
Seiring waktu aku mulai luluh dengan keinginan mama, mama yang kini seorang diri di rumah membuatku khawatir juga, terlebih saat aku menawarkan asisten rumah tangga untuk membantu mengurus rumah, mama menolak dengan alasan mengurus rumah akan menjadi kegiatannya untuk melepas bosan. Maya, kawanku di kantor memberi nasehat agar aku kembali ke mama sejenak, sudah bertahun-tahun bekerja jauh dari orangtua, dia yang sudah kehilangan kedua orangtuanya menyesal karena saat orangtua dimasa tua waktu kebersamaanlah yang sering dirindukan, kita sering beralasan bekerja untuk membahagiakannya, membahagiakan dari segi apa? Materi? Yakin kebahagiaan mereka sebatas materi saja?
Aku merenungi nasehat yang diberikan maya sembari menelaah diriku selama ini, kesimpulannya selama ini terlalu mementingkan karir, menjalani hal-hal yang tujuannya entah kemana, lebih tepatnya hanya memikirkan untuk kesenanganku. Kapan terakhir sekeluarga makan bersama? Berapa hari paling lama di rumah untuk menghabiskan waktu cuti? Kapan terakhir aku quality time bersama mereka? Kapan terakhir aku bertanya pada mama tentang perasaannya?. Semua pertanyaan itu memenuhi kepala, mengiang-ngiang di telinga. Saatnya harus mengambil keputusan, keputusan untuk kebaikan bersama.
***
Sedih karena harus meninggalkan tempat ini, sejak satu bulan yang lalu memasukkan surat resign, aku berusaha menikmati hari-hari terakhirku di tempat yang sudah bertahun-tahun bekerja, disisi lain aku bahagia membayangkan wajah mama yang bahagia menyambut kepulanganku. Ketika mama mendengar aku akan resign dan bekerja didekat rumah maka terdengar suara antusiasnya, akhirnya aku tahu hal yang membuatnya berkali lipat bahagia, bukan hadiah-hadiah mahal yang ku berikan, tetapi waktu yang banyak untuk menikmati kebersamaan. Aku pamit dengan teman-teman kantor, bahkan beberapa mengantar ke bandara, termasuk pak arka.
Aku melangkah masuk untuk check in, sesekali menoleh sembari melambaikan tangan, terlihat wajah pak arga yang seolah tidak merelakanku pergi, resign bukan karena sakit hati gagal dengannya, tapi ini demi mama. Memantapkan langkah kaki, membayangkan mama begitu gembira menyambutku di bandara, mama yang sudah di bandara sana padahal aku belum berangkat dari bandara sini, hal yang membuatku semakin yakin untuk pulang. Tanpa sadar ingatanku mengenang sehari sebelum berangkat, pak arka menemuiku makan malam terakhir bersama sebelum pulang. Matanya terlihat sendu, yang tidak menginginkan perpisahan, tapi ini menjadi pilihan yang terbaik karena tidak bisa bersama untuk menjadi pasangan hidup, biar dia mencari perempuan lain yang disetujui oleh orangtuanya.
Menikmati penerbangan dengan cuaca yang cerah, menyempatkan untuk memotret dengan kamera sebagai kenang-kenanngan karena entah kapan kesini lagi. Aku merasa berterimakasih pada maya yang mengingatkanku, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun meninggalkan karirku karena ingin membersamai mama di rumah, toh bisa mencari pekerjaan dekat rumah, dan biar mama dengan mudah mempertemukanku dengan pria yang dipilihnya, pasti stoknya sudah banyak.
Sesuai dengan dugaan, mama menyambut di pintu keluar, dengan dandanan yang modis dia antusias memanggil namaku sehingga membuat orang-orang disebelahnya menoleh, sejak kapan baru menyadari kalau mama termasuk bagian dari manusia yang heboh.
