
Jam 12 siang, aku bergegas ke pengadilan negeri Jakarta Utara karena ada sidang yang harus aku tangani dan tugasku sebagai kuasa hukum dengan kasus "Hak Asuh Anak" yang diperebutkan pasangan yang baru saja bercerai.
Sebelum ke Pengadilan, aku mampir dulu di sebuah restoran di sekitaran pengadilan untuk makan siang.
Saat sedang makan, aku dikagetkan dengan pemandangan yang membuatku hampir m*** tersedak makananku sendiri.
^^^"Lelaki b*******" amuk batinku.^^^
Kevin sedang bersama seorang wanita yang sedang makan siang bersama bahkan mereka tidak malu, duduk sambil bermesraan ditempat umum yang sedang ramai.
"Selamat siang, bu Hellen" sapa salah satu mahasiswa hukum yang sedang magang di firma hukum tempatku bekerja sekarang.
"Selamat siang, Ain" balasku.
"Ibu sudah selesai makan?" tanya Ain.
"Kamu mau makan juga, Ain?" tanyaku.
"Saya sudah makan dari rumah, bu" jawab Aini.
"Duduk sebentar dulu ya, Ain. Saya habiskan makanan dulu, atau kamu mau pesan minum apa? Masi ada 1jam lebih lagi kan?" kataku.
"Iya, bu. Saya terbiasa minum air mineral aja, bu" jawab Ain.
"Ya, sudah" kataku.
Setelah menghabiskan makanan siangku. Kami langsung menuju ke pengadilan. Sidang mulai tepat jam 2 siang. 15menit jam 5 sore, sidang kasus yang kutangani di skors sampai 3hari kedepan. Aku tidak mempedulikan tanggal pernikahanku. Karena bagiku pernikahan itu bukan keinginanku.
Saat aku dan rekanku keluar dari pengadilan bersama klien, Hpku berdering.
"Hallo, mi" sapa ku.
"........"
"Hellen baru selesai menangani kasus di pengadilan, mi" jawabku.
"........"
__ADS_1
"Mami urus aja dulu! Hellen nggak bisa, mi. Masih harus ke kantor dulu" jawabku.
"........"
"Bye, mi" kataku dan mematikan sambungan telepon.
"Ada apa, bu?" tanya Ain.
"Oh, nggak papa Ain" kataku.
"Ain, panggil aku dengan mbak aja. Nggak usah ibu" kataku.
"Oh, iya mbak" jawab Ain.
"Kamu bisa nyetir mobil, Ain?" tanyaku.
"Bisa, mbak" jawab Ain.
"Kamu yang nyetir ya. Kita balik ke kantor, ada yang harus mbak kerjakan.
"Baik, mbak" jawab Ain.
"Kamu nyetirnya bagus, Ain. Lain kali kalau ikut mbak, kamu yang nyetir ta" kataku.
"Nggak papa ya, mbak?" tanya Ain.
"Nggak papa lah, Ain" jawabku.
"Oke, mbak" kata Ain.
Tidak terasa kami sampai ke kantor. Aku turun di depan pintu masuk, sedangkan Ain memarkirkan mobil terlebih dahulu.
"Selamat siang, bu Hellen" sapa resepsionis yang bernama Luna
"Selamat siang, Lun" balasku.
"Maaf, bu. Ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu" kata Luna.
__ADS_1
"Siapa, Lun?" tanyaku.
"Ibunya, ibu. Dan satu tamu pria lagi" jawab Luna.
"Mereka di mana?" tanyaku.
"Saya persilakan menunggu diruang kerja, ibu" jawab Luna.
"Oke! Makasih ya, Lun" kataku.
"Sama-sama, bu Hellen" jawab gadi muda itu.
Aku berlalu dan menaiki lift menuju lantai 2 gedung tempatku bekerja.
"Mami sama siapa datangnya?" tanyaku setelah memasuki ruang kerjaku.
"Dengaku, beb" jawab Kevin.
"Kamu" kataku kaget. "Ngapain kamu disini?" tanyaku.
"Apa aku nggak boleh dateng ke kantor calon istriku?" tanya Kevin dengan senyum licik
"Mami minta nak Kevin untuk anterin ke sini, Hellen" kata mami.
"Kenapa mami nggak telepon aja sih? Hellen kan sudah bilang ke mami, akhir-akhir ini Hellen sibuk tangani beberapa kasus dari klien Hellen dan nggak bisa diwakilkan ke pengacara yang lain" kataku.
"Hellen tinggal beberapa hari lagi kamu dan Kevin akan menikah, sayang. Kalian berdua belum fitting baju" kata mami.
"Hellen serahkan ke mami aja yang urus. Hellen masih ada sidang 3hari lagi, mi" kataku.
"Tapi kamu ada waktu kan beb, temani aku jamuan makan malam bersama investor dari Macau?" tanya Kevin.
"Aku capek, Vin. Aku pengen istirahat" jawabku.
"Ini investor perusahan kita, beb. Dan kedua orang tua kita juga ada dalam jamuan ini. Ayolah beb, jangan membuat kami malu" mohon Kevin.
Dengan malas aku mengiyakan ajakannya "Baiklah, aku akan pergi" jawabku.
__ADS_1
"Begitu dong beb" katanya ingin memelukku dan langsung aku menolaknya.
"Oh, maaf. Kamu tidak suka disentuh, aku lupa beb" katanya memundurkan tubuhnya.