Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Menikah


__ADS_3

Teror Rose terhenti setelah pristiwa malam itu, mama meminta agar menyegerakan pernikahanku dengan Zul, tidak harus berpesta besar, yang penting sah secara agama dan negara. Pertimbangan tersebut kami sepakati, hal ini dilakukan untuk


kebaikan bersama, meskipun terkesan mendadak, bahkan ada yang menyebar isu kalau aku hamil duluan, tapi tidak perlu diambil pusing, tidak usah diundang saja orangnya.


***


Aku mengenakan gaun putih simple sedangkan Zul mengunakan setelan jas, nampak keren sekali membuat mataku menatap tanpa berkedip.


“Sayang mengedip, nanti malam sudah bisa puas menatapnya” Ucap mama sembari menggoda.


“Duhh siss, nanti malem acaranya bukan tatap-tatapan” Mami pun menimpali bercandaan


Mama.


Ku alihkan pandanganku pada objek lain, mulai salah tingkah karena saat ini Zul yang menatapku tanpa berkedip. Kami pernah beberapa tahun bersama-sama kemudian berpisah dan bertemu lagi untuk sepakat mengikat janji, grogi ini baru pertama


merasakannya, tidak bisa ditafsirkan bagaimana rasa yang bercampur aduk. Aku merasa ini seperti mimpi, cara Tuhan menyatukan kami kembali begitu indah, kami melalui fase perbaikan diri sendiri bukan karena pasangan tapi kesadaran. Seulas


senyum terukir di bibirnya, senyum yang paling indah yang pernah terlihat, aku menatapnya bersamaan dengan keberkahan Tuhan, rasa syukur, dan semua ini dilakukan untuk mengharap ridho Tuhan.


***


Acara pernikah hanya keluarga saja, maka selesai cepat kemudian bisa bersantai. Cahaya rembulan terlihat terang, mungkin ini yang disebut sailor moon, entahlah. Intinya taman rumah mama terlihat semakin terang, kilauan air dari kolam pun menambah keindahan meskipun penghuninya sudah tiada. Duduk di taman menjadi kegemaranku saat berhenti bekerja, taman di rumah ini menyimpan kenangan indah tentang keluarga, sebelum kakak-kakanya merantau jauh, sebelum papa tiada.


“Ini teh lemon untuk kamu” Zul menghampiriku.


“Dulu saat kamu sedang berpikir, teh lemon membantumu untuk tenang.” Sambungnya sembari menaruh teh di meja.


“Kamu ingat semuanya?” Tanyaku penasaran.


“Aku tidak pernah melupakan tentangmu sedikitpun, naluriku mengatakan kalau kita akan bertemu lagi.” Jawabnya sembari menerawang jauh.


“Maafin semua kesalahanku ya” Ucapku dengan membuang rasa gengsi.


“Aku maafin kalau kamu panggil aku sayang atau mas, kan kita sudah menikah”


“Ehh berbuat baik gak boleh pamrih”

__ADS_1


Tawa kami pecah, masih tidak percaya kalau sudah menikah, di taman ini kami bernostalgia tentang masa lalu dan menyesali perbuatan tidak baik. Biasanya kalau nostalgia akan bertengkar, aku cemburu kalau dia menceritakan mantannya dulu, mantan yang nyaris membuatku tidak elegan karena dibuat kesal olehnya. Kalau sudah begini, dia akan mengalah dan menanyakan apa yang aku inginkan, kemudian langsung memastikan kalau tidak ada lagi rasa yang tertinggal, sekarang fokusnya padaku, pada keluarga kecil yang akan dibentuk.


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, rasa kantuk menghampiri, udara malam semakin dingin, teh lemon hangat tidak mampu mengatasi. Aku menggosok-gosok telapak tangan agar hangat, Zul menggenggam tanganku sembari mengusap-usap, aku terkejut karena merasa ini baru pertama kalinya dia begitu romantis, entahlah apa yang ada dipikiranku, padahal dulu aku menganggap dia selalu romatis, dulu sebelum menikah.


“Sayang, biasa saja lihatnya, aku tahu kalau tampan” Ucapnya sembari menatapku, kami beradu pandang.


“Ehhh,, emmm, emmm itu, kamu eh mas, rambutmu ada uban” Aku menjawab sekenanya.


“Hahhh? Yang bener? Duhh belum juga punya anak sudah beruban ini, ada tips supaya cepat punya anak sebelum uban jadi banyak?” Zul pura-pura terkejud sembari menggoda.


“Tanya mama dan mami saja” Responku.


Dia tertawa mendengar responku, menatapku mendalam, kemudian mengatakan kalau aku


sudah banyak berubah, tentunya berubah menjadi lebih baik. Aku merasa kami aneh, bukannya fokus bahagia karena sudah menikah, tapi malah merasa aneh ketikan ingatan masa lalu dan sekarang bertemu, masih tidak percaya saja, dulu kami tidak memikirkan pernikahan, kami bersama-sama saling mencintai dan setia itu sudah cukup.


