku mulai merenung atas segala dosa-dosa yang telah aku lakukan saat masa lalu, jahat sekali perbuatanku, tidak terbesit sedikit pun untuk bertaubat, yang ada menjadi hal biasa. Aku mulai mengelist siapa yang pernah ku sakiti, tentunya para mantan pacar yang ku jebak untuk ditiduri, rasanya tidak berani tapi harus bisa mempertanggung jawabkannya. Mungkin apa yang terjadi saat ini adalah hukuman Tuhan padaku, mencari kontak mereka satu persatu melalui teman-teman, disangkanya akan CLBK, bahkan ada yang berpesan supaya hati-hati karena beberapa mantan sudah menikah. Tujuannya bukan untuk menjalin hubungan dengan mereka lagi, dan bukan pula untuk merusak kehidupan bahagia yang mereka miliki saat ini.
Semuanya sudah memaafkan, meskipun ada yang menamparku, dia adalah mantan yang paling baik, yang dengan sengaja ku rusak sehingga hidupnya menjadi kelam, namun usai putus denganku dia memilih untuk bertaubat, tidak sepertiku yang masih berkelana hingga menemukan diana. Ternyata yang dibilang ikhsan ada benarnya, aku harus belajar hidup lebih baik sebelum merengek meminta sesuatu pada Tuhan.
[Melodi, kita putus ya] Chat ku kirim.
[Eh, kok gak marah?]
[Aku tau kalau hatimu masih terisi oranglain, itu yang sering bikin kamu sakit, semoga kamu jodoh sama dia, kalau butuh bantun hubungi aku]
[Makasih ya mel, sekali lagi aku mohon maaf]
Melodi begitu pengertian, mungkin apa yang dikatakannya benar karena setiap hari diana tidak lepas dari ingatan. Aku sudah tidak lagi mencari pelampiasan, tapi fokus pada perbaikan, setiap hari selalu berdoa pada Tuhan untuk diana, aku seorang pria yang masih berharap berjodoh dengannya, suatu hari akan datang di kehidupan diana bukan untuk mengajaknya tinggal bersama meninggalkan pekerjaannya, tapi untuk memohon maaf dan meminangnya.
__ADS_1
Kenangan tentang diana masih begitu melekat, tidak jarang sengaja pergi ke kota yang dimana pernah tinggal bersama, melihat sekilas tempat tinggal kami yang kosong karena ditinggalkan. Menyusuri jalanan kota, mengenang bagaimana kami sering melaluinya untuk berangkat kuliah atau bekerja. Mengungjungi tempat yang dulunya menjadi tempat favorit berdua untuk sekedar makan bersama ataupun melepas penat, semua kenangan tersimpan begitu manis. Kota ini ada perubahan, tapi tetap masih bisa untuk mengenang tentang kisah yang sudah menjadi masa lalu.
***
“Zul, kamu ini udah bertahun-tahun jomblo, umur udah mateng, awas keburu busuk” Celoteh mami padaku.
“Dikira buah mi, busuk gitu.” Responku sembari tertawa.
“Mami pengen cucu, zul” Ucap mami dengan bibir manyun.
“Iya, mi, besok aku adopsi anak” Jawabku dengan malas.
“Ihh, anak kamu ajalah zul” Protes mami.
“Ini, anak temen mami, coba kamu terawang siapa tau cocok” Sambung mami tanpa aba-aba menyerahkan amplop coklat besar.
Aku membuka amplop coklat yang diberikan mami, betapa terkejut ternyata isinya foto dan biodata diana, sangking tidak percaya ku cubit pipiku, ternyata tidak mimpi. Gembira bercampur haru, mungkin inilah jawaban atas doaku selama ini. Saat ku tanya mami, ternyata ibunya diana teman baru mama, yang ternyata sedang sama-sama mencarikan jodoh untuk anaknya, sejak itulah mereka dekat dan bersepakat untuk menjodohkan anak-anaknya, namun karena kesibukan kami barulah direalisasikan saat ini.
Tubuh rasanya panas dingin saat tiba waktunya untuk bertemu diana, membayangkan kecanggungan yang akan dihadapi, pertemuan untuk pertama kali setelah sekian tahun berpisah. Pada akhirnya, kembali dipertemukan dengannnya lagi, meskipun selama ini aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, diana tidak mampu tergantikan.
Netraku tertuju pada seorang wanita yang selama ini ku rindukan, semakin cantik dan anggun. Diana berjalan kearah meja tempatku duduk, gemuruh terasa didada, entah bagaimana harus menyapa hingga tanpa sadar dia sudah ada dihadapanku.
__ADS_1
“Diana” Sapaku dengan penuh kecanggungan.
“Zul?” Diana berusaha memastikan.