Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Aku dan zul makin dekat, hingga ada rencana untuk segera melangsungkan pernikahan. Tentu saja hal itu membuat orangtua kami bahagia, bahkan sangat antusias menyiapkannya.


“Pergi kamuuuu...!!!” Teriak mami sambil membanting gelas kearah pintu.


Segera aku mendekati dan memeluknya yang sedang duduk memeluk lututnya, terlihat air mata mengalir deras, ada ekspresi marah dan ekspresi terluka pada wajahnya. Semakin ku peluk erat hingga tenang, berusaha menghiburnya, dan ku tuntun kearah kursi. Tubuhnya terlihat lemas, entah berapa lama mami mengalami hal ini, yang pasti saat aku tiba keadaan dalam rumah sudah berantakkan karena banyak barang yang pecah.


“Mami, tidak cantik? Mami jahat? Mami tidak pantas bahagia? Mami tidak pantas memiliki zul? Mami harus mati?”


Aku duduk jongkok dihadapannya sembari memegang erat jemari yang dingin dan berkeringat, berusaha menunjukkan energi positif, saat ini entah apa yang mebuat jiwanya tergoncang, kemarin masih ceria seperti biasanya.


“Mami, aku ingin mami tetap hidup, aku bahagia memiliki mami, jangan tanya tentang itu lagi ya. Aku sayang sama mami, makanya aku ingin selalu dekat dengan mami.”


Zul yang baru tiba di rumah menyembunyikan ekspresi terkejut dan seolah-olah semuanya normal, menyunggingkan senyum manis sambil menyapa, dan memeluk erat mami, kecupannya mendarat di pipi mami. Zul berusaha menenangkannya dengan cara menceritakan memori kebahagiaan mereka berdua, aku beranjak berdiri, sepertinya kejadian ini sudah sering terjadi, banyak pertanyaan yang ku simpan di kepalaku, tapi tidak tepat kalau ditanya sekarang.


***


“Mami sudah tidur, dian?”


“Sudah, zul”


“Ayo kita bicara diluar rumah”


“Iya, zul”


Zul menunjukkan ekspresi sebenarnya, tidak ada lagi ekspresi ketegaran seperti tadi. Matanya mulai berkaca-kaca, terdiam seolah menyusun rangkaian kalimat yang akan diceritaknnya, sesaat kemudian memulai cerita. Selama ini zul menyimpan rahasia tentang keluarganya, zul yang dulunya sempat membenci keluarga berawal dari pernikahan mami dengan suami keduanya, rasanya belum siap memiliki ayah baru, berhubung hal tersebut adalah wasiat dari ayah kandungnya maka dilangsungkan pernikahan tersebut. Ayah tirinya orang kepercayaan keluarga, yang selalu setia pada keluarga zul karena ayah zul berteman dekat sejak SD.

__ADS_1


Sejak menjadi suami mami, dia berubah menjadi orang yang rakus, over posesif, kasar, hobi bersenang-senang dengan perempuan-perempuan muda. Hal tersebut sontak membuat mami marah, sekuat tenaga berusaha menghentikan, namun mami kalah dengan ancamannya akan membunuh zul, bagaimana mami tidak takut karena tahu betul suaminya tidak segan melakukan tindakan tersebut. Mami mengalami kekerasan secara fisik dan verbal, namun diluar rumah terutama didepan rekan bisnis sikapnya berubah menjadi baik hati, hal itulah yang menganggap kalau mami beruntung menikah dengannya, mami pun tentunya dituntuk untuk berakting dengan sempurna bahwa pernikahannya bahagia, jika tidak usai sampai rumah akan dipukuli habis-habisan.


Beberapa tahun menjalani pernikahan seperti di neraka, kenyataan pahit harus diterima, suami pertama mami tidak murni meninggal karena kecelakaan tetapi ada rekayasa TKP, dalang semua itu adalah seseorang yang menjadi suami keduanya. Sontak hal tersebut membuat mami terpukul, dia menceritakan segalanya pad zul dan meminta zul untuk pergi sejauh mungkin. Pengacara mami mengurus semuanya di bidang hukum, bedasarkan bukti yang ada, suami keduanya menjadi terdakwa, sayangnya sehari sebelum persidangan pembacaan tuntutan di pengadilan, dia ditemukan tewas bunuh diri dalam rumah tahanan.