“Anak-anak mamiiiii, sudah malam, ayo tidurrrrr!” Teriak mami dari balkon.


“Iyaaaa, jangan sampai cucu tertunda karena kalian ngobrol sampai pagi” Sambung mama


“Siappp mammmm, mau dicetakin berapa?” Zul menanggapi candaan mereka.


“Sebanyak-banyaknya, warisan keluarga kita tujuh turunan gak abis-abis” Jawab Mami.


“Apaaaaaa!!!”Teriak protesku.


Kami saling tatap kemudian tertawa bersama, Zul merangkulku untuk masuk ke kamar, lagi-lagi aku merasa canggunng. Benarkah malam ini harus tidaur bersama di kamar, aku pun melihat kecanggungannya, intinya sama-sama canggung. Sesampainya di kamar, tidak ada kata-kata yang terdengar, dia langsung ke kamar mandi untuk


prepare tidur, pun aku bergantai pakaian. Setelah Zul keluar dari kamar mandi, aku bergantian masuk, ini ku lakukan agar tidak bersamaan dalam satu waktu.


Aku keluar kamar mandi zul sudah berbaring terpejam, pelan-pelan ku selimuti. Dalam


hati dilema, harus tidur disampingnya atau tidak. Aku diam berdiri mematung di tepi ranjang, perasaan apa ini Tuhan? Zul terlihat nyenyak.


“Sayang punya kekuatan tidur berdiri?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.


“Ohh, tidak.”

__ADS_1


“Kesini” Perintah Zul agar aku berada disisinya.


Malu-malu aku mendekat, kini sudah bersebelahan. Zul membukan percakapan kalau sekarang merasa seperti baru mengenal, merasa semua serba pertama, termasuk tidur bersama. Tapi, dia beranggapan kalau ini namanya adaptasi pernikahan, selama apapun mengenal tetap awal menikah butuh adapatasi dari awal karena sudah beda


ikatan antara pacaran dan pernikahan. Aku pun meresapi kalimatnya, hal ini bukan dihindari tapi harus ku hadapi, harus bisa mengatasi dengan baik. Aku menarik nafas dalam, memejamkan mata, melakukan afirmasi postif, aku pun merenung mengenai statusku sekarang.


Zul memeluk dan mengecup keningku, pelukannya erat seolah tidak ingin berpisah. Aku menyambut pelukannya dengan erat, aku baru menyadari kalau merindukannya, menyadari kalau selama ini dia masih di hatiku, orang terbaik yang pernah menjadi pasanganku dulu. Dia membuktikan ucapannya untuk tetap bersamaku, meskipun kami harus berpisah dulu. Zul bukanlah orang yang mudah menjanjikan


sesuatu, dia selalu berpikir mampu tidaknya melakukan, dirasa mampu maka akan memberi janji, dirasa tidak makan tidak akan memberi janji.


“Aku merindukanmu dan gak mau lagi kehilangan kamu, Sayang” Ucapnya lirih.


“Aku juga, sayang” Responku yan masih canggung memangggilnya sayang.


“Ok, bisalah sekarang mulai proses bikin cucunya duo Nenek” Zul menggodaku yang


sudah mulai mellow.


“Zulllllllll.....!!!” Teriakku pelan sembari mencubitnya.


***


“Selamat pagi pengantin baru”Goda Mami yang melihatku keluar dari kamar.


“Selamat pagi pengantin lamaaa...” Balas godaku.


Mama muncul dengan baju kebesarannya, daster dan clemek memasak, mama meminta kmai untuk segera makan. Hobi mama setelah pensiun dari pekerjaannya adalah memasak, kadang menerima pesanan katering, kadang saja karena hanya dijadikan hobi bukan sebuah usaha. Kalau sedang tidak minat menerima pesanan, tapi customer memaksa maka harus merayunya berhari-hari, biasanya sahabat mama.


Kami semua sudah berkumpul di meja makan, sarapan pertama sebagi keluarga yang sah,


lebih tepatnya aku dan zul sih. Aku menatap zul yang sedang makan, dalam hati berguman bentukannya baru bangun tidur lucu juga. Zul menyadari aku menatapnya dan tersenyum.


“Mammm.. itu Diana, melihatku begitu, apa perlu proses bikin calon cucu lagi supaya dia berhenti menatap?” Ucap Zul yang berpura-pura serius.


Aku diam, dalam hati dongkol dan merencanakan balas dendam. Tanpa sadar mukaku


merah padam, alhasil jadi bahan tertawaan kami semua.

__ADS_1


__ADS_2