Cinta Terpendam Seorang Tentara

Cinta Terpendam Seorang Tentara
Nggak Suka Pacaran


__ADS_3

Jam 7 malam, aku sampai dirumah Papi dan mami. Mobil kuparkirkan di dalam garasi. Tapi sudah ada beberapa mobil terparkir didepan rumah.


"Selamat malam, Non" sapa pak Ujang.


"Selamat malam, pak" balasku.


"Ada acara apa sih, pak?" tanyaku.


"Acara makan malam keluarga, Non" jawab pak Ujang.


"Oh. Aku masuk ya pak" kataku.


"Silahkan, Non" kata pak Ujang.


Terdengar suara papi yang tertawa bahagia.


"Selamat malam" sapaku.


"Selamat malam, sayang" balas papi.


"Ayo, sini. Duduk samping papi" kata papi.


Aku berjalan searah ke papi dan duduk disampingnya.


"Pernikahanmu dan Kevin akan berlangsung 2minggu lagi, sayang" kata papi.


Aku tersentak "Pi, Hellen ada kasus yang harus ditangani. Apa nggak bisa ditunda?" kataku


"Sayang, nggak bisa ditunda. Undangan sudah papi suruh orang sebarkan begitu pula dengan keluarga Kevin" jawab papi.


"Saya permisi sebentar" kata papi ke tamunya papi dan menarik aku ke ruang kerjanya.


"Keluarga Kevin sudah mengurusi semua acara pernikahannya. Kita hanya terima bersih. Kamu mintalah kasusmu ditangani orang lainlah" kata papi lagi.


Mami masuk dan mendapati aku yang sedang bicara dengan papi.


"Itu nggak mungkin, pi. Hellen sudah terima kontrak untuk tangani kasus ini" kataku.


"Hellen harus sesuiakan jadwal tanggal sidang dengan tanggal pernikaha, pi. Dan itu akan membuat Hellen harus merombak lagi dari awal" kataku lagi


"Terserah kamu. Tapi 2 minggu lagi, kamu akan menikah" kata papi.


"Pi, kenapa setiap kali papi ambil keputusan untuk hidup Hellen. Papi nggak pernah ngomong dulu ke Hellen? Tanyakan jawaban Hellen, setuju atau tidak? Kenapa papi selalu sesukanya saja melakukan apapun?" tanyaku.


"Hellen. Sayang" kata mami


"Papi ggak bisa seenaknya sendiri seperti ini, mi" kataku


"Kamu adalah anaknya papi. Dan semua yang papi lakukan demi kebaikan dan masa depan kamu" jawab papi.


"Bukan, pi. Bukan kebaikan dan masa depan Hellen. Semua hanya demi kepuasan papi saja. Papi rela mengorbankan mami dan Hellen" kataku.

__ADS_1


"Hellen" kata papi yang sudah mengangkat tangannya untuk menamparku.


"Ayo, pi. Lakukan pi. Seperti yang papi pernah lakukan dulu ke mami. Ayo!" tantangku ke papi.


"Sayang sudahlah" kata mami.


"Hellen tidak mau menikah dengan pria yang wataknya seperti papi. Yang suka menyiksa orang lain demi kepuasan diri sendiri" kataku.


"Terserah kamu. Tapi yang pasti kamu tetap akan menikah dengan Kevin. Itu keputusan papi. Mau dan tidak mau, kamu akan tetap menikah" kata papi dan pergi meninggalkan aku dan mami.


"Mami mau, Hellen bernasib sama dengan mami? Menderita karena siksaan papi?". tanyaku.


"Papi sayang sama Hellen, nak" kata mami.


"Kalau papi sayang sama Hellen. Papi nggak bakalan berbuat seperti ini ke Hellen" kataku.


Aku keluar dari ruang kerja papi dan pergi.


"Hellen mau ke mana? Makan dulu. Ayo, mami suapin" kata mami mengikutiku dari belakang.


