Cinta Terpendam Seorang Tentara

Cinta Terpendam Seorang Tentara
Sok Perhatian


__ADS_3

Adrian kembali dengan air putih dan memberikannya kepadaku. Aku meneguknya sampai habis dan mengembalikan gelas padanya.


"Jika kamu masih mabuk seperti ini lagi. Saya berjanji akan menyuruh Kevin untuk menjemputmu dan kamu tahu apa yang akan dilakukan Kevin? Dia tidak akan menyia-nyiakan tubuh seksimu itu dan apa lagi kamu masih perawan sepeti katamu" kata-kata Adrian membuatku seketika melihat kearahnya.


Walau aku mabuk tapi aku masih bisa mengontrol diriku. "Apa kamu tidak tergoda dengan tubuhku?" tanyaku.


Adrian memalingkan wajahnya ketempat lain dan membaringkan tubuhnya di sofa. "Sejujurnya saat pertama kali saya melihat kamu dan dikenalkan oleh Bagas, ada perasaan suka yang timbul. Tapi setelah saya tahu kalau kamu adalah tunangan Kevin, saya tidak bisa berharap banyak tentang itu" jawab Adrian.


Aku berdiri dari tempat tidur dan berjalan sempoyongan menuju sofa yang di tiduri Adrian.


Adrian kaget dengan keberadaanku yang sudah berbaring di sampingnya "Kembali ke tempat tidurmu, Hellen" perintah Adrian.


"Aku hanya ingin dipeluk" kataku menarik tangan kekar Adrian memeluk pinggangku.


Adrian seakan menuruti kataku, dia menyesuaikan posisi tubuhnya dan memeluk tubuhku yang berada di depannya dengan posisiku membelakanginya.


Hpku terus berbunyi membuatku terbangun dan matahari yang masuk lewat celah gorden membuat mataku silau.


"Akh, kenapa setiap kali mabuk. Kepalaku sakit sekali" kataku.


"Siapa juga yang menelepon ku?" tanyaku.


"Hallo" sapaku.


"........"

__ADS_1


"Aku ada di apartemenku. Kenapa?" tanyaku.


"........."


"Akan kubuka pintuku, Gas" jawabku.


Terdengar bel pintu berbunyi dan memang benar itu Bagas yang datang.


"Ternyata kamu tetanggaan dengan Bang Adrian ya, Hellen?" tanya Bagas.


"Begitulah" jawabku.


"Kamu mau minum apa, Gas? Sorry, aku baru bangun" kataku.


"Kamu mabuk semalamkan?" tanya Bagas.


"Bang Adrian bilang ke aku kalo akhir-akhir ini kamu sering mabuk di club malam milik Toni" kata Bagas.


"Sudahlah Gas, ini hidupku nggak usah kamu urusi" kataku.


"Hellen, aku ini sahabatmu. Kenapa kamu seperti ini? Kenapa setiap masalah mu harus diselesaikan dengan cara seperti ini? Aku tahu kamu orang yang kuat, Hellen" kataku.


"Aku bisa menyelesaikan masalah ku, Gas. Aku hanya butuh ketenangan dan inilah yang bisa membuatku tenang" kataku.


"Percuma juga kamu bicara karena nggak akan menyelesaikan masalah ku" kataku lagi.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu?" tanya Bagas.


"Apa kamu menyukai bang Adrian?" tanya Bagas.


"Maksud kamu?" tanyaku.


"Aku sangat berharap kamu bisa bersama dengannya dan bukan dengan Kevin. Karena sepertinya Adrian menyukai mu" kata Bagas.


"Aku nggak punya rasa apa-apa ke dia. Lagian dia saja yang sok perhatian sama aku" jawabku.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Hellen" kata Bagas.


"2hari lagi Judith akan tiba di jakarta untuk menghadiri pernikahan mu. Diapun berharap sama sepertiku" kata Adrian lagi.


"Aku sudah nggak peduli lagi dengan semuanya, karena percuma juga membantah kemauan papi. Pada akhirnya, aku akan menikah dengan Kevin" kataku.


"Aku dan Judith akan menikah juga. Aku akan pengajuan nikah setelah Judith wisuda bulan depan" kata Bagas.


"Ya, baguslah" jawabku.


"Apa kamu nggak ke kantor?" tanya Bagas.


"Hari ini aku ada sidang jam 2 siang, jadi nggak ke kantor" jawabku.


"Ya, sudah. Aku akan kembali ke unit bang Adrian. Sebentar malam, kami ada acara" katanya dan pergi.

__ADS_1


Terkadang aku merindukan Bagas yang dulu, dia adalah teman, sahabat dan sudah seperti kakak bagiku karena dialah yang paling mengerti aku. Mungkin karena mungkin aku adalah anak tunggal yang nggak punya saudara sekandung.


__ADS_2