
Sebulan berlalu, aku sudah pulang ke rumah dan keadaan sudah kembali normal, tapi harus lapang LDM beberapa hari, seperti saat ini harus tinggal sendirian di rumah selama tiga hari karena zul harus ke pedalaman. Terasa sepi sehingga video call dengan mama dan mami, saling melepas rindu dengan bertukar cerita lucu dan tertawa bersama. Usai berbincang-bincang dengan mereka, aku masuk ke ruang kerja zul, betapa terkejutnya ruang itu berantakan, seperti ada yang mengamuk disana. Diam sejenak , mencoba mencerna dengan logika, bukankah terakhir kalinya ruangan ini rapi karena kemarin sudah dirapihkan? Sedangkan zul baru pulang esok hari.
“Ahhhh..!” Teriakku ketika tersadar ada luka di kaki.
Luka seperti terkena pecahan kaca, ku lihat ada ceceran darah di ruang kerja zul. Mungkinkah orang asing masuk kedalam rumah? Aku mulai panik membayangkan ada penjahat masuk kedalam rumah, tubuh terkulai ke lantai, rasanya tidak mungkin ada orang di rumah selain diriku, netraku menatap seluruh ruangan, tanpa sadar menggigit bibir dan berdarah, mata fokus pada CCTV yang sengaja dipasang oleh zul, tapi sayangnya hancur seperti dilempar benda.
Aku mulai frustasi dengan kejadian-kejadian aneh yang sudah berkali-kali terjadi, rasanya ingin menyuruh zul pulang, tapi dia sedang di pedalaman, tanpa pikir panjang aku menghubungi maya, dan maya akan datang ke rumah untuk menemani hingga zul pulang ke rumah.
***
Lama tidak bertemu dengan maya, tentu rindu dengannya yang masih saja seperti dulu. Kami berbicara banyak hal, hingga bertukar cerita pribadi, tapi aku tidak menceritakan kejadian aneh zul maupun kejadian barusan.
“Diana, kamu gak tertarik cerita tentang pak arka?” Tanya maya sedikit sungkan.
“Gak, may. Kan sudah jelas kalau aku bukan tipenya mereka, lagi pula itu masa lalu, sudah gak ada rasa lagi” Jawabku enteng.
Maya terdiam bengong setelah mendengar jawabanku, seolah ada sesuatu yang ingin diungkapkan tapi diurungkan, aku tidak penasaran, sehingga beralih topik. Kami menikmati pertemuan ini dengan baik meskipun hanya di rumah, rasanya ingin kembali bekerja, tapi harus dibicarakan dulu dengan zul.
Maya menyadari ada luka di kakiku, dia terlihat panik, tapi responku santai karena bukan luka yang besar. Maya memaksa agar menceritakan kejadian sebenarnya, alhasil aku pun menceritakannya. Mata maya terbelalak, seolah tidak percaya tentang zul yang berubah, dan tentang teror yang dialami.
“Kamu gak apa-apa jalani dengan zul yang berubah begitu?” Tanya maya memastikan.
“Yes, aku siap. Kekurangan yang dimiliki bukan jadi alasan untuk saling pergi.” Jawabku mantap.
Seulas senyum terlihat dibibir maya, meskipun masih terlihat ekspresi kekhawatirannya. Zul pasti tidak akan menyakitiku, itulah keyakinan yang ku miliki terhadapnya.
***
Aku menggeliat dibalik selimut, udara terasa sejuk dari jendela yang dibuka, perlahan-lahan aku membuka mata, reflek segera menutup mata ketika cahaya matahari menyapa.
“Maya..!” Panggilku.
“Aaaaa..!” Teriaknya saat melihatku.
“Bisa gak kamu rapihin dulu sebelum keluar kamar” Protesnya sambil menunjuk diriku.
__ADS_1
“Apaan sihh?” Tanyaku penasaran.
Aku menatap cermin, pantas saja maya terkejut karena terlihat seperti hantu, maklum habis bangun tidur sehingga urak-urakan dan warna bajunya pun sepertinya cocok dengan karakter tersebut, setangguh-tangguhnya maya ternyata bisa takut juga. Aku baru ingat kalau dia takut dengan horror, pernah sampe sakit karena dikerjai teman-teman kantor. Langkah kaki mendekat ke arah maya yang sedang menyiapkan sarapan, tatapanku tertuju pada tangan yang luka.