[Sudah sampai, ian?] Sebuah chat dari pak arka
[Sudah, pak]
[Selamat berbahagia disana ya]
***
Menepati janji pada mama, hari ini aku menemui pria yang diceritakan mama. Pria yang entah siapa namanya dan bagaimana wujudnya, semoga tidak seperti buto ijo. Mama bilang kalau pria tersebut anak rekan baru arisan mama yang baru pindah dari kota lain. Bukan tidak ada pilihan, tapi janji tetaplah janji. Berpenampilan seadanya, aku menuju lokasi yang mama bilang, rasanya biasa saja, tapi mama protes karena penampilan berantakanku, alhasil aku berdandan juga, lokasi yang berjarak 10 menit dari rumah. Aku melajukan mobil dengan perlahan, menikmati perjalan sembari bernostalgia, banyak yang berubah disini, ternyata aku sudah lama merantau.
__ADS_1
Sesampainya di lokasi sempat tercengang, dulunya tempat ini sawah tempat biasa bermain layang-layang saat masa panen usai, sekarang sudah berdiri sebuah kafe yang wah.
“Dian..” Sapa seorang pria.
“Zul?” Aku mencoba memastikan.
Aku terkejud bertemu dengan zul, padahal ini bukan kampung halamannya, ternyata dia pindah ke kota ini dengan alasan pekerjaan. Aku dan dia canggung setelah lama tidak bertemu, lebih canggung lagi ternyata dia yang dimaksud mama, dia yang akan dijodohkan denganku, dia yang dulunya mantan pacarku.
“Dian belum nikah? Ku kira sudah nikah.”
“Belum, kamu sendiri kenapa belum? Padahal kan kamu keren.”
“hah?” aku terkejut.
“Selama ini aku berdoa, kalau kamu adalah jodohku maka beri jalan, jika bukan supaya dihilangkan ingatan tentang kamu. Aku sudah mencoba dengan selain kamu tapi selalu gagal, saat mami mengutarakan ingin menjodohkannya denganmu, aku ngerasa terharu, seolah ini jawaban atas doaku selama ini.”
__ADS_1
“Kamu mau gak nikah sama aku?” Lanjutnya.
“Kasih aku waktu untuk jawab ya zul” Responku
“Iya, Dian. Pertimbangin baik\-baik ya.”
Setelah pertemuan dengan zul, aku merasa tak karuan, antara bahagia dan canggung. Banyak yang berubah darinya, terlihat menjadi lebih baik dari terakhir perpisahanku dengannya. Saat itu mungkin kami masih sama-sama egois, perpisahan mengajarkan untuk menjadi lebih baik. Bertahun-tahun berpisah dengannya, sekalipun tidak ada komunikasi, kami memiliki cara masing-masing untuk menyembuhkan luka tanpa menyapa. Entah jawaban apa yang akan aku berikan, aku masih shock atas pertemuan ini, di kepalaku numpuk berbagai pertanyaan tentang cara mama mengenal mereka, apa ini mungkin jalan atas doa yang dia lakukan? Terus terang aku tidak pernah berdoa untuknya sekali pun, bagiku yang berlalu ya sudah berlalu karena aku malas terjebak dimasa itu.
Hatiku yang menemptakan pak arka pada tempat istimewa belum mampu tergantikan, pak arka adalah wujud jatuh cintaku kembali setelah lama putus dengan zul, meskipun pada akhirnya harus terpatahkan karena sang ibu yang tidak merestui. Kami bisa saja memaksa untuk bersama, tapi memilih untuk saling merelakan meskipun berat, kami hanya butuh waktu untuk terbiasa toh awalnya biasa saja. Aku mulai mendaftar lowongan-lowongan yang ada di dekat rumah, sembari mempertimbangkan ajakan zul. Gejolak hati semakin hari semakin menjadi, apakah zul adalah jawaban dari keinginan selama ini? rasanya butuh waktu untuk terbiasa lagi dengannya, mungkin mencoba berteman dulu.
[Zul, bagaimana kalau kita berteman dulu?] Sebuah chat ku kirim padanya.
[Kenapa?] Balasnya.
[Kita sudah lama berpisah, aku merasa kita asing, jadi kita mulai dari awal untuk slaing mengenal. Bagaimana?]
[Ok, tidak masalah. Aku berterimakasih karena mau memberi kesempatan ini]
__ADS_1
[Iya, zul. Terimakasih udah doain aku]
Hanya itu yang mampu ku lakukan untuk saat ini, semoga hatiku segera memastikan kepada siapa titik akhir pilihanku, semoga ada kabar baik yang bisa ku dapat.