Cinta Terpendam Seorang Tentara

Cinta Terpendam Seorang Tentara
Sampai Ketemu


__ADS_3

"Auw, kepalaku sakit banget" kataku menahan kepalaku.


"Makanya kalau nggak bisa minum banyak, nggak usah maksa" kata Adrian yang masuk ke kamarku membawakan air jeruk.


"Ini minum, supaya sakit kepalamu berkurang.


"Makasih" aku mengambil gelas dan meminum sampai habis dan menaruh gelas di atas nakas samping tempat tidurku.


"Apa kamu baru datang?" tanyaku.


"Aku di sini dari malam. Apa kamu lupa?" tanya Adrian.


"Lupa? Maksud kamu?" tanyaku.


"Bagaimana aku mau ke unitku, kalau kamu nggak ijinin aku" jawab Adrian.


"Hah" mataku melotot.


"Aku dipeluk seperti guling dan 1 lagi, kamu membuat banyak tanda di tubuhku" kata Adrian membuatku terkejut.


"Tanda?" tanyaku heran.


Adrian membuka sedikit kemejanya dan memperlihatkan beberapa tandah merah di dada dan lehernya.


"Ah, kamu ngarang. Itu mungkin kamu pergi sama pacarmu dan melakukan hal itu dan sengaja menjebakku" kataku.


"Aku tidak pernah melakukan hal-hal aneh yang melanggar aturan dan norma apalagi melanggar Sumpah Prajurit dan Sapta Marga" jawabnya.


"Dan 1 lagi, aku tidak punya pacar" katanya membuatku tegang sendiri.


"Berarti, kamu. Aku nggak perawan lagi dong" kataku sambil nangis.


"Nggak, nggak mungkin. Aku menjaga diriku dan tubuhku agar tidak ternoda. Akh, kenapa seperti ini" teriakku sambil menangis histeris di tempat tidurku.


Adrian yang melihat keadaanku tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa? Kamu sama saja dengan mereka yang mengambil kesempatan dalam kesempitan" kataku


"Baru kali ini aku melihat wanita sepolos dirimu" katanya sambil tertawa.


"Maksud kamu?" tanyaku sambil melihat ke arahnya.


"Tenang sayang. Kamu masih perawan kok" jawabnya.


"Apa katamu?" tanyaku


"Terima kasih, Tuhan" kataku.


"Kalau begitu, aku akan meninggalkan kamu dan kembali ke unitku" kata Adrian.


"Akh, aku lupa. 2 hari lagi aku akan kembali ke daerah tempat tugasku" kata Adrian lagi.


"Ya, sudah. Pergilah" kataku.


"Btw, makasih ya" kataku lagi.


Setelah hari itu, aku tidak lagi bertemu dengan Adrian. Hanya Bagas yang sesekali menghubungi ku.


Aku sibuk dengan pekerjaanku sebagai pengacara. Banyak kasus yang membuatku harus bepergian di beberapa kota besar bahkan ada beberapa orang dari kota kecil meminta bantuanku.


Kali ini aku harus menyambangi salah satu kota di Indonesia bagian Timur, untuk bertemu klienku.


"Hallo" sapaku memulai percakapan di telepon.


"........"


"Besok siang, saya sampai dan kita meeting dulu ya" kataku.


"........."


"Saya sudah pelajari kasusnya. Tapi saya harus ketemu dengan kliennya dulu untuk memastikan kasus ini. Saya tidak mau gegabah dalam menangani kasus ini" kataku.

__ADS_1


"........"


"Oke. Sampai ketemu" jawabku memutuskan hubungan telepon.


Tok, tok, tok.


"Masuk" kataku.


"Selamat siang, Bu" sapa Fanya.


"Selamat siang. Ada apa, Fanya?" tanyaku.


"Bu, ada orang dari PT. Prima Utama ingin bertemu" jawab Fanya.


"Pak Suryo?" tanyaku.


"Benar, Bu" jawab Fanya.


"Suruh masuk aja, Fanya" kataku.


Fanya berlalu keluar dan mempersilahkan Pak Suryo masuk.


"Selamat siang, Bu Hellen" sapa Pak Suryo.


"Selamat siang, Pak. Silahkan duduk" sapaku dan mempersilakan pak Suryo untuk duduk.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.


"Begini, Bu. Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu Bu Hellen" kata pak Suryo.


"Oh, nggak apa-apa pak" kataku.


"Saya ingin meminta bantuan Bu Hellen atas kasus yang dituduhkan kepada saya" kata pak Suryo.


"Maksud pak Suryo, ada yg menuduh bapak?" tanyaku

__ADS_1


"Benar, Bu. Saya dituduh menyelewengkan dana pembangunan kantor cabang yang baru. Sedangkan saya tidak pernah menandatangani dokumen apapun" jawab pak Suryo.


__ADS_2