Psikis mami terganggu, sehingga membuat zul meninggalkan karir cemerlangnya karena harus menggantikan mengurus bisnis dan menjaga mami yang kondisinya tidak stabil. Sebagai anak tunggal, yang awalnya marah pada mami karena menduga mami tidak sayang padanya lagi tapi lebih mengutamakan suami berunya, merasa menyesal, dengan telaten merawat mami hingga berangsur-angsur pulih. Dalam proses pemulihan sering sekali mengamuk, mami berhalusinasi kalau ada suami keduanya yang datang akan memukulinya. Entah sudah berapa banyak barang yang pecah dilempar ke segala arah, entah berapa banyak dan rasa sakit zul akibat cakaran atau gigitan atau pukulan ketika berusaha menenangkannya. Semuanya tidak sia-sia, saat mami dinyatakan sembuh kemudian pindah tempat tinggal supaya bisa melupakan peristiwa buruk.


“Dian, kamu boleh pergi dariku, maaf aku yang tidak tahu diri ini menginginkanmu lagi” Ucapnya perlahan.


“Zul, aku pun punya rahasia, saat pertama kita melakukan di hotel, aku sudah tidak...”


“Aku sudah tahu” Potong zul.


“Bagaimaa...”


“Aku menyeledikimu diam-diam, bahkan aku menemui mantanmu, mantanmu sangat kurang ajar, aku hadiahi dia energi dua pukulan”


“Aku mencintaimu bukan karena fisikmu, dian. Masa laluku juga kelam, aku juga perebut mahkota-mahkota itu, tapi ketika dengan kamu entah kenapa aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Aku tahu kalau kamu menjebakku, tapi aku enggan mengelak karena aku mencintaimu. Terus terang kenapa aku tidak suka LDR, karena aku bergantung padamu.”


“Aku pun tahu masa lalumu tapi aku tidak peduli”


“Maaf, waktu itu aku putusin kamu.” Sambungku lagi.


“Udah jalannya, kalau gak, mungkin kita gak akan berubah jadi lebih baik. Tapi darimana kamu tau?”


“Racauanmu saat mabuk, setelah ku telusuri ternyata benar”

__ADS_1


***


Aku penasaran kenapa mami kambuh seperti itu, bedasarkan informasi dari mama, tiga hari sebelum kejadian tersebut, mami pergi menemui seorang wanita bernama Rose, tentu saja hal tersebut ku beritahukan pada zul. Setelah kejadian tersebut mami tinggal di rumahku karena zul sedang sibuk dengan urusan bisnisnya, aku dan mama tidak mempermasalahkan apa yang dialami mami. Meskipun mama orangnya heboh dan kadang lebai, tapi memiliki empati yang tinggi, itulah kenapa beberapa kali ditipu temannya, bukan mama kalau kapok. Mama merawat mami penuh kasih, kami tidak bertanya terkait alasan yang membuatnya kumat, lebih fokus pada penyembuhannya.


“Dian” Sapa mami.


“Iya, mii” Responku sambil tersenyum hangat.


“Rose mau membunuh Zul, kamu, dan mama”


“Kita gak kenal rose kok mi”


“Rose itu orang yang menghasut Pak Joe, suami kedua mami untuk jahatin keluarga mami. Dia marah karena ayahnya zul tidak memilihnya, rose dulu sangat mencintai ayahnya zul”


“Hah?”


“Rose mantan pasien di rumah sakit tempat ayahnya zul bekerja” Ucap mami.


“Dulu saat menikah dengan pak joe, yang membuat mami tertekan bukan cuma pak joe tapi si rose juga, dia sering datang ke rumah mengancam, memukul, dan merusak perabotan rumah.” Lanjut mami sembari menahan rasa takut.


“Jadi beberapa hari yang lalu bukan mami yang merusak isi rumah, tapi rose?” Tanyaku penuh selidik.


“Iya” Jawab mami singkat.


Aku terkejut dengan cerita mami barusan, ujian yang tidak sederhana dan harus dicarikan solusinya. Mama yang mengetahui kejadian tersebut jiwa posesifnya muncul, kemana-mana wajib memberitahukannya, tidak terlihat sebentar langsung dicari, padahal lagi BAB, kekhusu’an pun terganggu karena teriakan mama, dan mama menyewa bodyguard untuk melindungi keluarga, termasuk untuk melindungi zul. Zul awalnya terlihat risih, namun lamban laun bisa menerima kehadiran body guard tersebut. Mama juga menyusun strategi untuk menghadapi rose apabila mengganggu lagi.

__ADS_1


“Adakalnya kita harus terlihat gila untuk megahadapi orang gila” Ucap mama sembari berlalu untuk memberi makan ikan.


__ADS_2