
Tahun ini usiaku tepat 27 tahun, usia yang dimana cukup untuk membina rumah tangga, usia yang sering jadi bahan gosip tetangga hingga menjadi objek perjodohan sana-sini. Terakhir saat pulang, tetangga sebelah menjodohkan dengan seorang pria berusia 29 tahun, setelah ditelusuri ternyata agak gangguan jiwa, tentu saja hal tersebut membuat keluarga meradang, si tetangga berkilah kalau usiaku tidak perlu banyak mau. Aku cuek saja, toh belum menikah bukan karena tidak ada yang mau tapi aku yang masih asik sendiri.
Setelah berpisah dengan zul, aku mulai belajar berdamai dengan keadaan, sadar selama bertahun-tahun terjebak dalam kepuasan semu. Aku juga sudah memohon maaf kepada pria-pria yang pernah ku sakiti, tentu saja mereka terkejut, bahkan andri menyangka kalau aku sakit parah yang sebentar lagi akan meninggal sehingga menawarkanku untuk jadi isteri keduanya. Zul, responnya singkat, mungkin luka di hatinya masih menganga dan hingga detik ini dia belum menikah padahal usianya sudah hampir 32 tahun.
Aku mulai menikmati hidup dengan tenang dan tentram, tidak lupa terapi psikis untuk menyembuhkan trauma ataupun lainnya. Kehidupan yang jauh lebih baik, terbesit penyelasan untuk waktu sekian tahun yang tidak berguna alias merusak diri sendiri dan menyakiti orang lain.
Kabar duka datang dari rumah, papa meninggal secara tiba-tiba karena serangan jantung saat sedang jogging, rasanya seperti mimpi karena baru kemarin kita bertemu dan papa bilang ingin melihatku menikah tahun ini, papa antusias membicarakan idenya tentang konsep pernikahan, hingga sudah membayangkan bermain dengan anak-anakku. Percakapan terakhir dengan papa, kalau dipikir-pikir saat ini ternyata beda dari biasanya, terasa sangat hangat sekali dan berkali-kali papa menatapku dengan seksama, dan terus memelukku.
Tubuh papa terbujur kaku, suara alunan ayat Al-qur’an tidak mampu membendung air mata, sengaja ku tinggalkan seminar kantor, meskipun butuh waktu beberapa jam untuk sampai rumah, aku belum terlambat untuk melihat dan memeluk tubuh papa. Mama diam disamping papa, pandangannya begitu dalam menatap wajah tenang papa, tidak peduli dengan orang disekitarnya. Aku memeluk erat papa, membisikkan kalimat cinta yang selama ini gengsi untuk mengungkapkannya. Membayangkan betapa papa berjuang keras untuk keluarga, membayangkan betapa jahatnya aku sebagai anak. Semua yang hadir ikut terharu dan terkejut karena kabar duka yang mendadak, kakak pertama tidak bisa pulang karena sedang berada di Belanda, jika menunggu sampai maka kasian jasad papa, dan kakak perempuanku tengah dalam perjalanan pulang.
Suasana pemakaman ramai dengan orang-orang yang ikut mengantar papa, entah mereka siapa karena mama dan kakak pun tidak tahu. Proses pemakaman berjalan lancar dan khidmat, satu persatu orang-orang pulang, mama masih duduk disamping makam papa dengan tatapan penuh cinta, aku pun tidak mampu melihatnya.
“Papa, tunggu mama ya, kita akan disini bersama.” Ucap mama lirih.
Mereka sudah mempersiapkan pemakaman jauh-jauh hari, ingin saat dimakamkan tetap berdampingan.
\\*
Satu minggu kepergian papa masih banyak menyisakkan duka, mama sudah bisa menerima kenyataan atas meninggalnya papa dan mama mulai berbicara serius denganku tentang keinginan papa.
“Diana, sebelum meninggal papa ingin kamu menikah.” Mama mulai membuka percakapan.
“Dian sudah ada calon?.” Lanjut mama.
Aku hanya menggeleng, bingung juga disaat sudah nyaman dengan kesendirian muncul permintaan orangtua yang bagiku terasa berat.
“Papa sudah mempersiapkan calon untukmu, nak” Mata mama terlihat berbinar-binar.
“Kamu bisa pilih diantara merek bertiga, coba jalan aja dulu.” Tegas mama.
“Iya, mama sayang!” Jawabku gemas dengan hati yang tidak karuan.
__ADS_1
\\*
Aku janjian dengan pria yang mama bilang, katanya teman kolega papa. Bertemu di salah satu kafe, aku datang antara niat dan tidak niat, berdandan sekedarnya saja. Nampak dari kejauhan seorang pria yang tinggi semampai, bertubuh atletis, mengenakan kemeja abu-abu.
“Hai, dian ya?” Tanyanya ramah.