“Kamu kenapa?” Tanyaku.
“Tadi aku ga sengaja kena pisau, Dian” Jawabnya tenang.
Mataku menatap seluruh ruangan, nampak pecahan kaca yang dikumpulkan disudut meja dapur, aku makin tidak tenang, munkinkah dia diteror juga?.
***
Kami menikmati sarapan dengan khidmat karena tanpa saling bicara, terlihat maya sedang memikirkan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Sesekali tatapannya kearahku, hingga tak sabar lagi menanyakan tapi dia hanya diam, seperti orang trauma.
“Kamu diganggu? Kamu marah karena aku seperti hantu?” Cecarku padanya.
“Bukan, dian.” Jawabnya dengan tubuh gemetar.
“Terus apa?”
“Boleh, ayo hari ini kita urus” sahutku mantap.
Setelah sarapan kami bergegas untuk mengurus pemasangan CCTV, belum juga pergi terlihat zul sudah pulang, dia pulang lebih awal dari yang ditentukan. Terlihat wajahnya lelah tapi berusaha untuk tetap tersenyum saat melihatku.
“Mau pergi kemana, sayang?”
“Mau ngurus pemasangan CCTV sekaligus refereshing bentar, ku kira masih nanti pulangnya.”
Mendengar jawaban tersebut maya dan zul beradu pandang, kemudian zul terfokus pada luka ditangan maya, terlihat sebuah kekhawatiran diwajahnya.
“Aku gak apa-apa, zul, ini luka kena pisau” Maya menyadari tingkah zul.
“Ok, baiklah”
Terdengar hembusan nafas lega mendengar jawaban maya, dia berjalan kearah bungkusan pecahan kaca untuk membuang. Sempat melarangnya karena dia harus istirahat usai sarapan, sarapan sudah siap, tapi memang dia tidak bisa melihat rumah berantakan. Aku meninggalkannya di rumah sendirian, dia tidak mempermasalahkan, hal ini jug agar dia bisa fokus istirahat tanpa gangguan dariku.
__ADS_1
Saat diperjalanan maya tidak banyak bicara, seperti ada hal berat yang sedang dipikirkan, mungkin pekerjaan atau dia disuruh menikah oleh ibunya, entahlah.
“May, nanti kita makan tempat favorit kita yuk!”
“Kamu yakin, dian?”
“Memang kenapa?”
“Disana tempat favorit pak arka juga loh”
“Aku sudah move on!!!"
***
Sebuah warung makan yang terletak dipinggir jalan menjadi tempat makan favorit semasa kerja, makanannya sederhana namun lezat, ditambah lagi dengan harga yang murah, semakin banyak pelanggan yang datang, ketika jam makan siang maka sangat ramai hingga penjual menyediakan tempat diluar warung. Aku duduk diluar, tepatnya dibawah pohon akasia yang sudah berumur, letak yang menjadi favorit karena semilir angin yang membuat sejuk, pohon ini terletak disamping warung.
“Kak diana, lama ga ketemu ya, kerja lagi kah?”
“Saya ikut suami yang kerja disini, bu”
“Wah sudah jodoh sama Kalimantan ini, pergi eh kesini lagi”
“Kak Maya ada kawannya lagi deh, kan pak arka sudah gak kerja lagi”
Mendengar pembicaraan Bu Nanik, pikiranku tiba-tiba pada pak arka, banyak pertanyaan yang ingin diutarakan pada Maya. Maya seakan mengerti apa yang akan ditnyakan, dia terlihat tenang.
“Akan aku ceritakan nanti, dian”
Aku mengangguk, tidak perlu bertanya karena pasti maya akan menjelaskan. Makanan yang seharusnya lezat terasa hambar karena pikiran tidak tenang, seperti sebuah misteri mendengar ucapan bu nanik. Ada apa dengan pak arka yang tiba-tiba berhenti kerja? Bukankah jiwanya ada di perusahaan itu? Bahkan dia mengatakan kalau tidak bisa bekerja di perusahaan lain karena sudah terlanjur nyaman.
Saat asyik makan, handphone maya berdering, segera diangkat panggilan tersebut dengan sedikit ragu.
[Kita harus bertemu, ada yang harus dibahas]
Aku mendengar suara yang tidak asing bagiku, seperti suara zul, tapi mungkin saja bukan karena hanya mendengar suara dari telfon.
__ADS_1