Cinta Tanpa Mahkota

Cinta Tanpa Mahkota
Awal Kehancuran (Bagian 2)


__ADS_3

Penerbangan sore terasa sahdu karena disuguhkan pemandangan sunset yang memukau, hal yang menjadi favoritku. Kota ini sebentar lagi akan ku tinggalkan, entah kapan kembali, setiap kembali terasa rindu terobati tetapi luka kembali menganga. Netraku jauh menerawang keluar jendela, ingatan kembali berkelana mengenang yang entah masih pantas dikenang atau tidak.


Andri menjadi petualangan pertama mengenai kehidupan bebas dalam percintaan, sadar bahwa perbuatan itu dosa tapi kalah dengan rasa putus asa yang ada. Kehidupan yang ku miliki berubah hanya untuk kesenangan yang fana, meninggalkan Tuhan sudah bukan lagi hal yang besar. Keseharianku sangat berbeda dari sebelumnya, yang ada dipikiran intinya manusia kotor pun bisa bersenang-senang. hubungan percintaan bebas dengan pasangan saat dia cuti, mabuk, menjadi hal yang biasa, namun tidak terbesit sedikit pun untuk memakai narkoba ataupun merokok.


Kehidupan pribadi memang banyak yang berubah, tapi tidak dengan kehidupan akademik di bangku kuliah, aku tetap menjadi mahasiswi berprestasi yang memperoleh beasiswa, dan aktif di kegiatan organisasi kampus. Dibalik kepribadianku yang ramah namun sedikit bicara, teman-teman kampus tidak tahu kenakanlanku karena membatasi diri terkait kehidupan pribadi, dalam hal mabuk itu dilakukan di apartemen yang tidak ada satupun temanku tahu, memang jaraknya lumayan jauh dari kampus, tepatnya dekat bandara karena untuk mempermudah Andri ketika datang menemuiku. Hal penting yang menjadi patokanku, kehidupan pribadi dengan kehidupan diluar harus dipisahkan, saat sadar terjerumus pada hal tidak baik bukan berarti seluruhnya harus buruk, dan nakal yang ku lakukan sendiri karena tidak sekali pun mengajak teman untuk mabuk, sebenarnya poin pentingnya ingin menjaga nama baik keluarga.


Kita tidak pernah bisa memilih pada orang tua mana, pada keluarga mana dilahirkan karena semua itu sudah kehendak Tuhan, tapi kita bisa memilih membentuk keluarga seperti apa. Meskipun terlahir di keluarga yang membuatku mengalami hal mengerikan, bukan berarti membenci mereka, bukan berarti tidak menghormati mereka, dan bukan berarti merusak nama baik keluarga. Kehidupan keluargaku yang terkesan dingin dan saling acuh membuatku betah untuk tinggal di perantauan. Aku lebih senang dengan kehidupan bebas seperti ini, jauh dari keluarga yang hanya bekabar via handphone, terutama pada orang tua, maka dengan kata lain keluarga pun tidak tahu kenakalanku juga.


Setiap Andri cuti selalu datang menemuiku, bahkan sering menghabiskan waktu cuti denganku ketimbang keluarganya, keluarganya tidak terlalu peduli dengan berapa lama di rumah sepanjang uang bulanan mereka lancar, itulah yang membuatnya malas di rumah lama-lama. Andri lebih banyak di apartemen ketimbang berpergian saat aku kuliah, dia lebih memilih mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak, menyuci, menyetrika, dan lainnya, dia selalu bilang kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan setiap hari karena jarak yang memisahkan. Hal inilah yang membuatku semakin sayang padanya, dibalik kelebihannya tentu memiliki kekurangan yang sering membuat bertengkar, saat marah maka dia akan menggoda gadis-gadis di sosial media atau bahkan pernah pergi jalan, seolah ingin menunjukkan kalau sangat mudah baginya untuk mencari penggantiku, tentu saja dia mengandalkan uangnya.