“Angga ya?” Tanyaku memastikan.
“Iya, boleh aku duduk?”
“Silakan”
Kami merasa canggung, lambat laun mencair dengan obrolan yang makin asik, kami bertukar cerita tentang pekerjaan dan lainnya, dari sini aku tahu kalau dia adalah seorang arsitek. Tidak terasa sudah satu jam asik ngobrol, hingga satu jam terasa sirna.
“Maaf ya, aku mau tanya, boleh?” Angga memohon izin.
“Kamu masih perawan?” Tanyanya.
“Maaf banget ya, aku selalu tanya ini ke calonku karena aku gak mau gitu kalau zonk, aku mau sama perempuan yang bisa jaga dirinya.” Lanjut Angga meskipun aku belum merespon.
“Meskipun perempuan itu mendapat tindak asusila orang jahat?” Aku mulai kesal.
“Iya, bedasar pengalaman pribadi sih!”
“Maksudnya?” Aku mulai penasaran.
“Dulu, aku pernah berhubungan pertama kalinya dengan perempuan, setelah itu dia bilang kalau aku bukan yang laki-laki pertama baginya, zonk banget gak sih? Aku pertama kalinya sama dia, entah dia udah sama berapa laki-laki.” Angga menjawab dengan wajah yang kesal.
“Lah... kalau gitu zonk dong perawan yang dapetin kamu, kamu kan udah pernah!!” Aku makin kesal.
“Kalau laki-laki kan gak keliatan, dian!” Dia membela diri.
__ADS_1
"Berhubung aku udah tau, jadi ogah sama kamu!!"
Aku merasa sangat kesal dengan tingkah angga, rasanya ingin ku lempar gelas ke wajahnya, pria yang tidak tahu diri. Aku mundur saja, selain karena tidak memenuhi syarat, aku tidak suka dengan pola pikirnya. Pura-pura ada keperluan, aku pulang dengan mengumpat sepanjang jalan, ya Tuhan makhluk apa angga itu? Ingin ku remas otaknya yang entah ditaruh dimana.
Mama bertanya, aku bilang kalau tidak cocok. Bukan mama kalau tidak putus asa, masih ada dua pria lagi, bahkan mama sudah persiapkan lima pria cadangan, anak teman-teman arisan mama. Aku ikuti saja alurnya, kalau tidak cocok ya sudah. Mama langsung mengatur pertemuan untuk pria kedua, pada hari yang sama aku bertemu dengan Angga.
Laki-laki berkacamata duduk dalam keadaan tegang didepanku, dia nampak salting, sepertinya karena pertemuan pertama dengan atau memang sebelumnya tidak pernah semeja dengan seorang wanita. Aku membuka topik obrolan, dia pasif, rasanya membosankan kalau aku bertanya terus.
“Kamu mau minum lagi?” Tanyanya yang kalau tidak salah sudah sepuluh kali ditanyakan kepadaku.
“Gak, mas” Jawabku sambil tersenyum meski dalam hati ingin memaki.
“Aku..emm.. aku..” ucapnya terbata-bata.
“Aku kenapa?”
“Kamu cantik, tapi kamu bukan tipeku karena terlalu moderen, aku gak suka punya isteri kekinian kaya kamu, bikin boros!”
“Mas Elman, kamu malah sangat sangat bukan tipeku banget sekaliiiiii, kamu dari tadi cuma tanya mau minum lagi gak, itu udah sepuluh kali ya. Lagi pula, siapa juga yang mau sama situ, terlalu kolot untuk di era moderen.” Ucapku sambil meninggalkannya yang sedang terkejut, lega juga bisa meluapkan kekesalan yang terpendam.
\\*
Perjodohan gagal lagi, semangat mama kian membara. Bahkan setiap hari ada saja pria yang ditawarkannya padaku, hingga aku kesal karena ditertawakan oleh emi yang merupakan teman kantor. Masih ada satu pria pilihan papa yang belum dipertemukan denganku, mama bilang kalau pria itu menolak, wah apa-apan ini sudah berani menolak sebelum melihat. Tapi, masa bodo’ karena aku pun belum menginginkan menikah. Lagi pula, aku tidak yakin dengan pilihan mereka, zonk lagi kan gak lucu, kualat jenis apa ini ya Tuhan hingga aku dipertemukan dengan makhluk-makhluk ajaib yang ingin ku jambak.
[Cuti selanjutnya kamu wajib pulang, selesaikan urusan perjodohan, mama akan kerahkan teman-teman mama untuk bantu carikan calon mantu!!] Suara mama menggelegar diujung telepon.
[Mammm, gak sekalian iklanin di koran atau sosial media??] Responku yang sangat gemas.
[Ide bagussss!!]
[Mamaaaaaaaaaaaaaa....!]
__ADS_1