
"Coba kamu berdiri di tempat saya dan rasakan apa yang saya rasakan sekarang. Masalah saya bukan hanya tentang perjodohan ini saja, tapi" kataku terhenti menyadari pria ini bukan siapa-siapaku.
"Maafkan saya, bukan maksud mencampuri urusan pribadimu. Tapi saran saya, akhiri perjodohan kalian" katanya.
Dan kamipun saling terdiam sampai Bagas datang membawa makan malam kami bersama seorang waitress.
"Ini makan malam kita" kata Bagas.
"Ayo makan" ajak Bagas.
Kami bertiga menikmati makan malam dengan diam. Setelah makan malam , Bagas dan Adrian mengantarkan ku pulang dengan taxi. Sedangkan rekan-rekan mereka yang lain sudah pulang ke hotel.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Gas" ucapku.
"Sampai jumpa nanti di Indonesia, Hellen" balas Bagas.
Taxi yang mengantarkan ku pulang melaju meninggalkanku di depan gedung apartemen.
"Hei, Nona. Dari mana saja?" tanya pria yang tinggal bersebelahan dengan apartemen Maria.
"Oh, aku? Kamu bicara denganku?" tanyaku kaget.
"Dengan siapa lagi aku bicara Bahasa Indonesia kalau bukan dengan kamu" katanya.
"Oh, maaf. Aku kaget dengar suaramu" jawabku.
"Darimana kamu? Beberapa hari inj aku tidak melihatmu?" tanya Fathir (Ya, namanya Fathir).
"Oh, aku jalan-jalan sama teman-temanku" jawabku.
Tiba-tiba Fathir memegang tanganku dan reflek aku melepaskannya. "Kamu siapa? lancang benar memegang tanganku" ucapku sedikit meninggi membuat semua orang di loby apartemen melihat ke arah aku dan Fathir.
"Maaf, Aku hanya ingin mengobrol denganmu" katanya.
"Saya tidak mengenal siapa kamu dan jangan pernah menyentuh saya" kataku dan berlalu masuk ke dalam lift.
Tanpa ku tahu, Fathir berdiri sambil menyengir sinis memandangiku pergi (sepertinya ada niat terselubung Fathir mendekati Hellena).
Baru saja kubuka pintu apartemen, Maria langsung membombardir aku dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Tenang Nona, aku hanya jalan-jalan dan memenuhi undangan makan malam" jawabku menenangkan Maria.
__ADS_1
"Jika kamu ingin keluar atau jalan-jalan, katakan padaku. Jangan pergi sendirian. Kamu belum tahu seluk-beluk kota Beirut ini, Hellena" kata Maria.
Dua minggu sudah aku berlibur di Beirut dan jalan-jalan ke tempat-tempat indah di Beirut bersama Maria membuat aku tak ingin kembali ke Indonesia. Tapi Mami terus-terusan memintaku untuk cepat kembali.
"Kamu sudah siap, Hellena?" tanya Maria.
"Ya" jawabku.
"Jangan lupa kabari aku, jika sudah sampai Indonesia" kata Maria.
"Ia, Nona. Akan ku kabari" jawabku.
Maria mengantarkanku ke Bandar Udara Internasional Rafik Hariri, aku langsung masuk ruang tunggu setelah melewati pemeriksaan. Maria hanya bisa mengantarkan aku sampai depan pemeriksaan saja, karna dia harus kembali untuk ke kantor.
Pesawat yang kutumpangi harus transit 3jam di Dubai setelah penerbangan 3jam dan aku harus pindah pesawat lain lagi untuk ke Jakarta selama 8jam penerbangan.
Pesawat akhirnya mendarat. Aku pikir hari ini setelah aku tiba, akan beristirahat sejenak di apartemenku.
Aku berjalan mengambil bagasiku dan menuju pintu keluar. Tiba-tiba suara yang ku kenal memanggilku "Hellen"
^^^"Kenapa harus dia yang menjemputku?" amuk batinku.^^^
"Aku datang menjemputmu" kata Kevin
"Mami yang meneleponku. Mami memintaku menjemputmu karena mami tidak bisa" jawabnya.
^^^"Mami ternyata sama saja dengan Papi. Ingin menggunakan aku sebagai tameng mereka" rengek batinku.^^^
"Ayo, aku bawakan kopermu" kata Kevin dan mengambil koperku menuju mobilnya.
"Masukan ini di bagasi" perintah Kevin ke sopirnya.
Dia duduk di belakang denganku dan mencoba memegang tanganku tapi seketika aku tepis.
"Maafkan aku, Hellen. Aku hanya ingin memegang tanganmu" katanya.
"Aku tidak suka dipegang oleh pria lain selain Papi atau saudaraku" jawabku.
"Aku akan bersabar sampai hari itu datang dan akan ku sentuh seluruh tubuhmu, Hellen" kata Kevin sambil memandangiku membuat aku risih.
Sopir membawa kami kerumah Papi. Disana ada Mami. "Kamu sudah ada? Ayo masuk, Nak Kevin" ajak Mami.
__ADS_1
"Nggak usah, Tante. Saya ada urusan, mungkin lain kali saja" jawab si b******* itu.
"Untuk apa Mami menyuruhnya menjemput, Hellen? Dana kenapa Mami bisa ada di rumah Papi?" tanyaku.
"Papimu yang meminta mami untuk menelepon Kevin menjemputmu dan soal kenapa Mami ada dirumah ini, nanti kamu tanyakan Papimu saja" jawab Mami.
Hpku berbunyi dengan nada khas "Miror" dari Bruno Mars. "Hallo" sapaku.
"........"
"Sekarang?" tanyaku.
"......."
"Baiklah. Saya akan ke sana" jawabku.
"Mami maafkan Hellen, tapi ada meeting dengan klien yang harus Hellen temui" kataku d dan berlalu pergi sambil menelepon taxi.
Setelah menempuh hampir 20 menit perjalanan, taxi sampai di apartemen. Aku berlari menuju lift dan untung saja hanya ada 2 orang di sana.
"Masih ada waktu 1 jam lagi, aku akan melepaskan kelelahan dengan berendam sejenak" kataku ketika memasuki apartemenku.
Setelah berendam dengan aromaterapi untuk merilexkan tubuh. Aku langsung siap dengan setelan jas dan berlalu dari kamar menuju parkiran apartemen.
"Selamat siang, Bu Hellen" sapa security.
"Selamat siang, Pak Nono" balasku.
"Pak, pulangnya jam berapa?" tanyaku.
"Jam 9 malam, Bu" jawab Pak Nono.
"Bapak bisa nungguin saya kan? Tapi kalau sampai jam 9 saya belom pulang, Bapak jangan nungguin ya" kataku
"Ada apa ya, Bu?" tanya Pak Nono curiga.
"Ada titipan buat Istri dan anak-anaknya Pak Nono.
"Walah, Bu. Saya kiraina apa" kata Pak Nona sambil mengusap wajahnya.
"Kalau begitu saya jalan dulu ya, Pak" pamitku.
__ADS_1
"Iya, Bu" kata Pak Nono.