Tepat tiga tahun hubunganku dengannya, sering terjadi pertengkaran karena tuduhan-tuduhannya yang tidak masuk akal, seolah tidak bisa memahami kesibukan di kampus yang ku miliki. Dia menuduh berselingkuh, padahal tidak, setiap dia datang selalu mengecek ponsel setiap hari dan jarang membolehkan pergi selain untuk kuliah, tentunya dia meminta jadwal kuliah serta mengantar dan menjemput. Awalnya aku tidak keberatan dengan aturan baru yang diterapkan karena merasa mungkin itu yang terbaik untuk sesama, demi mengurangi pertengkaran serta tuduhan palsunya. Seiring waktu mulai jenuh dengan sikap posesif yang makin menjadi-jadi sehingga membuatku tidak berkembang, mulai membrontak dan hal itu semakin membuat kami bertengkar, hingga tiba pada suatu keputusan akhir, aku memilih berpisah dengannya. Tentu saja dia tidak terima, selain memohon untuk kembali pastinya menuduh kalau aku memiliki pria lain yang membuatku berpaling, kemudian menyelipkan pesan bahwa aku tidak bisa diterima pria lain karena percintaan bebas kami.


 


\\*


 

__ADS_1


Satu tahun setelah berpisah dengannya bukan hal yang mudah karena harus melalui dua bulan pertama kesedihan, menangis setiap malam, dan tentunya demi move on yang maksimal maka pindah dari apartemen tersebut. Bukan sekedar sedih, tapi stres juga memikirkan kalimat terakhir yang diucapkannya kemudian bertanya pada diri sendiri benarkah? nyaliku merasa tertantang untuk membuktikannya. Aku mencoba mencari pria yang sesuai dengan kriteriaku, tentunya yang berkepribadian baik, butuh waktu tiga bulan untuk menyeleksi hingga tersisa satu pria, Zul. Zul merupakan seorang karyawan di perusahaan asing, yang kebetulan sedang bertugas satu kota dengan tempat tinggalku. Kita dikenalkan oleh teman kuliah, kami sering makan bersama, hingga jadian, merasa sangat bangga. Saat ingin ku pamerkan di sosial media, aku melihat andri sudah menggandeng perempuan lain, aku urungkan karena merasa belum lebih unggul.


Satu tahun hubunganku dengan zul berjalan baik, dia orang yang baik meskipun kurang bisa mengelola emosi. Entah apa yang ada dipikiranku, persiapan siasat menjebak sudah mantap, rasanya aku lebih unggul kalau berhasil merubah seseorang, sayangnya bukan hal yang positif, tapi entah kenapa pasti berhasil.


Cahaya mentari pagi menembus celah-celah ventilasi jendela, menatap pria yang tengah tidur pulas disampingku, dia berhasil ku jebak, lebih tepatnya diberi umpan. Mau perjaka atau tidak rasanya tetap sama, hanya saja meras puas karena bisa merasakan menjebak seseorang masuk dalam kehidupan kelam. Sisa-sisa kehebohan semalam masih nampak, salah satu villa di bali ini menjadi tempat mengabadikan kenangan yang terjadi malam tadi.


“Selamat pagi, sayanggg!” Sapaku manja.


“Selamat pagi juga, cinta!” Ucapnya sembari memelukku.


Sepulang dari bali, kami memutuskan untuk tinggal bersama, menyewa sebuah rumah di kawasan elit, pertimbangannya bukan karena teralalu banyak uang, tapi untuk menjaga rahasia tentang tinggal bersama. Di kawasan ini seolah-olah mereka tidak punya waktu untuk mengurusi kehidupan tetangga, sibuk dengan urusannya hingga entah bagaimana wujud tetangga sebelah, terkesan ansos atau individual, tapi bagi yang memiliki rahasia merupakan tempat yang tepat. Lokasi yang lumayan jauh dari tempat kerja dan kampus, arah jalan pun berbeda maka jarang untuk berangkat bersama, dia kearah timur, aku kearah barat. Kehidupan yang dijalani, lebih ringan konflik, mungkin karena sering bertemu sehingga tahu kesehariannya bagaimana.