"Hellen mau pergi menenangkan pikiran Hellen, mi. Jaga diri mami" kataku dan berlalu meninggalkan rumah mewah milik papi.


Mobil ku arahkan menuju sebuah club malam terkenal di kota jakarta.


"Hai, say" sapa Toni pemilik club malam.


(Toni, aku dan Bagas adalah sahabatan saat SMA)


"Dari mana aja, baru nongol?" tanya Toni yang sedikit gemulai.


"Ya, lo tahulah. Pekerjaan gue akhir-akhir ini banyak sekali. gue rehat dan jalan-jalan sebentar lah" jawabku.


"Say, gue ada kenalan loh. Mau nggak dikenalin? Cowoknya ganteng loh, bodynya itulah bikin klepek-klepek" kata Toni.


"Ton, gue sudah pernah gomong kan. Gue nggak suka dijodoh-jodohin. Emangnya gue cewek apaan?" kataku.


"Bukan begitu, Say. Abisnya lo nggak pernah kenalin cowok lo sih. Padahal lo pengacara hebat" kata Toni.


"Gue nggak suka pacaran. Kalo ada yang pas, langsung gue embat nggak pake nikahan" kataku sambil cengengesan.


"Ih, lo mah kelihatan di wajah" kata Toni.


"Apa yang kelihatan di wajah gue?" tanyaku.


"Nafsunya" jawab Toni.


"B******* lo, Ton" kataku.


"Eh, udah berapa gelas lo minum?" tanya Toni


"Nggak tahulah" jawabku.

__ADS_1


"Ih, lo kebiasaan Hellen. Kalo ada masalah pasti kek gini. Yang repot kan gue juga. Untungnya anak buah gue masih bisa dipercaya buat nganterin lo tiap kali mabok" sungut Toni.


"Gue blom mabok kale. Gue masih sadar" kataku


^^^(Toni dan Bagas tahu banget, kalo aku ada masalah pasti pelarianku ke club Toni. Bukan untuk mabok tapi melarikan diri dengan tidur di kamarnya Toni)^^^


"Ton" suara khas pria memanggil Toni.


Mataku memandang dengan penuh perhatian "Adrian" kataku.


"Lo kenal, Say?" tanya Hellen.


"Dia, temenya Bagas" kataku.


"Lo kenal dia juga?" tanyaku ke Toni.


"Bagas yang kenalin dia ke gue" jawab Toni


"Ih, dasar lo bencong" kata ku.


"Emang gue bencong, say" kata Toni gemulai.


"Dia mabuk, Ton" kata Adrian.


"Kalo banyak masalah ya beginilah dia. Padahal dia nggak suka mabok. Kalo jaman SMA, dia palingan suka tidur di kamar gue atau main PS sama Bagas" kata Toni.


"Jadi?" tanya Adrian


"Semenjak pulang kuliah dari Inggris, maboknya mulai tuh. Tapi untungnya dia orang yang profesional dalam bekerja. Walau ini malam dia mabok nggak sadar diri. Tapi pagi tetep dia fresh buat ngantor dan sidang. Itu yang gue suka darinya" kata Toni.


"Alamatnya di mana?" tanya Adrian.


"Kamu mau anterin?" tanya Toni


"Kalo kamu percaya" kata Adrian


"Dia tinggal di apartemen. Nanti gue kirim alamatnya ke lo, biar gampang" kata Toni.


"Ada yang jagain dia nggak?" tanya Adrian.


"Nggak ada" jawab Toni.


"Terus?" tanya Adrian lagi.


"Anterin, buka pintu, masukin dan taroh dia d tempat tidur, lo keluar tutup pintu. Beres" jawab Toni.


"Segitu aja?" tanya Adrian.


"Ada cctv di apartemennya jadi bisa lihat semua seluk beluk ruangan dan lo ngapain aja" jawab Toni


"Ya, udah. Aku yang anterin" kata Adrian.

__ADS_1


__ADS_2