“Aku yang menang, kamu hanya pecundang!” Bisikku dalam hati dengan tawa puas.


Kebersamaanku dengan zul harus berakhir, ketika ia ditugaskan ke singapura sedangkan aku ditugaskan ke kalimantan. Bertahun-tahun dengannya, aku berhasil menyelesaikan kuliah dan lolos menjadi karyawan di salah satu perusahaan asing juga bidang pertambangan, awalnya aku akan ditempatkan di kantor pusat, tapi berubah karena lokasi di kalimantan lebih membutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) sesuai skill yang aku miliki. Demi masa depan, begitulah pemikiran kita, dengan lapang hati menjalani LDR (Long Distance Relationship).


Dua tahun menjalani LDR, karir masing-masing semakin bersinar, zul naik jabatan begitu juga aku. Konsekuensinya kami sibuk sehingga intensitas komunikasi dan pertemuan sangat minim, berulang kali zul memintaku untuk resign dari perusahaan dan menyusulnya ke singapura, dia beranggapan kalau gaji yang dimilikinya saat ini bisa membiayai hidup berdua disana. Aku menolak karena tidak ingin kehilangan karirku, terlebih gaji yang ku miliki nominalnya tidak kecil, lumayan untuk investasi masa depan.

__ADS_1


[Kita sudah hampir satu tahun gak ketemu, kamu gak kangen aku?] Tanya zul diujung telepon.


[Iya nih kita sibuk, akhir tahun ini kita cuti ya, liburan bareng, mau gak?] Aku berusaha mencairkan suasana.


[Boleh juga itu!] Responnya antusias.


Setelah memasuki tahun ketiga, LDR yang dijalani tidak baik, sering bertengkar untuk hal yang sebetulnya sepele. Karirnya semakin meningkat sehingga kembali naik jabatan, sedangkan aku masih di posisi sebelumnya. Zul makin gencar menyuruhku untuk menyusul ke singapura, namun aku bersikukuh untuk menolak. Hubungan yang kian hari kian memburuk lumayan mengganggu pekerjaanku, zul seolah tidak bisa memaklumi lagi, maka aku memutuskan untuk mengakhirinya. Dia tidak terima, berkali-lagi memohon sembari marah-marah, mengungkit rencana pernikahan yang pernah direncanakan dan mengungkit segala kenangan yang dilalui bersama bertahun-tahun. Sebagaimana manusia pada umumnya, butuh waktu yang tidak sebentar untuk berdamai dengan keadaan, aku lampiaskan rasa sedih dengan gila kerja.


 


\\*


 


Rasanya sudah lelah dengan perjalanan kisah asmara yang berantakan, sudah puas dengan balas dendam. Balas dendam yang bukan membuat puas sesaat saja, bangga karena bisa melakukan yang orang lain lakukan padaku dulu, meskipun bukan orang yang sama. Setelah berpisah dengan zul, aku tidak berhasrat lagi untuk memiliki pasangan, ku habiskan waktu untuk bekerja dan jika penat maka waktu cuti digunakan untuk liburan.


Saat kita merasa terluka, dendam bukanlah solusi untuk meredamkannya. Kita harus berdamai dengan keadaan kita, tidak lupa memaafkan, biarlah hukum Tuhan yang menyelesaikan. Poin penting yang bisa ku ambil pelajarannya, setelah bertahun-tahun tersesat dan merasa kalau kehidupan itu pilihan yang terbaik. Pilihan yang awalnya membuatku bahagia dan puas, namun pada akhirnya membuatku lelah dan kembali putus asa.

__ADS_1


“Kamu gak tidur selama dua jam tadi, sayang?” Pertanyaan suami menyadarkanku yang asik bernostalgia.


“Gak, nanti aja di rumah” Jawabku sembari menggenggam erat tangannya.


__ADS_2